Ekspansi Data Center Jadi Berkah Saham Kawasan Industri dan Real Estate, Siapa Saja Mereka?

Prospek ekspansi data center di Indonesia masih akan pesat dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini dinilai akan ikut memberikan cuan ke emiten kawasan industri dan real estate, ada siapa saja mereka?

Share
saham data center

Mikirduit - Industri data center di Indonesia lagi memasuki fase pertumbuhan yang sangat pesat. Lonjakan kebutuhan cloud computing, artificial intelligence (AI), e-commerce, hingga percepatan digitalisasi membuat permintaan data center terus meningkat.

Saat ini, kapasitas operasional data center di Indonesia diperkirakan sudah mencapai sekitar 420–468 MW dan masih akan terus bertambah. Bahkan, berbagai proyek yang sedang dibangun diproyeksikan bisa mendorong kapasitas nasional hingga sekitar 1,3 GW dalam beberapa tahun ke depan. 

Batam menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan paling agresif, mencatat kenaikan industri data center sekitar 22 persen secara tahunan, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di kisaran 19 persen.

Hingga 31 Juli 2026, Indonesia tercatat memiliki 204 pusat data, menjadikannya negara dengan jumlah data center terbanyak di ASEAN. Posisi ini menunjukkan Indonesia semakin menjadi hub digital utama di kawasan.

Ke depan, pertumbuhannya diperkirakan akan semakin agresif. Permintaan kapasitas data center diproyeksikan melonjak dari sekitar 650 MW pada 2024 menjadi 4.280 MW pada 2035.

Menariknya, ledakan industri ini bukan cuma menguntungkan operator data center. Pengembang kawasan industri dan emiten properti juga ikut kebagian berkah. Pasalnya, pembangunan data center membutuhkan lahan yang sangat luas, pasokan listrik berkapasitas besar, ketersediaan air, jaringan fiber optik, hingga lokasi yang strategis.

Alhasil, permintaan lahan industri terus meningkat, terutama di kawasan timur Jakarta seperti Cikarang dan Bekasi, serta Batam. Dampaknya mulai terlihat dari naiknya harga lahan dan tingginya tingkat penyerapan kawasan industri. 

Berikut beberapa emiten yang sudah mulai merasakan manfaat dari derasnya investasi data center di Indonesia.

Saham DMAS 

DMAS, pengembang Kota Deltamas dan Greenland International Industrial Center (GIIC) di Cikarang, menjadi salah satu pemain paling siap. Kawasan mereka sudah menampung banyak penyedia data center tier-IV, termasuk tenant global.

Pada 2025, DMAS menjual sekitar 46 ha lahan industri, di mana sektor data center menyumbang sekitar 60 persen dari total penjualan lahan. 

Di semester I 2026, marketing sales mencapai Rp1,15 triliun, sekitar 55 persen dari target tahunan Rp2,08 triliun, didominasi penjualan lahan industri. Pipeline permintaan lahan industri sekitar 85 ha, dengan lebih dari 70 persen berasal dari data center.

Sebelumnya, tenant besar seperti Microsoft (salah satu kontributor terbesar) dan Princeton Digital Group (PDG) sudah masuk. Permintaan lahan untuk pembangunan data center paling banyak terjadi di kawasan GIIC Deltamas.

Sebagai informasi, sejak 2020 GIIC Deltamas dikembangkan secara khusus zona industri baru yang secara khusus didedikasikan untuk data center.

Zona ini dilengkapi dengan infrastruktur siap pakai (ready-to-use), mulai dari premium power supply, high-voltage transformer, jaringan fiber optic, water treatment, security command center, hingga kolaborasi langsung dengan PLN untuk memastikan pasokan listrik berkapasitas besar dan berkelanjutan.

Pada paruh pertama tahun ini, penjualan lahan kepada operator data center menyumbang hingga Rp1,75 triliun atau sekitar 97 persen dari total pendapatan perseroan. Hal ini mendorong laba bersih DMAS melejit 175,3 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp1,19 triliun. 

Hingga periode ini, belasan tenant data center tersebut telah menyerap total lahan seluas sekitar 300 hektare di kawasan khusus high-tech GIIC Deltamas.

Yang menjadi catatan kami adalah sisa landbank industrial DMAS sisa 60 ha, ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi kelangkaan lahan akan membuat harga semakin mahal, tetapi di sisi lain jika perusahaan tidak segera menambah cadangan lahan (landbank) baru, pendapatan bisa melambat. 

Meski begitu, dalam jangka pendek-menengah menurut kami sisa lahan industrial tersebut kemungkinan besar akan habis terjual di sisa tahun 2026 hingga 2027. Setidaknya, ini bisa menjamin dividend yield DMAS yang terkenal royal tetap tinggi untuk 1–2 tahun ke depan

Saham BSDE 

Selanjutnya ada BSDE yang ikut kebagian berkah sektor data center, tetapi masih  dari satu grupnya Sinarmas yaitu DSSA. 

Skema ini beda dari pemain kawasan industri lainnya yang biasanya menjual landbank mereka ke pihak ketiga. Kolaborasi BSDE dan DSSA mengombinasikan monetisasi land bank properti raksasa dengan investasi infrastruktur digital berorientasi recurring income

Dari sisi pengembang, BSDE memegang keunggulan mutlak berupa cadangan lahan (land bank) raksasa yang mencapai lebih dari 4.300 hektar, di mana lebih dari 2.300 hektar berlokasi strategis di BSD City. 

Luasnya cadangan lahan di wilayah perkotaan (urban & suburban) menjadikan BSDE penyedia lokasi paling ideal untuk data center berlatensi rendah (low-latency edge data center) maupun fasilitas hyperscale dekat pusat aktivitas ekonomi. 

Di sisi lain, DSSA melalui entitas anak usaha digitalnya, PT SMPlus Digital Investama (SM+), menjadi eksekutor dan operator infrastruktur digital. Salah satu tonggak utama kolaborasi ini terjadi saat DSSA mengakuisisi/mengamankan aset lahan strategis seluas 8.516 m² milik BSDE di Jakarta Selatan/BSD senilai Rp617 miliar untuk pengembangan fasilitas pusat data Tier IV.

Sinyal Perlambatan Ekonomi Indonesia, Begini Prospek Saham Bank ke Depannya
Ekonomi Indonesia sudah mulai menunjukkan perlambatan. Biasanya, saham bank yang berkorelasi langsung dengan dampak kinerja ekonomi. Lalu, bagaimana nasib saham bank ke depannya?

Di lokasi tersebut, DSSA bersama mitra investor global Korea Investment Real Asset Management (KIRA) dan LG Sinar Mas mengeksekusi pembangunan hyperscale data center bertajuk SMX01 dengan total nilai investasi mencapai Rp4,9 triliun. Proyek berkapasitas daya awal lebih dari 18 Megawatt (MW) ini ditargetkan mulai beroperasi penuh mulai pertengahan tahun ini. 

Selain SMX01, DSSA juga menyiapkan rencana agresif membangun hingga 25 edge data center di berbagai titik perkotaan untuk mendukung penetrasi AI, komputasi awan (cloud), dan teknologi 5G. 

Selain recurring income, bagi BSDE kawasan ini akan memperkuat posisi BSD City sebagai Smart Digital City. Hal ini menaikkan daya tarik kawasan bagi penyewa (tenant) teknologi, kampus digital, hingga pengembang komersial, yang pada akhirnya mendongkrak harga rata-rata jual properti BSDE. 

Saham BEST 

Berikutnya, ada saham BEST yang ikut dapat berkah dari tren data center di Indonesia. Salah satu saham data center yang sudah punya fasilitas data centernya di BEST adalah DCII.

BEST, pengembang kawasan industri MM2100 Cibitung di Bekasi, menjadi salah satu pemain yang secara aktif menangkap peluang pesatnya pertumbuhan sektor data center. 

Kawasan MM2100 yang dikelolanya kini telah bertransformasi untuk menampung permintaan dari ekosistem data center, logistik modern, makanan & minuman (F&B), hingga manufaktur otomotif. 

Kawasan ini memegang peranan sangat strategis bagi perekonomian regional dengan menyumbang sekitar 41 persen dari total pasokan lahan industri di area Greater Jakarta. 

Sepanjang tahun lalu, BEST mencatatkan penjualan lahan industri (marketing sales) seluas 15 hektare dengan nilai mencapai Rp422 miliar dan rata-rata harga jual (Average Selling Price/ASP) sebesar Rp2,9 juta/m². Angka ini melanjutkan tren pertumbuhan stabil dari tahun-tahun sebelumnya, seperti pada 2024 yang membukukan Rp405 miliar (13 ha).

Berlanjut pada paruh pertama tahun ini, BEST berhasil membalikkan keadaan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. BEST membukukan marketing sales lahan industri sebesar Rp121 miliar dengan total luas lahan terjual 4 hektare dan kenaikan ASP menjadi Rp3,1 juta/m² dibandingkan semester I/2025. 

Dari sisi accounting land sale), lahan yang terserap mencapai 8 hektare dengan nilai ASP Rp3,5 juta/m².

Sampai semester pertama tahun ini, BEST juga mengantongi pipeline permintaan lahan yang cukup tebal mencapai 75 hektare. Sektor data center, pergudangan/cold storage, dan pengemasan (packaging) menjadi pendorong utama (key drivers) dari tingginya pipeline tersebut.

Untuk menangkap lonjakan permintaan dari sektor high-tech, BEST secara khusus mengakselerasi pengembangan Data Center Cluster di dalam kawasannya. 

Selain itu, perusahaan melakukan inisiatif joint marketing bersama mitra strategis untuk mempromosikan BeFa Industrial Hub, sebuah kawasan Standard Factory Building (SFB) multifungsi yang dirancang guna membuka aliran pendapatan baru (new revenue streams) dan memaksimalkan efisiensi penggunaan lahan.

Fasilitas pendukung di kawasan ini disiapkan secara terintegrasi untuk kebutuhan data center, mulai dari kepastian pasokan daya listrik, infrastruktur broadband dan fiber optik, hingga ketersediaan pengolahan air (Water Treatment Plant / WTP dan Wastewater Treatment Plant / WWTP).

Berbeda dengan beberapa kompetitornya yang mulai menghadapi isu kelangkaan lahan, posisi landbank BEST masih sangat melimpah, net landbank mencapai 662, ha sampai paruh pertama tahun ini. 

Saham SSIA 

SSIA juga ikut menadah berkah dari segmen data center. Bahkan sampai paruh pertama tahun ini mencatat kinerja keuangan ciamik. 

Pendapatan tumbuh 58,8 persen YoY menjadi Rp3,35 triliun, sementara laba bersih berbalik untung menjadi Rp262,6 miliar setelah tahun lalu masih mencatat rugi. Lonjakan ini terutama didorong oleh pengakuan penjualan lahan seluas 64,7 hektare senilai sekitar Rp1,08 triliun di kawasan Subang Smartpolitan dan Karawang.

Menurut kami, salah satu daya tarik SSIA ada pada proyek Subang Smartpolitan. Kawasan industri ini memiliki lokasi yang strategis karena dekat dengan Pelabuhan Patimban dan terhubung langsung ke jaringan jalan tol. Dengan konsep kawasan industri modern, Subang Smartpolitan dinilai memiliki peluang besar untuk menarik investasi di sektor data center, manufaktur berteknologi tinggi, hingga ekosistem kendaraan listrik.

Perry Warjiyo, Bank Sentral, Pertumbuhan vs Stabilitas, dan Harapan ‘Kubu’ Pemerintah
Saya dapat kabar ada press conference resign-nya Gubernur BI pada 26 Juli 2026 (malam). Agak terkejut dan ternyata benar terjadi. Saya tidak mengkhawatirkan nasib Perry Warjiyo, tapi lebih mengkhawatirkan apakah pemerintah mau nekat ‘bermain-main’ dengan moneter?

Manajemen menyebut sektor data center, bersama ekosistem kendaraan listrik (EV) dan warehousing, masih menjadi fokus utama untuk mendorong pertumbuhan bisnis dalam beberapa tahun ke depan. 

Memang, marketing sales pada Semester I-2026 masih relatif melambat, yakni mencapai 9,4 hektare atau sekitar Rp195,9 miliar. Perlambatan ini dipengaruhi ketidakpastian global yang membuat sebagian investor asing menunda keputusan investasi. 

Namun, kabar baiknya, proses negosiasi dengan sejumlah calon tenant, termasuk perusahaan teknologi global, masih terus berjalan sehingga peluang penjualan lahan hingga akhir tahun tetap terbuka. 

Adapun pada tahun ini, menargetkan marketing sales dari penjualan lahan industri sebanyak 135 ha, terdiri dari 14 ha di Karawan dan sisanya 121 ha di Subang.   

Saham KIJA 

Selanjutnya ada KIJA, yang mulai memperkuat posisinya sebagai salah satu kawasan industri tujuan investasi data center di Indonesia. 

Pada Semester I-2026, perseroan membukukan marketing sales sebesar Rp817 miliar, atau sekitar 22 persen dari target tahun penuh Rp3,75 triliun. Salah satu transaksi utamanya berasal dari penjualan 4 hektare lahan di Cikarang kepada perusahaan data center domestik. 

Untuk mengejar target tersebut, KIJA tidak hanya mengandalkan penjualan lahan industri. Dari target Rp3,75 triliun, sekitar Rp1,25 triliun diharapkan berasal dari Cikarang dan area lainnya, yang terdiri dari Rp800 miliar penjualan tanah matang dan produk industri, serta Rp450 miliar dari produk residensial dan komersial. Strategi ini menunjukkan KIJA mulai memperluas sumber pendapatan agar tidak hanya bergantung pada penjualan lahan industri.

💡
Mau dapat stockpick dari AI untuk saham AS dan Indonesia, kamu bisa klaim diskon spesial untuk Investing Pro, Langsung langganan di sini sekarang!

Meski begitu, motor utama bisnis KIJA tetap berada di kawasan industri. Hal ini terlihat dari target Kawasan Industri Kendal yang diproyeksikan menyumbang sekitar Rp2,5 triliun atau hampir dua pertiga dari total target marketing sales tahun ini. 

Sementara itu, Cikarang tetap menjadi lokasi favorit bagi tenant data center karena dekat dengan Jakarta, sehingga menawarkan latensi jaringan yang lebih rendah. 

KIJA juga tengah mengembangkan Jababeka Digital Park seluas sekitar 500 hektare sebagai ekosistem teknologi yang mencakup AI, cloud, hingga data center, didukung pasokan listrik dan utilitas yang menjadi kebutuhan utama industri tersebut.

Dari sisi kinerja, pendapatan KIJA pada Semester I-2026 tercatat Rp2,43 triliun. Perseroan memang masih membukukan rugi bersih Rp6,4 miliar, namun hal itu lebih disebabkan oleh beban one-off dari proses refinancing utang. 

Di luar faktor tersebut, bisnis inti KIJA masih menghasilkan laba operasional Rp524 miliar, dengan posisi kas yang tetap kuat di Rp3,21 triliun. 

Menariknya, sekitar 57 persen pendapatan kini berasal dari recurring income, terutama bisnis utilitas seperti listrik dan air yang berpotensi semakin bertumbuh seiring masuknya tenant data center.

Menurut kami, arah strategi KIJA mulai terlihat semakin jelas. Perseroan memang mencoba memperbesar kontribusi segmen komersial dan residensial sebagai sumber pertumbuhan baru, tetapi kawasan industri tetap menjadi mesin utama bisnis. 

Di sisi lain, meningkatnya permintaan lahan dari sektor data center serta berkembangnya Jababeka Digital Park dapat menjadi katalis tambahan, terutama karena tenant pusat data tidak hanya membeli lahan, tetapi juga memberikan kontribusi jangka panjang melalui konsumsi listrik dan utilitas yang tinggi.

Saham TRIN 

Selanjutnya ada TRIN, yang juga secara aktif mentransformasi portofolionya dari pengembang high-rise residential murni menuju sektor bertumbuh tinggi, seperti Landed House, Logistic Park, hingga Data Center

Proyek Marc's Boulevard di Batam Center seluas 23 ha yang berdekatan dengan KEK Nongsa Digital Park potensi menampung efek ekspansi data center dan ekosistem digital lintas batas (Indonesia–Singapura). 

Kehadiran proyek TRIN di Batam memberikan keunggulan geografis karena berdekatan dengan akses jaringan kabel fiber optik bawah laut serta kawasan pusat data regional. Batam kini menjadi destinasi utama limpahan (spillover) investasi data center dari Singapura yang mengalami keterbatasan pasokan lahan dan energi. 

Perlu dicatat, proyekMarc's Boulevard bukan ditujukan sebagai kawasan data center, melainkan kawasan mixed-use yang menggabungkan hunian premium dan area komersial.

event fortune

Hingga saat ini, progres penjualannya cukup baik, di mana Glenn The Hive fase pertama telah terjual habis, sementara Paul & Prive Condovilla tower pertama telah membukukan penjualan sekitar 70 persen. Menurut kami, proyek ini akan menjadi sumber pendapatan dan laba secara bertahap hingga 2030, meski kontribusinya masih berada di bawah proyek Sequoia Hills. 

Di luar bisnis residensial, TRIN juga mulai mengeksekusi strategi diversifikasinya melalui Holdwell Business Park di Bandar Lampung. Proyek seluas 12,5 hektare dengan nilai sekitar Rp800 miliar ini dikembangkan sebagai kawasan modern business & logistic park dan saat ini sudah memasuki tahap pembangunan. Sejumlah kerja sama pendukung, seperti dengan Telkom Indonesia untuk infrastruktur digital dan Perumda AM Way Rilau untuk penyediaan air bersih, juga telah dilakukan sehingga proyek ini menjadi langkah paling nyata TRIN dalam memasuki bisnis logistik.

Sementara itu, peluang dari sektor data center masih berada pada tahap yang lebih awal. Menurut kami, daya tarik utama TRIN berasal dari potensi memanfaatkan posisi Batam yang berdekatan dengan KEK Nongsa Digital Park, jalur kabel fiber optik bawah laut, serta kedekatannya dengan Singapura yang mulai menghadapi keterbatasan lahan dan pasokan energi. 

Namun, hingga saat ini perseroan belum mengumumkan lokasi pasti, mitra strategis, maupun skala investasi proyek data center tersebut. Kinerja keuangan terbaru juga belum dirilis, jadi prospeknya masih sekedar narasi dan diperlukan cek data lebih lanjut. 

Gimana, menurut emiten mana yang paling menarik menuai cuan dari data center?

Mau Dapat Insight Saham hingga Manfaatkan Tools Analisis dari Mikirduit?

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang