Saham MTEL Merger Anak Usaha Ditengah Lelang Frekuensi 5G, Begini Prospeknya

MTEL tengah mempersiapkan merger dua anak usahanya, menariknya momen ini bertepatan dengan lelang frekuensi 700 MHz dan 2.6 GHz yang akan mendorong permintaan infrastruktur telekomunikasi. Kira-kira gimana prospeknya ke depan? menarik dilirik sahamnya?

Share
saham MTEL

Mikirduit - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel tengah menyiapkan langkah strategis dengan menggabungkan dua anak usahanya. 

Di saat yang sama, industri telekomunikasi juga sedang menantikan hasil lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz yang diprediksi akan memicu gelombang investasi jaringan baru. 

Lantas, seberapa besar peluang yang bisa dinikmati Mitratel dari dua momentum tersebut, dan bagaimana posisinya dibandingkan TOWR maupun TBIG? 

MTEL Siap Merger 2 Anak Usaha Mulai 1 Juli 2026

Pertama, kita bahas dulu terkait detail aksi MTEL yang mau melakukan merger dua anak usaha-nya, yaitu , PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT) dan PT Persada Sokka Tama (PST), ke dalam perusahaan induk. 

Sekilas, merger ini memang terlihat hanya sebagai restrukturisasi internal. Namun jika dilihat lebih dalam, langkah tersebut justru menjadi persiapan Mitratel untuk menyambut siklus belanja infrastruktur baru dari operator seluler setelah lelang frekuensi selesai.

Merger ini akan dibawa dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 Juni 2026 dan ditargetkan efektif mulai 1 Juli 2026. Sebelumnya, aksi ini sudah lebih dulu mendapat persetujuan Dewan Komisaris pada 6 Mei 2026.

Karena PST dan UMT merupakan anak usaha yang 100 persen dimiliki MTEL, aksi ini tidak mengubah struktur kepemilikan maupun menimbulkan dilusi bagi pemegang saham publik. Seluruh aset, liabilitas, kontrak, hak, dan kewajiban kedua perusahaan nantinya akan berpindah ke Mitratel, sementara kedua entitas tersebut otomatis berakhir tanpa melalui proses likuidasi.

Merger untuk Efisiensi dan Pengembangan Bisnis Baru

Kalau hanya melihat dari sisi struktur perusahaan, merger ini memang bertujuan membuat organisasi menjadi lebih ramping. PST yang memiliki aset sekitar Rp1,69 triliun bergerak di bidang pembangunan dan konstruksi menara, sedangkan UMT memiliki aset sekitar Rp425,8 miliar dan bergerak di bidang sistem data serta telekomunikasi.

Dengan menggabungkan keduanya ke dalam MTEL, perusahaan bisa memangkas birokrasi, mengurangi pekerjaan yang tumpang tindih, hingga mempercepat proses pengambilan keputusan. Efisiensi seperti ini memang belum tentu langsung terlihat di laba tahun ini, tetapi biasanya akan mulai terasa dalam beberapa tahun ke depan.

Yang lebih menarik justru arah bisnisnya.

Lewat merger ini, MTEL juga akan memperluas kegiatan usahanya dengan menambahkan layanan Internet Service Provider (ISP), Internet of Things (IoT), penyediaan tenaga kerja teknis, hingga berbagai aktivitas telekomunikasi lainnya.

Artinya, MTEL mulai bergerak dari bisnis penyewaan menara menjadi penyedia digital infrastructure yang lebih lengkap. Jadi, sumber pendapatan perusahaan ke depan tidak hanya berasal dari sewa menara, tetapi juga dari berbagai layanan pendukung ekosistem digital.

Timing Merger Bertepatan Lelang Spektrum Terbaru

Transformasi Mitratel berlangsung bertepatan dengan salah satu agenda paling penting di sektor telekomunikasi tahun ini, yakni lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). 

Proses yang dimulai sejak April 2026 tersebut kini telah memasuki tahap akhir evaluasi administrasi dengan tiga operator besar, yaitu Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), serta XL Axiata–Smartfren—menjadi peserta utama. 

Lantas, apa hubungannya ke perusahaan tower dan kenapa dua frekuensi ini begitu penting? 

Sederhananya, spektrum frekuensi adalah "jalan" yang digunakan operator untuk mengirimkan sinyal internet ke ponsel kita. Setiap frekuensi punya karakteristik berbeda sehingga fungsinya pun tidak sama.

Spektrum 700 MHz ibarat jalan tol yang panjang. Frekuensi ini memiliki jangkauan yang sangat luas dan sinyalnya lebih mudah menembus bangunan maupun kondisi geografis yang sulit. Karena itu, pita ini sangat cocok digunakan untuk memperluas jaringan di daerah pedesaan, pegunungan, pulau-pulau kecil, hingga wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).

Sebaliknya, 2,6 GHz bisa dianalogikan sebagai jalan tol yang lebih lebar. Jangkauannya memang tidak sejauh 700 MHz, tetapi mampu menampung lalu lintas data yang jauh lebih besar. Frekuensi ini menjadi andalan untuk meningkatkan kapasitas jaringan di kota-kota besar sekaligus mempercepat implementasi layanan 5G.

Jadi, kalau 700 MHz fokus memperluas jangkauan internet, maka 2,6 GHz bertugas meningkatkan kecepatan dan kapasitasnya. Kombinasi keduanya akan membuat kualitas jaringan operator menjadi jauh lebih baik.

Harga Emas Jeblok ke 3.900 dolar AS, Begini Faktor dan Prospek Aset Terkait Logam Mulia
Untuk pertama kalinya di 2026, harga emas jebol ke bawah level US$ 4000 per troy ons. Apakah ini menjadi peluang untuk serok lagi atau malah jebakan masih bisa turun lebih dalam?

Kenapa Emiten Menara telekomunikasi Diuntungkan?

Lelang frekuensi bukan hanya kabar baik bagi operator seluler, tetapi juga bagi perusahaan penyedia menara seperti MTEL, TOWR, dan TBIG.

Alasannya sederhana. Pemerintah mewajibkan setiap pemenang lelang untuk membangun jaringan baru (rollout obligation). 

Artinya, operator harus menggelontorkan belanja modal untuk membangun BTS, menambah menara, memperbanyak kolokasi (colocation), hingga menarik jaringan fiber optic sebagai backhaul.

Implementasi 700 MHz kemungkinan besar akan mendorong pembangunan menara baru di luar Pulau Jawa. Sementara penggunaan 2,6 GHz lebih banyak membutuhkan penambahan kapasitas di kota-kota besar melalui kolokasi dan jaringan fiber.

Selain itu, tren Fixed Wireless Access (FWA) atau internet rumah berbasis seluler juga diperkirakan ikut menambah permintaan infrastruktur karena operator perlu menempatkan perangkat pemancar lebih dekat ke kawasan permukiman.

Meski begitu, dampaknya tidak akan langsung terlihat tahun ini. Setelah lelang selesai sekitar Agustus 2026, operator masih membutuhkan waktu sekitar 6–12 bulan untuk membangun jaringan. 

Artinya, potensi kenaikan pendapatan emiten tower baru diperkirakan mulai terlihat pada pertengahan hingga akhir 2027.

Komparasi Emiten Tower : MTEL Vs TBIG Vs TOWR, Siapa Paling Menarik? 

Kami membandingkan tiga emiten tower berdasarkan beberapa data terbaru, seperti jumlah menara, tenant, rasio tenancy (metrik yang menunjukkan jumlah rata-rata penyewa per menara, semakin tinggi semakin bagus), sampai rasio keuangan seperti tingkat utang (net debt/equity), profitabilitas (net income, revenue), dan valuasi (EV/EBITDA), berikut datanya: 

Dari data di atas di antara tiga emiten tower terbesar, MTEL masih menjadi pemimpin dari sisi skala dengan 40.327 menara dan 63.333 tenant per kuartal I/2026. Perusahaan juga memiliki tingkat leverage yang relatif rendah sehingga memberi ruang lebih besar untuk ekspansi. 

Di sisi lain, tenancy ratio MTEL yang berada di kisaran 1,57 kali menunjukkan masih terdapat peluang untuk meningkatkan pemanfaatan aset melalui penambahan tenant. Merger UMT dan PST juga memperluas cakupan bisnis perusahaan ke layanan ISP, IoT, dan infrastruktur digital lainnya.

promo mikirduit

Sementara itu, TOWR menawarkan model bisnis yang lebih terdiversifikasi melalui jaringan fiber dan FTTH. Perusahaan juga membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba yang relatif lebih baik dibandingkan kompetitor pada periode berjalan, didukung valuasi yang masih menarik. Namun, struktur pendanaannya relatif lebih tinggi dibandingkan MTEL sehingga lebih sensitif terhadap perubahan biaya pendanaan, terutama di tengah era kenaikan suku bunga saat ini.

Adapun TBIG dikenal memiliki tenancy ratio tertinggi di industri, sekitar 1,70 kali, yang mencerminkan efisiensi monetisasi aset yang baik. Meski demikian, perusahaan memiliki tingkat leverage yang lebih tinggi dibandingkan dua pesaingnya sehingga beban bunga menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati.

Secara keseluruhan, ketiga emiten diperkirakan sama-sama berpotensi memperoleh manfaat dari implementasi hasil lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz yang diperkirakan mulai mendorong pembangunan jaringan pada 2027. 

Dengan karakteristik yang berbeda, masing-masing emiten menawarkan kombinasi prospek pertumbuhan, efisiensi operasional, dan profil risiko yang dapat disesuaikan dengan preferensi investor.

MTEL menarik bagi investor yang mengutamakan skala operasional terbesar, jaringan yang luas terutama di luar Jawa, serta kondisi neraca yang kuat untuk mendukung ekspansi jangka panjang.

TOWR menawarkan daya tarik dari sisi diversifikasi bisnis melalui fiber, pertumbuhan kinerja yang solid, serta valuasi yang relatif lebih murah. 

Sementara itu, TBIG menonjol dari efisiensi monetisasi aset yang tercermin pada tenancy ratio tertinggi, sehingga berpotensi mempertahankan profitabilitas operasional yang baik, meski investor tetap perlu mencermati tingkat leverage yang lebih tinggi dibandingkan kompetitornya. 

Jadi, gimana menurut kalian paling menarik lirik MTEL, TBIG, atau TOWR? atau malah tiga-tiga nya? 

Kamu Butuh Insight dan Ide Saham Jangka Menengah-panjang hingga Swing Trading?

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini