Saham Indonesia Sudah Diskon Besar, Jadi Peluang atau Risiko? Begini Strateginya

IHSG anjlok 41 persen sepanjang 2026, membuat banyak saham terlihat murah secara historis. Namun, risiko MSCI, pelemahan rupiah, dan suku bunga masih membayangi. Simak strategi memilih saham diskon, mengatur kas, dan menentukan waktu investasi agar tidak terjebak value trap.

Share
saham dividen

Mikirduit – IHSG sudah turun 41 persen sepanjang 2026 (hingga 30 Oktober 2026), mayoritas saham sudah berada di harga yang cukup murah secara historis. Lalu, apa yang sebaiknya investor saham lakukan dalam kondisi saat ini?

Key Takeaways

  • IHSG turun 41 persen sepanjang 2026, tetapi saham murah belum tentu langsung naik. Risiko MSCI Standalone Market, pelemahan rupiah, tekanan APBN, dan potensi kenaikan suku bunga masih bisa memicu volatilitas pasar saham Indonesia hingga 2027.
  • Strategi investasi sebaiknya disesuaikan dengan jangka waktu penggunaan dana. Investor dengan horizon lebih dari 2 tahun bisa mempertimbangkan akumulasi saham secara bertahap, terutama saham berfundamental sehat dan dividend yield menarik. Sementara itu, dana yang dibutuhkan dalam 1–2 tahun lebih baik diprioritaskan pada aset likuid.
  • Fokus pada saham yang murah secara valuasi, bukan sekadar turun dalam. Saham dengan PE atau PBV Band mendekati atau di bawah -2 standar deviasi, fundamental yang masih bertumbuh, serta potensi pemulihan siklus bisnis bisa menjadi pilihan. Namun, strategi cicil beli dan manajemen risiko tetap menjadi kunci.
  • Cek pilihan saham investasi dengan perhitungan yang jelas antara peluang dan risiko, join Mikirsaham dengan klik link di sini

Penurunan harga saham sepanjang 2026 memang anomali. Beberapa saham yang mencatatkan tren kinerja keuangan yang positif diperdagangkan dengan harga yang lebih murah. Lalu, apakah ini menjadi peluang besar?

Jawabannya, kamu harus memahami apa risiko yang berpotensi terjadi beberapa waktu ke depan di pasar saham Indonesia?

Kami merangkumnya menjadi beberapa poin risiko yang harus diperhatikan:

Pertama, MSCI yang berencana melakukan konsultasi terkait pasar saham Indonesia yang mau diturunkan ke Standalone Market dengan keputusan paling lambat diberikan pada Juni 2027 bisa menjadi risiko tekanan market secara bertahap.

Risikonya, periode freeze pasar saham Indonesia dari rebalancing MSCI akan diperpanjang hingga Juni 2027.Artinya, pasar saham Indonesia berpotensi mengalami penurunan bobot. Jadi, dalam periode rebalancing pada November 2026, Februari 2027, dan Mei 2027, ada potensi tekanan di saham-saham Indonesia yang menjadi konstituen di MSCI. 

Kedua, risiko makroekonomi. Posisi harga minyak yang berada di atas 100 dolar AS per barel sepanjang 2026, serta pelemahan rupiah, membuat risiko terhadap APBN Indonesia terkait subsidi energi.

Kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi kenaikan harga energi dengan anggaran jumbo proyek prioritas seperti Makan Bergizi dan Koperasi Desa Merah Putih menjadi sorotan dalam strategi bertahan saat risiko makro ekonomi meningkat.

Pemangkasan anggaran Program Makan Bergizi dan Koperasi Desa Merah Putih bisa jadi sentimen positif, hingga potensi subsidi energi. Khusus pemangkasan subsidi energi bisa menjadi pedang bermata dua. Subsidi dipangkas bisa membuat APBN lebih longgar, tapi bisa berdampak buruk terhadap inflasi dan perlambatan ekonomi.

Ketiga, tren kenaikan suku bunga bank sentral setelah Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan menaikkan suku bunga pada Desember 2026. Bank Indonesia juga berpotensi menaikkan suku bunga pada November 2026 untuk stabilisasi rupiah. 

Dalam risiko ini, apakah masih worth it mengambil momentum harga saham yang lagi diskon?

Jawabannya Tergantung rencanamu dengan uang yang ingin diinvestasikan, serta kesiapanmu dengan risiko.

5 Aset Alternatif jika Saham Indonesia Jadi Standalone
Khawatir pasar saham Indonesia turun kasta menjadi Standalone Market? Kenali lima aset alternatif, dari reksa dana pasar uang hingga ETF global, sesuai kebutuhan dana dan profil risiko.

Jika kamu punya kebutuhan penggunaan uang lebih dari 2 tahun ke depan, kami menilai masuk ke saham Indonesia dalam kondisi saat ini masih cukup worth it dari segi peluang dan risikonya. (Bukan berarti 100 persen pasti akan naik dalam 2 tahun ke depan, tapi dari segi timeframe hold dengan valuasi saat ini sudah menarik).

Lalu, untuk pemilihan saham, ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan:

  • Saham non-MSCI dan non-high shareholding concentration yang memiliki dividen, minimal tingkat dividend yield 6 persen. 
  • Saham MSCI yang memiliki dividen di atas 7 persen

Kenapa harus ada dividen? kami mempertimbangkan potensi risiko terburuk dalam ekonomi yang bisa mempengaruhi pergerakan harga saham. Jadi, jika ternyata ada risiko yang membuat harga sulit naik, setidaknya kamu bisa mendapatkan dividen hingga periode kenaikan harga saham terjadi. 

Selain itu, hal terpenting lainnya adalah jangan ALL IN di satu harga. Meski kamu sudah punya modalnya dalam skala besar, kami tetap sarankan masuk setiap bulan sekali. 

Alasannya, sentimen ekonomi makro hingga sentimen teknis MSCI akan menghantui setiap bulannya. Dalam periode per bulan itu akan ada fase harga naik tinggi, dan koreksi lagi. Sehingga masuk per bulan akan membantu manajemen risiko dari potensi fluktuasi anomali yang berpotensi terjadi.

Untuk kamu yang sudah punya modalnya, kami memberikan strategi manajemen kas untuk menghadapi risiko market saat ini. 

Kamu bisa membagi kas untuk cicil beli saham bulanan ke aset likuid seperti reksa dana pasar  uang, pendapatan tetap, dan SBN dengan skema seperti ini:

  • Dana untuk cicil bulanan selama 6 bulan ke depan bisa ditempatkan di reksa dana pasar uang
  • Dana untuk cicil  bulanan bulan ke-7 dan seterusnya bisa ditempatkan di SBN FR hingga Indon atau ETF US Treasury Bond. Catatannya, skema ini bisa diatur sesuai kapan kamu mulai cicil dan waktu pembagian dividen atau kupon obligasinya. Kami targetkan minimal sudah mendapatkan 1 kali kupon (untuk FR rata-rata 6 bulan sekali) atau dividen ETF US Treasury Bond (rata-rata 1 bulan sekali)

Bagaimana jika dananya akan digunakan dalam 1-2 tahun ke depan? kami sarankan untuk di aset likuid seperti reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, SBN, atau ETF US Treasury Bond. 

Tapi, jika ingin di saham, atur alokasinya 70-90 persen di aset likuid, sedangkan sisanya bisa di saham dengan strategi swing trade jangka menengah dengan memperhatikan momentum dan fundamental sahamnya.

Jika Tertarik Pilih Saham, Apa Sektor Saham yang Menarik Saat Ini?

Dalam memilih, apa saham atau sektor yang bisa dilirik saat ini? kami akan memberikan beberapa klu yang harus diperhatikan agar kamu tidak salah langkah. 

Hal yang pertama, jangan pilih saham yang dalam beberapa waktu terakhir sempat naik dan mulai retracement. Misalnya, beberapa saham itu antara lain CPO, Batu bara, hingga migas.

Alasannya, saham-saham tersebut naik karena faktor sebelumnya harga komoditasnya meroket. Namun, jika di 2027 ada konsolidasi harga komoditas hingga kinerja keuangannya, berarti ada potensi kinerja melambat dan bukan tidak mungkin harga saham lanjut tertekan.

Untuk bisa memahami apakah sebuah saham sudah mengalami kesalahan harga bisa menggunakan metriks Price to Earnings (PE) Band (untuk saham consumer goods, ritel), Price to Book Value (PBV) Band (untuk saham bank, dan capital intensive seperti telekomunikasi, tambang, komoditas, dan properti). Nantinya, kamu bisa melihat PE atau PBV band dalam 3-5 tahun terakhir disesuaikan dengan kondisi sahamnya.

Lalu, kami juga menyarankan untuk menghindari spekulasi di saham yang memiliki tingkat volatilitas yang sangat tinggi seperti beberapa saham konglomerat yang heboh di 2025. Kecuali, secara valuasi dibandingkan dengan peers-nya sudah menarik dan saham tersebut punya momentum pertumbuhan yang menarik. 

Kalau begitu, apa saham yang sebaiknya dipilih?

Jawabannya, saham tersebut secara bisnis mengalami siklus rendah. Misalnya, harga komoditasnya sedang berada di level terendah karena faktor oversupply dan hal lainnya. Artinya, jika sektor itu mulai mengalami penurunan produksi dan permintaan pulih, harganya bisa naik. Hanya saja biasanya butuh waktu yang tidak sebentar.

Saham yang Menarik Saat Ada Risiko Pelemahan Rupiah, Hanya Nikel?
Saham dengan pendapatan dolar AS yang bisa dilirik dan lagi diskon saat ini, kira-kira mana yang menarik?

Selain itu, bisa pilih saham-saham yang secara PE dan PBV band 3 atau 5 tahunnya sudah setara atau di bawah Standard Deviasi -2 dengan kondisi kinerja bisnis masih bertumbuh positif. 

Syarat lainnya, sebagai investor harus memahami risiko bisnis yang berpotensi dihadapi oleh saham terkait.

Hal yang paling diingat, saham itu adalah aset high risk yang sangat volatil. Berbeda dengan deposito atau obligasi yang memberikan keuntungan pasti dalam bentuk bunga atau kupon. Sehingga, manajemen risikonya bisa dalam bentuk masuk bertahap, membuat target keuntungan termasuk investasi sehingga ketika mencapai target sudah bisa dijual, serta menentukan alasan kuat saat harus jual dalam kondisi rugi (jika target jangka menengah panjang bisa berdasarkan fundamental, jangka pendek berdasarkan posisi harga saham secara teknikal).

Mau Dapat Insight Saham hingga Action-nya Sesuai dengan Kebutuhan?

Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Event Online Rutin bulanan
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang