Saham PTBA Dibuang Investor Lokal Karena Dividen Kecil, tapi Ditampung Asing? Begini Prospeknya

Saham PTBA memberikan kekecewaan bagi investor lokal setelah hanya bagikan dividen 45 persen dari laba. Tapi, saham ini malah diborong asing, bagaimana prospeknya?

Share
proyek pengangkutan batu bara dengan kereta PTBA

Mikirduit – Saham PTBA memutuskan pembagian dividen hanya 45 persen dari laba bersih. Tingkat payout ratio itu turun dibandingkan dengan 75 persen pada tahun sebelumnya. Saham PTBA pun mencatatkan tekanan jual dari investor domestik, tapi investor asing malah net buy. Jadi, bagaimana prospek saham PTBA?

Dengan tingkat payout rasio hanya sebesar 45 persen, berarti tingkat dividen per saham PTBA menjadi RP114 per saham. Dengan menggunakan asumsi harga penutupan pada 12 Juni 2026, berarti tingkat dividen yield sekitar 4 persen.

Hal itu membuat saham PTBA lebih banyak dibuang oleh investor domestik dengan tingkat net sell sekitar Rp19 miliar pada 12 Juni 2026. Menariknya, investor asing malah mencatatkan net buy sekitar Rp19 miliar pada periode sama. Artinya, investor lokal jual PTBA, investor asing yang menampung.

Memang, apa saja daya tarik PTBA hingga meski dividen cuma 4 persen malah tetap menarik?

Tiga Proyek Jumbo Saham PTBA

Awalnya, kami menilai PTBA minimal membagikan dividen sebesar 75 persen dari laba bersih. Bahkan, kami juga melihat peluang PTBA bagi dividen 100 persen laba terbuka lebar setelah melihat kondisi kas dan setara kas senilai Rp4,19 triliun, serta free cashflow Rp3,3 triliun. Namun, kami tidak mempertimbangkan kebutuhan belanja modal untuk tiga proyek ini.

Apa saja proyeknya?

Proyek Jalur Kereta Pengangkutan Batu Bara Tanjung Enim-Kramasan

Proyek angkutan batu bara Tanjung Enim-Kramasan yang membutuhkan belanja modal sekitar Rp5 triliun sejak 2025. Proyek jalur pengangkutan batu bara dengan kereta api itu sudah memakan biaya investasi sekitar Rp1,5 triliun pada 2025 dan berpotensi mengeluarkan sekitar Rp3 triliun hingga pertengahan 2026.

Jika melihat target belanja modal PTBA sepanjang 2026 sekitar RP3,6 triliun. Berarti, hampir seluruh belanja modal tahun ini akan digunakan untuk proyek tersebut.

Sepanjang kuartal I/2026, PTBA sudah menggelontorkan belanja modal sekitar RP467 miliar.

Adapun, angka belanja modal pada tahun ini lebih rendah dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya. Realisasi tahun sebelumnya sekitar RP4,55 triliun dari target Rp7,2 triliun. Mayoritas belanja modal senilai RP4,5 triliun itu digunakan untuk pembangunan jalur kereta Tanjung Enim-Kramasan.

Bisa dibilang, proyek jalur kereta batu bara Tanjung Enim-Kramasan menjadi proyek terbesar PTBA yang diharapkan bisa meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengangkutan. Kabarnya, proyek ini ditargetkan rampung pada kuartal III/2026.

Proyek Pembangkit Listrik untuk Smelter Aluminium MIND ID

Dalam proyek smelter aluminium MIND ID, PTBA kebagian jatah untuk pembangunan pembangkit listrik untuk mendukung operasional smelter tersebut. Kabarnya, PTBA akan membangun PLTU dengan kapasitas 1,25 Gigawatt (GW) untuk menopang smelter aluminium dengan kapasitas 600.000 ton per tahun. Kesepakatan itu sudah ditandatangani antara PTBA dengan Inalum dengan kapasitas 600.000 ton per tahun.

Namun, proyek ini belum akan langsung dijalankan karena PTBA tengah mencari mitra teknologi dan investor potensial untuk membangun pembangkit listrik di Kalimantan Barat tersebut.

Nantinya, PTBA akan membuat perusahaan patungan untuk menjalankan bisnis pembangkit listrik tersebut. PTBA pun akan bertugas untuk memasok batu bara hingga 5,5 juta ton per tahun jika pembangkit listrik itu sudah rampung.

Saat ini, PTBA menargetkan final investment decision (FID) untuk proyek tersebut bisa selesai pada akhir 2026. Lalu, proyek itu bisa mulai ada kepastian untuk dibangun pada 2027.

15 Saham Dividen Pilihan Mikirduit untuk Tahun Buku 2026, Begini Strateginya
Kami sudah merilis 15 saham dividen pilihan yang paling menarik untuk tahun buku 2026. Lalu, bagaimana strateginya?

Proyek Dimethyl Ether (DME) Sebagai Calon Subtitusi LPG

PTBA juga mendapatkan tugas mengerjakan proyek DME yang sempat mangkrak karena cabutnya investor asal Amerika Serikat (AS), yakni Air Product untuk mengembangkan produk tersebut. 

Lalu, penawaran dari investor China kepada pemerintah di akhir 2023 juga ditanggapi dingin karena tingkat keekonomian-nya masih lebih mahal dibandingkan dengan LPG.

Wacana DME kembali mencuat setelah harga minyak dunia meroket. Namun, realitanya proyek DME ini memang bukan proyek yang ekonomis.

Di sisi lain, MIND ID melalui PTBA menyatakan akan melanjutkan pengembangan hilirisasi batu bara menjadi DME. Bahkan, Menteri ESDM Indonesia Bahlil Lahadia sempat mengungkapkan bakal mulai pembangunan pada tahun ini.

Namun, dalam perkembangan terbaru pada April 2026, proyek DME itu ditargetkan mulai groundbreaking pada kuartal I/2028.Nantinya, proyek hilirisasi itu akan dilakukan PTBA di Muara Enim, Sumatra Selatan.

PTBA disebut berencana membangun fasilitas hilirisasi untuk menjadi DME dengan kapasitas 1,4 juta ton. Nantinya, PTBA akan berperan sebagai operator pabrik dan pemasok batu bara, sedangkan Pertamina menjadi pembeli produk DME tersebut. 

Timeline lengkap dari proyek DME ini antara lain, Final Investment Decision ditargetkan pada kuartal III/2027 dan kuartal IV/2027. Jika sudah sepakat, pembangunan dilakukan pada kuartal I/2028.

Kesimpulan

Salah satu kunci dari ekspansi bisnis PTBA saat ini adalah pembangunan jalur kereta api untuk pengangkutan batu bara dari Muara Enim ke Pelabuhan Kramasan. Ini akan menjadi kunci ruang pertumbuhan bottom line PTBA yang lebih menarik jika nantinya mampu membuat net profit margin PTBA menjadi semakin tebal.

Ditambah, jalur kereta api Muara Enim-Kramasan ini juga menjadi infrastruktur kunci yang bisa membuat biaya produksi DME bisa lebih efisien dari segi pengangkutannya. Namun, seberapa efisien? kami masih menunggu kajian detailnya juga.

Lalu, untuk pembangunan power plant di Kalimantan Barat memberikan ruang PTBA untuk mendapatkan pesanan pasti sekitar 5 juta ton per tahun. Namun, catatannya, harga beli-nya adalah harga DMO yang senilai 70 dolar AS per ton. Sehingga, jika dari proyek ini menekan porsi ekspor bagi PTBA bisa membuat tingkat margin keuntungan bersih menjadi kurang menarik. Apalagi jika harga batu bara di pasar malah naik di atas 150 dolar AS per ton.

Jadi, apakah PTBA menarik? jawabannya menarik jika diberikan harga lebih rendah di bawah Rp2.500 per saham. Dengan tingkat dividen yang kurang menarik, jika tertarik dengan rencana ekspansi PTBA bisa menunggu setelah ex-dividen-nya.

Curi Start Pilih Saham Diskon yang Sudah Dikurasi oleh Tim Mikirsaham Sekarang Juga!

Gabung dengan Mikirsaham Pro hingga Elite untuk menentukan strategi investasi dan trading saham-mu. Kami memberikan fitur dari pilihan saham value, growth, contrarian, dividend, hingga swing trade mingguan, serta strategi-nya. Kamu juga bisa berkonsultasi via Grup hingga Private serta mendapatkan insight analisis saham terkini. 

Join ke Mikirsaham dengan klik link di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Siap-siap ada DISKON 55% pada 15-18 Juni 2026 dengan Klik di sini