Saham TBLA Saat Harga Gula Meroket, Positif atau Negatif?

Saat harga gula naik tinggi, ternyata saham TBLA belum pasti cuan 100 persen lho. Berikut ini ulasan kenapa saham TBLA tidak cuan saat harga gula naik.

Saham TBLA Saat Harga Gula Meroket, Positif atau Negatif?

Mikirduit – Harga gula meroket, bagaimana prospek saham terkait gula? untuk itu, kali ini kami membahas salah satu saham terkait gula, yakni PT Tunas Baru Lampung Tbk. (TBLA). Bagaimana prospek saham milik Grup Sungai Budi ini?

Harga gula meroket sejak awal semester II/2023 disebabkan oleh kekeringan berkepanjangan. Sehingga, supply terganggu, ditambah India melarang ekspor gula. Akhirnya, secara global, pasokan gula mulai terganggu saat permintaan terus naik. Hal itu mengerek harga gula hingga ke level tertinggi dalam 5 tahun terakhir. 

Lalu, apakah itu berefek terhadap kinerja saham seperti TBLA. 

Kinerja TBLA di Kuartal III/2023

TBLA adalah emiten yang bergerak di bidang pengolahan produk kelapa sawit hingga gula. Sampai kuartal III/2023, kinerja keuangan TBLA tidak mencatatkan kenaikan signifikan.

Jika melihat pendapatan 9 bulan di 2023, TBLA mencatatkan kenaikan sangat tipis sebesar 0,63 persen menjadi Rp11,86 triliun. 

Secara struktur pendapatan, kinerja TBLA lumayan tergenjot oleh penjualan produk olahan tebu sepertu gula rafinasi yang naik 41 persen menjadi Rp4 triliun. Meski, kenaikan terjadi untuk penjualan terafiliasi ke Grup SUngai Budi yang naik 139 persen menjadi Rp3,84 triliun, sedangkan penjualan ke pihak ketiga turun 82 persen menjadi Rp220 miliar. 

Sementara itu, pendapatan dari olahan kela sawit turun 12 persen menjadi Rp7,79 triliun. Penurunan terjadi dari seluruh tujuan pembeli, baik terafilaisi maupun pihak ketiga. 

Secara umum, penjualan TBLA memiliki dua klien besar, yakni induk usahanya, Sungai Budi yang berkontribusi terhadap 30 persen pendapatan perseroan, serta PT Kilang Pertamina Internasional sebesar 12,78 persen dari total pendapatan. Kilang Pertamina Internasional mengambil produk olahan kelapa sawit TBLA untuk kebutuhan biodiesel. 

Meski jika struktur pendapatan, bisnis gula tampak menjanjikan, tapi ternyata yang membuat gross profit margin TBLA per kuartal III/2023 turun adalah segmen gula juga. 

TBLA mencatatkan penurunan gross profit margin menjadi 18,11 persen dibandingkan dengan 22,11 persen pada periode sama tahun lalu. Penurunan itu disebabkan adanya kenaikan biaya produksi untuk produk olahan gula sebesar 66,71 persen menjadi Rp2,98 triliun. 

Sementara itu, biaya produksi untuk olahan kelapa sawit malah turun 10,02 persen menjadi Rp5,63 triliun. 

Adapun, akibat dari kenaikan biaya produksi gula tersebut, TBLA mencatatkan penurunan laba kotor sebesar 17 persen menjadi Rp2,14 triliun dan penurunan laba bersih menjadi Rp435 miliar. 

Jadi, apakah kenaikan harga gula tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja TBLA? untuk itu kita perlu cek kinerja TBLA khusus 3 bulan kuartal III/2023. 

Jika melihat kinerja tiga bulan di kuartal III/2023 TBLA, dari segi penjualan perseroan mencatatkan kenaikan sebesar 5,22 persen dibandingkan dengan 3 bulan di kuartal II/2023. Lalu, perseroan juga mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 1,66 persen jika dibandingkan dengan 3 bulan di kuartal III/2023. 

Namun,dari segi laba bersih, perseroan tetap mengalami penurunan. Artinya, kenaikan beban pokok pendapatan yang terjadi secara akumulasi di 9 bulan tahun ini juga masih terefleksi di tiga bulan kuartal III/2023. 

Kenapa bisa begitu? karena TBLA ini bukan 100 persen produsen gula juga. Mereka masih butuh impor gula sehingga ketika harga gula naik, beban pokok pendapatan perseroan juga meningkat. Hal itu yang menjadi penekan kinerja laba kotor dan laba bersih perseroan. 

Selain tekanan biaya pokok pendapatan yang naik, ada satu hal yang lebih baik di 3 bulan kuartal III/2023 bagi TBLA adalah dari segi cashflow sudah kembali positif. TBLA sudah mencatatkan kas operasional positif senilai Rp321 miliar, sedangkan free cashflow senilai Rp166 miliar. 

Adapun, untuk akumulasi sepanjang 9 bulan 2023, arus kas operasional dan free cashflow perseroan cenderung negatif. Pasalnya, tingkat negatif cashflow terbesar terjadi di kuartal II/2023. Untuk kas operasi senilai Rp1,33 triliun, sedangkan free cashflow senilai Rp1,84 triliun. 

Namun, dengan tingkat cashflow yang cenderung labil antara positif dan negatif, bagaimana dengan risiko utang perseroan?

Bukan Bursa CPO, Ini yang Bisa Jadi Pemantik Saham Sawit
Bursa CPO sempat jadi obrolan yang digadang-gadang jadi pengerek harga saham sawit. Namun, faktanya bukan bursa CPO yang bikin saham sawit bakal oke. Tapi, faktor ini.

Risiko Utang TBLA

Jika dilihat dari rasio tingkat utang berbunga dibandingkan dengan ekuitas, posisi TBLA ini cukup berisiko. Pasalnya, tingkat Debt to equity ratio-nya tembus 1,59 kali atau lebih besar daripada ekuitasnya. 

Jumlah utang berbunga TBLA kuartal III/2023 dari jangka panjang dan pendek mencatatkan kenaikan sebesar 13,9 persen menjadi Rp12 triliun.

Adapun, untuk utang jangka pendeknya ada sekitar Rp4,61 triliun. Apakah kondisi ini aman? Apalagi cashflow TBLA juga tipis dan negatif jika diakumulasi selama 9 bulan 2023. 

Untuk masalah utang jangka pendek yang kegunaannya biasanya modal kerja serta jatuh tempo, TBLA kemungkinan akan melakukan refinancing atau pembiayaan ulang untuk tutup utang sebelumnya. 

Berarti risiko tinggi? 

Dalam publikasi Fitch Rating pada awal 2023, mereka memberikan outlook stabil terkait risiko utang TBLA. 

Secara rinci, Fitch menilai fleksibilitas keuangan TBLA cenderung moderat (tidak terlalu fleksibel maupun ketat). Alasannya, TBLA punya jatuh tempo utang yang besar pada 2024 dan 2025. 

Adapun, peringkat utang nasional kategori A dari Fitch menunjukkan ekspektasi risiko gagal bayar yang masih relatif rendah. Lalu, peringkat nasional di kategori BBB juga menunjukkan ekspektasi risiko gagal bayar yang relatif moderat. 

Meski begitu, deretan utang jangka panjang jatuh tempo dalam 2 tahun ke depan berpotensi menggerus ekspektasi dividen perseroan. Secara historis, TBLA hanya absen bagi dividen pada 2002 dan 2003. Sisanya, TBLA selalu bagi dividen hanya saja porsinya cenderung naik-turun. Berarti, ada peluang jika butuh tambahan dana untuk bayar utang, jumlah dividen yang dibagikan akan sedikit dikurangi terlebih dulu.

23 Digest: Siap Menghadapi Badai Pasar Saham?
Siklus pasar saham di September tidak begitu bagus. Apalagi, ditambah The Fed berpotensi menaikkan suku bunga lagi di September. Lalu, apa saja saham yang potensial dan berisiko?

Kesimpulan

Kami sering sebut, salah satu kelebihan dari TBLA adalah bisnisnya terdiversifikasi antara produk olahan CPO dengan gula. Namun, ternyata kelebihan itu bisa jadi kekurangan juga. Ketika bisnis CPO mulai mengalami normalisasi, biaya pokok bisnis gula perseroan malah naik akibat kenaikan harga cukup drastis. Artinya, kenaikan harga gula mungkin bisa menaikkan pendapatan, tapi bakal membebani dari segi keuntungan karena biaya produksi meningkat.

Ditambah, masalah utang jangka panjang yang cukup besar jatuh tempo dalam 1-2 tahun ke depan, hal ini akan menjadi tantangan bagi TBLA saat bisnis sedang menurun. 

Hal itu juga yang berpotensi membebani harga saham TBLA untuk bisa naik lebih jauh ke depannya. Meski, penurunan kinerja TBLA yang paling rendah dibandingkan dengan saham CPO lainnya. Posisi valuasi TBLA dengan price to book value 0,62 kali maupun price to earning ratio di 6,7 kali menjadi posisi yang sudah tidak menarik untuk beli. Dengan mengasumsikan ada potensi TBLA akan fokus membenahi utang jatuh temponya di 2 tahun ke depan. 

Apakah ada peluang penurunan cukup dalam untuk saham TBLA? untuk saham TBLA ini termasuk saham yang dijaga oleh pengendalinya. Sehingga, tren harga saham TBLA akan cenderung stabil. 

Sungai Budi rutin melakukan aksi jual-beli saham TBLA, dengan mayoritas aksi adalah beli. Sungai Budi bersama Budi Delta Swakarya telah melakukan aksi beli sebanyak 763 juta lembar saham. Jika dihitung menggunakan asumsi rata-rata harga saham TBLA sepanjang 2023 di level Rp763 per saham, berarti total aksi beli pemegang saham TBLA itu mencapai Rp561 miliar. 

Sungai Budi dan Budi Delta Swakarya adalah pengendali dari TBLA yang masing-masing memiliki saham sebesar 26,06 persen dan 32,77 persen. 

Kalau menurutmu gimana prospek saham TBLA?

Mau dapat guideline saham dividen 2024? - Diskon Langsung Rp100.000

Pas banget, Mikirduit baru saja meluncurkan Zinebook #Mikirdividen yang berisi review 20 saham dividen yang cocok untuk investasi jangka panjang lama banget.

Kalau kamu beli #Mikirdividen edisi pertama ini, kamu bisa mendapatkan:

  • Update review laporan keuangan hingga full year 2023 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Informasi posisi harga saham dividen sudah murah atau mahal
  • Perencanaan investasi dari alokasi modal dan toleransi risiko untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Siap mendapatkan dividen sebelum diumumkan (kami sudah buatkan estimasinya)

 Yuk langsung join Mikirdividen DISKON LANGSUNG Rp100.000 klik di sini ya