Menghitung Peluang Teknis Indonesia di-Downgrade Jadi Frontier Market ke MSCI dan Dampaknya
Salah satu yang ditunggu dari Juni 2026 adalah kepastian nasib pasar saham Indonesia, apakah jatuh ke frontier market atau tidak. Simak ulasan detailnya di sini
Mikirduit -- Pasar saham Indonesia tengah menantikan keputusan dari MSCI terkait status negara apakah tetap di emerging market atau downgrade ke frontier market. Pertanyaannya, seberapa menyeramkan dampaknya jika kita di-downgrade ke frontrier market?
Salah satu dampak umum jika status negara downgrade dari emerging market ke frontier adalah adanya aksi forced selling dari fund manager pasif di emerging market. Hal itu membuat tekanan jual asing sangat besar.
Lalu, skala investor frontier market juga lebih kecil dibandingkan dengan emerging market. Sehingga penurunan harga yang terjadi tidak didukung likuiditas yang seperti sebelumnya saat masuk fase pemulihan.
Pertanyaannya, apa saja yang bisa membuat Indonesia bisa didepak dari Emerging Market ke Frontier Market?
Pertama, jumlah peruahaan yang eligible untuk MSCI di frontier itu minimal 1 saham di Global Standard, sedangkan Emerging market minimal 3 saham.
Dalam kondisi ini, hingga status per Mei 2026, Indonesia masih ada 11 saham yang mewakili di Global Standard MSCI. Artinya, masih lebih besar dari kuota minimal.
Pertanyaannya, setelah IHSG anjlok cukup dalam kemarin, apakah ke-11 saham ini masih layak di MSCI? jawabannya masih cukup layak. Sehingga dari syarat pertamanya harusnya Indonesia masih ada di emerging market.
Lalu, dengan kapasitas likuiditas dari saham big bank, ASII, TLKM, syarat Indonesia masih tetap di emerging market masih cukup besar.
Ditambah, dengan perbaikan dari segi transparansi pemegang saham di atas 1 persen hingga plan bertahap meningkatkan free float seharusnya bisa menjaga Indonesia tetap di emerging market. Selain itu, Indonesia juga tidak ada masalah terkait standar infrastruktur dalam transaksi dan data.
Studi Kasus Pasar Saham yang Di-Downgrade MSCI ke Frontier Market
Dalam penelusuran kami, ada 4 negara dalam periode 2008 - 2024 mengalami downgrade dari emergin market ke frontier market. Terakhir, Pakistan yang dihajar keluar dari emerging market ke frontier market oleh MSCI dan FTSE.
Pakistan diumumkan ke frontier market oleh MSCI pada 2021, lalu dilanjutkan didepak oleh FTSE pada September 2024.
Alasannya, MSCI mengungkapkan pihaknya mendepak Pakistan karena faktor tidak memenuhi syarat dari segi size dan likuiditas. Hingga akhirnya tidak ada saham MSCI Pakistan yang memenuhi klasifikasi pihak MSCI.
Masalah Pakistan agak berbeda dengan Indonesia, Pakistan bermasalah dari segi jumlah saham yang eligible untuk masuk Global Standard. Tidak ada saham Pakistan yang eligible untuk masuk indeks saham Global Standard MSCI. Dalam rules-nya, pasar saham emerging market minimal punya 3 konstituen di MSCI Global Standard.
Sebelum akhirnya didepak pada 2021, pasar saham Pakistan sempat mencatatkan penurunan 46 persen dalam periode 29 Mei 2017 hingga 9 Mei 2019. Ini juga yang menjadi dasar penilaian terkait pasar saham Pakistan kala itu. Lalu, pasar saham Pakistan sempat naik 48 persen dari Mei 2019 - Januari 2020 sebelum market crash Covid-19 di Maret 2020.

Lalu, pasar saham Pakistan hanya turun 11,58 persen saat diumumkan pasar sahamnya didepak dari emerging market dan turun kasta ke frontier market dalam periode 14 Juni 2021 - 13 Oktober 2021. Meski, secara keseluruhan tren penurunan pasar sahamnya terjadi hingga Januari 2023. Jika diakumulasikan sejak 14 Juni 2021 - 17 Januari 2023, pasar saham Pakistan turun 21 persen.
Adapun, yang kedua terakhir di-downgrade adalah Maroko. Negara Afrika Utara itu di depak dari emerging market ke frontier market pada 2013. Alasannya, Maroko dianggap telah gagal memenuhi kriteria likuiditas emerging market selama beberapa tahun terakhir. Lalu, tren penurunan likuiditas ini tidak menunjukkan tanda-tanda pembalikkan arah.

Indeks saham Maroko pun mengalami penurunan hingga 34 persen dari periode 2011 hingga penentuan nasib menjadi frontier market pada 2013. Meski begitu, dalam 2 tahun setelahnya, pasar saham Maroko sempat naik 25 persen pasca didepak dari MSCI ke frontier market. Bahkan, jika dihitung saat ini, pasar saham Maroko sudah naik 121 persen secara akumulasi sejak masuk ke frontier market. Bahkan, sampai saat ini, posisi pasar saham Maroko masih berada di frontier market.
Kesimpulan
Jika ditanya, bagaimana peluang pasar saham Indonesia ke Frontier Market? secara teknis sangat rendah dan hampir tidak mungkin. Lalu, jika terburuknya jadi Frontier market, bagaimana nasib pasar saham Indonesia? jawabannya sederhana, secara teknis dalam jangka pendek akan tertekan, tapi dalam jangka panjang masih bisa balik menguat dalam status di frontier market sekalipun.
Kamu Bisa Dapatkan Pilihan Saham Dividen dan Konsultasi-kan Strateginya Langsung dalam Grup Diskusi Bersama Mikirsaham
Gabung dengan Mikirsaham Pro hingga Elite untuk menentukan strategi investasi dan trading saham-mu. Kami memberikan fitur dari pilihan saham value, growth, contrarian, dividend, hingga swing trade mingguan, serta strategi-nya. Kamu juga bisa berkonsultasi via Grup hingga Private serta mendapatkan insight analisis saham terkini.
Join ke Mikirsaham dengan klik link di sini
