Ada Jebakan di 6 Saham Dividen Jumbo Ini?

Jebakan dividen bukan cuma beli saham dividen jelang cum-dividen, tapi ada juga jebakan beli saham yang rutin dividen dan terlihat jumbo tapi itu semua semu. Begini penjelasannya

Ada Jebakan di 6 Saham Dividen Jumbo Ini?

Mikirduit – Bicara saham dividen, risikonya bukan menghadapi dividen trap saat penurunan harga yang tajam pada periode ex-date saja, tetapi juga jebakan dari emiten yang bisnisnya lagi stagnan dan terus menurun yang membagikan dividen dalam nominal besar. Secara dividen menggiurkan, tapi secara perkembangan bisnis lagi buruk dan mungkin terus tertekan dalam jangka panjang. Lalu, bagaimana antisipasinya? 

Berikut ini beberapa saham yang membagikan tingkat dividen cukup besar dengan alasan bisnisnya sedang stagnan hingga sunset.

Saham INTP

Saham INTP sempat membagikan dividen payout ratio hingga di atas 100 persen selama 4 tahun berturut-turut. Hal itu terjadi pada tahun buku 2017-2020 atau 2018-2021. 

Waktu itu, bisnis semen tengah mengalami oversupply luar biasa karena kedatangan banyak pemain baru, salah satunya CMNT. Akhirnya, harga semen juga cenderung stagnan dan turun. Akhirnya, selama beberapa tahun INTP tidak melakukan ekspansi bisnis signifikan.

Akhirnya, INTP mulai membagikan seluruh laba bersihnya untuk pemegang saham, bahkan menggunakan saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya.

Namun, dividen per saham yang dibagikan INTP cenderung menurun. Artinya, kinerja laba bersih INTP dalam tren menurun dalam periode 2017-2020. 

Akhirnya, hal itu juga berpengaruh terhadap pergerakan harga saham INTP dari 2017-2018 itu berada di kisaran Rp17.000 sampai RP20.000-an, kini berada di sekitar Rp9.000 hingga Rp10.000-an. 

Bagi holder yang pegang di harga Rp20.000-an jelas akan butuh waktu jika ingin harga kembali naik dengan syarat pertumbuhan bisnis INTP bisa kembali bangkit. 

Apakah INTP bisa bangkit? 

Sebenarnya bisa aja saat sektor konstruksi dan properti bangkit, serta harga batu bara stabil. Pasalnya, setelah periode oversupply semen di 2017-2019, sektor ini terkena efek pandemi Covid-19. Setelah itu, dibombardir lagi dengan harga batu bara yang meroket. 

Terakhir, kinerja INTP sudah tumbuh positif lagi sejak 2022. Pendapatan naik 10,86 persen menjadi Rp12,97 triliun. Lalu, laba kotor naik 18,76 persen menjadi Rp4,08 triliun, serta laba bersih naik 33,9 persen menjadi Rp1,26 triliun. 

Secara valuasi, saham INTP juga sudah berada di PE standard deviasi minus 1 di mana risikonya menjadi cukup rendah.

Cara Menghindari Dividen Trap, Studi Kasus Saham ITMG
Jebakan dividen atau dividend trap kerap menjadi momok menakutkan bagi investor saham. Herannya, kenapa masih banyak yang kena ya? bagaimana cara menghindarinya?

Saham UNVR

Saham UNVR menjadi salah satu saham yang konsisten membagikan dividen sebesar 99 persen setiap tahunnya. Untuk itu, saham UNVR sering disebut sebagai salah satu saham dengan dividen jumbo. 

Namun, kami menilai hal itu sudah tidak berlaku lagi. Sebelumnya, tren dividen UNVR ini memang bertumbuh positif, Sejak 2009 UNVR membagikan dividen Rp399 per saham sampai 2016 senilai Rp836 per saham. Artinya, dalam periode 8 tahun tersebut, rata-rata kenaikan dividen per saham UNVR sebesar 9,68 persen.

Namun, setelah 2018, tren dividen per saham UNVR mulai turun selaras dengan tren kinerja keuangannya yang sudah stagnan. Bahkan, termasuk ketika periode 2020 setelah stock split, jika ada penyesuaian posisi dividen per saham, trennya terus turun hingga saat ini. 

Hal itu disebabkan pertumbuhan bisnis UNVR yang sudah stuck sejak 2017. Margin keuntungan UNVR tidak bisa dinaikkan lebih tinggi lagi. Untuk itu, UNVR sempat menjual bisnis margarin dan sebagian bisnis teh untuk bisa punya ruang pertumbuhan, tapi hasilnya masih nihil. 

Beberapa hal yang menyebabkan kondisi UNVR ini antara lain, perseroan kesulitan bersaing dengan produk pesaing yang baru dan makin banyak sehingga sulit memperluas pangsa pasarnya lebih luas lagi. Sehingga posisi pemimpin pasar UNVR saat ini bisa dibilang cukup rapuh. 

Sehingga meski saham UNVR telah terjun bebas hingga valuasi PE maupun PBV-nya sudah di standard deviasi -2, tren saham UNVR masih berpotensi tertekan dalam jangka menengah. Sampai nanti UNVR menemukan kunci pertumbuhan bisnisnya yang baru, yang kita tidak tahu apa itu. Apalagi, kini UNVR juga tertekan oleh aksi boikot produk sehingga kalau dilihat kini banyak produk UNVR yang didiskon di supermarket dan sebagainya.

Saham UNVR Si Raksasa Consumer Goods yang Terjatuh
Saham UNVR pernah menjadi primadona, tapi sayang raksasa consumer goods itu kini terjerembab dan tidak pernah bangkit ke angka tertingginya yang terakhir. Apa yang membuatnya seperti itu?

Saham GGRM dan HMSP

Berbeda dengan kasus UNVR, saham GGRM dan HMSP tenggelam karena kebijakan pemerintah yang secara konsisten menaikkan cukai rokok secara bertahap. Hal itu membuat daya beli masyarakat untuk dua produk rokok ini teralihkan ke rokok yang lebih murah hingga ilegal. Untuk itu, keduanya pun berupaya melakukan inovasi produk hingga diversifikasi bisnis agar pertumbuhan bisnisnya bisa kembali positif. 

Hanya saja sampai detik ini, keduanya belum menemukan produk atau bisnis yang bisa mengerek kinerja keuangan perseroan. Meski begitu, keduanya tetap konsisten untuk membagikan dividen. 

Menariknya, seperti GGRM pernah mematok tingkat dividen dengan nominal sama di Rp2.600 per saham dari periode 2016 sampai 2021. Saat 2016 ketika harga GGRM di Rp65.000-an, tingkat nominal dividen per saham itu memang kecil hanya 4 persen. Namun, saat GGRM membagikan dividen dengan nominal sama di Rp2.600 per saham pada 2021, tingkat yield-nya naik menjadi 7,67 persen. Padahal, kenaikan tingkat yield itu bukan berasal dari kenaikan laba bersih, melainkan penurunan harga saham yang signifikan.

Namun, kini GGRM telah menurunkan tingkat dividen per saham seiring dengan tren penurunan laba bersih yang terus berlanjut. Terakhir, di 2023 kemarin, GGRM membagikan dividen senilai Rp1.200 per saham. Meski turun drastis, tapi tingkat yield-nya tetap terlihat menarik di 4,28 persen. 

HMSP memiliki strategi dividen yang berbeda, perseroan masih terus mencatatkan kenaikan dividen per saham sejak 2015 hingga 2020. Sebenarnya, dari kondisi kinerja sendiri HMSP baru merasakan penurunan drastis di 2020, sebelumnya perseroan berupaya menjaga kinerja keuangan dengan melakukan efisiensi yang cukup masif. 

Tren dividen HMSP juga mirip dengan GGRM. Semakin ke sini, tingkat dividen yield-nya makin besar. Sebelumnya, di 2016 sebelum stock split, HMSP membagikan dividen per saham Rp2.225. Kala itu, harga saham HMSP di sekitar Rp100.000-an per saham sehingga tingkat yield-nya sekitar 2 persen.

Sampai di periode dividen per saham tertinggi terakhir pada 2020 senilai Rp117 per saham. Harga saham HMSP saat periode ex-date di ksiaran Rp3.260 per saham, sehingga tingkat dividen yield-nya sekitar 3,58 persen. 

Terakhir, di 2023, HMSP membagikan dividen Rp54,7 per saham. Namun, tingkat dividen yield-nya tembus 5,72 persen.

Kenaikan tingkat dividen yield itu didorong oleh penurunan harga saham yang cukup masif dibandingkan dengan penurunan dividen per sahamnya.

Hati-hati, Jebakan Betmen Kinerja Cemerlang Saham Rokok
Kinerja saham rokok bisa dibilang oke banget pada kuartal I/2023. Namun, hati-hati jangan keburu beli dan berharap turnaround story ya.

Saham LPPF dan RALS

Dua saham sektor ritel, yakni LPPF dan RALS juga menjadi salah satu emiten yang memutuskan gelontorkan keuntungan dibandingkan dengan ekspansi bisnis. Alasannya, sektor bisnis mereka lagi tertekan, ditambah pandemi Covid-19 kemarin. 

Meski begitu, kalau lihat tingkat dividen yield LPPF dan RALS yang rasanya seperti besar sih. Misalnya, di 2023, LPPF membagikan dividen senilai Rp525 per saham dengan tingkat yield sebesar 10,62 persen. Angka itu sangat wah sekali karena menjadi tingkat dividen per saham tertinggi sepanjang masa LPPF. Namun, setelah bagi dividen jumbo, LPPF mencatatkan ekuitas negatif yang disebabkan penurunan saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya. Hal itu membuat selisih saldo laba lebih rendah dibandingkan modal disetor LPPF yang negatif akibat merger Meadow dengan Matahari pada 2011 senilai  Rp3 triliun.

Saat ini, posisi ekuitas LPPF sudah tidak negatif, tapi menjadi sangat rendah sekali. Kami pun menilai mungkin dividen LPPF di 2024 nanti juga tidak akan terlalu besar karena laba bersihnya hingga kuartal III/2023 turun sebesar 40 persen. 

Estimasinya, laba bersih LPPF di 2023 hanya bisa mencapai Rp815 miliar atau laba bersih per sahamnya Rp363 per saham. 

Hal serupa juga terjadi di saham ritel lainnya, RALS. LPPF dan RALS memiliki segmen bisnis yang hampir sama, yakni menengah ke bawah. Untuk itu, saat ekonomi melambat, keduanya terkena dampak paling besar.

Meski bisnisnya tertekan, RALS tetap rutin bagi dividen saat mendapatkan laba bersih. Dalam 5 tahun terakhir, beberapa kali RALS membagikan dividen sebesar Rp50 per saham. Terakhir, di 2023, dengan dividen per saham itu, tingkat yield-nya tembus 7,87 persen.

Namun ingat, tingkat yield itu bisa terlihat tinggi karena harganya sudah turun cukup dalam. Bisa dibandingkan dengan tingkat dividen Rp50 per saham pada 2019 ketika harganya di Rp1.699 per saham. Kala itu tingkat yield-nya hanya 3 persen. 

Apalagi, dari tren kinerja keuangan, posisi RALS juga masih melanjutkan tren penurunan. Sampai kuartal III/2023, RALS mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 12,2 persen, sedangkan laba bersih turun 17,32 persen. 

Sektor ritel ini memang tengah mode bertahan hidup. Bahkan, RALS sampai menginvestasikan cash-nya ke SBN hingga Rp1 triliun di kuartal III/2023. Hal itu berarti investasi ke SBN pun lebih menguntungkan ketimbang ekspansi jaringan dan sebagainya.

Memahami Lapkeu Saham DMAS dan LPPF, Jeblok Tapi Beda Nasib?
Saham LPPF dan DMAS sama-sama mencatatkan penurunan laba bersih, tapi nasibnya beda lho. Mana saham yang nasibnya lebih baik dan buruk?

Kesimpulan

Dari beberapa kasus di atas, kami menyimpulkan, ada beberapa kondisi yang membuat dividen dari emiten yang terlihat jumbo, tapi ternyata jebakan.

Pertama, kondisi sektoral yang tidak bagus membuat kinerja menurun. Namun, emiten tersebut masih menghasilkan laba bersih, tetapi laba bersih tersebut tidak bisa digunakan untuk ekspansi juga. Akhirnya, emiten membagikan dividen dengan nominal yang lebih banyak sehingga tingka dividen per saham sampai dividen yield-nya terlihat besar. 

Kedua, kondisi bisnis perusahaan sudah sulit tumbuh lebih cepat lagi sehingga pertumbuh laba bersih cenderung stagnan hingga turun. Akhirnya, berefek kepada penurunan dividen per saham juga, meski tingkat dividen payout ratio secara konsisten tetap besar. 

Ketiga, kondisi bisnis terkena dampak kebijakan pemerintah yang membuat kinerja keuangan sulit tumbuh agresif.

Untuk mengantisipasi saham-saham dividen jumbo seperti ini, investor perlu melihat tren kinerja keuangan historis 5-10 tahun ke belakang mulai dari pendapatan, laba bersih, gross profit margin, dan net profit margin. Jika pertumbuhan kinerja selaras dengan dividen per saham-nya atau total dividen yang diberikan berarti saham tersebut tidak termasuk jebakan saham dividen jumbo. Namun, bila kinerja dan dividen tidak selaras, berarti ada sesuatu di saham tersebut yang harus dicari tahu untuk mengukur tingkat risiko jika masuk ke sana.

Lalu, apakah berisiko jika masuk ke saham-saham tersebut? sebenarnya tidak juga. Jika masuk dari siklus terbawahnya bisa jadi malah mendapatkan keuntungan optimal saat kinerja keuangan perusahaan bangkit. Hanya saja, tantangannya adalah jika ternyata sudah beli di bawah, tapi kinerja keuangan makin tertekan. Itu menjadi risiko sendiri masuk ke saham dividen jumbo seperti ini. 

Dari deretan saham itu, ada yang kamu sempat atau masih hold sampai sekarang?

Pas banget, Mikirduit baru saja meluncurkan Zinebook #Mikirdividen yang berisi review 20 saham dividen yang cocok untuk investasi jangka panjang lama banget.

Kalau kamu beli #Mikirdividen edisi pertama ini, kamu bisa mendapatkan:

  • Update review laporan keuangan hingga full year 2023-2024 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Siap mendapatkan dividen sebelum diumumkan (kami sudah buatkan estimasinya)
  • Publikasi eksklusif bulanan untuk update saham mikirdividen dan kondisi market

Tertarik? langsung saja beli Zinebook #Mikirdividen dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini