3 Saham Grup Bakrie Mau Right Issue, Begini Pola Historis Harga Jelang Aksi Korporasi dari BNBR dan ENRG
Saham Grup Bakrie lagi rajin right issue. Seteah BNBR, ENRG dan VKTR siap right issue setelah dapat persetujuan di RUPS. Tapi, JGLE masih belum dapat persetujuan. Begini pola saham Grup Bakrie jelang right issue
Mikirduit – Banyak investor ritel mencari saham yang mau right issue dengan harapan harga saham bisa naik kencang. Meski, secara realita, aksi right issue adalah aksi korporasi yang berisiko bagi investor ritel karena jika tidak tebus bisa mengalami dilusi. Untuk itu, kami coba telaah aksi right issue dari konglomerat yang lagi rajin terbitkan saham baru, yakni Bakrie. Kira-kira, bagaimana pola pergerakan harga sahamnya?
Grup Bakrie lagi rajin melakukan right issue dari BNBR yang sudah rampung di akhir bulan kemarin hingga ENRG, JGLE, hingga VKTR.
Dalam keterbukaan terakhir, begini update rencana right issue saham Grup Bakrie:
Pertama , ENRG berencana menerbitkan 13,28 miliar lembar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp310 per saham. Rasio right issue 2:1 (tidak terlalu jumbo, tapi lumayan besar) dengan tingkat dilusi 33,3 persen. Untuk aksi korporasi ini, ENRG sudah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham pada 5 Juni 2026
Dalam transaksi right issue ini, ada pengalihan hak saham baru dari PT Shima Global Kapital kepada PT Bakrie Kalla Investment sebanyak 2,33 miliar lembar. Sehingga, secara total Bakrie Kalla Investment akan menebus 2,8 miliar lembar.
Lalu, PT Bakrie Kalla Investment dengan pihak afiliasinya akan menjadi pembeli siaga dengan pembelian di luar haknya maksimal 10,47 miliar lembar.
Nantinya, dana right issue senilai Rp4,1 triliun itu akan digunakan untuk peningkatan modal secara langsung maupun tidak langsung di perusahaan anak.
Jadwal right issue ENRG antara lain, Cum-date pada 13 Agustus 2026, ex-date pada 14 Agustus 2026, periode perdagangan dan pelaksanaan right issue 20-28 Agustus 2026.
Kedua, JGLE telah mengumumkan prospektus awal terkait rencana right issue sejak 26 Maret 2026. JGLE berencana menerbitkan 8,28 miliar lembar saham dengan harga pelaksanaan Rp50 per saham. Sehingga total dana yang dihimpun sekitar Rp414 miliar.
Nantinya penggunaan dana right issue itu akan digunakan untuk akuisisi 61,86 persen saham Jungleland. Sedangkan, Rp64 juta sisanya untuk modal kerja.
Adapun, transaksi akuisisi dalam right issue ini juga cenderung tukar guling. JGLE dapat kepemilikan jungle land, sedangkan PT Adiprotek Envirodunia akan mendapatkan porsi kepemilikan JGLE sebagai pembeli siaga dalam aksi korporasi ini.
Dalam simulasinya, Adiprotek Envirodunia berpotensi menggenggam sekitar 10,4 persen - 26,83 persen sesuai dengan partisipasi investor publik.
Adapun, Adiprotek Envirodunia ini adalah entitas yang membeli Jungleland Asia pada 2022 dari JGLE untuk menyuntikkan dana sekitar Rp251 miliar.
Untuk rencana right issue, JGLE belum mendapatkan persetujuan dari RUPSLB setelah manajemen menunda RUPSLB terkait rencana aksi korporasi tersebut.
Ketiga, VKTR berencana menerbitkan 25 miliar lembar saham baru dengan nominal Rp10 per saham. Namun, harga pelaksanaan right issue-nya belum diumumkan oleh VKTR. Rasio right issue VKTR ini sebesar 7:4. (lebih dari 1:2 sehingga cukup besar tapi belum terlalu jumbo) Tingkat dilusinya sekitar 36,36 persen.
Adapun, dana yang diperoleh nantinya 80 persen akan digunakan untuk anak usahanya, yakni PT Sarana Eko Mobilitas Indonesia. Tujuannya untuk pembelian kendaraan listrik pada periode 2026-2027. Sementara itu sisa dananya akan digunakan untuk modal kerja.
Dengan harga nominal saham baru yang diterbitkan sekitar Rp10 per saham. Berarti, perseroan bisa menetapkan harga pelaksanaan di bawah Rp100 per saham. Jika di harga Rp100 per saham saja, VKTR bisa menghimpun dana segar Rp2,5 triliun.
Perseroan juga sudah mendapatkan persetujuan untuk melakukan right issue. Dari rencana right issue dalam prospektus pada Juni 2026, jadwalnya periode cum-date pada 28 Juli 2026 dan ex-date pada 30 Juli 2026.
Lalu, periode perdagangan dan pelaksanaan right issue harusnya sudah berjalan pada 3-7 Agustus 2026. Namun, sampai detik ini, belum ada aksi right issue yang berjalan.
Jejak Right Issue BNBR dan Tren Harga Sahamnya
BNBR telah melakukan right issue dengan menerbitkan 89 miliar lembar saham baru di harga Rp53 per saham. Rasio right issue sekitar 27:14. Skalanya mirip rasio right issue VKTR.
Dalam aksi right issue ini, ada aksi beberapa pemegang saham tidak melaksanakan hak saham barunya seperti:
- Port Fraser yang dapat hak 20,14 miliar lembar mengalihkannya kepada PT Bakrie Capital Indonesia
- Fountain City Investment mengalihkannya kepada Bakrie Capital Inodnesia sebanyak 19,93 miliar lembar
Bakrie Capital Indonesia juga berstatus sebagai pembeli siaga dalam aksi right issue ini.
Total dana Rp4,76 triliun yang didapatkan BNBR akan digunakan untuk memberikan pinjaman kepada PT Bakrie Toll Indonesia senilai Rp4,36 triliun, Setoran modal Rp200 miliar untuk PT Bakrie Construction, Rp40 miliar untuk PT Cimanggis Cibitung Tollways, sedangkan sisanya untuk modal kerja.
Kami pun melakukan tracking momentum right issue BNBR sepanjang 2026:
- 26 Februari 2026 BBR merilis keterbukaan informasi terkait rencana right issue: dalam periode 9-26 Februari saham BNBR naik 97 persen. Tren kenaikan lanjut hingga 2 Maret 2026 (saat RUPSLB) sebesar 43 persen. Kenaikan harga saham BNBR setelah 26 Februari 2026 juga berkaitan dengan posisi BNBR yang baru keluar dari papan notasi khusus.
- 2 Maret 2026: BNBR mendapatkan persetujuan melakukan right issue setelah RUPSLB. Harga saham BNBR mengalami penurunan 55 persen dari 2-31 Maret 2026. Setelah itu, harga saham BNBR sempat naik 126 persen dari periode 31 Maret - 22 April 2026. Satu-satunya momen saat itu adalah Prabowo meresmikan pabrik VKTR.
- 25 Mei 2026: BNBR kembali merilis informasi terkait aksi korporasi rencana right issue dengan harga pelaksanaan di Rp53 per saham (di bawah harga pasar saat itu Rp112). Harga BNBR turun 38 persen dari periode 25 Mei 2026 - 8 Juni 2026. Setelahnya, harga saham BNBR sideways di area Rp80 - Rp110 sampai right issue selesai.
- 1 Juli 2026: BNBR merilis informasi terkait aksi korporasi rencana right issue. Dalam periode ini, saham BNBR sempat naik 61 persen hingga 23 Juli 2026 jelang periode akhir pelaksanaan dan perdagangan BNBR-R. Bahkan, ketika harga saham mengalai penurunan ke harga teoritis-nya, tren harga saham BNBR lanjut naik.
- 8 Juli 2026: Cum-right BNBR
- 9 Juli 2026: Ex-right BNBR
- 14-27 Juli 2026: Periode perdagangan dan pelaksanaan right issue BNBR
- 31 Juli 2026: Periode right issue selesai hingga pembayaran penuh dari pembeli siaga. Dari periode harga puncak pada 23 Juli 2026 sampai 5 Agustus 2026, tren harga saham BNBR sudah turun 13 persen dengan tingkat volume yang menciut.
Jejak Harga Saham ENRG Jelang Right Issue
Saham ENRG cukup banyak momentum dari deretan aksi korporasi mulai dari rencana right issue, penerbitan obligasi berkelanjutan yang sudah empat kali penerbitan sejak awal 2026, serta private placement. Secara sentimen, saham ENRG juga mendapatkan tenaga dari sentimen perang di Timur Tengah.
Lalu, bagaimana pola pergerakan harga saham ENRG jelang right issue?
- 29 Januari 2026: ENRG mengumumkan penerbitan obligasi berkelanjutan I tahap II tahun 2026. Tren harga saham ENRG sebulan jelang penerbitan ini cenderung sideways di Rp1.300 - Rp1.600 per saham.
- 9 Februari 2026: ENRG mengumumkan untuk penerbitan obligasi yang sama. Harga saham ENRG turun 32 persen. Namun, itu lebih faktor keputusan MSCI yang membekukan pasar saham Indonesia dari rebalancing sehingga ada tekanan kepada seluruh saham.
- 28 April 2026: ENRG mengumumkan rencana right issue pertama kalinya. Jika dihitung dari periode 9 Februari 2026 - 28 April 2026, ada kenaikan 52 persen. Namun, sebelumnya harga saham ENRG sempat naik hingga Rp2.200 per saham pada 4 Maret 2026. Jika dilihat hingga 28 April 2026, harga saham ENRG malah turun 21 persen. Kondisi ini lebih kepada fluktuasi akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
- 18 Mei 2026: ENRG mengumumkan rencana penerbitan obligasi berkelanjutan I tahap III 2026. Tren harga saham ENRG cenderung turun 15 persen dari 28 April 2026 hingga 18 Mei 2026. Hal ini juga dipicu oleh tarik ulur tensi geopolitik di Timur Tengah yang mempengaruhi ekspektasi harga minyak dunia. Apalagi, jelang akhir Mei 2026 harga minyak juga turun ke bawah 100 dolar AS per barrel
- 5 Juni 2026: ENRG mengumumkan rencana private placement di harga Rp1.550 per saham. Meski, harga pelaksanaan ada di atas pasar (kala itu harga saham ENRG di Rp1.300-an per saham), tapi tren harga saham ENRG dari 18 Mei 2026 hingga 5 Juni 2026 turun 18 persen.
- 9 Juni 2026: ENRG melakukan RUPSLB meminta persetujuan terkait rencana right issue. Harga saham ENRG sempat naik 25 persen dalam 1 hari saat periode RUPSLB tersebut. Tapi, setelah itu tidak ada kenaikan harga saham yang cukup signifikan. Secara total dari 8 Juni 2026 hingga 17 Juni 2026 mencatatkan kenaikan 36 persen.
- 11 Juni 2026: ENRG mengumumkan informasi lebih detail terkait rencana right issue dengan harga pelaksanaan di Rp310 per saham. Posisi ke harga saham hanya berdampak jangka pendek dari 11-17 Juni 2026 dengan kenaikan 10,21 persen.
- 17 Juni 2026: pengumuman hasil private placement yang justru menjadi titik terakhir kenaikan harga saham ENRG di level tertinggi di Rp1.500-an per saham di Juni 2026. Setelahnya, harga saham ENRG turun 32 persen hingga 30 Juni 2026.
- 3 Juli 2026: ENRG merilis informasi obligasi berkelanjutan I Tahap IV. Bersamaan dengan fakta itu, harga saham ENRG mencatatkan kenaikan 10 persen dari periode 30 Juni 2026 hingga 3 Juli 2026
- 23 Juli 2026: ENRG merilis informasi obligasi berkelanjutan I Tahap V. Secara kumulatif sejak 3 - 23 Juli 2026, harga saham ENRG naik 49 persen. Namun, kenaikan signifikan itu selaras dengan tren harga minyak yang sempat naik ke 104 dolar AS per barrel di 23 Juli 2026.
Untuk ENRG, tinggal menunggu periode cum-date dan ex-date right issue di 13-14 Agustus 2026.

Kesimpulan
Jejak BNBR dan ENRG menunjukkan bahwa saham Grup Bakrie cenderung mengalami volatilitas tinggi menjelang pelaksanaan right issue. Namun, pergerakan harganya tidak semata-mata ditentukan oleh aksi penambahan modal tersebut.
Dalam fase awal, ketika rencana right issue baru diumumkan atau memperoleh persetujuan RUPSLB, harga saham berpotensi mengalami kenaikan karena muncul ekspektasi terhadap ekspansi bisnis, masuknya dana baru, atau aksi korporasi lanjutan. Akan tetapi, kenaikan tersebut sering kali hanya berlangsung dalam jangka pendek.
Ketika detail right issue mulai diumumkan, terutama apabila harga pelaksanaan berada jauh di bawah harga pasar, pasar mulai memperhitungkan risiko dilusi dan penyesuaian menuju harga teoritis. Pada fase ini, tekanan jual biasanya meningkat dan harga saham berpotensi turun cukup dalam.
BNBR memperlihatkan pola yang relatif lebih jelas. Harga saham naik ketika sentimen right issue dan katalis lain mulai berkembang, turun setelah persetujuan RUPSLB dan pengumuman harga pelaksanaan, kemudian kembali menguat menjelang berakhirnya perdagangan hak. Setelah pelaksanaan selesai, volume transaksi mulai mengecil dan harga saham kembali terkoreksi. Pola ini mengindikasikan adanya kecenderungan buy on rumor, sell on fact.
Sementara itu, pola ENRG lebih sulit dipisahkan dari katalis eksternal. Pergerakan sahamnya tidak hanya dipengaruhi right issue, tetapi juga penerbitan obligasi, private placement, keputusan MSCI, tensi geopolitik, dan perubahan harga minyak. Karena itu, kenaikan ENRG menjelang right issue belum tentu mencerminkan respons positif pasar terhadap aksi tersebut. Dalam beberapa periode, pengaruh harga minyak justru terlihat lebih dominan.
Dari kedua saham tersebut, terdapat beberapa pola utama:
- Kenaikan sering terjadi sebelum detail final right issue diumumkan.Pasar lebih dahulu memperdagangkan ekspektasi, spekulasi, dan potensi penggunaan dana.
- Persetujuan RUPSLB bukan jaminan harga akan terus naik.Setelah persetujuan diperoleh, harga justru dapat terkoreksi karena katalis yang ditunggu sudah terealisasi.
- Harga pelaksanaan yang jauh di bawah harga pasar meningkatkan risiko tekanan harga.Investor mulai menghitung potensi dilusi serta harga teoritis setelah ex-right.
- Menjelang akhir perdagangan hak, harga bisa kembali dinaikkan.Namun, kenaikan tersebut berisiko bersifat sementara dan diikuti penurunan setelah right issue selesai.
- Katalis eksternal tetap menjadi penentu penting.Pada BNBR terdapat sentimen keluarnya saham dari papan pemantauan khusus dan peresmian pabrik VKTR. Pada ENRG, harga minyak dan geopolitik jauh lebih dominan.
- Volume perlu diperhatikan bersama harga.Kenaikan harga yang kemudian diikuti penyusutan volume, seperti yang terjadi pada BNBR setelah puncak 23 Juli 2026, dapat menandakan mulai berkurangnya tenaga beli.
Dengan demikian, right issue pada saham Grup Bakrie lebih tepat dipandang sebagai momentum trading berisiko tinggi, bukan otomatis sebagai katalis fundamental jangka panjang. Investor perlu memisahkan kenaikan yang benar-benar didukung prospek penggunaan dana dari kenaikan yang hanya berasal dari spekulasi menjelang aksi korporasi.
Hal yang paling penting bukan sekadar apakah saham akan melakukan right issue, tetapi:
- seberapa besar potensi dilusinya;
- seberapa jauh harga pelaksanaan dibandingkan harga pasar;
- siapa pihak yang menyerap saham baru;
- ke mana dana right issue dialokasikan;
- apakah penggunaan dana dapat menghasilkan arus kas dan laba tambahan;
- serta apakah kenaikan harga sedang didukung katalis fundamental atau hanya sentimen sementara.
Secara sederhana, pola dua saham ini dapat dirangkum sebagai:
rumor dan ekspektasi mendorong kenaikan, detail dilusi memicu tekanan, harga dapat kembali menguat menjelang pelaksanaan, tetapi setelah aksi selesai pasar akan kembali menilai fundamental dan hasil nyata penggunaan dananya.
Stock Digest Edisi Juli 2026 Baru Dirilis, Beberapa Saham Value dan Contrarian Investing Pilihan Sudah Keluar Area BUY, Apa yang masih bisa dilirik?
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
