Prabowo Cuap Insentif Motor Listrik di Peresmian Produk INDY, Begini Dampaknya ke Saham Terkait
Setelah bilang VKTR diharapkan jadi champion Indonesia di bidang otomotif, kini peresmian molinas INDY dihadiri oleh Prabowo. Bagaimana prospeknya?
Mikirduit – Presiden Indonesia Prabowo Subianto resmikan peluncuran motor listrik nasional milik ALVA, dari saham INDY pada 13 Agustus 2026. Hal ini jadi dejavu saat Prabowo meresmikan pabrik perakitan kendaraan komersial listrik milik VKTR. Lalu, apa implikasi ke sahamnya?
Key Takeaways
- Peluncuran motor listrik nasional ALVA milik INDY mendapat dukungan langsung Presiden Prabowo, tetapi kontribusi bisnis kendaraan listrik INDY masih sangat kecil, hanya sekitar 1–2% dari total kinerja perseroan.
- Secara fundamental, bisnis motor listrik belum benar-benar solid karena SLIS dan UNTD masih merugi meski mencatat pertumbuhan penjualan, sementara profitabilitas dan margin bisnisnya masih menjadi tantangan.
- Peluang sektor ini untuk saat ini lebih menarik sebagai momentum spekulatif dari potensi turnaround dan insentif pemerintah daripada investasi jangka panjang, dengan SLIS dan UNTD menjadi kandidat yang relatif menarik tetapi tetap berisiko tinggi.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Cara Menumbuhkan Kekayaan dari Multi Aset. Belajar dari 0 manajemen aset hingga praktek dan komposisi aset yang pas untuk menghadapi peluang dan tantangan 2026-2027 selama 2 Hari secara Online. Early Bird cuma Rp250.000 (Hanya untuk 50 pendaftar pertama) dengan klik link di sini
Peluncuran Molinas dengan nama Cakra NX1 dengan ekosistem pendukungnya dilaksanakan di Pabrik PT Ilectra Motor Group (Alva) milik INDY. Dalam acara itu, Prabowo 'meng-endorse' motor listrik nasional dengan mengungkapkan jika menggunakan motor listrik bisa hemat setidaknya 50 persen sampai 70 persen biaya mobilitas sehari-hari ketimbang motor bensin.
Prabowo juga mengajak masyarakat untuk beralih dari motor berbahan bakar bensin ke kendaraan listrik seiring dengan pengembangan industri dan ekosistem kendaraan listrik nasional.
INDY juga sudah produksi sekitar 20.000 unit motor listrik. Prabowo mengaku, jika nanti INDY produksi 200.000 dia akan datang lagi, dan 2 juta unit juga akan kembali datang.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani juga menyebutkan potensi pasar motor listrik mencapai 710 miliar dolar AS. Kini sudah ada 10 perusahaan nasional yang memenuhi kriteria komponen dalam negeri tersebut.
Prabowo juga menekankan baka menurunkan suku bunga pembiayaan untuk pembelian motor listrik, serta uang muka atau DP bisa 0 persen.
Sebenarnya, bicara pembiayaan kendaraan bermotor, Bank Indonesia sudah memberikan insentif Loan to Value (LTV) 100 persen alias DP 0 persen untuk roda dua dan empat apapun bahan bakarnya. Kebijakan ini berlaku hingga 31 Desember 2026.
Namun, insentif DP 0 persen itu hanya berlaku di beberapa bank dengan tingkat rasio pembiayaan bermasalah tertentu dan profil risiko nasabah tertentu saja.

Realisasi Kinerja Bisnis Motor Listrik
Ada 6 saham terkait kendaraan listrik, yakni INDY, SLIS, UNTD,, NFCX, KRYA dan TOBA. Lalu, bagaimana performa bisnis motor listrik hingga Juni 2026?
INDY menempatkan bisnis produksi motor listriknya ke dalam segmen bisnis hijau. Di segmen bisnis itu, ada beberapa bisnis seperti, EMITS dan TIME yang menyediakan solusi one stop-shop solusi energi terbarukan untuk sektor komersial dan industri di Indonesia. Lalu, ada Grup IMG yang mengembangkan kendaraan listrik roda 2 dan MMG yang mengembangkan kendaraan listrik roda 4. Lalu, ada Indika Nature yang fokus di bisnis hijau melalui sektor biomassa, agroforestri, dan perdagangan karbon.
Hingga Juni 2026, segmen bisnis hijau mencatatkan penurunan laba segmen sebesar 48,9 persen menjadi 3,13 juta dolar AS. Namun, pendapatan naik 107 persen menjadi 31,32 juta dolar AS.
Kami menilai penurunan laba segmen yang cukup signifikan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor:
Pertama, pendapatan investasi yang turun menjadi rugi 6,92 juta dolar AS dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang positif 8,86 juta dolar AS.
Perubahan nilai wajar yang dapat dikonversikan menjadi 0 dibandingkan dengan periode sebelumnya senilai 3,77 juta dolar AS.
Di sisi lain, kontribusi bisnis kendaraan listrik INDY masih sangat rendah. Per Juni 2026, dari segi pendapatan berkontribusi sebesar 2,73 persen, sedangkan laba segmen sebesar 1,73 persen.
Lalu, untuk emiten yang benar-benar fokus di produk kendaraan listrik seperti SLIS dan UNTD (BIKE kami skip karena lagi disuspensi).
Di sisi lain, SLIS yang memiliki bisnis sepeda listrik dan masuk ke pengembangan motor listrik masih merugi.
SLIS memang mencatatkan pertumbuhan pendapatan 8,55 persen menjadi Rp91,26 miliar pada kuartal II/2026. Namun, jika di-breakdown, pendorong pendapatan SLIS berasal dari penjualan komponen elektronik yang naik 55 persen menjadi Rp58 miliar. Namun, penjualan sepeda listriknya malah turun 29 persen menjadi Rp32 miliar.
Ditambah, jika dilihat posisi bottom line kedua segmen SLIS itu masih merugi. Komponen elektronik merugi Rp2,8 miliar, sedangkan sepeda listrik merugi Rp6,7 miliar.
Tingkat gross profit margin-nya juga sangat rendah. Untuk produk komponen elektronik hanya 1,89 persen di Juni 2026. Lalu, sepeda listrik malah mencatatkan penurunan gross profit margin signifikan menjadi 9,71 persen dibandingkan dengan 19,67 persen pada periode sama tahun sebelumnya.
UNTD memiliki bisnis penjualan sepeda, sepeda listrik, dan motor listrik. Ketiga segmen itu rata-rata memiliki porsi yang hampir mirip dengan margin keuntungan kotor yang juga tidak berbeda jauh, meski yang tertebal ada di sepeda motor listrik sebesar 14 persen. Data keuangan yang dirilis terakhir ada di kuartal I/2026.
Dari segi tren pertumbuhan bisnis, produk sepeda motor listrik UNTD mencatatkan kenaikan sebesar 289 persen menjadi Rp30,92 miliar. Namun, laba segmennya hanya bertumbuh 29 persen menjadi Rp3,79 miliar.
Namun, secara bottom line keseluruhan, UNTD tetap mengalami kerugian senilai Rp11 miliar dari sebelumnya mencatatkan keuntungan. Hal itu disebabkan kenaikan beban pokok pendapatan yang sebesar 30 persen ketika pendapatan hanya tumbuh 6 persen. Sehingga dari pos laba/rugi usaha sudah negatif.
Di sisi lain, kami tidak bisa menemukan detail bisnis motor listrik NFCX yang punya brand Volta hingga menjadi distributor untuk Gesits (motor listrik punya WIKA ke Indonesia Battery Corporation), serta TOBA melalui Electrum.
Sementara itu, KRYA yang baru diakuisisi EGCO pada 2025 telah mencatatkan penjualan motor senilai Rp14,75 miliar di semester I/2026. Lalu, KRYA juga mencatatkan posisi laba bersih senilai Rp8,96 miliar dibandingkan dengan rugi Rp85 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Harga saham KRYA tertekan cukup signifikan setelah Komisaris Utama-nya pasca backdoor listing, yakni An Shaohong ditangkap dan di deportasi. Hal itu membuat satu ekosistem-nya di saham KRYA, LABA, dan OLIV kompak tertekan.
Sentimen ‘Endorse’ Presiden
Saham VKTR sempat naik hingga 19 persen pada periode 9 - 14 April 2026 setelah Prabowo meng-"endorse" saham tersebut.
Salah satu kutipan yang paling disorot adalah harapan dari Prabowo terkait VKTR agar dapat berkembang menjadi salah satu national Champion Indonesia di sektor otomotif dan bisa sejajar dengan perusahaan besar dunia.
"Kalau Jepang punya Isuzu, punya Hino, Korea punya Hyundai, Daewoo, saya berharap beberapa tahun lagi kita akan melihat VKTR menjadi Champion dari Indonesia," ujarnya.
Adapun, bisnis VKTR adalah perakitan dan karoseri kendaraan listrik. Lalu, perseroan juga menjual suku cadangan dan komponen kendaraan listrik komersial hingga bus.
VKTR pun berkolaborasi dengan BYD untuk membuat produk dengan nama lokal seperti Tidar, Carstenz, Arjuno, dan Ijen).
Menariknya, kehadiran Prabowo di VKTR dan INDY ini juga memiliki kaitan kekeluargaan, yang mana Grup Bakrie punya kedekatan dengan keluarga Soeharto, dan INDY memiliki afiliasi dengan Agung Lasmono, keponakan Soeharto.
Namun, impact 'endorse' Prabowo agak berbeda antara VKTR dan INDY. Adapun, harga saham INDY per 14 Agustus 2026 hingga pukul 09:49 WIB masih stagnan. Justru, SLIS yang paling ngebut dengan kenaikan 18 persen, UNTD naik 4 persen, TOBA naik 1 persen, NFCX stagnan, dan KRYA turun 3,17 persen.
Kesimpulan
Secara skala bisnis, INDY terlihat yang terbesar. Namun, segmen bisnis kendaraan listrik INDY itu tergabung dengan beberapa bisnis lainnya sehingga nominalnya agak kurang pas dibandingkan dengan saham-saham yang 100 persen di produksi kendaraan motor listrik. Eksposure bisnis kendaraan listrik INDY juga sangat kecil hanya 1-2 persen dari total kinerja perseroan.
Di luar itu, UNTD dan SLIS punya skala bisnis yang hampir mirip, tapi keduanya masih merugi. Keduanya punya skala terbesar dibandingkan dengan KRYA. Lalu, NFCX dan TOBA memiliki skala yang tidak begitu jelas tercatat di laporan keuangan.
Kami menilai jika membandingkan valuasi dan risiko bisnis, SLIS menjadi yang menarik. Namun, perhatikan volatilitas setelah kenaikan tinggi hari ini. Tekanan jual juga berpotensi besar di pekan depan. Sehingga, lebih wise untuk menunggu di bawah Rp100 per saham.
Potensi turnaround dengan kerugian yang terus tergerus bisa menjadi momentum untuk SLIS. Apalagi, jika ada insentif yang menarik (bukan sekadar DP 0 persen dan bunga pembiayaan yang diturunkan).
Kekurangan SLIS adalah dia punya utang dengan porsi debt to equity ratio yang rendah, tapi kas-nya cenderung ketat hanya Rp2 miliar dengan cicilan di 1 semester bisa mencapai Rp1 miliar.
Di sisi lain, UNTD bisa jadi alternatif dengan valuasi yang agak mahal serta rasio DER yang lebih tinggi. Tapi, cash UNTD cukup tebal sekitar Rp165 miliar dengan biaya cicilan utang Rp11 miliar dalam 1 semester. Momentum UNTD juga mirip dengan SLIS, yakni momentum pemulihan kinerja bottom line. Lalu, dari segi pertumbuhan penjualan, UNTD juga lebih menarik dibandingkan dengan SLIS.
Secara umum, kami menilai bisnis kendaraan listrik ini belum menarik untuk investasi jangka panjang kecuali spekulatif untuk memanfaatkan momentum pemulihan hingga realisasi insentif sepeda motor listrik dari pemerintah.
Dapatkan Insight dan Belajar Saham dengan Praktek Langsung Bersama Founder Mikirduit
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
