3 Momentum Pasar Saham US untuk Sektor AI hingga Migas, Begini Hitungan Peluang dan Risikonya

Share
3 Momentum Pasar Saham US untuk Sektor AI hingga Migas, Begini Hitungan Peluang dan Risikonya

Mikirduit – Pasar saham US tengah menghadapi tiga momentum besar, dari momentum saham yang berhubungan dengan AI, tren harga minyak WTI bisa kembali lebih tinggi dibandingkan dengan Brent, hingga rencana IPO jumbo SpaceX. Lalu, bagaimana arah pasar saham AS ke depannya?

Saham related AI di bursa saham AS mencatatkan kenaikan kinerja didorong beberapa momentum seperti:

Pertama, momentum rilis laporan keuangan kuartal I/2026. Beberapa emiten seperti Dell Technologies (DELL), Hewlett Packard (HPQ) Enterprise mencatatkan kinerja kuartal I/2026 yang didorong oleh lonjakan pesanan untuk infrastruktur dan server AI.

Lalu, Super Micro Computer (SMCI) dam Advanced Micro Devices (AMD) mencatatkan kinerja yang solid sesuai dengan perkembangan industri AI.

Bukan hanya bagian Hardware, bisnis software seperti Palantir (PLTR) juga mencatatkan kinerja yang solid karena adopsi yang dilakukan Departemen Pertahanan AS menggunakan sistem mereka. Teradata (TDC) dan Fair Isaac (FICO) juga mencatatkan kinerja yang serupa.

Kedua, pertemuan Trump dan Xi Jinping yang terjadi pada 14-15 Mei 2026 menjadi angin segar. Apalagi, kehadiran beberapa petinggi perusahaan teknologi AS, termasuk Jensen Huang, menjadi respons positif yang menandakan adanya potensi kompromi atau pelonggaran dari Washington terkait ekspor chip AI ke China. Meski kepastian terkait pencabutan kebijakan masih tanda tanya.

Ketiga, Pendanaan ke sektor AI yang masih gencar menandakan belum menjadi akhir dari momentumnya. Alphabet atau induk usaha Google (GOOGL) mengumumkan rencana menghimpun dana senilai 80 miliar dolar AS, yang mencakup investasi dari Berkshire Hathaway, untuk mendanani infrastruktur AI secara besar-besaran. 

Ditambah, Anthropic, induk dari Claude, juga baru saja mendapatkan pendanaan seri H senilai 65 miliar dolar AS. Valuasi Anthropic setelah pendanaan diperkirakan sekitar 965 miliar dolar AS.

Putaran pendanaan ini dipimpin bersama oleh Capital Group, Coatue, D1 Capital Partners, GIC, ICONIQ, dan XN. Investor signifikan dalam putaran ini termasuk AMP PBC, Baillie Gifford, Blackstone, Brookfield, DE Shaw Ventures, DST Global, Fidelity Management & Research Company, General Catalyst, Insight Partners, Jane Street, Lightspeed Venture Partners, MGX, NTTVC, NX1 Capital, Situational Awareness LP, T. Rowe Price Associates, Inc., T. Rowe Price Investment Management, Inc., dan Temasek. Putaran ini juga mencakup investasi yang telah dijanjikan sebelumnya sebesar $15 miliar dari perusahaan hyperscaler, termasuk $5 miliar dari Amazon .

Lalu, suksesnya IPO Cerebras System (CRBS) pada awal Mei 2026. CRBS IPO dengan harga 185 dolar AS per saham untuk 30 juta saham kelas A. Dari IPO itu, CRBS menghimpun dana segar sekitar 5,55 miliar dolar AS. 

Saham CRBS melejit 108 persen saat listing perdana. Meski, hingga 4 Juni 2026, harga sahamnya turun ke 215 dolar AS per saham.

Keempat, Jensen Huang Efek di Computex Taipei. Jadi, Jensen Huang secara terbuka menyebut Marvell Technology (MRVL) sebagai perusahaan bernilai triliunan dolar AS berikutnya. Apalagi, Nvidia (NVDA) telah menyuntikkan investasi senilai 2 miliar dolar AS ke MRVL pada Maret 2026 silam.

Kelima, Presiden AS Donald Trump membatalkan pengesahaan Executive Order terkait AI tepat beberapa jam sebelum acara dimulai. Sebelumnya, pengesahan Executive Order terkait penggunaan AI sempat ditentang oleh Elon Musk, Mark Zuckeberg, hingga David Sacks. Mereka khawatir Perpres Trump itu bisa menghambat perkembangan industri AI di AS dan memberikan keuntungan kepada China sebagai pesaing teknologi global.

Namun, belum ada alasan jelas kenapa Trump membatalkan Perpres AI tersebut.

Saham Shale Oil

Ada salah satu fenomena menarik yang terjadi sepanjang Mei 2026, yakni harga minyak West Texas intermediate (WTI) naik lebih tinggi dibandingkan dengan minyak Brent.

Kondisi itu terjadi sejak perang Iran melawan AS pecah hingga selat hormuz ditutup pada Maret 2026. Namun, kala itu, selisih antara minyak WTI dan Brent belum terlalu jauh. Bahkan, awal Juni 2026, harga minyak WTI sempat di atas 90-an per barrel, sedangkan harga minyak Brent masih di sekitar 87 dolar AS per barrel.

Hanya saja, per 5 Juni 2026, harga minyak Brent kembali melonjak tinggi melewati harga WTI.

Minyak Brent dan WTI adalah dua jenis minyak yang digambarkan dari lokasi pengeborannya. 

Minyak Brent menjadi patokan standar untuk 70-80 persen harga minyak mentah dunia. Minyak Brent diproduksi di lepas pantai laut utara dan dijadikan acuan harga untuk pasar Eropa, Afrika, hingga Timur Tengah.

Sementara itu, minyak WTI merupakan minyak yang diproduksi hasil ekstraksi di daratan Amerika Serikat yang sering disebut shale oil. 

Sebenarnya, sebelum 2010, harga minyak WTI lebih mahal daripada Brent. Alasannya, secara kualitas dalam proses penyulingan, minyak WTI memang lebih bagus dibandingkan Brent. Namun, pasca krisis 2008 dan boom shale oil pada 2013, harga minyak Brent menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan WTI.

Lalu, apa implikasi jika harga minyak WTI lebih tinggi dibandingkan dengan Brent? ada potensi pasokan minyak AS juga menurun sehingga harga WTI mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan dengan Brent. Hal itu bisa memicu harga bensin di AS meningkat dan mendorong inflasi Negeri Paman Sam. Ujung-ujungnya ada potensi kenaikan suku bunga.

Namun, kondisi kenaikan WTI jelas menguntungkan para produsen shale oil seperti, Occidental Petroleum (OXY), ConocoPhillips (COP), Devon Energi (DVN), Northern Oil and Gas (NOG), hingga Exxon Mobil (XOM), dan Chevron (CVX).

Realitanya, dari data EIA hingga 26 Mei 2026, cadangan minyak AS memang mengalami penurunan hingga 1,8 persen menjadi 433 juta barel (untuk cadangan komersial).

15 Saham Dividen Pilihan Mikirduit untuk Tahun Buku 2026, Begini Strateginya
Kami sudah merilis 15 saham dividen pilihan yang paling menarik untuk tahun buku 2026. Lalu, bagaimana strateginya?

Rencana IPO SpaceX

Salah satu sentimen yang paling menghebohkan di pasar saham AS adalah rencana IPO jumbo SpaceX. Kabarnya, SpaceX bakal IPO pada 12 Juni 2026 dengan kode SPCX.

SPCX menawarkan harga IPO 135 dolar AS per saham. Target dana IPO sekitar 75 miliar dolar AS. Ini menjadi IPO terbesar mengalahkan Saudi Aramco yang mencapai 29,4 miliar dolar AS.

Dengan jumlah dana itu, ada potensi menyerap likuiditas dari aset negara lain hingga jenis lain seperti crypto. Hal itu juga disebut menjadi pemicu rontoknya harga Bitcoin karena ada withdraw BTC untuk modal membeli saham perusahaan Elon Musk tersebut.

Adapun, hal paling menarik dari IPO SPCX adalah rekam jejak Elon Musk saat membawa IPO TSLA. Kala itu harga TSLA langsung naik drastis pasca tahun ketiga IPO. Ibaratnya, ada ekspektasi saham Elon Musk mendapatkan potensi volatilitas yang cukup tinggi. 

Sayangnya, belum ada platform di Indonesia yang membuat kita bisa membeli saham IPO SPCX ini. Namun, IPO SPCX dinilai bisa jadi momentum risiko penarikan likuiditas dari saham-saham lainnya. Sehingga, justru dengan IPO-nya SPCX bisa jadi momentum menambah muatan di saham yang mengalami konsolidasi.

💡
Mau mulai investasi saham US dan langsung dapat bonus hingga US$25? Join XTB sekarang juga dengan klik link ini serta gunakan kode MIKIRDUIT

Kesimpulan

Jadi, ada beberapa yang harus diperhatikan:

  • Saham related AI mencapai puncak momentumnya. Artinya, masih ada peluang untuk naik, tapi pahami risiko valuasi saham related AI sudah tinggi. Apalagi, biasanya ketika saham-saham di sektor booming mulai IPO, itu bisa menjadi pertanda akhir sebuah trend. Dalam setahun berjalan ini, sudah ada dua saham related AI yang IPO, yakni CBRS dan SPCX yang bisnisnya juga ada hubungan dengan integrasi AI.
  • Saham minyak bisa jadi daya tarik dengan potensi kinerja bertumbuh lebih agresif pada tahun ini. Hanya saja, jika ada penurunan harga minyak dunia bisa menjadi trigger negatif jangka pendek untuk saham tersebut.
  • Salah satu hal terpenting yang belum tertulis adalah risiko kenaikan suku bunga The Fed pada 16-17 Juni 2026. Jika penurunan suku bunga The Fed itu menekan market saham US, itu bisa jadi momentum untuk menyicil ETF yang mengacu ke pasar saham US.
promo mikirduit