Pelajaran dari Investor Paling Sial, Apakah Saham BBCA Saat ini Aset Terburuk?

Ada kisah Bob yang selalu berinvestasi di waktu terburuk jelang market crash. Tapi, hasil akhirnya selalu cuan. Lalu, kini ada juga saham BBCA yang dulu dianggap wonderful company, tapi harganya lagi jeblok. Apakah, artinya BBCA menjadi saham yang cukup sial seperti Bob?

saham BBCA

Mikirduit – Saham BBCA sudah turun 28 persen dalam 3 tahun terakhir sejak level tertinggi-nya di 2024 yang tembus mendekati Rp11.000 per saham. Lalu, apakah saat ini saham BBCA adalah saham yang buruk untuk diinvestasikan? kami coba berikan gambaran dari investor paling sial di dunia.

Sebelum menjawab terkait apakah BBCA menjadi saham investasi terburuk saat ini, kami ingin membahas kisah Bob, investor paling sial di dunia.

Kisah Bob cukup terkenal, dia selalu berinvestasi saat pasar saham bakal mengalami penurunan. Dia mulai investasi pada Desember 1972 ke ETF indeks S&P 500 senilai 6.000 dolar AS. Sialnya, sebulan kemudian pasar saham anjlok, pada 1973-1974, indek S&P 500 turun 48 persen.

Bob kecewa dengan kejadian itu dan dia tidak melakukan top up terhadap investasinya. Namun, dia juga tidak melakukan cut los atas modal yang sudah diinvestasikan tersebut.

Setelah 15 tahun kemudian (waktu yang cukup panjang), pasar saham kembali pulih. Bob kembali tertarik investasi dan mencoba atasi ketakutannya. Kali ini, Bob menginvestasikan 46.000 dolar AS ke indeks S&P 500 pada Agustus 1987. Sialnya, di Oktober 1987 terjadi Black Monday yang membuat pasar saham turun 34 persen.

Bob kembali memutuskan berhenti investasi saham selamanya, tapi lagi-lagi Bob tidak melakukan cut loss dari investasi yang kembali merugi tersebut.

hampir 10 tahun kemudian, terjadi booming dotcom di pasar saham AS. Bob kembali tertarik investasi saham. Dia kembali berinvestasi sekitar 68.000 dolar AS di S&P 500 pada Desember 1999. Sayangnya, 2000 terjadi bubble dotcom, investasi Bob senilai 68.000 dolar AS kehilangan 49 persen nilainya. Bob mengaku tidak akan berinvestasi ke pasar saham lagi (meski lewat ETF S&P 500).

Namun, pada Oktober 2007, Bob yang sudah berusia 59 tahun dan menjelang pensiun dibujuk oleh temannya untuk investasi S&P 500 untuk terakhir kalinya. Dia nurut dan investasi 64.000 dolar AS. Ya, lagi-lagi setelah dia investasi terjadi market crash akibat bubble Subprime Mortgage di 2008. Paar saham anjlok 52 persen. Namun, Bob tetap tidak melakukan cut loss dari investasinya yang merugi.

Lalu, Bob pensiun pada 2013 di usia 65 tahun. Lalu, dia menarik seluruh uangnya dari 1972 hingga saat ini di pasar saham. Lalu, apa yang terjadi dengan uang Bob?

Ternyata Bob yang berinvestasi di waktu paling terburuk sekali pun bisa mencatatkan keuntungan yang signifikan. Dari total investasi senilai 184.000 dolar AS sejak 1972, Bob mencatatkan nilai aset sekitar 1,1 juta dolar AS atau memiliki rata-rata tingkat keuntungan 9,56 persen per tahun sejak 1972.

Namun, apkaah kisah Bob ini nyata? Ini adalah perhitungan dari Ben Carlson seorang penulis yang juga wealth manager, yang membuat kisah Bob untuk memperlihatkan pentingnya investasi jangka panjang. Bahkan, dalam perhitungannya, Bob bisa memiliki aset 2,3 juta dolar AS saat pensiun jika menggunakan strategi dollar cost averaging.

Namun, kisah Bob ini terjadi di pasar saham US yang mana indeks S&P 500 ini juga memiliki pergerakan yang menarik. Serta, Bob disimulasikan kuat hold jangka panjang meski mengalami kerugian (dan ini adalah hal yang paling tersulit).

Korelasi Hubungan Kisah Bob dengan Saham BBCA

Apa korelasi kisah Bob dengan saham BBCA?

Ada beberapa yang kami coba sambungkan antara dua kisah tersebut.

Pertama, Bob disimulasikan berinvestasi setiap pasar saham booming. Sementara itu, saat ini, BBCA dalam kondisi tertekan berbagai sentimen teknis MSCI hingga risiko ekonomi makro dalam negeri.

Kedua, Bob berinvestasi di indeks S&P 500 yang mana mengacu kepada kinerja saham di salah satu indeks terbesar saham US tersebut. Lalu, BBCA tetap menjadi kapal induk IHSG dengan tingkat likuiditasnya, meski ada beberapa saham konglo dengan likuiditas rendah mendekati skala market cap BBCA.

Jika melihat dari yang pertama, posisi Bob membeli aset S&P 500 dengan acuan harga lagi naik sehingga dia ingin beli dengan harapan pergerakan harga lanjut naik. Hal ini mungkin juga yang dilakukan holder BBCA di harga Rp10.000-an yang berharap BBCA bisa lanjut naik signifikan. Artinya, basis pembelian di harga tinggi sehingga risiko floating loss jangka pendek sangat besar.

Kondisi serupa mungkin sulit terulang jika kamu punya barang di harga Rp6.000 per saham hingga Rp7.000 per saham. Posisi valuasi BBCA meski secara sektoral masih premium, tapi area tersebut sudah cukup murah. Namun, bukan tidak mungkin harga saham BBCA di bawah ke bawah Rp6.000 per saham.

Untuk melihat itu, kita bisa menilai dari beberapa faktor, seperti risiko penurunan bobot di MSCI yang bisa mendorong aksi jual dari fund pasif sehingga ada tekanan ke saham BBCA. Meski, dari segi fundamental tidak ada masalah signifikan. Faktor risiko lainnya jika ternyata kondisi ekonomi makro Indonesia memburuk. Namun, kalau poin kedua terjadi, yang jeblok bukan cuma saham BBCA, tapi juga satu market. Terakhir, faktor siklus bisnis, yang mana bisnis bank cenderung melambat saat proses penurunan suku bunga dari pucuk tertinggi ke rendah. Pasalnya, dalam periode itu permintaan kredit berkualitas rendah, risiko kredit meningkat, sehingga pertumbuhan kinerja bank tradisional eperti di Indonesia melambat.

Kedua, keberuntungan Bob dari investasi di S&P 500 meski di waktu terburuk sekalipun adalah, dia membeli indeks yang dari skala risiko volatilitasnya lebih terkendali dibandingkan dengan saham secara satu perusahaan. Jika dia berinvestasi di satu perusahaan, berarti jika perusahaan itu kinerjanya mengalami penurunan (misalnya seperti Kodak atau Nokia), mungkin Bob tidak akan mencatatkan keuntungan signifikan. Namun, dengan dia berinvestasi di indeks S&P 500, jika ada rotasi saham yang signifikan, dia tetap mendapatkan eksposure keuntungan yang signifikan.

Right Issue SINI, Jalan CUAN Tambah Porsi dan Atur Fokus Bisnis PTRO?
Duo konglo, Happy Hapsoro dan Prajogo Pangestu siap menapaki ekosistem yang sama, melalui right issue saham SINI yang akan menjadi pintu gerbang CUAN bisa masuk jadi pengendali. Kira-kira gimana prospeknya? siapa yang paling menarik dilirik?

Sementara itu, BBCA tetap bisa dibilang kapal induk. Apalagi, ekonomi Indonesia masih bergantung kepada pertumbuhan kredit bank. Dari kondisi ini, BBCA sebagai bank swasta terbesar akan sulit didisrupsi, kecuali dalam kondisi ekonomi melambat. Apalagi, BBCA punya moat sebagai bank transaksi yang sulit dikejar atau diambil alih pangsa pasarnya secara masif dari bank lain. Risiko terbesar BBCA adalah jika sistem moneter dan keuangan dunia berubah tidak menggunakan bank lagi (misalnya).

Dalam kondisi ini, jika kita sebagai investor melihat harga saham BBCA dalam 3 tahun terakhir turun 28 persen memang terlihat mengerikan. Namun, sebagai investor melihat harga saham BBCA lagi turun dengan kondisi fundamental yang tidak ada perubahan signifikan, apakah ini mengerikan atau peluang?

Jawaban terkait mengerikan atau peluang ini akan tergantung perspektif masing-masing dalam menilai forward looking saham yang lagi terpuruk ini. Apakah benar seburuk UNVR yang turun dari Rp8.000 menjadi Rp2.000-an, atau malah seperti saham cyclical yang tertekan siklus buruknya menjadi rendah hingga ada siklus boomingnya untuk bangkit.

Tulisan ini tidak meminta kamu untuk membeli saham BBCA, hanya memberikan gambaran terkait apakah saham yang secara underlying fundamentalnya tidak ada masalah signifikan mengalami penurunan terus itu adalah sebuah risiko atau peluang. Meski, sudut pandang ini akan tergantung dengan perspektif-mu, jika kamu menilai saham yang bagus adalah yang dibeli sekarang besok cuan, mungkin posisi BBCA sekarang adalah risiko. Tapi, jika kamu adalah tipe yang siap hold 5 tahun, bukan tidak mungkin bisa dapat one bagger jika harga BBCA bisa kembali all time high ke Rp12.000 - Rp13.000 per saham dalam 2-5 tahun ke depan. (Belum tentu ya, hanya sebuah gambaran peluang dengan risiko bukan tidak mungkin di bawah ke Rp5.000 per saham terlebih dulu)

Dapatkan Analisis dan Diskusi Komprehensif, serta Screeningan Saham yang Menarik untuk Trading hingga Jangka Panjang

Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US,
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini