Sri Dato Tahir yang Sempat Disebut Dalam Kasus Benny Tjokro

Sri Dato Tahir, salah satu taipan di Indonesia, sempat disebut-sebut dalam pusaran kasus Benny Tjokro di Jiwasraya. Hal itu disebabkan dua fakta mencengangkan ini.

Sri Dato Tahir yang Sempat Disebut Dalam Kasus Benny Tjokro

Mikirduit – Di balik kasus Jiwasraya yang melibatkan Benny Tjokro, ada nama Dato Sri Tahir yang sempat disoroti. Bukan karena terlibat,tapi karena rumor kedekatan keduanya sebagai pebisnis. Seperti apa kisahnya?

Sejak kasus Jiwasraya mencuat pada akhir 2019, nama investor saham terkemuka Benny Tjokro menjadi salah satu tersangka makin dikenal publik. Hingga akhirnya, kasus itu juga menyeret salah satu taipan di Indonesia, yakni  Dato Sri Tahir, yang juga menantu dari Mochtar Riady, pemilik Grup Lippo.

Ada dua cerita hubungan antara Benny Tjokro dengan Tahir, bahkan sempat ada yang goreng isu kalau taipan pemilik Mayapada Grup itu juga terlibat di kasus  Jiwasraya. Namun, semua itu dibantah. Lalu, apa saja dua kisah hubungan antara Benny Tjokro dengan Tahir?

BACA JUGA Deretan Serial Benny Tjokro di sini:

Benny Tjokro Menjadi Nasabah Bank Mayapada

Sekitar 6 bulan setelah Benny Tjokro diduga terlibat dalam kasus Jiwasraya, nama Dato Sri Tahir sempat dihubung-hubungkan dengan kasus tersebut. Jadi, ada kabar Benny Tjokro punya pinjaman kepada PT Bank Mayapada Tbk. (MAYA) sekitar Rp200 miliar. Namun, kala itu Tahir enggan berkomentar soal tersebut.

Meski begitu, Tahir mengakui kalau Benny Tjokro adalah nasabah MAYA. Namun, Tahir tidak punya kedekatan khusus dengan Benny Tjokro.

Adapun, Tahir lebih dekat dengan almarhum ayah Benny tjokro, yang juga pemilik Batik Keris Group. Menurutnya, dia dengan Benny Tjokro berbeda generasi sekitar 20 tahunan.

Sementara itu, Presiden Direktur MAYA Hariyono Tjahjarijadi mengungkapkan PT Hanson International Tbk. (MYRX) memang punya utang ke perseroan. Namun, utangnya hanya pinjaman jangka pendek yang status lancar. Bentuk kreditnya modal kerja jangka pendek untuk satu tahun.

Adapun, pinjaman modal kerja itu dijamin dengan aset berupa tanah yang bisa menutup 100 persen total nilai pinjaman yang dibeirkan. Menurut laporan keuangan MYRX per 30 September 2019, perseroan memiliki utang sekitar Rp296 miliar ke MAYA dalam bentuk utang jangka pendek.

Karakter utang jangka pendek yang tertulis dalam laporan keuangan merujuk kepada utang yang jatuh temponya hanya satu tahun.

Sampai April 2020, Hariyono mengungkapkan utang MYRX masih berstatus lancar dan sudah dibayarkan hingga Maret 2020. Namun, apakah itu sudah lunas? mengingat itu utang jangka pendek harusnya sudah dilunasi pada 2020. Kami tidak menemukan kabar terakhir terkait utang MYRX ke MAYA tersebut.

Tahir Sempat Ingin Borong Saham Anak Usaha MYRX dan RIMO

Tak lama dari kasus Jiwasraya yang melibatkan Benny Tjokro, MYRX [perusahaan milik Bentjok) sempat dikabarkan bakal menjual sekitar 49,99 persen saham PT Mandiri Mega Jaya, anak usaha MYRX kepada PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO) pada akhir 2019. Sebagai catatan, MPRO adalah perusahaan properti yang punya afiliasi ke grup Mayapada, miliknya  Dato Sri Tahir.

Mandiri Mega Jaya sendiri adalah perusahaan properti milik Benny Tjokro yang memiliki proyek di kawasan Maja, Banten.

Kala itu, MYRX memutuskan melepas 49 persen saham Mandiri Mega Jaya sebagai cara untuk memenuhi kewajiban seperti pembayaran utang kepada pihak ketiga.

Selain Mandiri Mega Jaya, MPRO juga disebut berencana mengambil alih PT Hokindo Properti Investama, perusahaan properti yang terkait dengan saham PT Rimo Internatsional Tbk. (RIMO), yang juga milik dari Benny Tjokro.

Sementara itu, MYRX memang tengah terlilit masalah untuk melunasi pinjaman individu senilai Rp2,5 triliun di mana harus dicicil bertahap hingga Oktober 2020 setelah ditegur OJK karena menghimpun dana masyarakat, padahal bisnisnya bukan bank.

Sayangnya, lewat sebulan sejak dikabarkan MPRO bakal akuisisi anak usaha MYRX dan RIMO, tiba-tiba rencana itu disebut batal.

Manajemen MPRO mengungkapkan tidak ada kelanjutan rencana pembelian saham Mandiri Mega Jaya (anak usaha MYRX) dan Hokindo Properti Investama (anak usaha RIMO).

Direktur Utama MPRO saat itu Raymond mengungkapkan ada dua alasan eknapa transaksi itu batal.

Pertama, perkembangan bisnis properti masih belum meningkat seperti yang diharapkan.

Kedua, ada informasi yang beredar kalau MYRX sedang mengalami permasalahan keuangan. Untuk itu, pihak MPRO khawatir hal itu bisa mempengaruhi kinerja Mandiri Mega Jaya serta Hokindo Properti Investama.

Dan memang benar, sampai detik ini tidak ada hubungan erat antara Grup Mayapada dengan Benny Tjokro.

Mau dapat guideline saham dividen 2024?

Pas banget, Mikirduit baru saja meluncurkan Zinebook #Mikirdividen yang berisi review 20 saham dividen yang cocok untuk investasi jangka panjang lama banget.

Kalau kamu beli #Mikirdividen edisi pertama ini, kamu bisa mendapatkan:

  • Update review laporan keuangan hingga full year 2023 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Siap mendapatkan dividen sebelum diumumkan (kami sudah buatkan estimasinya)

Tertarik? langsung saja beli Zinebook #Mikirdividen dengan klik di sini

Referensi