Rahasia Saham BELI yang Tidak Jeblok Seperti GOTO dan BUKA

Saham BELI jadi satu-satunya saham unicorn yang tidak jeblok setelah IPO, seperti BUKA dan GOTO. Kita bongkar rahasianya di sini.

Rahasia Saham BELI yang Tidak Jeblok Seperti GOTO dan BUKA

Mikir Duit – Banyak yang mengalami trauma membeli saham teknologi besar di harga initial public offering alias IPO. PT Bukalapak Tbk. (BUKA) dan PT Goto Group Tbk. (GOTO) yang merupakan unicorn, sayangnya harga saham teknologi tidak mampu terbang. Namun, menariknya PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) yang punya e-Commerce Blibli tetap naik di atas harga IPO, meski tipis. Apa penyebabnya?

Saham BELI mulai listing di BEI pada November 2022. Artinya, sudah 6 bulan IPO dan harganya masih bertahan di atas harga IPO. Padahal, dua saham teknologi seniornya, dalam waktu 6 bulan sudah berdarah-darah. Misalnya, Saham BUKA sudah turun 43 persen setelah 6 bulan IPO. Begitu juga dengan GOTO yang sudah turun 36 persen.

BACA JUGA: Penyebab Saham GOTO ARA-ARB Dalam Sekejap

Di sisi lain, kinerja ketiga saham teknologi ini sebenarnya masih kompak, yakni sama-sama belum mencatatkan keuntungan dari operasional bisnisnya. Dalam catatan operasional bisnis karena BUKA pernah meraih laba bersih triliunan rupiah, tapi bukan dari operasional bisnis, melainkan investasi di PT Allobank Indonesia  Tbk. (BBHI).

Jadi, apa rahasia BELI bisa membuat harga sahamnya tetap terjaga?

Rahasia Saham BELI Tidak Turun Dalam Setelah IPO

Ada dua faktor utama yang membuat saham BELI lebih stabil dibandingkan dengan saham-saham teknologi besar lainnya seperti BUKA dan GOTO. Sebenarnya, dua faktor ini sudah banyak disebutkan sebelum BELI IPO kemarin.

Jumlah Investor Lebih Sedikit

Perbedaan signifikan antara BELI dengan saham GOTO dan BUKA adalah jumlah pemegang saham sebelum IPO yang lebih sedikit dan terkonsentrasi di satu pihak.

Dalam prospektus IPO-nya, 98,46 persen saham BELI sebelum IPO dimiliki oleh PT Global Investama Andalan, yang tidak lain adalah Grup Djarum. Lalu 89 pihak individu lainnya yang memiliki saham BELI hanya punya porsi 1,45 persen.

Hal itu jelas berbanding terbalik dengan BUKA dan GOTO. BUKA punya hampir 300 pemegang saham sebelum IPO dengan porsi tidak ada yang lebih dari 50 persen. Begitu juga dengan GOTO di mana pemegang saham kurang dari 5 persen memiliki 65 persen dari total keseluruhan saham.

Artinya, ada banyak kepentingan yang ingin mengambil untung dari rencana IPO saham teknologi tersebut.

Dengan begitu, ketika saham teknologi IPO wajar saham BUKA dan GOTO dapat tekanan jual yang tinggi, terutama ketika periode lock-up dibuka.

Porsi Saham yang Dilepas Ke Publik Lebih Sedikit

Selain itu, jumlah saham yang dilepas BELI ke publik lebih sedikit dibandingkan dengan BUKA. BELI melepas 15 persen saham baru ke publik, sedangkan BUKA sebesar 25 persen ke publik. Lalu, bagaimana GOTO yang cuma 3 persen ke publik? nah masalah GOTO lebih ke faktor yang pertama. GOTO punya 65 persen pemegang saham yang kepemilikannya di bawah 5 persen. Meski, pemegang saham publik saat IPO cuma 3 persen, tapi ada pemegang saham porsi kecil lainnya yang porsinya hingga 65 persen dari seluruh saham. Hal itu memicu fluktuasi pasar yang sangat tinggi.

Ada yang Jagain Saham BELI

Sebenarnya, saya juga tidak begitu tahu apakah ada mekanisme greenshoe dalam saham BELI, tapi kalau pun ada tidak sampai 6 bulan juga. Nah, saham BELI ini ada yang jagain. Dari mana tahunya? hal itu bisa terlihat dari bid 3 juta lot saham BELI untuk menyerap antrean offer. Tanpa 3 juta lot itu, mungkin saham BELI akan koreksi karena tampak sedikit peminat saham tersebut.

bid-offer saham BELI
Terlihat bid-offer BELI tiba-tiba ada bid 3 juta lot padahal rata-rata jual cuma ribuan lot. Lalu, yang bid juga rata-rata ratusan lot. Artinya, saham ini ada yang jagain dengan setia. 

Hal ini pun memperlihatkan sebenarnya saham BELI kalah likuid dibandingkan GOTO dan BUKA. Untuk itu, saham GOTO dan BUKA memang secara tren besar sejak IPO turun terus, tapi tetap jadi makanan empuk para trader jangka pendek. Sedangkan, trader jangka pendek pasti ogah masuk ke BELI dengan alasan likuiditasnya kurang kenceng.

Kalau begitu bagaimana dengan investasi jangka panjang di saham teknologi ini?

Prospek Saham BELI

Jika melihat model bisnis, sebenarnya antara BELI, BUKA, dan GOTO agak berbeda. BELI fokus memberikan solusi kemudahan berbelanja secara online maupun toko fisik, sedangkan BUKA fokus di bisnis mitra-nya yang punya toko kelontong, dan GOTO punya banyak lini bisnis dari Gojek, Tokopedia, dan juga Goto financial.

Kinerja keuangan BELI per kuartal I/2023 pun bisa kita asumsikan bagus dengan melihat beberapa indikator seperti:

  • Pertumbuhan pendapatan naik 21 persen menjadi Rp3,82 triliun
  • Gross profit margin naik menjadi 15 persen dari sebelumnya 9,47 persen

Namun, ada beberapa catatan nih, seperti meski gross profit margin naik drastis, tapi BELI masih mencatatkan rugi bersih Rp878 miliar. Lalu, EBITDA yang juga masih negatif Rp817 miliar, meski pencapaian di kuartal I/2023 sudah lebih baik.

Lalu, arus kas setara kas BELI juga tersisa Rp1,95 triliun. Nilai itu memang masih cukup besar, tapi akan terasa kecil jika BELI belum akan menuju profit dalam jangka dekat.

Meski, ada banyak cara untuk mendapatkan tambahan darah segar kas dan setara kas seperti, dari rights issue, private placement, utang obligasi, dan utang bank. Oh iya, untuk rencana private placement BELI yang terakhir bukan untuk tambahan modal ya, tapi untuk memberikan bonus ke karyawan dan manajemen.

Kenapa bonusnya via private placement? ya biar induk usahanya yang punya uang berlebih bisa membantu BELI yang belum profit untuk memberikan penghargaan kepada karyawannya. Hal itu pula yang menjadi salah satu kelebihan BELI yang tak terlihat, mereka dimiliki secara mayoritas oleh Grup besar, yakni Djarum.

Kesimpulan

Jujur, dari perspektif saya, untuk masuk ke saham-saham teknologi di  Indonesia masih berisiko tinggi. Pasalnya, model perusahaan itu untuk bisa profit masih cukup jangka panjang. Berbeda dengan saham teknologi di Amerika Serikat (AS) yang beberapa sub-sektor teknologinya sudah punya model bisnis yang profitable.

BACA JUGA: Tanda-tanda Kebangkitan Saham Teknologi Nih?

Apalagi, bicara model bisnis toko online ini persaingannya sangat ketat. Kalau dulu sesama e-Commerce, sekarang juga harus bersaing dengan TikTok, media sosial dengan pengguna banyak. Beberapa riset pun mengatakan gen Z mulai beralih belanja online di TikTok.

Satu-satunya kelebihan dari saham ini adalah dia memiliki lini bisnis toko fisik, yakni PT Supra Boga Lestari Tbk. (RANC) yang memiliki gerai ritel supermarket Ranch Market. Namun, seberapa besar  RANC bisa menopang BELI untuk menjadi menguntungkan? itu yang jadi pertanyaan saya dan pesimistis saya terhadap sektor teknologi ini.  Apalagi, saham BELI ini juga rada kurang likuid ya.