Sektor Outlook 2026, Prospek Saham Batu Bara di Tengah Sentimen Pemangkasan RKAB hingga Ekspor Satu Pintu

Saham batu bara baru mendapatkan angin segar dari kenaikan harga komoditas karena faktor perang. Namun, dihajar dari revisi RKAB hingga ekspor satu pintu. Bagaimana nasib saham batu bara ke depannya?

Share
saham batu bara

Mikirduit – Saham batu bara menghadapi tantangan adanya ekspor satu pintu yang akan diterapkan oleh Pemerintah Indonesia. Jika badan ekspor satu pintu pemerintah Indonesia tidak mengganggu ekspor eksisting, apa saham batu bara yang menarik dikoleksi?

Jika merujuk ke ketentuan pemerintah terkait ekspor satu pintu, kami menilai proses ekspor masih berjalan lancar hingga Agustus 2026.

Dalam tahap transisi tersebut, badan ekspor hanya membuat dokumen atas nama BUMN Ekspor dan membuat laporan serta evaluasi ke sesuaian harga.

Tantangan terjadi saat masuk ke periode hybrid hingga Desember 2026. Dari sini, sistem badan ekspor di bawah PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) siap beroperasi. Tapi belum full diimplementasikan.

Nantinya, baru akan diimplementasikan penuh pada 1 Januari 2027.

Tantangan dari keberadaan ekspor dari DSI adalah:

  • Emiten batu bara tidak bisa menawarkan barang dengan harga lebih rendah. Kami menilai yang menawar harga adalah badan ekspor tersebut jika sudah penuh diimplementasikan
  • Proses pengalihan cashflow ke emiten dari hasil penjualan ada periode lagging. Hal ini berisiko mengganggu operasional bisnis tambang
  • Adanya fee margin dari selisih antara harga jual-beli atau biaya administrasi yang diterapkan ketika implementasi dilakukan secara penuh

Namun, jika DSI bisa membuat dua risiko itu menjadi peluang seperti, ternyata regulasi harga menguntungkan emiten. Pasalnya, barang terserap dengan harga yang bagus. Hingga tidak ada periode lagging dalam penyaluran cashflow hasil penjualan, serta tingkat margin atau biaya administrasi di level batas wajar. Hal itu bisa berdampak positif terhadap kinerja emiten.

Lalu, apa saja saham batu bara yang paling menarik secara fundamental jika nantinya ada potensi diskon saat gonjang-ganjing transisi implementasi penuh ekspor satu pintu tersebut?

Saham Batu Bara dengan Porsi Penjualan Domestik Terbesar

Kami membandingkan 9 saham batu bara, yakni PTBA, AADI, ITMG, BSSR, CUAN, MCOL, PKPK, FIRE, dan BUMI.

Jika mencari saham yang terdampak paling redah dari kebijakan ekspor itu bisa mengacu ke saham batu bara dengan porsi ekspor terendah.

Dengan menggunakan angka pendapatan per kuartal I/2026, beberapa saham punya porsi domestik di atas 30 persen antara lain:

  • BUMI sebesar 37,69 persen
  • PKPK sebesar 43,71 persen
  • PTBA sebesar 47,2 persen

Namun, meski porsi domestik terlihat besar, saham-saham tersebut bukan berarti bebas dari risiko. Pasalnya, kepada siapa mereka menjual hasil batu baranya. Jika mereka menjual kepada para pedagang yang memperjualkannya lagi ke ekspor, berarti ada risiko penurunan pendapatan dalam jangka pendek. Alasannya, pedagang tersebut bisa menyetop jual-beli untuk mengantisipasi implementasi ekspor satu pintu. (Hal ini terjadi di CPO yang membuat harga tandan buah segar turun signifikan karena pengepulnya tidak mau ambil barang)

Peluang dari Saham Batu Bara yang Mencatatkan Kenaikan Kinerja Laba di Kuartal I/2026

Ada 5 saham batu bara yang mencatatkan kenaikan laba bersih pada kuartal I/2026, yakni PTBA, BSSR, BUMI, CUAN, dan MCOL. Padahal, saham batu bara lagi terkena sentimen revisi RKAB sepanjang kuartal I/2026 sehingga operasional hanya bisa berjalan 25 persen.

BSSR mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih sekitar 30 persen menjadi 25,5 juta dolar AS pada kuartal I/2026. Kinerja laba BSSR itu didorong oleh beberapa faktor:

  • Dari segi pendapatan memang naik 9,5 persen menjadi 167,7 juta dolar AS. Namun, faktornya ini yang belum terlalu jelas karena data volume penjualan tidak tersedia. Namun, beberapa saham batu bara mendorong penjualan dari persediaan awal di luar produksi sehingga bisa menciptakan volume penjualan lebih besar untuk menekan penurunan produksi.
  • BSSR mampu menekan biaya penjualan dan distribusi sebesar 6,1 persen menjadi 21 juta dolar AS sehingga tingkat margin keuntungan pereroan meningkat.
  • Biaya jasa pengangkutan juga turun 10 persen menjadi 16 juta dolar AS

Meski begitu, ada salah satu kekhawatiran terbesar dari BSSR adalah cadangan yang kian menipis. Hingga akhir Maret 2026, cadangan BSSR hanya tersisa 28,87 juta ton. Jika pada tahun ini, produksi batu bara BSSR dijaga di 17 juta ton, berarti cadangan BSSR berpotensi habis di 2027.

Data ini memang menggunakan asumsi laporan dari Juni 2022, tapi jika ada cadangan baru yang cukup besar harusnya segera dimasukkan. Jika belum dimasukkan berarti proses eksplorasi masih belum selesai atau tambangnya yang kurang ekonomis. Hal ini menjadi risiko bagi saham BSSR yang jadi perhatian kami.

Sementara itu, untuk PTBA mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 105% menjadi Rp801 miliar. Hal itu dipicu dari PTBA yang mendorong volume penjualan tidak ikut turun seperti produksi. Jadi, produksi PTBA memang turun 22 persen sepanjang kuartal I/2026, tapi volume penjualan hanya turun 1 persen dengan adanya kenaikan harga jual rata-rata sebesar 1 persen.

Ditambah, operasional tambang PTBA juga cukup efisien setelah striping rasio turun menjadi 5,31 kali dibandingkan dengan 6,42 kali pada periode sama tahun sebelumnya.

Lalu, PTBA juga mendapatkan penurunan biaya keuangan sebesar 20 persen menjadi Rp2,04 triliun. Ditambah, ada pendapatan dari bagian laba bersih entitas asosiasi PT Bukit Pembangkit Innovatif dan PT Huadian Bukit Asam Power yang naik 81 persen menjadi Rp168 miliar.

Sementara itu, BUMI memang menjadi saham batu bara yang tidak terganggu dari revisi RKAB. Pasalnya, BUMI masih mampu mendorong produksi naik 12 persen menjadi 19,2 juta ton, serta penjualan naik 14 persen menjadi 19,1 juta ton. Hal itu membuat pendapatan dari bisnis batu bara tetap positif meski harga jual rata-rata turun 10 persen menjadi 58,6 dolar AS per ton. Apalagi, stripping rasio juga lebih efisien menjadi 7,7 kali dibandingkan dengan 8,4 kali pada periode sebelumnya.

Sementara itu, MCOL mencatatkan kenaikan laba bersih yang cukup signifikan sebesar 149 persen menjadi 18,56 juta dolar AS.

Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

  • Adanya kenaikan penjualan ekspor sebesar 28 persen menjadi 122 juta dolar AS. Hal ini menjadi pendorong kinerja pendapatan MCOL pada kuartal I/2026 yang tumbuh 14,6 persen. Meski penjualan batu bara domestik turun 22 persen menjadi 13,1 juta dolar AS.
  • Biaya operasional dari beban umum dan administrasi turun 15,7 persen menjadi 9,47 juta dolar AS. Lalu, beban penjualan juga turun 3,3 persen menjadi 5,95 juta dolar AS
  • Biaya keuangan turun 43,9 persen menjadi 950.000 dolar AS
  • Hal yag paling mencolok dari kinerja MCOL adalah penjualan aset tetap senilai 1,6 juta dolar AS sehingga membuat perseroan mencatatkan pendapatan lain-lain sekitar 1 juta dolar AS dibandingkan dengan rugi 1,43 juta dolar AS pada periode sama tahun sebelumnya.

Dari kombinasi kenaikan pendapatan, penurunan beban operasional, dan pendapatan lain-lain itu yang mendorong laba bersih MCOL meroket.

Sementara itu, untuk CUAN kami sulit membahas lebih detail untuk bisnis batu baranya karena faktor data yang sangat terbatas.

CUAN mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 139 persen menjadi 5,45 juta dolar AS didorong oleh kenaikan pendapatan sebesar 73,6 persen menjadi 371,3 juta dolar AS. Hal ini didorong oleh ekspansi bisnis PTRO di jasa pertambangan, logistik dan konstruksi.

Fakta di Balik Rumor Margin Call Repo Saham TPIA, Begini Prospek ke Depannya
Tekanan jual di saham TPIA masih belum berhenti, ARB sudah lima kali beruntun akibat diterpa rumor margin call karena repo saham sampai efek rebalancing index. Kira-kira gimana nasibnya ke depan? masih menarik-kah dilirik?

Bagaimana Nasib Saham AADI dan ITMG?

AADI dan ITMG menjadi dua saham batu bara besar yang kinerja kuartal I/2026 mengalami penurunan laba bersih 31 persen menjadi 153,8 juta dolar AS. Sementara itu ITMG mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 16 persen menjadi 55,7 juta dolar AS.

Faktor penyebab penurunan laba bersih kedua saham itu agak berbeda. AADI disebabkan adanya penurunan pendapatan turun 10persen menjadi 1,04 miliar dolar AS. Tapi, biaya operasional meningkat signifikan.

Sementara itu, ITMG mencatatkan kenaikan pendapatan 3 persen, tapi biaya operasional dan beban pokok pendapatan naik signifikan sehingga menekan laba bersih.

Kami menilai kinerja saham AADI dan ITMG akan kembali pulih di kuartal II/2026 hingga Agustus 2026. Namun, yang menjadi tantangan adalah setelah badan ekspor DSI berjalan. Apakah akan memberikan dampak signifikan terhadap dua saham ini atau tidak.

Kesimpulan

Hingga batas waktu 2030, kami menilai saham batu bara masih cukup menarik. Dengan ekspektasi kami masih ada mini booming batu bara yang disebabkan oleh kenaikan permintaan. Bukan kekhawatiran gangguan pasokan komoditas energi karena perang yang terjadi di awal 2026.

Untuk itu, jika salah satu saham batu bara terutama yang skala besar dengan cadangan masih cukup panjang seperti PTBA, AADI, ITMG masih bisa dilirik. Apalagi, jika harga sahamnya terdiskon karena faktor sentimen keberadaan badan ekspor DSI tersebut.

Untuk skala saham lainnya, kami sarankan cenderung untuk trading karena faktor volatilitas yang cukup tinggi. Seringnya, harga saham juga bergerak di luar fundamental base-nya.

Khusus BSSR, kami masih memperhatikan update perkembangan cadangan yang tersisa hanya sampai 2027. Hal ini bisa jadi risiko jika ternyata hasil eksplorasi tidak sesuai ekspektasi dan BSSR kepepet untuk akuisisi tambang batu bara darurat seperti kejadian ABMM.

Kami Sudah Pilihkan dan Analisis Satu Saham Batu Bara untuk Dividend Investing dengan Salah Satu Pertimbangan Risiko ke Dampak Terburuk Keberadaan Badan Ekspor Danantara

Kamu bisa dapatkan informasi di Mikirsaham.com . Join sekarang dan dapatkan benefit:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini