Saham COCO dan BNBR Mau Right Issue, Apa yang Harus Dilakukan Investor Ritel?
Saham COCO dan BNBR mau right issue jumbo. Apakah ini menarik? kami coba berikan fakta terkait aksi right issue dan bagaimana cara actionnya
Mikirduit – Ada dua saham yang melakukan right issue dengan tenggat waktu selesai pada akhir Juli 2026. Bagaimana cara menentukan strategi untuk saham yang akan melakukan right issue?
Sebenarnya, right issue adalah aksi korporasi yang tidak disukai oleh investor ritel. Alasannya, investor ritel mau tidak mau harus mengeluarkan modal tambahan agar kepemilikan tidak terdilusi. Dalam hal ini, dilusi bukan cuma sekadar angka persentase. Dalam skala right issue jumbo, dampak dilusi bisa terasa dari penyesuaian harga teoritis yang membuat rata-rata keuntungan berubah menjadi floating loss karena adanya penurunan harga ke rentang harga teoritis.
Kenapa saham yang right issue bisa mengalami penyesuaian harga teoritis? jawabannya karena ada jumlah lembar saham baru yang diterbitkan dengan harga pelaksanaan yang berbeda dari harga pasar. Sehingga semakin besar jumlah saham baru yang diterbitkan dengan harga pelaksanaan yang sangat jauh di bawah harga pasar, berarti penyesuaian harga teoritisnya bisa sangat signifikan.
Bagi yang ingat, siapa yang pernah punya saham PACK di harga Rp2.000-an per saham? Lalu, saat masuk ex-date right issue dengan obligasi wajib konversinya, tiba-tiba harga saham PACK turun menjadi sekitar Rp200 - Rp300 per saham. Tingkat floating loss-mu pun meningkat drastis mencapai 90 persen.
Dalam kondisi itu, jika kamu tidak punya modal untuk eksekusi saham baru-nya, berarti floating loss-mu tetap 90 persen. Alasannya, kamu tidak membeli saham baru dengan harga yang jauh lebih rendah sehingga tidak ada penyesuaian harga rata-rata juga. Itulah dampak terburuk dari right issue jumbo.
Kali ini, ada dua saham yang juga mau right issue di Juli 2026. Kira-kira, apakah skalanya termasuk jumbo? kami akan ulas di sini.
Memahami Skala Right Issue di Saham BNBR dan COCO
Dua saham yang mau right issue dalam waktu dekat adalah BNBR dan COCO.
BNBR melakukan right issue dengan menerbitkan 89,92 miliar lembar saham baru. Jumlah saham baru itu setara dengan 51 persen dari total lembar saham lama.
Rasio right issue BNBR ini sekitar 27 saham lama mendapatkan 14 saham baru. Secara kasar hampir setara 2 saham lama dapat 1 saham baru. Jadi, right issue ini tidak terlalu jumbo.
Hanya saja, perhatian di saham BNBR adalah harga pelaksanaan right issue-nya yang hanya Rp53 per saham. Dengan harga terakhir di 7 Juli 2026 sekitar Rp101 per saham. Berarti, harga pelaksanaan itu 90 persen lebih rendah dari harga pasar.
Dengan begitu, meski right issue-nya tidak jumbo, tapi efek dilusinya lumayan terasa jika tidak ikut menebus. Dengan menggunakan asumsi harga cum-date di Rp101 per saham, berarti harga teoritis ada di Rp84 per saham. Jika kamu punya di harga Rp101 dan tidak mau tebus saham barunya, berarti kamu berpotensi mengalami floating loss 16 persen saat ex-right.
Berbeda dengan BNBR, right issue saham COCO sangat jumbo. Jumlah lembar saham barunya mencapai 10,68 miliar lembar. Padahal, jumlah lembar saham lamanya hanya 3,56 miliar. Untuk itu, rasio right issuenya juga mencapai 1:3 artinya 1 saham lama mendapatkan 3 saham baru.
Ditambah, harga pelaksanaan juga dilakukan di harga yang lebih rendah dari pasar, yakni Rp120 per saham. Sedangkan, harga saham COCO terakhir sekitar Rp288 per saham.
Artinya, jika menghitung harga teoritis dengan harga cum-date di Rp288 per saham, harga teoritisnya mencapai Rp162 per saham.
Jika kamu tidak berniat mengeksekusi saham barunya, berarti setelah ex-right kamu akan mengalami floating loss 43 persen.

Apa yang Bisa Dilakukan dengan Kondisi Right Issue Tersebut?
Dalam memutuskan action saat ada right issue, ada empat action yang bisa dilakukan:
- Tebus saham baru
- Hold tanpa tebus saham baru
- Jual saat atau sebelum cum-date right issue
- Beli di harga pasar dan tidak tebus saham barunya
Lalu, apa indikator setiap melakukan action tersebut
Pertama, kamu bisa tebus saham baru jika peluang menguntungkanmu lebih besar. Misalnya, kamu terlanjur punya harga atas, sedangkan harga pelaksanaan right issue jauh di bawah harga pasar. Tebus saham baru jadi opsi yang cukup bijak.
Namun, untuk menentukan tebus saham baru, kamu harus memastikan prospek saham tersebut setelah right issue bisa lebih menarik. Lalu, risiko bisnis juga terhitung rendah.
Kedua, hold tanpa tebus saham baru bisa dilakukan jika kamu memiliki harga rata-rata di bawah harga pelaksanaan right issue. Artinya, kamu tidak akan mengalami penyesuaian harga teoritis.
Ketiga, jual saat atau sebelum cump-date right issue bisa dilakukan jika kamu pegang harga di bawah right issue. Lalu, harga pasar saat ini sudah cukup tinggi. Sehingga menjual terlebih dulu lebih bijak daripada hold dan nantinya floating profit menyusut karena penyesuaian harga teoritis. (dalam kondii harga saham naik tinggi sebelum right issue dan harga pelaksanaan right issue jauh di bawah harga pasar)
Keempat, beli di harga pasar dan tidak tebus saham barunya bisa dilakukan jika harga di pasar lebih rendah dari harga pelaksanaan. Daripada tebus saham baru, lebih menarik beli di harga pasar. Catatannya, harus cek juga prospek saham tersebut secara bisnisnya ya.
Kami sudah siapkan strategi untuk saham BNBR dan COCO dengan berbagai Skenario di Mikirsaham.com
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
