3 Cara Efisiensi Biaya Ngopi Tanpa Menghentikan Konsumsinya, Ampuh untuk Kejar Goals Keuangan Nih
Minum kopi sudah jadi kebutuhan harian, tapi pengeluarannya bisa mencapai jutaan rupiah setiap bulan. Bagaimana cara tetap menikmati kopi sambil berhemat hingga Rp1 juta per bulan? Simak tiga strategi yang bisa dicoba tanpa harus berhenti ngopi.
Mikirduit – Kopi disebut minuman wajib yang membuat adanya kebutuhan anggaran khusus dari pendapatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Lalu, dalam in this economy, bagaimana cara mengefisiensikan kebutuhan minum kopi agar tidak mengganggu kebutuhan pengelolaan uang untuk tujuan masa depan?
Key Takeaways
- Kebiasaan minum kopi bisa menggerus keuangan tanpa disadari. Konsep Latte Factor menunjukkan bahwa pengeluaran kecil yang dilakukan rutin bisa menjadi nominal besar dalam jangka panjang. Namun, bukan berarti harus berhenti menikmati kopi.
- Ada tiga cara menghemat pengeluaran kopi tanpa harus mengorbankan kebiasaan sepenuhnya. Mulai dari mengurangi frekuensi pembelian, memanfaatkan promo dan program berlangganan, hingga beralih ke merek kopi yang lebih terjangkau.
- Penghematan kopi berpotensi mencapai ratusan ribu hingga Rp1 juta per bulan. Dana yang berhasil dihemat bisa dialokasikan untuk memperkuat dana darurat, menambah investasi, atau mencapai tujuan keuangan lainnya.
Sebenarnya, tren kebutuhan minum kopi ini terjadi bukan hanya di Indonesia dan saat ini saja. Hal tersebut juga terjadi di Amerika Serikat sehingga David Bach, seorang pakar keuangan dan penulis membuat istilah Latte Factor.
Latte Factor adalah istilah yang merujuk kepada aktivitas mengeluarkan uang dalam jumlah kecil secara rutin tanpa disadari, yang jika diakumulasikan dalam jangka panjang menjadi sangat besar.
Istilah itu digunakan oleh Bach dalam bukunya berjudul The Automatic Millionaire karena memperhatikan kebiasaan banyak pekerja yang membeli kopi seharga 3 sampai 5 dolar AS setiap hari kerja.
Secara harian, nominal ini terlihat kecil, tapi dalam 10-30 tahun dan diinvestasikan bisa menghasilkan keuntungan yang signifikan.
Namun, dengan banyak yang kontra dengan istilah Latte Factor, Bach menjelaskan jika konsep Latte Factor hanya metafora yang memberikan gambaran tentang kemana perginya yang kecil dari pendapatan yang didapatkan. Bukan berarti melarang orang minum kopi.
Untuk itu, dalam In This Economy, mungkin pengeluaran kopi bisa disesuaikan untuk meningkatkan porsi dana darurat, kebutuhan investasi, dan faktor lainnya. Walaupun, mungkin ada yang bilang, “Daripada rugi investasi (karena IHSG lagi tertekan signifikan karena faktor MSCI yang mau downgrade Indonesia ke Standalone Market), lebih baik beli kopi.”
Tapi, kami mengingatkan meningkatkan porsi dana darurat hingga cash bertumbuh dalam artian ditempatkan di aset yang sesuai dengan pemahamanmu juga penting.
Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk tetap menikmati kopi dan bisa meningkatkan jumlah simpanan uang secara berkala? Pilihan aset berbasis dolar AS bisa cek di sini
Beberapa caranya antara lain:
Mengurangi Frekuensi Konsumsi Kopi Secara Bertahap
Pertama, mengurangi frekuensi membeli kopi. Misalnya, dalam sehari kamu bisa 2-3 kali minum kopi yang menghabiskan Rp100.000 sekali minum. Lalu, kamu memangkasnya menjadi hanya 1 kali sekitar Rp35.000 sekali minum. Hal itu bisa membuatmu hemat sekitar Rp65.000. Tapi, kalau tidak kuat langsung 1 kali, bisa kurangi menjadi 2 kali, sedangkan jika biasanya sehari 1 kali dikurangi jadi seminggu 3 -4 kali. Setidaknya, ada progres penghematan tanpa menyiksa diri dengan menghentikan kebiasaan.
Misalnya, dalam 1 hari bisa hemat Rp30.000 - Rp50.000, berarti dalam 1 bulan (sekitar 20 hari kerja), kamu bisa hemat Rp600.000 - Rp1 juta. Jika biasanya seminggu 5 kali minum 1 kopi harga Rp35.000. Lalu, menghilangkan 1 hari per minggu, berarti sebulan bisa memangkas Rp140.000. Nantinya, di periode selanjutnya coba dikurangi hingga cukup 2 kali seminggu (tapi sesuai dengan kemampuan). Sehingga jumlah yang bisa dioptimalkan untuk kebutuhan dana darurat hingga investasi bisa mencapai Rp400.000-an per bulan.
Cari Promo dan Diskon Tiap Hari Agar Lebih Hemat
Kedua, tetap minum kopi dengan frekuensi sama, tapi mengoptimalkan promo yang ada. Ini cocok untuk kamu yang intinya kopi, terserah mau rasanya gimana.
Misalnya, Kopi Kenangan memberikan promo beli 1 Gratis 1 setiap hari Senin dan Selasa. Artinya, kalau kamu tidak peduli apapun kopinya, kamu bisa cari teman untuk bisa beli 1 tapi dapat 2.
Dalam ketentuan beli 1 gratis 1 tersebut, produk pertama ukuran large seperti Butterscotch Aren Latte hingga Dua Shot Ice Shaken, sedangkan 1 produk gratisnya ukuran reguler dari Americano hingga Black Aren Latte.
Untuk produk ukuran large harga termahal antara lain Creamy Aren Latte atau Matcha Latte senilai Rp31.000 - Rp32.000 dan Caramel Machiato senilai Rp32.000. Kamu bisa ambil yang gratisannya dengan membayar Rp10.000 ke temanmu, sehingga temanmu mendapatkan benefit diskon cashback darimu, dan kamu juga lebih hemat Rp5.000 - Rp10.000. (Rata-rata harga gratis ukuran regulernya sekitar Rp15.000 - Rp20.000).
Jika kamu minum sehari sekali selama sebulan di hari kerja, berarti kamu bisa hemat Rp60.000 per bulan tanpa mengurangi frekuensi minum kopinya.
Selain itu, kamu juga bisa download apps atau channel dari masing-masing kedai kopi yang biasanya memberikan diskon spesial.
Misalnya, Fore Coffee memiliki layanan berlangganan dengan dua plan, yakni Starter senilai Rp9.000 per bulan dengan benefit bisa Buy 1 Get 1 setiap tanggal 25 hingga diskon 20 persen dengan maksimal Rp30.000 (bisa berkali-kali), serta plan Signature senilai Rp24.000 per bulan dengan gratis 1 kali Free Cup, Buy 1 Get 1, hingga Diskon 25 persen maksimal Rp50.000.
Dengan harga minuman di Fore Coffee sekitar Rp23.000 - Rp34.000 dengan asumsi kebutuhan kopi 1 hari sekali, berarti dengan langganan Rp9.000 per bulan, kamu bisa hemat Rp129.000 - Rp215.000 per bulan per bulan (sudah dikurangi biaya berlangganan) dengan asumsi jatah Buy 1 Get 1 tidak dihitung potongan harga karena kamu gunakan untuk bersosialisasi (traktir teman dan kerabatmu). Jika langganan yang signature, kamu bisa hemat Rp119.750 - Rp188.500.
Cara ini memang agak effort karena harus mencari teman, kamu tidak pilih-pilih kopinya dan mengikuti prosedur untuk mendapatkan promosi mulai dari download apps, berlangganan, atau mengikuti syarat promosi lainnya.

Downgrade Kelas Kopimu
Ketiga, cara yang paling ekstrem lainnya adalah downgrade kelas kopimu. Misalnya, kamu terbiasa di Starbucks atau The Coffee Bean dengan rentang harga Rp40.000 - Rp75.000 per cup. Lalu, kamu bisa berhemat dengan pindah ke Djournal Coffee hingga Excelso yang sekitar Rp35.000 - Rp50.000 per cup. Dari sini, kamu bisa hemat sekitar Rp5.000 hingga Rp40.000. Jika jatahmu 1 hari sekali di hari kerja, berarti kamu bisa hemat Rp100.000 hingga Rp800.000.
Lalu, tingkat hemat juga bisa lebih murah jika menurunkan level ke Fore Coffee, Kopi Tuku, kopi Kenangan, hingga Tomoro Coffee yang harga per cupnya sekitar Rp25.000 - Rp30.000. Artinya, kamu bisa hemat Rp15.000 - Rp50.000 per hari atau Rp300.000 - Rp1 juta per bulan.
Bagaimana jika yang sudah berada di level Fore Coffee, Kopi Tuku, Kopi Kenangan, dan Tomori Coffee? kamu bisa turunkan lagi ke level lebih rendahnya seperti Kopi Jago hingga Kopi Family Mart yang berkisar Rp10.000 - Rp15.000 per cup. Dari sini, kamu bisa hemat sekitar Rp15.000 - Rp20.000 per cup. Jika jatah 1 hari setiap kerja, berarti jumlah uang yang dihemat mencapai Rp300.000 - Rp400.000 per bulan.
Jika kamu sudah berada di level Kopi Jago dan Kopi Family Mart, downgrade selanjutnya bisa ke kopi kemasan seperti Golda hingga Kopi Sachet dan bikin sendiri di pantry kantor. Harga kopi Golda bisa sekitar Rp5.000 per botol atau harga kopi sachet sekitar Rp3.000 per sachet. Di sini, kamu bisa hemat hingga mencapai Rp5.000 - Rp12.000 per hari atau Rp100.000 hingga Rp240.000 per bulan.
Kesimpulan
Melakukan efisiensi disarankan tidak drastis, tapi bisa bertahap serta disesuaikan dengan kebutuhanmu. Bahkan, 3 cara yang kami berikan ini bisa dilakukan secara bersama-sama untuk meningkatkan efisiensi menjadi lebih tinggi. Tapi, kamu juga harus siap mengubah kebiasaan, jika tidak bertahap pelan-pelan dulu saja,
Akan lebih baik, jika kamu juga punya tujuan keuangan sehingga saat melakukan ini, kamu punya komitmen yang lebih kuat. Misalnya, kamu mau nabung beli smartphone baru untuk kebutuhan pekerjaan, rumah, hari tua, dana menikah, hingga lainnya.
Satu hal yang penting, jangan pernah menganggap remeh efisiensi yang dilakukan sekecil apapun, toh jika kamu konsisten dampaknya bisa luar biasa. Hal terpenting kamu tidak memaksakan diri sehingga komitmennya mudah goyah.
