Sinyal Perlambatan Ekonomi Indonesia, Begini Prospek Saham Bank ke Depannya
Ekonomi Indonesia sudah mulai menunjukkan perlambatan. Biasanya, saham bank yang berkorelasi langsung dengan dampak kinerja ekonomi. Lalu, bagaimana nasib saham bank ke depannya?
Mikirduit – Tren pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 masih berada di atas 5 persen. Lalu, ini tanda positif bagi saham bank?
Dalam melihat pertumbuhan ekonomi bagus atau tidak, perlu dilakukan penyelisikan lebih dalam. Kami membuat analisis apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia bagus atau tidak dengan berbagai perspektif multi-years ini.
Pertama, ekonomi Indonesia di kuartal II/2026 lebih lambat dibandingkan dengan kuartal I/2026. Namun, hal ini masih bisa dianggap wajar karena pada kuartal I/2026 ada siklus Ramadhan dan Lebaran.
Kedua, ekonomi Indonesia masih mampu bertumbuh jika dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal II/2025 yang sebesar 5,12 persen.
Pertanyaannya, apa yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga bisa tetap 5,29 persen?
Jika dilihat dari pertumbuhan dan kontribusi terbesar:
Pertama, belanja pemerintah menjadi pendorong dengan kenaikan 15,97 persen. Angka ini naik signifikan dibandingkan dengan kuartal II/2025 yang kontraksi 0,32 persen.
Kontribusi belanja pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 1,07 poin persentase dari total 5,29 persen.
Kedua, konsumsi rumah tangga tetap menjadi mesin terbesar dengan pertumbuhan 5,06 persen. Jika dibandingkan dengan kuartal II/2025 yang tumbuh 4,97 persen, pertumbuhannya lebih agresif.
Kontribusi rumah tangga berkontribusi sebesar 53,32 persen dari PDB dengan kontribusi ke pertumbuhan sebesar 2,67 poin persentase dari total 5,29 persen.
Namun, apakah itu berarti daya beli masyarakat kuat?
Kami coba bandingkan faktor pembentuk pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Dalam sudut pandang satu arah, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dengan harga berlaku sekitar 8,29 persen, sedangkan dengan harga konstan 2010 sebesar 5,06 persen.
Artinya, konsumsi dalam perhitungan daya beli naik 5,06 persen, sedangkan selisih antara harga berlaku dengan harga konstan sebagai faktor kenaikan harga barang dan jasa sebesar 3,07 persen.
Jadi, konsumsi rumah tangga masih didorong oleh daya beli yang meningkat? Nah, untuk itu, kita coba bandingkan dengan kinerja kuartal II/2025.
Total pertumbuhan konsumsi rumah tangga dengan harga berlaku pada kuartal II/2025 itu sebesar 6,87 persen. Dari situ, breakdown-nya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dengan harga konstan untuk mengukur daya beli sebesar 4,97 persen. Artinya selisih faktor kenaikan harga sekitar 1,81 persen.
Dari sini terlihat kualitas kenaikan konsumsi rumah tangga di kuartal II/2026 lebih banyak dipengaruhi oleh akselerasi harga karena tingkat pertumbuhan daya belinya hampir stagnan.
Selain dari pengeluaran pemerintah dan konsumsi rumah tangga, faktor pembentuk pertumbuhan ekonomi lainnya juga tampak mulai tertatih-tatih.
Dari segi kontribusi investasi cenderung stagnan dari kontribusi dan melambat dari segi pertumbuhan. Hingga kuartal II/2026, investasi hanya tumbuh 6,87 persen lebih rendah dari 6,99 persen pada periode sama tahun sebelumnya. Tapi, kontribusi tetap 2,06 persentase poin.
Lalu, ekspor mencatatkan penurunan kontribusi yang sangat tajam. Pada kuartal II/2025 tumbuh 10,95 persen, sedangkan kuartal II/2026 hanya 5,13 persen. Kontribusinya pun susut menjadi 0,99 persentase poin dibandingkan dengan 2,49 persentase poin pada kuartal II/2025.
Dari sisi impor yang mengurangi bobot net ekspor mengalami perlambatan signifikan menjadi 8,82 persen dibandingkan dengan 11,48 persen pada periode sama tahun sebelumnya.
Penurunan impor tidak selalu berarti bagus. Pasalnya, penurunan impor bisa jadi ada faktor penurunan transaksi impor bahan baku industri, mesin dan barang modal, barang konsumsi, dan jasa dari luar negeri.
Bahkan, dengan penurunan impor itu, net ekspor per kuartal II/2026 masih negatif 0,78 persentase poin. Pasalnya, aktivitas ekspor yang juga melambat.
Lalu, bagaimana dampaknya terhadap saham bank?
Realisasi Kinerja Saham Bank
Pertumbuhan ekonomi sering dikaitkan dengan saham bank pasalnya tren ekonomi di Indonesia sering selaras dengan permintaan kredit bank.
Kami mengelaborasi data 10 saham bank dengan market cap terbesar, kami mencoba membaca tren kinerja keuangan yang sudah rilis. Ke-10 bank itu antara lain BBCA, BMRI, BBNI, BDMN, NISP,BTPN, MEGA, BNLI, dan BINA.
Pertama, dari segi pertumbuhan laba bersih 8 dari 10 bank mencatatkan kenaikan. Tercatat, MEGA yang mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 6,2 persen, sedangkan PNBN mencatatkan penurunan sebesar 1,2 persen.
Apa yang membuat kedua saham bank itu mengalami penurunan laba bersih?
- Penurunan laba bersih MEGA didorong oleh kenaikan pencadangan sebesar 33 persen ketika bisnis utamanya dari pendapatan bunga bersih hanya tumbuh 0,2 persen.
- PNBN mencatatkan penurunan laba bersih karena adanya kenaikan biaya operasional yang terlihat dari kenaikan cost to income rasio menjadi 54 persen dibandingkan dengan 51 persen. Padahal dari segi pencadangan sudah turun 25 persen tapi tidak mampu mengerek laba bersih perseroan.
Dari total 8 saham bank yang mencatatkan kenaikan, 4 bank mencatatkan kenaikan laba di atas 10 persen (BMRI, BDMN, BTPN, dan BINA), dan 4 mencatatkan pertumbuhan laba bersih di bawah 10 persen (BBCA, BBNI, NISP, dan BNLI).
Adapun, pertumbuhan laba bersih di atas 10 persen disebabkan oleh beberapa faktor seperti:
- BMRI mencatatkan kenaikan laba bersih 24,4 persen karena dorongan kenaikan pendapatan bunga bersih bank only tumbuh 7,8 persen. Untuk pendapatan bunga bersih konsolidasi turun karena ada dekonsolidasi dari BRIS. Selain itu, BMRI juga lebih efisien yang terlihat dari CIR turun menjadi 35,6 persen dibandingkan dengan 43,4 persen. Catatannya, impairment bank only BMRI naik 25 persen menjadi Rp4 triliun. Tapi, kondisi NPL gross masih terkendali di 0,98 persen.
- BDMN mencatatkan pertumbuhan laba bersih tembus 33 persen dengan dorongan dari tren penurunan cost of fund sehingga pendapatan bunga bersih tembus 9,3 persen. BDMN juga menurunkan pencadangan sebesar 11 persen.
- BTPN mencatatkan kenaikan laba bersih tembus 40 persen. Namun, kenaikan laba bersih itu cenderung didorong penurunan impairment sebesar 13,1 persen. Pasalnya, dari pendapatan bunga bersih hanya naik 1,1 persen.
- BINA mencatatkan kenaikan laba bersih tembus 163 persen. Penopangnya antara lain adanya penerimaan kembali kredit yang sudah dihapusbuku senilai Rp99 miliar. Jika dilihat dari core bisnisnya, pendapatan bersih BINA hanya naik 9 persen. Di sisi lain, Bank INA mencatatkan kenaikan pencadangan hingga 50 persen.

Lalu, begini faktor penyebab saham bank yang tumbuh single digit di kuartal II/2026:
- BBCA mencatatkan laba bersih naik 1,8 persen menjadi Rp29,53 triliun. Salah satu faktornya penurunan pendapatan bunga bersih sebesar 0,1 persen. Posisi laba masih naik karena ada dorong penurunan pencadangan sebesar 1,3 persen.
- BBNI mencatatkan laba bersih naik 6,6 persen menjadi Rp10,76 triliun. Sebenarnya, dari segi pendapatan bunga bersih BBNI naik 14,2 persen menjadi Rp22,29 triliun. Tapi, perseroan juga meningkatkan pencadangan hingga 36 persen menjadi Rp5 triliun yang menekan laju pertumbuhan laba bersih.
- NISP mencatatkan kenaikan laba bersih 6,4 persen menjadi Rp2,73 triliun. Menariknya, NISP masih mampu menjaga pertumbuhan laba bersih di tengah pendapatan bunga bersih hanya tumbuh 7,2 persen dan pencadangan naik 502 persen menjadi Rp480 miliar. Hal itu didorong operasional yang lebih dan terlihat dari rasio cost to income rasio turun menjadi 45,19 persen dibandingkan dengan 47,44 persen.
- BNLI mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,5 persen menjadi Rp1,72 triliun. Untuk laba bersih BNLI lebih didorong oleh penurunan pencadangan sebesar 25 persen menjadi Rp800 miliar. Dari sisi bisnis utama, pendapatan bunga bersih perseroan juga turun 4,1 persen menjadi Rp4,84 triliun.
Perbandingan Kualitas Aset 10 Saham Bank dengan Market Cap Terbesar
Lalu, bagaimana dengan kualitas asetnya?
Dari sisi rasio kecukupan modal, ada 3 bank yang punya rasio kecukupan modal di bawah 20 persen, yakni BMRI sebesar 17,52 persen, BBNI sebesar 18 persen, dan BINA sebesar 15 persen. Bagi bank besar rasio CAR masih di atas 15 persen masih aman. Dengan skala laba-nya, mereka bisa menghemat dividen untuk memperkuat CAR-nya lagi.
Namun, jadi catatan untuk BINA. Jika CAR mengalami penurunan signifikan lagi, mereka bisa membutuhkan suntikan modal dari pemegang saham. Apalagi, tingkat NPL gross mencapai 4,11 persen (meski membaik dari 4,73 persen pada periode sebelumnya), serta NPL net tembus 3,23 persen (juga lebih baik dari kondisi sebelumnya 3,67 persen).
Sementara itu, dari tren rasio kredit bermasalah atau NPL gross, hanya 2 dari 10 bank mencatatkan kenaikan, yakni BNLI naik menjadi 2,09 persen dibandingkan dengan 2,06 persen pada periode sama tahun sebelumnya. Lalu, PNBN naik menjadi 2,85 persen dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya
Sebagai catatan, NPL Gross menghitung semua kredit bermasalah dari kolektibilitas kurang lancar, diragukan, dan macet.
Lalu, dari segi NPL net, NPL yang sudah dikurangi dari pencadangan, mencatat ada 4 bank dari 10 bank dengan market cap terbesar yang mencatatkan kenaikan.
4 bank yang mencatatkan kenaikan NPL net itu antara lain:
- BMRI: NPL net naik dari 0,39 persen menjadi 0,4 persen. Catatannya, tingkat NPL net BMRI masih sangat rendah meski ada catatan kenaikan
- BBNI: NPL net naik menjadi 0,72 persen dibandingkan dengan 0,69 persen pada periode sama tahun sebelumnya. Posisi NPL net BBNI juga masih cukup rendah
- NISP: NPL net naik menjadi 0,72 persen dibandingkan dengan 0,68 persen pada periode sama tahun sebelumnya. Posisi NPL net NISP juga masih rendah meski ada kenaikan.
- PNBN: NPL Net naik menjadi 0,79 persen dibandingkan dengan 0,39 persen pada periode sama tahun sebelumnya. Posisinya juga masih rendah.
Catatan NPL net yang perlu diperhatikan ada di BINA yang tembus 3,23 persen, meski lagi mengalami penurunan sebesar 3,67 persen.
Adapun, dalam kondisi biasa, jika ada kenaikan NPL net yang signifikan bisa mendorong kenaikan pencadangan. Dalam kondisi saat ini, kenaikan pencadangan bisa terjadi jika ada risiko yang meningkat, terutama di bank yang telah mencatatkan kenaikan NPL net tersebut. Kenaikan pencadangan berarti berisiko menekan laju laba bersih.
Kondisi Likuiditas 10 Saham bank dengan Market Cap Terbesar
Dari segi metriks likuiditas dasar dengan loan to deposit rasio, ada dua bank yang mencatatkan tingkat LDR tembus di atas 95 persen, yakni BDMN sebesar 100 persen dan BTPN tembus 126 persen.
Lalu, untuk yang di atas 92 persen ada BMRI yang tembus 92,73 persen.
Dengan mayoritas saham bank masih mencatatkan LDR di bawah 92 persen bagaimana perspektif terkait likuiditas?
Jawabannya harusnya masih terkendali. Jika merujuk ke data OJK per Mei 2026, masing-masing kelompok bank mencatatkan rata-rata LDR di bawah 90 persen. Mulai dari bank kecil di KBMI 1 sebesar 82 persen, KBMI 2 81 persen, KBMI 3 sebesar 88 persen, dan KBMI 4 87 persen. Posisi likuiditas yang lebih ketat ada di bank KBMI 3, tapi masih terkendali.
Kesimpulan
Jadi, apakah dengan begitu prospek saham bank di Indonesia masih bisa on the track di sisa tahun ini?
Dari sisi risiko, BI baru saja menaikkan suku bunga dengan total 100 bps dari Mei hingga Juli 2026. Biasanya transmisi suku bunga ke sektor riil akan terasa dalam 3-6 bulan sejak suku bunga dinaikkan.
Artinya, ada risiko kenaikan cost of fund, meski bisa di-netralisir dengan aksi Purbaya yang berencana menambah penempatan dana SAL senilai Rp400 triliun ke bank Himbara. Kondisi itu bisa menetralisir risiko pengetatan likuiditas di bank saat suku bunga tinggi.
Namun, tantangannya lebih dari likuiditas. Data perlambatan ekonomi di kuartal II/2026 menjadi sinyal pemerintah harus mengambil langkah untuk mendorong daya beli. Jika tidak, tren perlambatan ekonomi akan terus terjadi dan bisa berdampak terhadap risiko kredit bermasalah dan permintaan kredit bank.
Secara kesimpulan, risiko saham bank saat ini adalah dampak kenaikan suku bunga yang biasanya terasa 3-6 bulan setelah suku bunga dinaikkan. Apalagi, tingkat kenaikannya cukup drastis. Ditambah, jika The Fed menaikkan suku bunga di September - Desember 2026 bisa menjadi sentimen negatif dalam jangka pendek.
Sehingga ada risiko dalam jangka pendek terkait dampak tersebut. Sehingga jika tertarik saham bank bisa masuk bertahap atau wait and see jika ada tekanan harga dan membuat harganya menjadi lebih diskon.
Mau Dapat Insight Saham hingga Manfaatkan Tools Analisis dari Mikirduit?
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
