Jejak Saham POLL dari Mendunia Hingga Melempem

Bicara saham properti, sebelum PANI, ada yang lebih fenomenal, yakni POLL. Saham yang IPO-nya cuma Rp600-an per saham ini pernah sempat ke Rp11.000. Lalu, kenapa sekarang tenggelam?

Jejak Saham POLL dari Mendunia Hingga Melempem

Mikirduit – Berhubung sektor properti lagi ramai, bahasan saham notasi pekan ini jatuh kepada PT Pollux Properties Indonesia Tbk. atau saham POLL. Jika kamu ingat, saham ini pernah fenomenal karena meroket hingga tembus Rp10.000-an per saham. Namun, kini harga sahamnya tersisa Rp148 per saham. Apa yang sebenarnya terjadi?

POLL merupakan saham milik kerajaan Bisnis keluarga Po, yang listing di Bursa Efek Indonesia pada 2018. Waktu itu POLL IPO dengan harga penawaran perdana Rp615 per saham dengan total dana yang dihimpun senilai Rp767 miliar. 

Menariknya, 99 persen dana IPO digunakan untuk mengambil alih obligasi konversi PT Royal Royce Properties yang dimiliki PT World Apparel dan PT Surya Masindo senilai Rp750 miliar. Adapun, World Apparel adalah entitas yang memilliki afiliasi dengan POLL secara tidak langsung melalui PT Golden Flower Tbk. (POLU). Dalam prospektus POLU, World Apparel memiliki manajemen kunci yang sama dengan Golden Flower. Di mana, saham POLU ini dimiliki oleh orang tua dari Nico Po, yang merupakan pemegang saham POLL. 

Adapun, jika dihitung price to book value saham POLL waktu IPO yang diharga Rp615 per saham itu sebesar 2,76 kali. Apakah itu mahal? harusnya iya untuk skala saham properti yang biasanya PBV tidak lebih tinggi dari 2 kali. [dengan melihat rata-rata PBV saham properti seperti BSDE, CTRA, dan SMRA dalam lima tahun terakhir]

Saat IPO, beberapa proyek yang sudah dikerjakan POLL antara lain, Paragon Semarang, Central City Mall, Marquis de Lafayette, The Kensington, dan Gangnam District di Bekasi. 

Dari sisi kinerja keuangan sendiri, saat IPO terlihat tidak ada yang spesial. Seperti, pendapatan tumbuh 11,65 persen menjadi Rp441 miliar, dan laba bersihnya naik 32 persen menjadi Rp60,78 miliar. Namun, arus kas operasionalnya negatif Rp21 miliar. Hal ini jelas menjadi banyak tanda tanya ketika saham tersebut mampu meroket dari Rp600-an per saham jadi Rp10.000-an per saham.

POLL Membawa Nama Nico Po Jadi Triliuner Termuda 

Setelah resmi listing di BEI pada 11 Juli 2018, saham POLL sempat sekali langsung Auto Rejection Atas (ARA), dan dua kali kenaikan, sebelum mengalami penurunan selama dua hari beruntun. Memang, tampak tidak ada yang spesial dengan pergerakan saham POLL di awal-awal. 

Sampai setahun setelah IPO, harga saham POLL yang sebelumnya tampak kurang likuid, mulai menunjukkan tren naik. Sampai 3 Maret 2020, harga saham POLL sempat menyentuh level Rp11.000 per saham atau 1.688 persen dari harga IPO-nya. 

Sampai Bloomberg secara khusus menuliskan artikel tentang saham POLL dengan judul "Mysterious Stock Surge Produces Indonesia's Newest Billionaire."

Dengan lonjakan harga saham itu, Nico Po yang memiliki saham POLL telah menjadi miliarder baru di Indonesia dalam usia 37 tahun. Nada manis cerita Bloomberg pun menghubungkan kenaikan harga saham POLL dengan beberapa proyek besar di lokasi strategis yang dijalankan perusahaannya. 

Bahkan, di pembukaan artikelnya dibuat sebuah kutipan yang sangat bernada 'public relation', yakni "Sebelumnya ada kekhawatiran, apakah kami bisa melaksanakan yang sudah dijanjikan kepada konsumen, tapi kami telah membuktikannya," ujar Nico Po dalam artikel yang dirilis pada Oktober 2019 tersebut. 

Kala itu, saham POLL sangat fenomenal karena menjadi saham dengan penguatan tertinggi di dunia dari total 4.700 saham Bloomberg World Index. 

Namun, pengamat dan analis menanggapi dingin terkait lonjakan saham POLL kala itu. Seperti, Direktur Ciptadana Sekuritas menilai saham POLL tidak terlalu likuid, sehingga harga sahamnya belum tentu mencerminkan fundamental perusahaannya. Begitu juga dengan Christopher Andre Benas yang saat itu sebagai analis sektor rea estate di RHB Research Institute menyebutkan valuasi POLL tidak masuk akal. 

Di luar itu semua, lonjakan saham POLL telah membuat Nico sempat memiliki kekayaan sekitar Rp50 triliun kala itu. Selain POLL, Nico juga memiliki 90 persen saham bisnis properti keluarganya yang listing di Singapura, yakni Pollux Properties. 

Di tengah lonjakan harga saham POLL itu, ada beberapa proyek yang dijadikan bantalan penyokong harga sahamnya seperti: 

  • Penyelesaian World Capital Tower yang waktu itu disebut sebagai salah satu gedung tertinggi di Jakarta
  • Pollux Sky Suites, kondominium mewah di Mega Kuningan
  • Pembangunan proyek Meistertadt di Batam yang juga bekerja sama dengan keluarga Habibie. 

Nico Po benar-benar di atas angin waktu itu. Dia mengaku dirinya yang mempelopori keluarganya untuk ekspansi ke sektor properti. "Saya melihat peluang bagus dan merasa saatnya masuk ke sana," ujarnya. 

Adapun, dia menilai kenaikan harga saham POLL menggambarkan investasi adalah properti yang menghasilkan pendapatan berulang setelah beroperasi. "Kepercayaan investor meningkat, karena kami mampu menyelesaikan proyek besar. Lalu, proyek besar itu akan membuat kami menerima pendapatan berulang yang stabil di masa depan," ujarnya. 

Hingga Nico sempat menyinggung ingin melihat peluang dari pemindahan ibu kota Indonesia ke Kalimantan, di mana POLL waktu itu belum punya lahan di daearah tersebut.

Saat itu, POLL baru merilis laporan keuangan kuartal I/2019. Hasilnya memang masih sensaional, karena mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan hingga 264 persen menjadi Rp219 miliar. Lalu, laba bersihnya juga tumbuh 98 persen menjadi Rp13,43 miliar. Namun, lonjakan pendapatan saat itu masih didukung oleh penjualan properti, sedangkan pendapatan berulang perseroan hanya berkontribusi sebesar 0,28 persen dari total pendapatan.

Baca Series Notasi Lainnya:

  1. Kisah Saham FREN yang Rugi Terus Tapi Masih Bisa Bertahan Hidup
  2. Mimpi Besar MNC di BABP dan Nasib Merger dengan NOBU
  3. Saham AISA yang Menjadi Pesakitan di ICBP
  4. KIJA yang Tiba-tiba Terancam Bangkrut Pada 2019
  5. Saham TPIA, Proyek Petrokimia Soeharto yang Diambil Alih Prajogo
  6. Saham PPRO Pernah Jadi Primadona, Kini Nyaman di Gocap
  7. Saham UNVR Si Raksasa Consumer Goods yang Terjatuh
  8.  Nasib Saham BTPS, Eks Ladang Cuan T.P Rachmat yang Lagi Turun
  9. Saham BEKS, Proyek Bank Sandiaga-Rosan yang Gagal

Pasang Surut Saham POLL di Era Pandemi Covid-19

Saat terjadi pandemi Covid-19 sejak Maret 2020, di mana pasar saham Indonesia juga mengalami crash yang cukup parah. Saham POLL sempat anjlok hingga sebesar 69 persen menjadi level Rp3.000-an per saham dalam kurun waktu 6 bulan. Namun, setelah itu, saham POLL sempat kembali bangkit ke Rp10.000-an per saham didorong oleh dua sentimen besar. 

Pertama, POLL disebut menjadi pemilik saham 99 persen di dua perusahaan, yakni PT Pollux Aditama Kencana dan PT Duta Megah Laksana. 

Pollux Aditama Kencana memiliki proyek terintegrasi Chadstone di Cikarang, Jawa Barat. Lalu, Duta Megah Laksana mengembangkan proyek kondotel Amarsvati di Lombok, NTB. 

Kedua, rampungnya beberapa proyek POLL yang mulai akan masuk serah terima. Tiga proyek yang diselesaikan POLL antara lain, Chadstone Cikarang, Pollux Meisterstadt Batam, dan World Capital Tower. 

Namun, setelah itu, harga saham POLL malah terus turun hingga per 3 November 2023 dihargai senilai Rp149 per saham.  Penurunan harga saham POLL pun tak terbendung meski pada 2022 sempat mencatatkan laba bersih Rp478 miliar dari rugi Rp110 miliar pada 2021. Namun, kenaikan laba bersih itu didorong dari aksi penjualan aset senilai Rp447 miliar. Sehingga kinerjanya itu tidak terepresentasi ke harga sahamnya.

Sampai kuartal III/2-23, POLL juga tidak menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Pendapatan POLL turun 42 persen menjadi Rp171 miliar, sedangkan laba bersihnya turun 97 persen menjadi Rp10 miliar. Dari situ, POLL sudah mencatatkan pendapatan berulang sebesar 18,96 persen dari total pendapatan. 

Adapun, sampai kuartal III/2023, perseroan masih mengerjakan beberapa proyek seperti, World Capital Tower yang sudah mencapai 99 persen rampung, Amarsvati Luxury Condotel Lombok sudah 94 persen rampung, Proyek Meisterstadt Batam sudah 91 persen rampung, Sky Suites Kuningan baru 29,6 persen rampung, serta Pollux Technopolis Karawang baru 9,73 persen rampung. 

Harga saham induk usahanya, Pollux Properties di Singapura juga tidak bergerak banyak dalam 5 tahun terakhir. Sampai 3 November 2023, saham Pollux Properties di Singapura dengan kode PLPS hanya 0,035 dolar Singapura per saham. 

Sementara itu, kinerja induk POLL ini bisa dibilang lebih baik. Perusahaan yang listing di Singapura itu mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 4,55 persen menjadi 6,67 juta dolar Singapura, serta laba bersih naik 1,51 persen menjadi 2 juta dolar Singapura.

Dari semua itu, digdaya kehebohan saham POLL hanya terjadi sementara saja, yakni pada 2019 dan 2020. Pasang surut saham yang meroket tanpa dilandasi oleh fundamental yang kuat memang bisa sangat cepat. Sesuai pepatah, sesuai yang naik terlalu kencang, jatuhnya juga lebih cepat. 

Siapa yang waktu itu sempat menikmati indahnya cuan di saham POLL? atau malah jadi nyangkuters di saham ini?

Mau dapat guideline saham dividen 2024?

Pas banget, Mikirduit baru saja meluncurkan Zinebook #Mikirdividen yang berisi review 20 saham dividen yang cocok untuk investasi jangka panjang lama banget.

Kalau kamu beli #Mikirdividen edisi pertama ini, kamu bisa mendapatkan:

  • Update review laporan keuangan hingga full year 2023 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Siap mendapatkan dividen sebelum diumumkan (kami sudah buatkan estimasinya)

 Yuk langsung join Mikirdividen DISKON LANGSUNG Rp100.000 klik di sini ya

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Referensi