Saham Grup MNC Mulai Rebound? Pahami Momentum dan Masalah yang Dihadapinya

Saham grup MNC memang sudah mulai rebound, tapi baru sehari. Kalau ditarik dari awal tahun bebannya masih lebih berat. 5 dari 10 saham masih berada di bawah gocap. Adakah harapan untuk bisa pulih lagi?  

Share
saham MNCN

Mikirduit - Saham-saham Grup MNC lagi ramai diperhatikan. Setelah sempat dihajar koreksi dalam dan beberapa di antaranya anjlok lebih dari 50 persen sejak awal tahun, sejumlah sahamnya mulai memantul pada perdagangan terbaru.

Key Takeaways

  • Rebound saham Grup MNC belum memastikan pemulihan. Sejumlah saham naik tajam dalam sehari, tetapi masih mencatat penurunan dalam sejak awal tahun. Harga nominal murah belum cukup menjadi alasan investasi.
  • Penataan bisnis menjadi faktor penting untuk dicermati. Pelepasan iNews Group oleh MNCN, penerbitan surat utang Rp800 miliar oleh BMTR, dan divestasi saham IATA oleh BHIT perlu dinilai dampaknya terhadap kinerja keuangan.
  • Risiko masih membayangi peluang momentum trading. Volatilitas harga, persoalan hukum yang dibahas dalam artikel, dan proses pembenahan bisnis membuat investasi jangka panjang membutuhkan bukti perbaikan fundamental.
  • Cek pilihan saham investasi dengan perhitungan yang jelas antara peluang dan risiko, join Mikirsaham dengan klik link di sini

PT MNC Digital Entertainment Tbk. (MSIN) misalnya, naik 20,45 persen dalam sehari. PT MNC Tourism Indonesia Tbk. (KPIG) ikut melesat 16,28 persen, PT MNC Asia Holding Tbk. (BHIT) naik 10 persen, PT MNC Vision Networks Tbk. (IPTV) 8,70 persen, PT Global Mediacom Tbk. (BMTR) 8,11 persen, dan PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN) 7,63 persen.

Tapi jangan buru-buru menganggap semuanya sudah balik arah.

Kalau dilihat dari kinerja year to date, beberapa saham masih berada di zona merah yang cukup dalam. KPIG masih turun 66,22 persen, IPTV minus 53,70 persen, MNCN turun 51,53 persen, sementara MSIN masih terkoreksi 49,52 persen.

Jadi, kenaikan hari ini lebih tepat dilihat sebagai rebound setelah sebelumnya jatuh cukup dalam.

Menariknya lagi, dari 10 saham yang terafiliasi dengan Grup MNC, ada lima saham yang sekarang berada di bawah Rp50, yaitu PT Bank MNC International Tbk. (BABP) di Rp41, PT MNC Financial Services Tbk. (BCAP) Rp42, BHIT Rp22, IPTV Rp25, dan PT Indovision Tbk. (MSKY) Rp48.

*data ditarik sampai 29 September 2026 

Gocap Sekarang Bukan Lagi Batas Bawah

Ada satu perubahan aturan yang membuat cerita saham-saham murah ini makin menarik. Mulai Senin kemarin (29/9/2026) batas harga minimum saham di BEI berubah dari sebelumnya Rp50 menjadi Rp1 per saham.

Artinya, saham yang sudah menyentuh level gocap sekarang tidak lagi mentok di Rp50.

Kalau dulu Rp50 bisa dianggap sebagai lantai harga, sekarang harga saham secara teoritis masih bisa turun ke Rp49, Rp40, Rp20, bahkan sampai Rp1.

Perubahan ini juga membuat istilah “saham gocap” mulai kehilangan makna sebagai level paling bawah. Rp50 sekarang bukan lagi batas akhir, melainkan hanya salah satu level harga.

Dan efeknya sudah terlihat pada saham-saham Grup MNC. Beberapa saham yang sebelumnya tertahan di Rp50 kini bisa bergerak lebih rendah. BABP, BCAP, dan KPIG misalnya sempat turun ke Rp43 setelah aturan baru berlaku, sementara BHIT turun ke Rp20.

Namun setelah tekanan tersebut, sebagian saham kembali memantul. Ini yang membuat pergerakan Grup MNC jadi menarik untuk dicermati. Sudah mulai rebound, tapi belum berarti masalahnya selesai.

Grup MNC Juga Sedang Berbenah

Di tengah pergerakan saham yang masih volatil, Grup MNC juga melakukan sejumlah perubahan pada portofolio bisnisnya.

Di sektor media, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) melepas iNews Group kepada PT Republik Media Anak Bangsa, yang merupakan entitas di bawah Republikorp Group milik Norman Joesoef dan menjadi pihak yang mengambil alih bisnis tersebut.

Artinya, MNCN sedang melakukan penyesuaian terhadap portofolio bisnis medianya.

Sementara itu, PT Global Mediacom Tbk (BMTR) mengambil langkah dari sisi pendanaan.

Pada tahun ini, BMTR menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Global Mediacom Tahap II senilai Rp500 miliar. Perseroan juga menerbitkan Sukuk Ijarah Berkelanjutan V Tahap II sebesar Rp300 miliar.

Total dana yang dihimpun dari kedua instrumen tersebut mencapai Rp800 miliar.

Aksi ini melanjutkan penerbitan surat utang pada 2025, ketika BMTR menerbitkan obligasi Rp1,75 triliun dan sukuk ijarah Rp1,25 triliun.

Dana yang diperoleh digunakan untuk kebutuhan perusahaan, termasuk pelunasan utang dan modal kerja.

💡
Diskon Spesial Investing Pro untuk Pembaca Mikirduit, agar analisis saham langsung menggunakan tools paling lengkap, Langganan sekarang dengan klik di sini

BHIT Perlahan Keluar dari IATA

Perubahan portofolio juga terjadi di sektor energi dan pertambangan. PT Karya Pacific Investama (KPI) kini menjadi pengendali baru PT MNC Energy Investments Tbk (IATA), setelah menyelesaikan proses tender sukarela dan divestasi saham dari Grup MNC.

BHIT menjadi salah satu pihak yang melepas saham IATA.

Sepanjang 29 Mei hingga 16 Juli 2026, BHIT telah menjual sekitar 658,52 juta saham IATA melalui tujuh transaksi. Harga penjualannya berada di kisaran Rp59-Rp65 per saham dengan total dana yang diperoleh sekitar Rp39,88 miliar.

Setelah transaksi tersebut, kepemilikan BHIT di IATA turun dari 8,93 persen menjadi 6,83 persen, atau dari sekitar 2,79 miliar saham menjadi 2,13 miliar saham.

Setelah berganti pengendali, IATA kemudian berganti nama menjadi Karya Pacific Energy.

Jadi, perubahan yang terjadi di Grup MNC bukan hanya soal harga saham. Di level korporasi, mereka juga sedang melakukan penataan ulang portofolio bisnis.

Prospek Saham INET: Akuisisi Agresif, Data Center hingga Kabel Bawah Laut
INET, dulunya cuma dikenal jualan internet, tetapi sekarang ekspansinya menyelam lebih dalam ke ekosistem infrastruktur digital, paling baru mau bangun kabel bawah laut 6870 km. Kira-kira INET ini mau naik kelas jadi perusahaan seperti apa? masih menarik dilirik sahamnya?

Perlu Dicatat, Masih Ada Persoalan Hukum

Di tengah berbagai perubahan tersebut, Grup MNC juga menghadapi sejumlah persoalan hukum.

PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) memenangkan gugatan terhadap BHIT. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menghukum Hary Tanoesoedibjo untuk membayar ganti rugi kepada CMNP sebesar Rp531 miliar ditambah bunga 6 persen per tahun.

Perkara tersebut berkaitan dengan transaksi surat berharga yang melibatkan CMNP dan PT Bank Unibank Tbk, dengan Hary Tanoesoedibjo disebut berperan sebagai perantara.

Selain itu, Rudy Tanoe, kakak Hary Tanoesoedibjo, juga diperiksa KPK pada Agustus 2026 terkait penyidikan dugaan korupsi penyaluran bansos beras yang melibatkan sejumlah pihak di lingkungan Kementerian Sosial dan PT Dosni Roha Logistik.

Dalam perkara tersebut, KPK telah menetapkan tiga orang dan dua korporasi sebagai tersangka. Namun, identitas seluruh tersangka belum diumumkan secara resmi.

Jadi, Bagaimana Melihat Saham MNC Sekarang?

Kalau dilihat dari pergerakan terbaru, saham-saham Grup MNC memang mulai menunjukkan rebound, bahkan beberapa di antaranya mencatat kenaikan dua digit hanya dalam satu hari. Namun, kalau melihat konteks yang lebih luas, kenaikan tersebut masih harus dibandingkan dengan koreksi yang cukup dalam sejak awal tahun.

Di sisi lain, lima saham Grup MNC kini sudah berada di bawah Rp50, sementara perubahan batas harga minimum BEI menjadi Rp1 membuat ruang pergerakannya semakin lebar. Dengan karakter harga dan fraksi yang relatif kecil, menurut kami saham-saham Grup MNC saat ini lebih cocok dilihat dari sisi momentum trading.

Untuk menjadikannya sebagai saham investasi, masih dibutuhkan banyak hal untuk diperhatikan, terutama di tengah proses penataan bisnis Grup MNC yang masih berjalan. Mulai dari pelepasan iNews Group oleh MNCN, penerbitan surat utang oleh BMTR, hingga pengurangan kepemilikan BHIT di IATA. 

Belum lagi persoalan hukum yang sampai terseret pusaran korupsi, tentu membuat risiko volatilitas cukup tinggi di saham-saham grup ini. 

Jadi, rebound memang mulai terlihat, tetapi untuk melihat pemulihan yang lebih berkelanjutan, masih perlu menunggu perkembangan kinerja dan perubahan bisnis di masing-masing emiten.

Gimana, menurut kalian menarik untuk lirik saham grup ini mumpung sudah turun dalam atau tunggu harga lebih diskon lagi? 

Mau Dapat Insight Saham hingga Action-nya Sesuai dengan Kebutuhan?

Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Event Online Rutin bulanan
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang