Kinerja Laba Bersih Kuartal II/2026 Saham CPO Kinclong, Last Dance Sebelum El Nino Terjadi?

Mayoritas saham CPO mencatat laba ciamik sepanjang paruh pertama 2026 terkatrol prospek permintaan B50, tetapi risiko El-Nino yang potensi mempengaruhi produksi diprediksi semakin terlihat mendekati 2027. Kira-kira gimana prospeknya? apakah masih menarik dilirik sektor ini?

Share
saham CPO

Mikirduit - Mayoritas saham CPO mencatat rapor ciamik pada sepanjang semester I/2026. Pertumbuhan rata-rata didukung oleh kenaikan harga CPO dan  prospek permintaan dari B50. 

Namun, market juga masih mengantisipasi adanya risiko penurunan produksi akibat dampak El-nino yang diprediksi akan semakin terlihat mendekati 2027, belum lagi ada lonjakan biaya pupuk dan operasional.  

Lantas, bagaimana prospek sektor ini ke depan dan saham mana yang paling menarik dilirik? 

Review Kinerja Laba Saham CPO di Semester I/2026 

Kami mengumpulkan 14 emiten sawit yang sudah melaporkan kinerja sepanjang paruh pertama tahun ini. 

Hasilnya, 10 dari 14 mencatat kenaikan laba positif, bahkan kebanyakan hasilnya tumbuh double digit sampai ada yang ratusan persen. 

Saham SMAR berada di posisi teratas dengan pertumbuhan laba sampai 180 persen lebih, disusul AALI dan GZCO labanya terbang lebih dari 50 persen, sementara lima saham lainnya mencetak pertumbuhan laba 15-20 persenan, dan dua lainnya tumbuh di bawah 10 persen. 

perbandingan harga saham CPO
Update per 5 Agustus 2026, data laba bersih sudah per Semester I/2026

Namun, bukan berarti dari deretan emiten teratas yang mencetak laba ciamik itu semuanya menarik dilirik. 

Menurut kami, ada beberapa faktor yang perlu dipahami lebih lanjut, seperti melihat bagaimana peluang dan risiko dari segi industri, sampai menilai lebih dalam dari kekuatan internal masing-masing perusahaan.

Peluang dan Risiko Sektor CPO 

Dari sisi makro, industri kelapa sawit saat ini sebenarnya sedang berada dalam kondisi yang biasanya. Saat ini harga CPO memang naik tapi lebih ke kondisi tight supply, di mana permintaan terus meningkat sementara pasokan justru tumbuh terbatas.

Di satu sisi, kebutuhan CPO terus naik, terutama didorong oleh program biodiesel 50 yang sudah dimulai sejak Juli lalu.  

update alokasi biodiesel

Program biodiesel B50 diperkirakan akan mengurangi sekitar 5 persen pasokan CPO global dan porsi produksi ekspor potensi turun menjadi hanya sekitar 48 persen.

Artinya, semakin banyak CPO diserap di dalam negeri sehingga pasokan untuk pasar ekspor menjadi semakin terbatas.

Namun di sisi lain, produksi global tidak bisa langsung mengejar permintaan karena masih terbentur sejumlah masalah struktural. 

Mulai dari banyaknya kebun sawit yang sudah memasuki usia tua, proses peremajaan (replanting) yang berjalan lambat, hingga minimnya investasi baru di sektor hulu dalam beberapa tahun terakhir. 

Kondisi tersebut membuat produktivitas cenderung stagnan sehingga pasokan CPO diperkirakan akan tetap ketat dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut kami, kondisi tight supply ini berpotensi semakin diperkuat oleh fenomena Super El Niño. 

BMKG melaporkan bahwa siklus El Niño baru telah aktif kembali sejak Juni 2026. Memasuki paruh kedua tahun ini, intensitasnya meningkat ke kategori kuat dan berpotensi berkembang menjadi Super El Niño, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga awal 2027.

Meski demikian, dampaknya terhadap industri kelapa sawit tidak akan langsung terlihat. 

Berbeda dengan tanaman musiman, sawit memiliki siklus biologis yang membuat efek kekeringan baru terasa sekitar 9-18 bulan setelah periode cuaca ekstrem terjadi. Oleh karena itu, tekanan terhadap produksi dan pasokan CPO diperkirakan baru akan semakin nyata mulai kuartal II/2027, ketika penurunan hasil panen mulai terlihat.

Efek dari pasokan ketat dan permintaan naik, alhasil membuat harga naik. Pantauan terkini per 5 Agustus 2026, harga CPO sudah berada di MYR 4.714 per ton, dalam setahun sudah naik kisaran 10 persen. 

Merujuk forecast Tradingeconomics, pada kuartal III/2026 harga CPO masih akan di level tinggi sekitar MYR 4.692 per ton. 

pergerakan harga CPO

Meski demikian, kami menilai tidak semua emiten sawit akan menikmati manfaat yang sama.

Di tengah kenaikan harga CPO, investor tetap perlu lebih selektif dengan mengutamakan perusahaan yang memiliki produktivitas kebun tinggi, biaya produksi yang efisien, serta neraca keuangan yang sehat sehingga mampu mempertahankan pertumbuhan laba ketika dampak El Niño mulai memengaruhi volume produksi pada 2027.

Menelisik Jejak Hubungan Bisnis Febrie Adriansyah - Don Ritto dengan Tiga Saham Haji Isam
Lingkaran kerabat eks Jampidsus Febrie Adriansyah jadi sorotan. Salah satu yang menarik adalah kolaborasi bisnisnya bersama taipan Kalimantan Selatan, Haji Isam. Bagaimana hubungannya?

Saham Pilihan Sektor CPO

Menurut kami, ada tiga saham CPO yang kami nilai masih cukup memiliki prospek di tengah hambatan kenaikan biaya operasional dan risiko El-Nino. Mereka adalah DSNG, TAPG, dan LSIP. Gimana prospeknya? mari kita ulas satu per satu. 

Saham DSNG 

Pertama, ada DSNG yang berhasil mencatat kinerja keuangan cukup solid sepanjang semester I/2026. 

Perusahaan mencatat laba bersih sekitar Rp1 triliun, tumbuh 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kuartalan, laba bersih pada kuartal II juga meningkat 33 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. 

Meski begitu, pertumbuhan laba DSNG tidak sepenuhnya berasal dari operasional inti. Kenaikan laba juga didukung oleh meningkatnya kontribusi dari perusahaan patungan (joint venture), turunnya beban bunga, serta adanya tambahan pendapatan lain. 

Di sisi operasional, perusahaan masih menghadapi tekanan kenaikan biaya produksi, terutama akibat harga pupuk, energi, dan pembelian TBS dari pihak eksternal yang lebih tinggi. Dampaknya, margin laba usaha turun dari 23,7 persen menjadi 22,1 persen, meski pendapatan tetap tumbuh 3 persen menjadi sekitar Rp6,3 triliun berkat kenaikan harga dan volume penjualan CPO.

💡
Mau dapat stockpick dari AI untuk saham AS dan Indonesia, kamu bisa klaim diskon spesial untuk Investing Pro, Langsung langganan di sini sekarang!

Di tengah kenaikan biaya tersebut, DSNG memiliki keunggulan dari sisi kualitas perkebunan. Rata-rata usia pohon sawit perusahaan saat ini sekitar 15 tahun, dengan sekitar 73 persen area tanam berada pada fase produktif (prime mature). 

Kondisi ini membuat produktivitas kebun relatif lebih stabil dibandingkan perusahaan yang sudah memiliki banyak tanaman berusia tua, sehingga potensi penurunan produksi dalam beberapa tahun ke depan dinilai lebih terbatas.

Selain bisnis sawit, DSNG juga memiliki sumber pendapatan lain dari bisnis produk kayu dan energi terbarukan. 

Segmen produk kayu masih menjadi salah satu kontributor pendapatan yang cukup besar melalui pasar ekspor, sementara limbah sawit juga dimanfaatkan menjadi produk energi seperti cangkang sawit dan wood pellet

Diversifikasi ini menjadi nilai tambah karena dapat membantu menjaga kinerja perusahaan ketika bisnis sawit menghadapi tekanan, baik akibat kenaikan biaya maupun potensi perlambatan produksi yang dipengaruhi El Niño.

data kinerja keuangan DSNG

Saham TAPG

Berikutnya ada TAPG yang menurut kami juga menarik karena punya umur pohon di usia produktif sampai prospek dividen yield ciamik di atas 10 persen tiap tahun.

Sepanjang semester I/2026, TAPG mencatat kinerja yang solid dengan laba bersih sekitar Rp2 triliun, naik 20 persen dibandingkan tahun lalu. Hasil ini sudah mencapai sekitar 48 persen dari estimasi laba sepanjang 2026 dan tergolong di atas ekspektasi, mengingat musim panen sawit biasanya lebih tinggi pada semester kedua. Pertumbuhan laba didorong oleh kenaikan volume penjualan dan harga jual CPO, yang turut mengangkat margin laba kotor menjadi 46,3 persen pada kuartal II/2026.

Prospek TAPG juga masih didukung oleh pertumbuhan produksi. Produksi CPO selama semester I meningkat sekitar 3 persen dibandingkan tahun lalu dan diperkirakan masih berpotensi bertumbuh pada semester II. Perusahaan juga sedang membangun pabrik kelapa sawit baru di Kalimantan Timur yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 untuk menambah kapasitas pengolahan.

Di sisi fundamental, rata-rata usia pohon sawit TAPG masih berada di kisaran 13–14 tahun, dengan sekitar 78 persen tanaman berada pada usia produktif. Kondisi ini membuat potensi produksi dinilai lebih terjaga dibandingkan beberapa emiten yang kebunnya sudah lebih tua.

Didukung posisi kas yang kuat, TAPG juga dikenal konsisten membagikan dividen dengan estimasi dividend yield sekitar 11–12 persen, sehingga menjadi salah satu emiten sawit dengan potensi dividen terbesar di BEI. Meski risiko El Niño diperkirakan mulai memengaruhi produksi pada 2027, profil tanaman yang masih produktif menjadi modal penting bagi TAPG untuk menjaga kinerja dalam jangka menengah.

Saham LSIP

Terakhir, ada saham LSIP yang punya keunggulan dari neraca yang kuat, perusahaan juga tidak punya utang bank berbunga maupun obligasi. Hal ini membuat LSIP memiliki ruang yang lebih baik untuk menghadapi kenaikan biaya operasional

LSIP juga sukses mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 16% secara tahunan (YoY) menjadi Rp2,69 triliun pada semester I/2026. Dorongan dari kenaikan volume penjualan dan harga jual rata-rata produk sawit global sukses menerbangkan laba bersih perseroan sebesar 25% YoY menjadi Rp891 miliar hingga akhir Juni 2026.

Yang menjadi catatan LSIP lebih ke umur pohon rata-rata sudah tua, berkisar 18 tahun. Produktivitas hasil panen tandan buah segar (yield TBS) mereka cenderung lebih rendah dibandingkan peers sebayanya yang bermodal kebun muda produktif, jadi replanting tetap harus digencarkan untuk mengupayakan operasional tetap berjalan normal di masa depan.

Meski begitu,pada paruh pertama tahun ini total produksi CPO LSIP masih mampu tumbuh tipis 5 persen menjadi 136 ribu ton berkat peningkatan efisiensi pabrik kelapa sawit dan tambahan buah eksternal.

Bicara soal lini usaha sampingan, emiten kelapa sawit bagian dari Grup Salim ini memiliki diversifikasi komoditas hulu agroindustri yang cukup bervariasi di luar sawit yang berkontribusi sekitar 5 persen dari total omzet.

LSIP mengoperasikan perkebunan karet komersial seluas belasan ribu hektar, lengkap dengan komoditas penopang bernilai ekonomis lainnya seperti tanaman kakao (cokelat) dan teh.

Kesimpulan

Dengan berbagai potensi risiko yang ada, kami menilai saham CPO tetap menarik, tapi posisi harga sekarang cukup tinggi jika melihat potensi risiko ke depan. Untuk itu, saham CPO bisa masuk watchlist dan pilihan ketika sudah terdiskon. Terutama, ketika dampak El Nino menjadi nyata untuk menekan margin keuntungan dan produksi dari emiten CPO tersebut.

Pilihan saham CPO dengan tanaman produktif bisa menjadi salah satu manajemen risiko. Pasalnya, jika tanaman sudah tua akan butuh replanting yang memakan waktu yang tidak sebentar.

Stock Digest Edisi Juli 2026 Baru Dirilis, Beberapa Saham Value dan Contrarian Investing Pilihan Sudah Keluar Area BUY, Apa yang masih bisa dilirik?

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

 

Investasi Crypto di PINTU sekarang