Lika-liku Saham SUGI, Naik Setahun, Suspensi 39 Bulan

Ada banyak investor ritel yang beli saham SUGI di 2013-2016 nyangkut. Bahkan, dana pensiun Pertamina juga ikutan nyangkut di saham migas ini. Gimana cerita dan masa depannya?

Lika-liku Saham SUGI, Naik Setahun, Suspensi 39 Bulan

Mikirduit – Ketika deklarasi perang Israel mengemuka, harga saham yang terkait minyak mentah pun sempat tersihir naik. Mungkin, jika bicara saham minyak di hulu alias pertambangannya, hanya PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang benar-benar penambang. Padahal, dulu ada satu saham penambang minyak lainnya, yakni PT Sugih Energy Tbk. (SUGI), meski skalanya tidak sebesar MEDC. Lalu, apa kabar saham SUGI tersebut kini?

Awalnya, SUGI adalah perusahaan yang menyewakan dan melakukan perdagangan alat berat bernama PT Saranatama Unimada Gunabina International. Salah satu bisnisnya adalah memegang hak keagenan wheel loader dan hydraulic excavator dari Daewoo Heavy Industries. Pada medio 1990-an itu, perseroan juga berencana menjadi produsen kabin truk di masa depan, serta menjadi produsen alat berat Daewoo di Indonesia. 

Namun, SUGI yang ganti nama menjadi PT Sugi Samapersada kena apes saat terjadi krisis 1997-1998. Daewoo membatalkan keagenan yang sempat dipegang SUGI. AKhirnya, SUGI ganti haluan menjadi distributor komponen otomotif, serta distributor truk HINO Motors. Sampai akhirnya, SUGI IPO pada 2002 dengan status sebagai perusahaan distributor komponen otomotif dan truk HINO tersebut. 

Empat tahun setelah listing di BEJ (sekarang BEI), SUGI mengumumkan rencana pengembangan bisnis ke migas. Namun, dalam tahap awal, mereka bukan sebagai penambang migas melainkan penyedia suku cadang bagi pertambangan migas. 

Sampai akhirnya, SUGI melepas seluruh kepemilikan sahamnya di anak usaha distributor komponen otomotif senilai Rp4,95 miliar kepada PT Graha Samapersada, yang merupakan pemegang saham SUGI saat itu. 

Dari sini, sebenarnya sudah ada sinyal kalau SUGI mau dilepas oleh pemegang saham utamanya tersebut. Setelah melepas anak usahanya tersebut, kinerja SUGI makin tidak stabil hingga cuma mencatatkan pendapatan Rp480 juta pada 2010 dibandingkan sebelumnya yang masih sekitar Rp40-an miliar. 

Sampai akhirnya, di 2009, masuk pemegang saham baru di SUGI, yakni Uni Investment Pte. Ltd. yang pegang 10,79 persen kala itu. Kepemilikan Graha Samapersada pun susut menjadi 55,16 persen dibandingkan dengan 68 persen pada periode sebelumnya.

Hingga akhirnya, Ramba Energy Indonesia Ltd., masuk sebagai pemegang saham pengendali SUGI sebesar 55,21 persen menggantikan Graha Samapersada dengan modal investasi senilai 1 juta dolar AS ditambah tender offer senilai Rp8,2 miliar. 

Sebagai catatan, Ramba Energy, perusahaan asal Singapura, itu adalah milik dari anak pertama Edward Soeryadjaya, yakni David Aditya Seky Soeryadjaya. Setelah dimiliki oleh Ramba Energy, nama SUGI berubah menjadi Sugih Energy pada 2010.

BACA JUGA Deretan Seri Notasi Lainnya:

  1. Kisah Saham FREN yang Rugi Terus Tapi Masih Bisa Bertahan Hidup
  2. Mimpi Besar MNC di BABP dan Nasib Merger dengan NOBU
  3. Saham AISA yang Menjadi Pesakitan di ICBP
  4. KIJA yang Tiba-tiba Terancam Bangkrut Pada 2019
  5. Saham TPIA, Proyek Petrokimia Soeharto yang Diambil Alih Prajogo
  6. Saham PPRO Pernah Jadi Primadona, Kini Nyaman di Gocap
  7. Saham UNVR Si Raksasa Consumer Goods yang Terjatuh

Ekspansi Bisnis Migas yang Rumit SUGI

Ramba Energy adalah perusahaan Singapura yang pada 2010-an memegang hak pengelolaan blok migas Lemang, West Jambi, dan Jatirarangon. Adapun, Ramba Energy memegang 80,4 persen saham PT Hexindo Gemilang yang punya 100 persen hak di blok migas tersebut. 

Menariknya, Hexindo Gemilang melepas sekitar 49 persen hak pengelolaan setara 1,6 juta dolar AS saat itu ke perusahaan bernama Eastwin Global Investment, yang juga anak usaha Roots Capital Asia Ltd. Konon, Roots ASia Capital Asia ada hubungan juga dengan perusahaan Edward Soeryadjaya, yakni PT Siwani Makmur Tbk. Di sana, Roots Asia menjadi salah satu pemegang saham mayoritas. 

Sementara itu, SUGI berencana mengakuisisi perusahaan Eastwin Global Investment dengan tujuan untuk bisa mendapatkan pendapatan dari Blok Lemang tersebut pada 2012. Di sini, SUGI menggunakan dana right issue untuk melakukan aksi akuisisi tersebut.  

SUGI bisa dibilang melakukan right issue jumbo karena melepas 98,37 persen saham baru dengan harga Rp100 per saham. Sehingga, total target dana yang dihimpun oleh SUGI senilai Rp2,4 triliun. Nantinya, 85 persen dana itu akan digunakan untuk akuisisi 100 persen saham Root Asia di Eastwin Global Investment Limited. Sisanya, untuk belanja modal di Blok Lemang serta Modal kerja.

Menariknya, dari aksi right issue ini, Ramba Energy tidak mengambil haknya sehingga terdilusi menyisakan 0,64 persen kepemilikan saham. Hak saham baru Ramba Energy diambil oleh pembeli siaga, yakni Goldenhill  Energy Fund yang sebenarnya dimiliki oleh Edward Soeryadjaya. 

Setelah Ramba Energy cabut, SUGI malah berniat mengakuisisi 51 persen saham Ramba Energy pada 2013. SUGI memperkirakan biaya akuisisi sekitar 112 juta dolar Singapura. Nantinya, dana itu didapatkan dari kas internal dan pinjaman. 

Namun, aksi akuisisi itu urung terjadi setelah sempat terjadi beberapa penundaan hingga 2014. Lalu, kami cek hingga 2015, di laporan keuangan SUGI tidak ada nama Ramba Energy sebagai entitas anak. Status Ramba Energy hanya sebagai pihak terafilaisi yang berasal dari satu pengendali. 

Adapun, berbagai cerita akuisisi yang rumit serta melakukan akuisisi beberapa perusahaan yang kini menjadi anak usaha telah melejitkan harga saham SUGI hingga tembus Rp500 per saham. Bisa dibilang dari Juni 2012 hingga Juni 2013, harga saham SUGI terbang 396 persen. Namun, setelah itu, harga saham SUGI terus sideways dan cenderung turun hingga disuspensi di level gocap sampai saat ini.

Polemik Dana Pensiun dan Anak Usaha Pailit

Dari euforia lonjakan harga saham SUGI pada 2012-2013, saham migas itu masuk ke fase baru, yakni drama dengan dana pensiun. 

Edward Soeryadjaya yang pada 2014 juga menjadi direktur Ortus Holding Ltd., berkenalan dengan Muhammad Kamal Lubis, yang saat itu menjadi Presiden Direktur Dana Pensiun Pertamina. Dalam pertemuan itu, Edward disebutkan meminta agar dana pensiun Pertamina membeli saham SUGI. 

Sampai akhirnya Helmi sepakat menempatkan dana Dapen Pertamina senilai Rp601 miliar saham SUGI lewat PT Millenium Danatama Sekuritas. 

Namun, dari laporan hasil pemeriksaan investigatif dalam rangka perhitungan kerugian keuangan negara atas kegiatan penempatan investasi pengelolaan dana pensiun Pertamina 2013-2015 oleh Badan Pemeriksa Keuangan mencatat dana pensiun Pertamina digunakan untuk menyelesaikan pembayaran kewajiban pinjaman Ortus Holding Ltd., milik Edward, dengan jaminan saham SUGI. 

BPK mencatat ada sekitar lima transaksi repo saham SUGI menggunakan uang dana pensiun Pertamina tersebut dengan total Rp600-an miliar. 

Dari sisi Edward, dia mengaku merasa ditipu karena sahamnya dibeli oleh Dana Pensiun Pertamina. Awalnya, Edward melakukan penjualan saham SUGI ke Dana Pensiun Pertamina agar harganya naik. Namun, pergerakan harga saham justru sebaliknya malah makin turun. 

Namun, Edward kadung ditetapakan sebagai terdakwa dan dihukum 15 tahun penjara pada 2019. 

Sampai kuartal II/2018, Dana Pensiun Pertamina masih memegang sekitar 1,88 miliar lembar saham SUGI atau setara 8 persen dari total lembar saham. Adapun, pemegang saham terbesar justru publik sebesar 67 persen, Goldenhill Energy Fund sebesar 12 persen, Interventures Capital sebesar 7 persen, dan Credit Suisse Ag sebesar 6 persen.

Bak jatuh ketimpa tangga, SUGI juga harus berkutat dengan risiko pailit salah satu anaknya, yakni Petroselat Ltd. 

Jadi, Petroselat adalah perusahaan patungan SUGI dengan International Mineral Resources Inc. (IMR) ini mengelola blok migas Selat Panjang, Riau yang masih dalapm tahap eksploaris dan produksi onshore. 

Namun, Petroselat gagal memneuhi kewajiban pembayaran kepada pemasoknya hingga digugat pailit pada 2016. 

Sebenarnya, sempat damai,  tapi ternyata SUGI makin kesulitan pembayaran. Ditambah, kontrak di Selat Panjang sudah mau usai pada 2018. 

Sampai akhirnya SUGI bernegosiasi dengan Kementerian ESDM untuk mendapatkan perpanjangan penyelesaian kepailitan Petroselat. Saat itu, SUGI mengaku berencana melakukan perjanjian dengan para pemberi pinjaman senilai 29 juta dolar AS utnuk bisa membayar seluruh kewajibannya terkait wilayah kerja Selat Panjang. 

Namun, apesnya, Direktur Utama SUGI Abhaya Bhushan Chatterjee, yang merupakan warga negara India tidak punya izin tenaga kerja asing. Padahal, sang Dirut yang menjadi penghubung SUGI dengan calon pemberi pinjaman. 

Ditambah, kondisi perusahaan makin mengkhawatirkan karena jumlah karyawan hanya tersisa dua aorang pada kuartal III/2018 dibandingkan dengan 49 pada 2017. 

Selepas batal akuisisi Ramba Energy, dan tersangkut kasus dana pensiun Pertamina hingga masalah anak usaha pailit, kinerja SUGI juga ambrol. Terakhir, SUGI mendapatkan laba bersih pada 2014 senilai Rp58 miliar, setelah itu SUGI terus merugi. 

Harga saham SUGI pun tak pernah kembali ke puncak kejayaannya pada 2013 hingga terjun bebas di Rp50 per saham serta disuspensi BEI sejak 2019.

Upaya Kebangkitan SUGI

Sebenarnya, perseroan mengklaim telah menyusun beberapa rencana bisnis untuk melanjutkan bisnisnya, seperti rencana berpartisipasi dalam proyek minyak Cepu pada 2020. SUGI klaim sudah melakukan penandatangan MoA dengan PT Nureka selaku KSO 44 sumur minyak di Cepu. Nantinya, SUGI akan memiliki saham sekitar 85 persen untuk 44 sumur tersebut hingga berpotensi mendapatkan pendapatan sekitar 2.000 barel minyak per hari.

Lalu, manajemen juga sempat mengajukan kebutuhan modal kerja senilai Rp43 miliar untuk operasional perseroan. Caranya, mereka sempat menjajaki penerbitan surat utang dalam bentuk convertible note. Perseroan mengklaim beberapa pihak siap menjadi investor SUGI, begitu pula dengan investor eksisting juga berminat menyerap surat utang tersebut. 

Sementara itu, perseroan mengakui masih memiliki aset di Blok Lemang, yang juga dimiliki oleh Ramba Energy, eks pemegang saham SUGI. Namun, manajemen menyebutkan, dari laporan SKK Migas, perseroan disebut sudah tidak punya aset sama sekali. Untuk itu, perseroan tengah melakukan restrukturisasi.

Restrukturisasi yang dilakukan adalah perseroan akan berusaha mencari keberadaan pemegang saham pengendalinya dan aset SUGI yang harusnya masih ada di Singapura. SUGI pun menekankan kalau perseroan tidak ada melepaskan anak usaha, termasuk Eastwind yang memegang hak pengelolaan Blok Lemang. 

Namun, jika melihat komposisi saham SUGI, memang saat ini perseroan sudah tidak ada pengendali lagi. Pasalnya, 60-an persen saham SUGI dipegang publik, sedangkan Goldenhill Energy Fund yang sebelumnya adalah pengendali, kini hanya memegang 12 persen saham saja.

SUGI sendiri masih berharap untuk bisa bertemu dengan pemegang saham pengendali sebelumnya dan mengadakan RUPS tahunan untuk bisa meminta setoran modal demi perusahaannya bisa lanjut beroperasi. 

Kini, saham SUGI masuk dalam list yang berpotensi delisting. Jika saham SUGI delisting, ada cukup banyak investor publik yang nyangkut di saham tersebut. Belum lagi, dana pensiun pertamina yang berpotensi kehilangan dana Rp600-an miliar karena nyangkut di SUGI. Jika modal dana pensiun Pertamina senilai Rp610 miliar. Berarti, harga rata-rata yang dimilikinya sekitar Rp300 per saham. 

Kira-kira apakah ada peluang untuk  SUGI bangkit sekali lagi agar investor publik dan dana pensiun Pertamina bisa keluar?

Mau dapat guideline saham dividen 2024?

Pas banget, Mikirduit baru saja meluncurkan Zinebook #Mikirdividen yang berisi review 20 saham dividen yang cocok untuk investasi jangka panjang lama banget.

Kalau kamu beli #Mikirdividen edisi pertama ini, kamu bisa mendapatkan:

  • Update review laporan keuangan hingga full year 2023 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Siap mendapatkan dividen sebelum diumumkan (kami sudah buatkan estimasinya)

Tertarik? yuk langsung join Mikirdividen + pakai kode kupon MIKIRWINDRES untuk dapat diskon Rp100.000 dengan klik di sini

Referensi