5 Saham Happy Hapsoro dari BUVA sampai RATU Cari Pendanaan dari Right Issue hingga Private Placement, Begini Prospeknya
Sejumlah saham Happy Hapsoro tahun ini lagi banyak agenda cari tambahan modal, ada yang lewat rights issue sampai private placement, kira-kira siapa saja mereka dan gimana prospeknya?
Mikirduit - Kami mencatat setidaknya ada lima emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Happy Hapsoro yang sepanjang tahun ini aktif melakukan aksi korporasi untuk menambah modal.
Ada yang sudah menuntaskan rights issue, ada yang masih dalam tahap rencana, dan ada pula yang telah menerbitkan prospektus resmi sebagai langkah menuju pelaksanaan aksi korporasi tersebut. Siapa saja mereka? mari kita ulas satu per satu.
Saham SINI
Pertama, ada saham SINI yang sudah menyelesaikan rights issue pada 20 Juli 2026 lalu. Aksi ini menjadi titik balik perusahaan mengubah wajah bisnis dari akomodas i dan pengolahan kayu menjadi bisnis tambang atau energi.
Dengan menerbitkan 721,5 juta saham baru, melalui rasio 2:3 dan harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, SINI meraup dana segara Rp3,61 triliun.
Keberhasilan rights issue ini didukung komitmen PTRO sebagai standby buyer yang mengeksekusi hak sekaligus menyerap sisa saham senilai total Rp1,30 triliun.
Tambahan modal tersebut langsung memperkuat struktur permodalan SINI. Posisi ekuitas yang sebelumnya masih defisiensi Rp687,42 miliar per akhir 2025 berbalik menjadi positif. Perbaikan ini juga menjadi salah satu faktor yang membuat BEI mencabut status suspensi saham SINI pada awal Juli 2026.
Dana hasil rights issue dialokasikan sebesar Rp1,51 triliun untuk mengakuisisi PT Kemilau Mulia Sakti, perusahaan tambang batu bara milik PTRO. Kemudian Rp900 miliar digunakan untuk mempercepat pelunasan utang pokok kepada kreditur, sementara sisanya menjadi modal kerja guna memperkuat likuiditas operasional grup.
Setelah rights issue, pergerakan saham SINI cukup volatil, dalam tiga hari perdagangan sempat turun hampir 25 persenan ke kisaran Rp5.400 per saham.
Meski begitu, memasuki awal Agustus 2026, harga saham SINI mulai bergerak stabil di kisaran Rp7.170 per saham. Sentimen positif juga datang dari anak usahanya yang memperoleh kontrak jasa pertambangan batu bara bersama PTRO dengan nilai estimasi mencapai US$ 3,26 miliar.
Namun, perlu dicatat bahwa saham SINI memiliki volatilitas yang sangat tinggi. Secara historis, pergerakan harganya juga kerap membentuk gap yang menunjukkan tingginya tekanan beli maupun jual dalam waktu singkat.
Kondisi ini membuat pergerakan saham SINI cenderung agresif sehingga kurang cocok bagi investor yang tidak siap menghadapi fluktuasi harga yang besar.

Saham PADI
Selanjutnya ada saham PADI yang juga sudah merampungkan rights issue pada 27 Juli 2026 lalu.
PADI menawarkan maksimal 2,26 miliar lembar saham baru dengan rasio 5:1 (setiap 5 saham lama berhak atas 1 HMETD) dan mematok harga pelaksanaan sebesar Rp50 per lembar. Melalui skema tersebut, PADI membidik target dana segar maksimal sebesar Rp113,07 miliar
Namun, karena perseroan berkomitmen tidak menunjuk pembeli siaga (standby buyer), saham baru yang tidak ditebus oleh publik otomatis hangus. Alhasil, pasar hanya menyerap sekitar 796,49 juta saham sehingga dana segar riil yang berhasil dihimpun hanya mencapai Rp39,82 miliar.
Meski nilainya tidak terlalu besar, tambahan modal itutetap memberi dampak positif bagi kondisi keuangan PADI. Seluruh dana digunakan untuk memperkuat Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD), yaitu indikator penting bagi perusahaan sekuritas yang diawasi OJK.
Pasca rights issue, harga saham PADI sempat koreksi kisaran 20 persenan, saat ini geraknya masih terkonsolidasi di bawah dengan support yang rawan tersentuh di 56.

Saham UANG
Berikutnya ada saham UANG yang masih dalam wacana mau rights issue, tetapi sudah dapat izin pemegang saham dari RUPSLB 16 April 2026.
Sejauh ini kami belum mengetahui rincian resmi dari rencana rights issue dan masih menunggu rilis prospektus terbaru.
Update terakhir dari manajemen hanya menyatakan target saham baru yang mau dikeluarkan kisaran 1,21 miliar lembar atau maks 100 persen dari saham yang ditempatkan perusahaan, risiko dilusi bisa mencapai 50 persen.
Tujuannya juga belum dirinci pasti hanya dinyatakan sepenuhnya untuk memperkuat struktur modal dan ekspansi bisnis.
Namun, kami melihat lebih jauh berdasarkan paparan perusahaan, mereka menyatakan ada ekspansi akuisisi 99,99 persen saham PT Vasanta Daria Development (VDD) dan 63 persen saham PT Daria Mulia Properti (DMP), tujuannya untuk ekspansi land bank dan pipeline pengembangan perseroan yang berlokasi di Cengkareng dan Depok.

Ekspansi itu memakan biaya Rp201 miliar, cukup material bagi perusahaan yang setara 33,87% dari total ekuitas. Pembayaran dilakukan dengan metode kombinasi tunai dan set-off (perjumpaan utang). Akuisisi ini telah dinyatakan wajar secara finansial oleh penilai independen (KJPP).
Dengan nilai yang sangat material itu, maka perusahaan perlu untuk memulihkan ekuitasnya. Tujuannya supaya operasional tetap berjalan lancar dan peluang ekspansi ke depan lebih terjamin, maka rights issue menjadi jurus jitu untuk dapat tambahan modal dalam waktu lebih cepat, dibanding menunggu perusahaan cetak laba.
Pasalnya, UANG justru masih merugi pada sepanjang paruh pertama ini mencapai Rp38 miliar.
Menurut kami, dengan asumsi target dana segar yang dibidik konservatif sekitar Rp300 miliar, potensi harga pelaksaan akan berkisar di Rp250 per saham, diskon hampir 90 persen dari harga terkini di Rp2.400 per saham.

Saham BUVA
Saham berikutnya dari grup Happy Hapsoro yang sedang merencanakan rights issue ada BUVA. Emiten ini sudah menyiapkan prospektus yang lebih rinci dan membidik aksi ini selesai pada Oktober mendatang. Berikut update jadwalnya sementara:

Rencananya, BUVA akan menerbitkan sebanyak 6,15 miliar saham baru atau sekitar 20 persen dari modal ditempatkan setelah rights issue. Pemegang setiap 4 saham lama berhak memperoleh 1 HMETD, dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham. Dari aksi ini, perseroan berpotensi menghimpun dana segar hingga Rp1,54 triliun.
Pemegang saham pengendali, PT Nusantara Utama Investama (NUI), menyatakan akan mengeksekusi 2,4 miliar HMETD yang menjadi haknya.
Sementara itu, sisa saham yang tidak terserap akan dijamin oleh para pembeli siaga, yaitu PT Henan Putihrai Sekuritas, PT Tata Tirta Datun, Happy Hapsoro, dan Ferry Sudjono dengan total komitmen mencapai sekitar Rp938,6 miliar. Jika pemegang saham tidak menebus HMETD, kepemilikannya berpotensi terdilusi hingga maksimal 20 persen.
Dana hasil rights issue akan difokuskan untuk mempercepat ekspansi bisnis properti dan perhotelan. Alokasinya meliputi penyertaan modal di PT Bukit Bali Permai untuk akuisisi PT Royal Uluwatu Residence dan pengembangan West Resort di Uluwatu, pelunasan utang sekitar Rp417,8 miliar, pembangunan kawasan Uluwatu Estate, renovasi Alila Ubud, serta pengembangan proyek wisata terpadu di Lagoi, Bintan.
Menurut kami kesuksesan rights issue BUVA kali ini lebih tinggi dengan risiko dilusi yang relatif lebih kecil, dibandingkan aksi serupa yang pernah dilakukan sebelumnya.
Dengan harga saham saat ini (4 Agustus 2026) di kisaran Rp755, harga teoritis setelah rights issue (TERP) berada di sekitar Rp654 per saham. Artinya, secara teori saham berpotensi terkoreksi sekitar 13 persen setelah memasuki periode ex-right.
Ada beberapa skenario yang bisa diambil jika investor sudah punya saham BUVA:
Pertama, apabila harga saham kembali menguat hingga mendekati Rp1.000 sebelum cum-right, sebagian investor mungkin akan memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan take profit secara bertahap.
Kedua, bagi investor yang ingin hold, menebus saham baru juga bisa jadi opsi. Dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham, kebutuhan dana untuk menebus rights issue relatif lebih terjangkau.
Namun, patut dipantau setelah aksi ini biasanya harga bergerak lebih volatile dengan risiko koreksi ke harga teoritis. Akan relatif lebih aman, jika investor yang memilih hold punya posisi harga average di bawah Rp650.
Saham RATU
Terakhir ada saham RATU yang mau cari tambahan modal dari private placement. Aksi ini masih akan menunggu persetujuan investor pada RUPSLB yang akan digelar pada 8 September 2026.
RATU berencana menerbitkan maksimal 271,5 juta saham baru atau setara 10 persen dari jumlah saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Risiko dilusi relatif kecil sekitar 9,09 persen.
Hingga saat ini, manajemen juga belum menetapkan calon investor strategis yang akan menyerap saham hasil private placement.
Dana yang diperoleh nantinya akan difokuskan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung ekspansi bisnis.
Penggunaannya mencakup modal kerja grup, seperti biaya karyawan, biaya profesional, kewajiban pajak, dan biaya keuangan, serta pengembangan usaha melalui belanja modal, akuisisi aset maupun saham, penyertaan modal, hingga pemberian pinjaman ke entitas yang terafiliasi.
Yang menarik dari private placement dibanding rights issue, harga pelaksanaannya umumnya cenderung lebih tinggi karena mengacu pada ketentuan BEI.
Untuk PMTHMETD, harga pelaksanaan paling sedikit harus sebesar 90 persen dari rata-rata harga penutupan saham selama 25 hari bursa sebelum pengajuan pencatatan saham baru. Berbeda dengan rights issue yang sering kali menawarkan diskon cukup besar agar menarik bagi seluruh pemegang saham lama.
Di sisi lain, investor akan mencermati siapa calon investor yang masuk, harga pelaksanaannya, serta bagaimana dana hasil private placement akan digunakan.
Jika investor yang masuk memiliki nilai strategis dan dana benar-benar digunakan untuk mendorong ekspansi bisnis, sentimen pasar terhadap aksi korporasi tersebut berpotensi menjadi lebih positif. Sebaliknya, apabila tujuan penggunaan dana belum jelas atau investor strategis belum diumumkan, pasar cenderung akan bersikap lebih hati-hati.
Sebenarnya, ada beberapa narasi ekspansi RATU ke depan, seperti menargetkan akuisisi Participating Interest (PI) pada tujuh blok migas baru dalam kurun waktu tiga tahun dengan nilai transaksi berkisar US$10 juta hingga US$150 juta per blok.
Selain itu, RATU juga sedang menjajaki peluang pencaplokan aset dan blok migas di wilayah regional seperti Malaysia, Australia, hingga Timur Tengah.
Adapun secara teknikal, sebenarnya saham RATU ini sudah di fase konsolidasi setelah jatuh dalam dari awal tahun. Kami menilai untuk cicil bertahap masih menarik, sambil mengantisipasi support terdekat di 4430 - 3700.

Gimana, menurut kalian gebrakan tambah modal dari grup HH siapa yang paling menarik?
Stock Digest Edisi Juli 2026 Baru Dirilis, Beberapa Saham Value dan Contrarian Investing Pilihan Sudah Keluar Area BUY, Apa yang masih bisa dilirik?
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
