5 Aset Investasi yang Bisa Jadi Pilihanmu Saat Pasar Saham Indonesia Terancam ke Standalone Market
Khawatir pasar saham Indonesia turun kasta menjadi Standalone Market? Kenali lima aset alternatif, dari reksa dana pasar uang hingga ETF global, sesuai kebutuhan dana dan profil risiko.
Mikirduit – Deretan aset alternatif jika investor khawatir pasar saham Indonesia diturunkan kastanya ke Standalone Market. Pilihan ini bisa jadi alternatif untuk kamu yang khawatir dengan risiko pergerakan pasar saham Indonesia hingga Juni 2027.
Key Takeaways
- Ada lima aset alternatif untuk menghadapi risiko pasar saham Indonesia: reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, obligasi negara, emas, dan ETF indeks saham global.
- Sesuaikan pilihan dengan kebutuhan dana dan toleransi risiko. Reksa dana pasar uang dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan dalam 12 bulan, sedangkan obligasi dan reksa dana pendapatan tetap tetap memiliki risiko penurunan harga, terutama pada tenor panjang.
- Diversifikasi bukan berarti meninggalkan saham Indonesia sepenuhnya. Emas dan ETF global dapat melengkapi portofolio jangka panjang, sementara saham dividen Indonesia tetap bisa dipertimbangkan dengan kesiapan menghadapi volatilitas.
- Cek pilihan saham investasi dengan perhitungan yang jelas antara peluang dan risiko, join Mikirsaham dengan klik link di sini
Sebelum menjelaskan asetnya, kami menekankan jika ini adalah alternatif jika kamu tidak kuat dengan risiko volatilitas di pasar saham Indonesia. Bukan berarti pasar saham Indonesia akan turun terus, tapi disesuaikan dengan kondisi kebutuhan dana (jangka menengah-pendek), profil risiko, hingga tujuan keuangan yang ingin dicapai.
Pasar saham Indonesia masih bisa jadi pilihan dengan beberapa strategi, salah satunya memburu saham dividend investing di luar saham yang sudah masuk MSCI dengan penurunan harga signifikan dan tingkat dividend yield di atas 10 persen. Kami sudah merangkum pilihannya ada di sini
Namun, jika ingin menggunakan dividend investing itu, berarti dana harus siap hold jangka panjang lebih dari 3 tahun. Jika ada kebutuhan dana 1-2 tahun lebih baik melirik aset alternatif ini. Lalu, apa saja pilihan asetnya?
Reksa Dana Pasar Uang
Reksa dana pasar uang menjadi salah satu aset pilihan jika ingin menempatkan dana darurat. Alasannya, aset ini sangat likuid dengan risiko volatilitas harga sangat rendah. Penempatan dana mayoritas ditempatkan di deposito bank, serta obligasi atau surat utang dengan tenor kurang dari 1 tahun. Surat utang dengan tenor kurang dari 1 tahun biasanya punya kelebihan volatilitas harganya lebih rendah karena jelang tenor selesai.
Apa saja pilihan reksa dana pasar uangnya?
Kami menggunakan tiga metriks sederhana (bukan berarti di luar ini jelek, tapi memilih yang paling menarik) dari dua APERD (Bibit dan Ajaib) yang memberikan datanya, yakni dana kelolaan di atas Rp100 miliar (setidaknya jika ada penurunan dana kelolaan tidak sampai di bawah Rp10 miliar), Expense Ratio di bawah 1 persen, dan keuntungan historis dalam 1 tahun. Untuk metriks terakhir hanya kami gunakan di reksa dana pasar uang.
Kami memilih 5 reksa dana pasar uang yang bisa jadi pilihan untuk alternatif aset, yakni:
- MNC Dana Lancar yang memiliki return historis 1 tahun terakhir 5,63 persen dengan expense ratio 0,59 persen, dan dana kelolaan Rp452 miliar
- Capital Money Market Fund dengan return historis 1 tahun terakhir 5,05 persen dengan expense ratio 0,65 persen, dan dana kelolaan Rp1,02 triliun
- PNM Dana Tunai dengan return historis 1 tahun terakhir 4,8 persen dengan expense ratio 0,55 persen dan dana kelolaan Rp667 miliar
- Avrist Dana Kas Mutiara dengan return 1 tahun 4,79 persen dan expense ratio 0,55 persen, serta dana kelolaan Rp441 miliar
- Henan Ultima MM dengan return 1 tahun terakhir 5,39 persen dan expense ratio 0,85 persen, serta dana kelolaan Rp1,6 triliun
Reksa Dana Pendapatan Tetap
Reksa dana pendapatan tetap dengan eksposure ke SBN juga bisa jadi pilihan menarik. Alasannya, siklus suku bunga mulai naik sehingga harga obligasi cenderung rendah. Saat nanti suku bunga mulai diturunkan, kamu bisa mendapatkan eksposure dari kenaikan harga obligasi negara.
Risikonya juga lebih terukur dibandingkan dengan eksposure ke obligasi korporasi. Kami menggunakan metriks yang lebih sederhana, yakni expense ratio di bawah 1 persen, drawdown sebagai informasi risiko, dan dana kelolaan di atas Rp100 miliar. Lalu, apa saja pilihan reksa dana pendapatan tetapnya?
Kami memilih reksa dana pendapatan tetap yang memiliki exposure terbesar ke SBN atau obligasi negara yang tersedia di Bibit dan Ajaib.
Hasilnya, ada 4 reksa dan terkait, yakni:
- ABF Indonesia Bond Indeks Fund dengan expense ratio 0,22 persen, dana kelolaan RP7,76 triliun, dan drawdown dalam 1 tahun terakhir -4,99 persen
- AXA Bond Income Kelas O dengan expense ratio 0,76 persen, dana kelolaan senilai Rp105 miliar, dan drawdown dalam 1 tahun terakhir -5,09 persen
- Insight Goverment Fund (I-Govt) dengan expense ratio 0,84 persen, dana kelolaan sekitar Rp128 miliar, dan drawdown dalam 1 tahun terakhir sekitar -6,63 persen
- BNI AM Short Duration Bonds Indeks Kelas RO dengan expense ratio 0,88 persen, dana kelolaan Rp167 miliar, dan drawdown 1 tahun terakhir -4,79 persen.

Obligasi Negara di Pasar Sekunder
Dengan aplikasi Ajaib dan Bibit, kamu juga bisa beli obligasi negara secara bertahap dengan nominal minimal Rp1 juta per bulan (minimal per unit). Lalu, apa obligasi negara yang menarik untuk dijadikan pilihan?
Kami menggunakan metriks yield tertinggi (dalam artian harganya lagi murah), posisi harga di bawah 100 persen, jatuh tempo masih lebih dari 5 tahun sehingga masih ada potensi volatilitas harga saat suku bunga turun, tingkat kupon 7 persen.
Hasilnya ada 5 pilihan:
- FR0111 dengan kupon 7 persen, harga 97,05 persen, dan jatuh tempo pada 15 Maret 2037
- FR0106 dengan kupon 7,12 persen, harga 97,8 persen, dan jatuh tempo pada 15 Agustus 2040
- FR0107 dengan kupon 7,12 persen, harga 97,5 persen, dan jatuh tempo pada 15 Agustus 2045
- FR0112 dengan kupon 7,25 persen, harga 99,3 persen, dan jatuh tempo 15 Mei 2042
- FR0097 dengan kupon 7,12 persen, harga 99,35 persen, dan jatuh tempo 15 Juni 2043
Jika melihat tenornya jangan kaget harus hold selama itu, karena jika nanti harga obligasi naik (yield turun), kamu bisa melakukan penjualan dengan mendapatkan capital gain.
Emas
Emas juga bisa menjadi alternatif pilihan yang menarik ketika tren suku bunga Federal Reserve (The Fed) cenderung naik. Alasannya, kenaikan suku bunga The Fed bisa menekan harga emas. Jadi, hal itu membuat waktu yang cukup bagus untuk cicil emas.
Pertanyaannya, bagaimana melakukan cicil emas? ada beberapa cara:
Pertama, cicil beli emas fisik dengan satuan menengah (jangan yang 1 gram), tapi bisa pilih 2-5 gram. Kelebihannya dengan cicil ukuran kecil adalah jika dijual bisa bertahap juga sesuai ukurannya. Risikonya, harus punya penyimpanan emas atau keluar biaya brankas titip di bank atau di Antam. Lalu, kelemahan skema ini adalah modal cicilnya lebih besar, bisa mencapai minimal Rp4 juta untuk 2 gram.
Kedua, nabung emas di Pegadaian (bukan cicil emas). Jadi, kamu bisa nabung emas dengan perkembangan harga terbaru. Dari situ, kamu bisa mendapatkan rata-rata harga yang menarik.
Ketiga, beli ETF emas global seperti GLD atau IAU di aplikasi seperti Pluang, Nanovest, atau XTB. Belinya bisa cicil bertahap bulanan dalam nominal yang lebih fleksibel. Antara GLD dan IAU, kami sarankan untuk IAU yang punya expense ratio yang lebih rendah.
Indeks Saham Global
Jika dibilang, saatnya investasi di saham AS karena saham Indonesia lagi tertekan, jawabannya kurang tepat. Alasannya, pasar saham AS juga berada di posisi tinggi dan mulai koreksi. Risiko terbesarnya jika ekspansi AI mulai melambat apalagi kinerja OpenAI dan Anthropic di bawah ekspektasi. Kami membahas detail perbandingan lengkapnya di sini.
Untuk antisipasi risiko itu, kami menilai bisa memilih ETF yang mengacu ke indeks saham AS dan Global. ETF indeks saham bisa menyesuaikan ketika ada rotasi sektoral sehingga risiko penurunan lebih terukur dibandingkan saham. Walaupun, kenaikannya juga lebih terukur dibandingkan volatilitas saham.
Untuk diversifikasi optimal, kami menyarankan bisa ke-2 ETF indeks saham global yang pergerakan dan risikonya bisa seimbang.
Pertama, kamu bisa memilih ETF indeks saham AS yang mengacu ke indeks S&P 500 atau Nasdaq-100. Cukup pilih salah satu saja.
Apa perbedaan teknisnya? Nasdaq-100 berisi saham-saham di luar sektor keuangan, sedangkan S&P 500 saham terbesar di semua sektor (termasuk saham-saham yang ada di Nasdaq-100).
Hasilnya, dari komposisi itu, pergerakan harga Nasdaq-100 bisa lebih agresif dari kenaikan maupun penurunan ketimbang S&P 500.
Dari dua poin ini, kami menyarankan bisa pilih SPYM atau VOO atau QQQM. Cukup pilih salah satu saja.
Kedua, pilih indeks saham global secara dunia. Sebenarnya, ada beberapa indeks seperti VT, ACWI, dan VXUS. Tapi, untuk optimalisasi peluang, kami menyarankan untuk pilih VXUS yang merupakan ETF indeks saham dunia yang mengecualikan pasar saham AS. Sehingga kamu tidak mencatatkan redudansi eksposure di pasar saham AS.
Walaupun kinerja VXUS tidak sensasional seperti S&P 500, tapi dia bisa mendapatkan eksposure jika ada sektor-sektor tertentu di luar saham AS yang naik. Apalagi, dari segi dividend yield juga lebih tinggi mencapai 2,34 persen.
Cara Beli Aset Global bisa di sini:
- XTB Indonesia bisa mendapatkan bonus maksimal 25 Dolar AS, daftar dengan kode MIKIRDUIT dari link ini
- Pluang bisa berpeluang mendapatkan hadiah hingga Rp1 juta dengan klik link ini
- Ajaib dapatkan hadiah jika join dengan klik link ini
- Nanovest dapatkan bonus Rp40.000 jika join dengan klik link ini
Kesimpulan
Dari 5 aset alternatif ini, mana yang menjadi pilihan terbaik?
Jawabannya akan tergantung kebutuhanmu dengan spesifikasi seperti ini:
- Jika kamu butuh menggunakan uang dalam 12 bulan ke depan, pilih Reksa dana pasar uang
- Jika kamu butuh menggunakan uang dalam 2-3 tahun ke depan, bisa pilih reksa dana pendapatan tetap dan obligasi negara
- Jika kamu mencari pertumbuhan aset untuk melawan inflasi bisa optimalisasi di emas dan ETF indeks saham global
Jadi, aset terbaik bukan yang memberikan cuan terbesar, tapi disesuaikan dengan kebutuhanmu ya.
Lalu, dengan adanya 5 aset investasi alternatif ini, apakah semua aset di saham harus di-cut loss dan dipindahkan?
Kami sarankan jangan langsung cut loss semua karena panik. Jika mau jual, tunggu tekanan jual mereda hingga ada teknikal rebound. Lalu, penjualan bisa dilakukan bertahap.
Lakukan aksi penjualan dengan bijak, karena beberapa faktor seperti:
- Ada kebutuhan penggunaan dana dalam 12 bulan ke depan
- Prospek emiten-nya suram atau waktu beli di pucuk karena kejar harga. (salah strategi, menggunakan strategi trading, tapi saat mencapai level stop loss tidak dijual)
- Posisi masih untung tipis, jadi mau dikonversi menjadi cash.(Meski, saran jualnya tetap saat periode panic selling mereda)
Lalu, apakah jika menjual tunggu tenang tidak makin rugi? catatannya, konsultasi MSCI ini masih dilakukan dan baru diumumkan pada Juni 2027. Dalam periode itu, pasar saham Indonesia tidak akan terus turun tanpa henti. Sehingga menjual dalam kondisi buruk berarti hanya merealisasikan kepanikan dengan aksi jual di harga buruk.
Pilihan aset alternatif ini bisa digunakan untuk menumbuhkan cash yang masih tersedia dan nganggur.
Mau Dapat Insight Saham hingga Action-nya Sesuai dengan Kebutuhan?
Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Event Online Rutin bulanan
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
