Revisi PP Danantara Jadi Nomor 19 Tahun 2026, Begini Efeknya ke Saham BUMN
Pemerintah baru saja merevisi aturan terkait Danantara lewat PP nomor 19 Tahun 2026. Lalu, apa implikasinya ke saham BUMN? simak selengkapnya di sini.
Mikirduit – Pemerintah baru saja merilis PP Nomor 19 Tahun 2026 terkait ruang lingkup Danantara. Kira-kira apa saja efeknya ke saham BUMN?
Dalam PP yang baru tersebut, ada beberapa kewenangan Danantara yang diperluas seperti:
Pertama, mempertegas posisi Danantara dalam mengelola dividen sesuai dengan kepemilikan sahamnya. (Sebelumnya, tidak ada penegasan sesuai kepemilikan saham).
Kedua, Danantara bisa membentuk holding baru sesuai kebutuhan. Sehingga, Danantara bisa mendirikan Holding Investasi Komersial (yang mencari keuntungan), Holding Investasi Pembangunan Nasional atau Pelayanan Publik (yang mengurus program pemerintah), Holding Operasional Sektoral atau lintas sektor, dan holding khusus lainnya dengan mandat tertentu. Jadi, posisi Danantara bisa dibilang super holding beberapa kendaraan investasi dan operasional.
Ketiga, Danantara bisa menyetujui hapus buku dan hapus tagih atas aset BUMN yang usulannya berasal dari Holding Investasi maupun Holding Operasional.
Keempat, Danantara bisa memberikan pinjaman dan mengagunkan aset atas persetujuan Presiden. Hal ini diharapkan bisa membuka ruang Danantara menggunakan struktur pembiayaan. Meski, tetap ada gatekeeper dari presiden. Semoga Danantara tidak nge-repo saham BUMN ya.
Kelima, Danantara menjadi penjamin holding investasi dengan persetujuan Dewan Pengawas. Ini cukup penting ketika Danantara mencari pendanaan atau transaksi yang membutuhkan pinjaman.
Keenam, Holding investasi pembangunan nasional bisa menerima penyertaan modal negara dan menjadi BUMN alat fiskal.
Efek Kebijakan Tersebut ke Saham BUMN
Kebijakan tersebut membuat peluang Danantara mengoptimalkan aset dan membentuk holding untuk menyelesaikan beberapa BUMN. Apalagi, dalam beberapa waktu terakhir santer juga beberapa BUMN besar diminta spin-off anak usaha yang tidak berkaitan dengan bisnis utamanya, seperti Pertamina.
Sehingga beberapa yang berpotensi terdampak dari meluasnya wewenang Danantara antara lain:
Pertama, saham BUMN karya bisa mempercepat proses restrukturisasi akuisisi merger yang belum juga terjadi. Sebelumnya, saat masih di bawah Kementerian BUMN, Erick Thohir sudah merancang rencana akuisisi-merger BUMN karya, tapi hal itu tertunda karena pengalihan pengelolaan BUMN ke Danantara. Dengan hadirnya PP ini, proses akuisisi-merger bisa lebih terealisasi jika memang ingin dilakukan.
Kedua, ada peluang re-rating untuk BUMN yang masuk agenda aset unlocking.
Dalam beberapa waktu terakhir, ada banyak rumor divestasi dan akuisisi-merger untuk memperkuat aset-aset di bawah BUMN. Beberapa diantaranya seperti, ELSA yang sempat diisukan akan dimerger dan akuisisi dengan PT Pertamina Drilling Service Indonesia. Namun, kabar yang muncul pada 2024 menghilang begitu saja.
Saham TUGU juga dikaitkan dengan rencana Pertamina spin-off bisnis asuransi. Selain TUGU, Pertamina juga punya bisnis PT Perta Life Insurance.
Saham TLKM juga sudah memproses spin-off aset fiber optik yang tadinya hanya digunakan untuk internal perseroan menjadi bisa dimonetisasi untuk pendapatan.
Lalu, GIAA, GMFI, dan Angkasa Pura juga sudah berkolaborasi dengan mengoptimalkan aset Angkasa Pura untuk pertumbuhan bisnis GMFI lebih efisien via right issue di akhir 2025 kemarin.
Ketiga, Holding Investasi Komersial bisa menjadi sinyal positif untuk pasar saham. Jadi, dalam PP ini menyebutkan jika holding investasi komersial murni akan dijalankan oleh PT Danantara Investment Management.
Aksi korporasi ini selaras dengan aksi Danantara mengakuisisi 3 perusahaan aset manajemen milik bank BUMN, yakni PT BRI Manajemen Investasi, PT Mandiri Manajemen Investasi, dan PT BNI Aset Management senilai Rp2,3 triliun pada April 2026.
Namun, apakah ketiga perusahaan aset manajemen itu akan menjadi pendukung di bisnis investasi komersial murni? kita tunggu saja.
Dengan perluasan holding ini, kami menilai ruang Danantara menjadi liquidity provider di saham Indonesia sangat besar.
Keempat, Holding Pembangunan Nasional bisa menjadi alat fiskal. Dalam hal ini, kita perlu melihat program pemerintah, yakni:
- Makan Bergizi
- Koperasi Merah Putih
- Program 3 Juta Rumah
Salah satu yang disorot dari 3 poin ini adalah rencana pengalihan perusahaan ultra mikro PNM di bawah BBRI ke Menteri Keuangan. Tampaknya, skemanya akan berubah menjadi PNM sebagai anak BBRI akan menjadi alat fiskal untuk pembangunan nasional. Apakah BBRI akan ikut atau tidak, itu masih belum pasti.
Selain itu, BBTN yang punya eksposure besar di program 3 juta rumah bukan tidak mungkin masuk dalam bagian Holding Pembangunan Nasional tersebut.
Serta, program DME dan Jargas dari PTBA dan PGAS juga berpotensi masuk penugasan untuk pembangunan nasional. Untuk DME yang rencananya dikembangkan oleh PTBA ini memang masih dalam tahap kajian, yang mana sebenarnya tingkat keekonomian DME sebagai pengganti LPG masih dipertanyakan.
Sementara itu, PGAS sudah menjalankan program jargas ke rumah-rumah yang berpotensi makin diperluas juga.
Lalu, dalam poin ini, GOTO bisa saja termasuk. Namun, memang agak rancu tujuannya termasuk dalam penugasan untuk menekan margin keuntungan perusahaan aplikasi ride hailing (sehingga masuk ke holding penugasan) atau malah dianggap transaksi investasi komersial karena mengakuisisi perusahaan swasta.

Kelima, Laba BUMN berpotensi terus disedot untuk membiayai kebutuhan Danantara. Jika dilihat, sumber pendapatan terbesar Danantara berasal dari dividen Pertamina, 3 Big bank (BBRI, BMRI, dan BBNI), perusahaan tambang batu bara dan mineral (PTBA dan ANTM).
Artinya, dari segi dividen bisa terus menarik selama laba bersih masing-masing emiten itu tidak mengalami penurunan yang signifikan. Namun, dengan porsi dividen payout ratio dijaga lebih dari 80 persen bisa membuat potensi unlocking value saham-saham BUMN cukup sulit. Kecuali likuiditas saham BUMN ditopang oleh Danantara.

Danantara Lagi Cari Modal, Lembaga Rating Kasih Outlook Negatif
Sementara itu, Danantara disebut berencana menerbitkan obligasi senilai 5 miliar dolar AS atau setara Rp89,5 triliun. Kabarnya, Danantara sudah mengatur pertemuan dengan investor terpilih. Lalu, telah menunjuk Citibank, DBS, HSBC, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered yang menjadi lead dan penjamin emisi obligasi perseroan.
Obligasi Danantara itu telah diberikan peringkat Baa2 dengan Outlook negatif oleh Moody's. Apakah ini rating yang buruk?
Menurut Moody's, pihaknya memberikan rating Baa2 dengan Outlook negatif sesuai dengan indikator peringkat utang Indonesia yang juga Baa2.
Tingkat rating itu dibeirkan atas dasar:
- Tidak ada penilaian kredit daar yang diberikan karena ini menjadi obligasi perdana Danantara
- Rekam jejak juga terbatas karena Danantara baru didirkan pada tahun lalu
- Tidak adanya operasional mandiri yang signifikan karena Danantara sifatnya pengelola aset
- Memiliki keterkaitan dengan pemerintah Indonesia yang cukup kuat
Adapun, Danantara diperkirakan akan mendapatkan peringkat BBB oleh S&P dan BBB dari Fitch.
Kesimpulan
Jika ingin berspekulasi, ada potensi aksi-aksi korporasi di saham BUMN dengan memperluasnya wewenang Danantara tersebut. Namun, terkait potensi pergerakan harga saham akan tergantung juga bagaimana inflow asing kembali masuk sehingga bisa menggerakkan posisi harga lebih agresif, atau adanya transaksi yang cukup masif (dari segi frekuensi dan volume) yang dilakukan oleh holding investasi komersial Danantara.
Sehingga, dari narasi ini, potensi momentum booming saham Indonesia bisa terjadi jika:
- Danantara menjadi liquidity provider sekaligus masuk ke market untuk mencari cuan. (Namun, makna dari holding investasi komersial juga termasuk investasi ke pihak swasta dengan tujuan mendapatkan untung tambahan dividen dan sebagainya).
- Perusahaan asuransi dan dana pensiun meningkatkan porsi di saham yang sudah sangat murah
- Ada inflow asing dan normalisasi bobot pasar saham Indonesia oleh MSCI.
Dapatkan Pilihan Saham Dividen serta Strateginya dan Diskusikan Apapun Tentang Saham dengan Join Mikirsaham
Gabung dengan Mikirsaham Pro hingga Elite untuk menentukan strategi investasi dan trading saham-mu. Kami memberikan fitur dari pilihan saham value, growth, contrarian, dividend, hingga swing trade mingguan, serta strategi-nya. Kamu juga bisa berkonsultasi via Grup hingga Private serta mendapatkan insight analisis saham terkini.
Join ke Mikirsaham dengan klik link di sini
