Saham IGAR Berikan Dividen Rp5 dan Targetkan Pendapatan 2026 Senilai Rp1 triliun
Saham IGAR menargetkan pendapatan tumbuh Rp1 triliun di tengah risiko kenaikan harga bahan baku. Jadi, gimana prospeknya?
Mikirduit – IGAR memutuskan pembagian dividen Rp5 per saham untuk tahun buku 2025. Lalu, bagaimana prospek saham kemasan plastik ini?
Salah satu tantangan terbesar IGAR adalah potensi kenaikan harga bahan baku karena pelemahan rupiah dan perang AS-Iran.
Manajemen IGAR mengakui ada potensi kenaikan harga bahan baku dalam kondisi saat ini. Namun, pihaknya menyakinkan kalau kenaikan harga bahan baku tidak berdampak signifikan ke perseroan.
"Cost bahan baku akan dimasukkan ke harga jual produk untuk klien. Sehingga, meski harga bahan baku naik tidak akan berdampak signifikan terhadap tekanan margin keuntungan," ujarnya dalam public expose pada 9 Juni 2026.
IGAR: Neraca Masih Kuat, Tapi Laba Kuartal I Mulai Tertekan
PT Champion Pacific Indonesia Tbk mencatat pelemahan kinerja pada Q1/2026. Pendapatan turun tipis, tetapi laba bersih turun lebih dalam karena margin ikut tertekan.
Kinerja Utama Q1/2026
| Indikator | Q1/2026 | Q1/2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | Rp209,7 M | Rp222,1 M | -5,6% |
| Laba Kotor | Rp29,2 M | Rp32,5 M | -10,2% |
| EBITDA | Rp17,0 M | Rp21,3 M | -20,2% |
| Laba Bersih | Rp10,5 M | Rp13,5 M | -22,2% |
| EPS | Rp11,33 | - | Kuartalan |
Masalah Utama: Margin Turun
Pendapatan turun 5,6%, tetapi laba bersih turun 22,2%. Ini menandakan tekanan bukan cuma dari penjualan, melainkan juga dari profitabilitas.
Neraca Masih Jadi Bantalan
IGAR masih punya kas besar sekitar Rp460,3 miliar, total ekuitas sekitar Rp908,0 miliar, dan DER hanya 0,15x.
Margin Q1/2026
Apa yang Masih Menarik?
Bisnis Defensif
IGAR kuat di kemasan fleksibel untuk sektor farmasi, segmen yang menuntut kualitas, higienitas, dan compliance tinggi.
Kas Besar
Posisi kas masih tebal sehingga memberi ruang untuk capex mesin baru, modal kerja, dan potensi dividen.
Ekspansi Kapasitas
Annual report menyebut kapasitas produksi sudah mencapai batas maksimal dan perusahaan mulai investasi mesin baru.
Risiko yang Perlu Dipantau
1. Target 2026 Belum Mudah
Run-rate Q1/2026 masih belum cukup kuat untuk mengejar pertumbuhan tahunan. IGAR butuh akselerasi order dan pemulihan margin.
2. Tekanan Biaya Produksi
Penurunan laba yang lebih dalam dari penjualan menunjukkan adanya tekanan biaya, mix produk, atau harga jual.
3. Bahan Baku Impor
Perusahaan punya eksposur ke rantai pasok bahan baku dari Tiongkok, sehingga risiko kurs, tarif, dan geopolitik perlu diperhatikan.
4. Mesin Baru Harus Produktif
Capex mesin baru positif jika cepat masuk produksi. Namun jika ramp-up lambat, dampaknya ke laba bisa tertunda.
Pertanyaan Kunci untuk Manajemen
IGAR menjadi emiten kemasan yang produknya fokus untuk sektor farmasi. Total sekitar 90 persen penjualan ke sektor farmasi, sedangkan 10 persen ke sektor non-farmasi seperti consumer goods.
Manajemen berencana untuk mendorong pertumbuhan segmen non-farmasi menjadi lebih tinggi dengan tetap menjaga porsi produk kemasan farmasi.
Adapun, untuk belanja modal 2026, IGAR menganggarkan sekitar Rp88 miliar. Perseroan berencana membuat proses produksi menjadi lebih efisien sehingga bisa mengoptimalkan kinerja keuangannya.
Lalu, perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sepanjang 2026 tumbuh 9 persen menjadi Rp1 triliun, dengan target laba bersih Rp86 miliar. Perseroan optimistis tidak terganggu efek kenaikan bahan baku sehingga memasang target gross profit margin bisa tetap dijaga.

Dari segi sumber pendapatan, IGAR memiliki kontrak dengan KLBF yang porsinya bisa mencapai 20-30 persen dari pendapatan perseroan. Bahkan, ada treatment seperti manajemen inventory khusus untuk KLBF. Apalagi, KLBF juga sampai masuk menjadi pemegang saham 5 persen perseroan.
Jika dibandingkan dengan saham serupa, posisi IGAR sudah cenderung lebih murah dari BRNA dan PICO, jadi seberapa menarik saham ini?

