Bukan Cuma Kamu yang Rugi Pas Market Crash, ini Kisah Peter Lynch, Warren Buffett, dan Philip Fisher
Penurunan pasar saham adalah hal yang biasa, tapi jika ada satu periode terjadi penurunan signifikan mungkin buat kita gundah gulana. Kami memberikan perspektif dan pengalaman para tokoh saat menghadapi market crash di sini
Mikirduit -- Ketika pasar saham mengalami penurunan harga saham, bukan cuma investor ritel yang merasakan, investor institusi pun juga merasakan. Kami merangkum penilaian periode krisis dari beberapa tokoh investor dunia.
Peter Lynch menjadi sosok yang pertama. Salah satu kutipan paling menarik adalah market crash Black Monday 1987 tidak se-menyeramkan dari kondisi market 1990.
Alasannya sederhana, ketika pasar saham turun tajam secara tiba-tiba pada 1987. Peter Lynch menghubungi beberapa emiten. Hasilnya, manajemen emiten mengaku bisnisnya baik-baik saja meski pasar saham crash.
Namun, Lynch mengakui market crash yang tiba-tiba juga turut mempengaruhi psikologis para pebisnis dan manajemen emiten. Ketika dia berkeliling bertanya terkait perkembangan bisnis maing-masing emiten, dia mendapatkan beberapa pertanyaan yang mirip, "Bisnis kami masih bagus, tapi apakah ada sesuatu yang harus diwaspadai?"
Sehingga penurunan pasar saham yang signifikan menjadi penuh tanda tanya juga bagi para pemilik bisnis riil. Apakah ada risiko ekonomi besar yang akan datang?
Penurunan pasar saham pada 1987 memang sebuah kejutan. Pasalnya, tidak ada masalah dengan fundamental. Sampai akhirnya, salah satu yang dijadikan kambing hitam adalah portofolio Insurance yang dirancang bisa menjual saham secara otomatis untuk membatasi kerugian saat ada sinyal market akan turun signifikan. Hal itu malah memicu penurunan harga saham yang dalam karena aksi jual dilakukan secara bersama-sama.
Dari kejadian market crash 1987, dibuatlah skema circuit breaker yang intinya pasar saham bisa berhenti sejenak jika ada anomali transaksi. Dalam konteks di Indonesia, circuit breaker itu mencakup auto rejection atas dan bawah untuk per saham hingga trading halt untuk 1 indeks saham.
Sementara itu, periode 1990-1991 menjadi periode yang sulit etelah AS mengalami resesi ekonomi. Faktornya antara lain, Irak menginvai Kuwait pada Agustus 1990 yang membuat harga minyak melonjak dua kali lipat.
Faktor kenaikan harga minyak itu menjadi risiko ekonomi global. Lalu, sistem perbankan pada 1990-1991 belum berkembang sejauh sekarang. Berbagai rilis antara kredit dan dana pihak ketiga, kenaikan suku bunga, dan pemburukan kualitas kredit menjadi tambahan tekanan ekonomi kala itu.
Nah, Lynch menilai risiko market pada 1990 itu lebih sulit daripada 1987 karena pada periode 1990 melibatkan fundamental bisnis emiten juga melambat. Sehingga investor dihadapkan pada sentimen negatif dan penurunan harga saham yang terasa nyata. Sementara itu, pada 1987, ujiannya hanya melihat volatilitas harga yang mengalami penurunan signifikan.
Kisah Warren Buffett dari Periode Bear Market 1973-1974 hingga Krisis Finansial Global pada 2008
Salah satu cerita terkait Buffett dalam menghadapi krisis adalah pada periode 1973-1974. Kala itu, pasar saham memasuki periode market bearish terdalam sejak The Great Depression pada 1929. Dow Jones turun 45 persen pada Januari 1973 hingga Desember 1974.
Kala itu, krisis didorong kondisi stagflasi (inflasi tinggi tapi ekonomi melambat), krisis minyak, hingga runtuhnya sistem Bretton Woods pada 1970,
Dalam kondisi bearish yang tingkat fear-nya tinggi, Buffett membeli saham Washington Post Company senilai 10,6 juta dolar AS pada 1973. Namun, Buffett harus mencatatkan floating loss 24 persen pada 1974.
Meski begitu, Buffett punya tesis koran masih menjadi saham yang cukup murah karena dijual ketika panik. Buffett melihat Washington Post sebagai bisnis media berkualitas dengan tingkat economic moat yang menarik.
Catatannya, Buffett mampu cuan 1984 persen menjadi 221 juta dolar AS. Tapi, butuh waktu hampir 10 tahun alias pada 1985. Lalu, dijual 1,1 miliar dolar AS pada 2014.
Sementara itu, cerita Buffett di 2008 agak berbeda dengan 1973-1974. Buffett memutuskan membantu Goldman Sachs dengan menyuntikkan modal 5 miliar dolar AS dalam bentuk saham preferen saat krisis Subprime mortgage pada 2008. Namun, aksi investasi itu atas dasar membantu perusahaan keuangan AS yang mengalami masalah likuiditas kala itu. Sebagai gantinya, Buffett dapat jaminan bisa mendapatkan dividen dengan yield 10 persen per tahun.
Lalu, sebulan kemudian, Buffett juga membeli saham preferen perpetual General Electric. Jadi, saham tersebut adalah tipe saham istimewa yang akan memastikan pembagian dividen 10 persen per tahun, lalu bisa callable setelah 3 tahun dengan harga premium 10 persen, ditambah waran untuk membeli saham General Electric senilai 3 miliar dolar AS di harga 22,25 dolar AS per saham.
Sehingga, aktivitas Buffett di krisis 2008 bisa dibilang lebih banyak membantu likuiditas emiten yang kesulitan karena posisinya dia memiliki cash yang tebal. Apalagi, dia juga diberikan keuntungan yang hampir pasti dengan skema saham preferen hingga saham preferen perpetual.

Kisah Philip Fisher yang Lahir dari Periode the Great Depresion
Philip Fisher menjadi investor kawakan yang lebih senior dari Buffett. (Apalagi Buffett juga menggabungkan gaya Fisher dengan Benjamin Graham sehingga Fisher bisa dibilang menjadi salah satu inspirasi Buffett). Fisher dikenal sebagai investor yang mencari potensi saham yang punya pertumbuhan yang menarik dalam jangka panjang. Dalam screeningnya, Fisher menggunakan strategi kualitatif, yakni scuttlebutt, sebuah strategi menggali informasi dari pelanggan, pemasok, kompetitor, karyawan, dan jaringan industri untuk memahami kualitas emiten lebih dalam.
Salah satu kisah terkenal Fisher bersama saham Motorola. Kala itu, Fisher membeli saham Motorola pada 1955 ketika perusahaan yang kini produksi smartphone masih fokus sebagai pembuat radio.
Nah, sejak 1955, Fisher hold keras saham Motorola hingga akhir hayatnya pada 2004. Dalam periode itu, Fisher melewati banyak kondisi market crash dari market bearish 1960-an, stagflasi 1973-1974, Black monday 1987, resesi 1990-1991, hingga bubble dotcom pada awal 2000-an. Philip Fisher disebut mencatatkan keuntungan akumulasi hingga 20 kali dari total modal awal pada periode 1955-2004.
Namun, bukan berarti Fisher menjadi anti jual secara keseluruhan. Filosofinya Fisher adalah jangan menjual perusahaan hebat karena market sedang panik atau volatilitas jangka pendek terlihat tidak nyaman. Selama fundamental bisnisnya masih aman, maka penurunan harga saham saat faktor krisis dan lainnya hanya menjadi gangguan jangka pendek saja.
Catatannya, meski begitu, kami menilai pasar saham Indonesia belum cocok untuk menerapkan buy and hold yang sangat lama tersebut. Paling hanya saham-saham yang bisa dihitung jari saja. Alasannya, faktor likuiditas dan skala bisnis yang cenderung lokal-regional (ekspor pun skala komoditas mentah dan setengah jadi). Sehingga risiko buy and hold dalam waktu puluhan tahun agak berisiko.
Lebih baik hold jangka menengah-panjang, jika sudah cuan bisa realisasi dulu dan mencari potensi saham yang murah lainnya.

Kesimpulan
Tulisan ini bukan berarti melarang kamu melakukan cut loss, tapi lebih membuka logika dalam penurunan pasar saham yang terjadi signifikan dan memunculkan kepanikan.
Sehingga saat melakukan cut loss karena penurunan di seluruh pasar saham, investor harus memahami:
- Jika cut loss, rencana mau ngapain? menunggu volatilitas market reda?
- Lalu, bagaimana peluang mengembalikan modal yang di cut loss? bisa membuat strategi pilihan saham-nya atau aset dengan harapan ambil peluang bagus saat market turun.
- Pemilihan aset yang dijual juga berdasarkan apakah memang sahamnya akan terpengaruh secara fundamental dari faktor penyebab krisis dan market crash? atau malah kondisinya sebenarnya baik-baik saja?
- Dalam kondisi khusus, kamu merasa butuh melakukan cut loss sebagian sebagai ka untuk menangkap peluang saat penurunan market saat ini.
Jadi, investor harus memahami secara detail, jika jual sekarang dalam kondisi rugi, seberapa besar potensi keuntungan dan risiko yang akan didapatkan.
Toh, sejak awal jika tujuannya investasi seharusnya bisa masuk di harga yang diasumsikan cukup murah dan punya probabilitas besar untuk kembali ke harga awal minimal balik modal.
Kecuali, awalnya kamu trading terus nyangkut lalu mau jadi investor. Hal itu yang sangat berisiko karena biasanya pilihan saham trading itu berdasarkan booming dan masuk bukan di posisi terbaik untuk investasi.
Bahkan, dengan alasan kamu memilih cut loss untuk wait and see dan mencari peluang sepenuhnya saat market mulai rebound juga bukan masalah. Asalkan, kamu memang tahu risiko yang kamu ambil dari cut loss adalah merealisasikan kerugian. Jadi, saat harga sahamnya tiba-tiba naik ke atas harga rata-rata dulu (alias kembali cuan) jangan uring-uringan.
Kamu Bisa Dapatkan Pilihan Saham Dividen dan Konsultasi-kan Strateginya Langsung dalam Grup Diskusi Bersama Mikirsaham
Gabung dengan Mikirsaham Pro hingga Elite untuk menentukan strategi investasi dan trading saham-mu. Kami memberikan fitur dari pilihan saham value, growth, contrarian, dividend, hingga swing trade mingguan, serta strategi-nya. Kamu juga bisa berkonsultasi via Grup hingga Private serta mendapatkan insight analisis saham terkini.
Join ke Mikirsaham dengan klik link di sini
