Saham BDMN ARA, Adu Penawaran Bisnis Ritel HSBC Indonesia atau Akuisisi PNBN?

Rumor di pasar semakin memanas antara dua bank asing, BDMN dan NISP yang merebutkan bisnis ritel HSBC. Kabarnya, NISP sudah menjadi penawar utama untuk akuisisi bisnis itu, tetapi saham BDMN dua hari ini bergerak kencang, bahkan sampai ARA. Kira-kira siapa paling potensial dan menarik dilirik? 

Share
saham BDMN

Mikirduit - Duo saham bank asing dari Jepang dan Singapura, BDMN dan NISP dirumorkan lagi beradu mau akuisisi aset ritel HSBC. Kira-kira gimana prospeknya dan saham siapa yang paling menarik dilirik? 

Persaingan akuisisi bisnis ritel HSBC Indonesia kini semakin menarik untuk dicermati. Dua bank besar di kelompok KBMI 3, yaitu Bank OCBC NISP (NISP) dan Bank Danamon Indonesia (BDMN), sama-sama dikabarkan sedang membidik portofolio ritel HSBC yang dikenal memiliki basis nasabah affluent dengan loyalitas dan daya beli tinggi.

Berdasarkan pantauan terbaru kami, NISP disebut sebagai kandidat terdepan atau preferred bidder, dengan nilai transaksi yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp6 triliun. 

Meski begitu, prosesnya masih berada di tahap penjajakan dan belum ada keputusan final dari pihak HSBC. 

Sementara itu, BDMN dikabarkan membidik aset retail HSBC itu melalui pengendalinya MUFG (Mitsubishi UFJ Financial Group). 

Selain NISP dan BDMN, beberapa bank regional seperti DBS Group Holdings, United Overseas Bank, CIMB Group Holdings, hingga Sumitomo Mitsui Financial Group (SMFG) juga sempat dikabarkan tertarik di tahap awal. 

Hal ini menunjukkan bahwa portofolio ritel HSBC Indonesia memang cukup strategis dan diminati oleh banyak pemain besar di kawasan.

Ke depan, hasil dari proses ini akan cukup menentukan arah persaingan di segmen perbankan ritel premium. 

Siapa pun yang berhasil mengamankan portofolio ini berpotensi mendapatkan tambahan basis nasabah berkualitas, yang pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan laba dan memperkuat posisi di industri perbankan nasional.

Track Record Akuisisi yang Dilakukan NISP Vs BDMN 

Lebih jauh khusus membahas soal NISP Vs BDMN ini sebenarnya dalam beberapa tahun ini punya track record ekspansi anorganik melalui akuisisi bank maupun aset strategis bank lalu. 

Menariknya, dua bank itu punya strategi yang berbeda. 

NISP cenderung memilih strategi akuisisi penuh, seperti yang terlihat saat mengambil alih 100 persen saham Bank Commonwealth pada 2024. 

Dengan cara ini, NISP tidak hanya mendapatkan nasabah, tetapi juga seluruh ekosistem bisnis yang sudah berjalan, mulai dari infrastruktur hingga kapabilitas wealth management.

Sementara itu, BDMN  bersama induknya MUFG lebih fokus pada pendekatan yang selektif. Mereka memilih mengakuisisi portofolio tertentu tanpa mengambil keseluruhan entitas.

Strategi ini terlihat dari keberhasilan integrasi bisnis ritel Standard Chartered Indonesia yang rampung pada awal 2024. 

Dengan pendekatan ini, Danamon bisa langsung menyerap aset produktif seperti kartu kredit dan kredit konsumsi tanpa harus menanggung kompleksitas operasional bank secara penuh.

Mari kita ulas satu per satu, bagaimana dampak terkini setelah ekspansi anorganik dari kedua bank itu: 

NISP Akuisisi Bank Commonwealth 

Mulai dari NISP dulu, pada 1 Mei 2024 lalu resmi mengakuisisi dan kemudian menggabungkan bisnis Bank Commonwealth yang sebelumnya memang sudah dimiliki 100 persen. 

Sebagai gambaran, Commonwealth sebelumnya fokus di segmen retail banking dan UMKM, serta kuat di layanan wealth management dengan basis nasabah affluent. Setelah diakuisisi, entitas ini tidak lagi berdiri sendiri dan seluruh proses integrasinya dituntaskan melalui merger efektif pada 1 September 2024.

Perlu dicatat dulu, sebelum akuisisi, Commonwealth memiliki sekitar 24 kantor cabang, sementara jumlah kantor OCBC dalam tiga tahun terakhir hanya bertambah tiga, dari 199 menjadi 202 kantor. 

Ini mengindikasikan adanya optimalisasi jaringan, termasuk penyesuaian atau penutupan cabang yang tumpang tindih, agar operasional menjadi lebih efisien tanpa mengurangi jangkauan layanan.

Masuk ke tahun penuh 2025, dampaknya mulai terlihat cukup jelas di kinerja keuangan. 

Skala bisnis OCBC meningkat signifikan, tercermin dari dana pihak ketiga yang tumbuh sekitar 18 persen menjadi Rp244 triliun dan total aset yang naik hampir 10 persen ke Rp308 triliun. 

Hal itu menunjukkan bahwa integrasi basis nasabah berjalan cukup mulus, terutama di segmen ritel, tanpa mengorbankan kualitas aset yang tetap terjaga dengan rasio NPL gross di kisaran 1,9 persen.

Namun, jika dilihat lebih dalam, dampak paling cepat justru bukan berasal dari bisnis kredit. Net Interest Income cenderung datar dan bahkan turun tipis sekitar 0,9 persen secara tahunan, dengan NIM yang ikut turun dari 4,4 persen ke 3,9 persen, sebenarnya ini cukup wajar mengingat integrasi portofolio kredit biasanya membutuhkan waktu, ditambah tekanan biaya dana yang masih relatif tinggi.

Sebaliknya, lonjakan paling terasa justru datang dari non-interest income. Fee based income meningkat tajam dari sekitar Rp891 miliar menjadi Rp2,1 triliun, atau tumbuh lebih dari 140 persen.Kenaikan ini sangat mungkin didorong oleh kekuatan Commonwealth di segmen wealth management dan produk investasi. 

Secara komposisi, kontribusi terbesar berasal dari gain penjualan surat berharga yang porsinya naik menjadi 40 persen, diikuti credit-related fee yang tetap besar secara nominal, serta foreign exchange yang berbalik positif. 

Pola ini menunjukkan bahwa efek dari basis nasabah affluent mulai terasa, di mana pertumbuhan lebih banyak didorong oleh aktivitas berbasis fee dibandingkan kredit. Dalam jangka pendek, ini justru menjadi sinyal positif karena pendapatan berbasis fee cenderung lebih stabil dan memiliki margin yang lebih tinggi.

BDMN Akuisisi Aset Ritel Standar Chartered 

Berikutnya untuk BDMN tercatat sudah mengakuisisi aset ritel Standar Chartered lebih awal. 

Transaksi akuisisi ini pertama kali diumumkan pada April 2023 dan resmi selesai atau legal day one pada 9 Desember 2023. 

Menariknya, skema yang digunakan bukan pembelian entitas bank, melainkan pengalihan aset dan liabilitas, sehingga Danamon hanya mengambil portofolio bisnisnya tanpa harus mengelola seluruh struktur operasional bank. 

Portofolio yang diambil mencakup produk-produk ritel seperti kartu kredit, KTA, KPR, hingga KKB.

Karena transaksi rampung di akhir tahun, dampaknya langsung mulai masuk ke neraca pada laporan keuangan 2023, sementara kontribusi penuh terhadap laba rugi baru benar-benar terlihat sejak 2024 dan semakin matang di 2025.

Di kinerja terbaru hingga akhir 2025, hasil integrasi ini mulai terlihat cukup jelas. Segmen retail lending menunjukkan pertumbuhan yang solid, dengan portofolio consumer di luar Adira naik sekitar 10 persen secara tahunan.

Secara keseluruhan, total kredit Danamon juga naik sekitar 16 persen yoy menjadi Rp176,9 triliun, dengan salah satu penopang utamanya berasal dari tambahan basis nasabah ritel hasil akuisisi tersebut.

Komposisi retail lending yang tetap besar menunjukkan bahwa strategi ini efektif untuk langsung memperbesar bisnis kredit tanpa harus melalui proses integrasi yang kompleks.

Dari sisi pendapatan, dampaknya juga terasa di fee based income. Non-interest income tumbuh sekitar 9% secara tahunan, dengan kontributor terbesar berasal dari peningkatan income treasury yang melonjak signifikan. 

Selain itu, fee dari aktivitas kredit dan layanan wealth seperti bancassurance juga ikut menopang. Ini sejalan dengan karakter portofolio yang diambil, yang memang didominasi oleh nasabah ritel dengan aktivitas transaksi tinggi.

Di level profitabilitas, kombinasi ini tercermin dari laba bersih yang tumbuh sekitar 14% secara tahunan. Menariknya, ekspansi ini tetap diiringi dengan kualitas aset yang terjaga, bahkan rasio NPL gross membaik ke kisaran 1,7%. 

Secara keseluruhan, strategi BDMN yang hanya mengambil portofolio tanpa mengakuisisi entitas bank membuat integrasi berjalan lebih cepat dan efisien. 

Dampaknya, pertumbuhan kredit ritel, fee income, dan profitabilitas bisa langsung terlihat dalam waktu relatif singkat, sehingga menjadikan Danamon tetap kompetitif dalam persaingan ekspansi di segmen ritel.

Lantas, siapa yang paling potensial? 

Kalau dibandingkan dari track record akuisisi, NISP dan BDMN dua-duanya “gaya main” yang beda. 

Saat ini, NISP memang sedikit lebih unggul karena disebut sebagai penawar utama untuk akuisisi bisnis ritel HSBC, meskipun prosesnya masih belum final.

Dari sisi eksekusi, BDMN cenderung lebih cepat. Pengalaman akuisisi portofolio ritel Standard Chartered Indonesia menunjukkan bahwa model pengalihan aset membuat integrasi lebih ringan, sehingga dampaknya bisa langsung terlihat ke kredit dan fee income. 

Sementara itu, NISP yang sebelumnya mengakuisisi Bank Commonwealth lewat merger penuh memang butuh waktu lebih lama, tetapi hasilnya lebih menyeluruh, terutama di penguatan segmen affluent dan wealth management.

MSCI Ketok Palu dengan Potensi Pengurangan Bobot, Peluang Beli di Mei 2026?
MSCI masih menunda review saham Indonesia sampai Juni 2026, tetapi ada satu keputusan pasti yaitu mendepak saham yang terindikasi HSC. Kira-kira gimana prospek ke depan? akan seberapa besar outflow yang terjadi?

Jadi, kalau dilihat sederhana, BDMN unggul dari sisi kecepatan dan efisiensi, sedangkan NISP unggul dari sisi kedalaman dan potensi jangka panjang. 

Dengan posisi NISP yang saat ini lebih depan dalam proses akuisisi, jika deal ini terjadi, dampaknya mungkin tidak langsung instan, tetapi berpotensi memberi penguatan bisnis yang lebih solid ke depan.

Kalau dari sisi pergerakan harga, dua-duanya hari bergerak moncer, terkhusus BDMN dalam dua hari ini naiknya sangat kencang, kalau ditarik seminggu saja sudah terbang kisaran 55 persen. 

Saham NISP saat ini masih berada di resistance setelah menyentuh MA100 daily, ada potensi koreksi normal atau harga lanjut sideways dulu. 

Sementara, untuk saham BDMN yang sudah terlanjut terbang lebih baik ditunggu koreksi dulu, karena saham yang sudah naik terlalu kencang sudah tidak terlalu menarik untuk dikejar, dari sisi risk-reward ratio, sudah tipis, sejauh ini ada resistance jangka pendek di 4000 yang bisa diperhatikan. 

Sebagai catatan tambahan, untuk BDMN kembali panas soal rumor merger dengan PNBN lagi, karena pengendalinya MUFG disebut mau akuisisi PNBN. 

Sebenarnya hal ini sudah ramai sejak 2022 dan sampai sekarang masih belum ada titik terang. 

Kendala utamanya ada di perbedaan valuasi, di mana pemegang saham pengendali seperti keluarga Gunawan dan ANZ mematok harga tinggi, sementara MUFG dikenal cukup disiplin dalam soal harga. 

Akibat negosiasi yang berlarut, MUFG terlihat mengalihkan fokus ke peluang lain yang lebih cepat dieksekusi, seperti pengambilan portofolio ritel Standard Chartered dan ekspansi multifinance melalui Mandala Finance.

Meski begitu, secara hitungan potensi merger BDMN dan PNBN bisa menciptakan bank besar dengan aset gabungan di atas Rp400 triliun. 

Jadi, narasi besarnya bukan soal merger yang akan segera terjadi, melainkan ambisi MUFG yang tetap ada, namun dijalankan secara selektif dengan prioritas pada akuisisi yang lebih efisien dan realistis.

Gimana, menurut kalian lebih tertarik lirik yang mana, NISP dulu atau BDMN nih? 

Dapatkan Analisis dan Diskusi Komprehensif, serta Screeningan Saham yang Menarik untuk Trading hingga Jangka Panjang

Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US,
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini