Hal yang Harus Diperhatikan Investor Saat Perry Warjiyo Resign dari Posisi Gubernur Bank Indonesia
Perry Warjiyo resign dari posisi Gubernur Bank Indonesia. Lalu, apa hal yang harus diperhatikan oleh investor?
Mikirduit – Gubernur Bank Sentral Perry Warjiyo mengundurkan diri dari posisinya. Ini menjadi pengunduran diri Gubernur Bank Sentral yang ketiga di Indonesia. Bagaimana perspektif investor dalam sentimen ini?
Posisi Gubernur Bank Sentral bisa dibilang sangat vital. Kebijakan moneter seyogyanya harus independen. Pasalnya, jika ada intervensi khusus di sektor moneter, risiko ke ekonomi seperti kenaikan inflasi yang signifikan bisa terjadi.
Dalam sejarah Indonesia, kami mencatat ada dua gubernur Bank Indonesia yang mengundurkan diri, yakni Boediono dan Soedrajad Djiwandono (yang merupakan ayah dari Thomas Djiwandono, Deputi Gubernur BI saat ini).
Boediono mundur sebagai Gubernur BI pada 2009 karena dipilih sebagai wakil presiden oleh SBY pada 19 Mei 2009. Harusnya, Boediono yang baru menjabat pada 2008 itu menjadi Gubernur BI hingga Mei 2013.
Posisi Boediono digantikan oleh Miranda Goeltom sebagai Gubernur Bank Indonesia sementara hingga akhirnya posisi itu dipegang oleh Darmin Nasution secara definitif.
Saat itu, respons ke market tidak terpengaruh signifikan. Tren market saham pada 19 Mei 2009 lanjut naik. Kondisi itu juga disebabkan fase pemulihan pasca market crash 2008.
Sementara itu, Soedrajad Djiwandono diberhentikan sebagai gubernur Bank Indonesia oleh Presiden Soeharto karena gejolak krisis moneter pada 11 Februari 1998.
Banyak spekulasi yang berkembang pemberhentian Soedrajad juga terkait penutupan 16 bank yang 3 diantaranya dimiliki keluarga dekat Soeharto, yakni Bank Jakarta milik Probosutedjo, Bank Andromeda milik Bambang Trihatmodjo, dan Bank Industri milik Titiek Soeharto.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah merosot tajam karena mengubah skema managed floating Exchange rate menjadi free floating Exchange rate. Padahal, Soeharto menegaskan untuk menggunakan fix Exchange rate agar lebih stabil. Tapi, Soedrajad mempertimbangkan kondisi cadangan devisa yang tidak cukup sehingga mengubah skemanya menjadi free floating Exchange rate.
Jika dikaitkan dengan kondisi market saat itu, kondisinya memang carut marut karena tekanan ekonomi saat itu juga cukup kencang.
Lalu, kami mencoba mencari dampak ke market lebih besar di AS terkait mundurnya atau diberhentikannya ketua The Fed, bank sentral di AS. Hasilnya, tidak ada kejadian tersebut. Meski, Donald Trump selama 2 periode memimpin terus merongrong minta suku bunga turun hingga mengancam memecat ketua The Fed, tapi hal itu tidak dilakukannya.
Apa yang Harus Diperhatikan Investor?
Kami menilai hal paling berisiko dari kejadian ini adalah siapa nantinya pengganti dari Perry Warjiyo secara definitif. Jika penggantinya adalah pihak yang dekat dengan Prabowo dan membutuhkan relaksasi kebijakan moneter untuk menjalankan program yang nir-produktif sebenarnya ini menjadi risiko cukup besar bagi ekonomi Indonesia saat ini. Bahkan, nama menteri keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga cukup berisiko jika dijadikan Gubernur Bank Sentral dengan rekam jejaknya selama menjadi Menteri keuangan.
Alasannya, posisi Purbaya berpotensi membuat bank sentral mengalami penurunan independensi mengingat kebijakannya yang mendukung dengan optimal untuk kebijakan pemerintah. Jika ada aliran dana dari pelonggaran moneter dengan penurunan suku bunga dalam kondisi yang tidak tepat bisa berisiko terhadap tingkat inflasi yang tinggi. Apalagi, aliran dana dari pelonggaran moneter hanya fokus ke program-program yang kurang produktif dalam jangka menengah.

Lalu, apakah kondisi ekonomi Indonesia saat ini baik-baik saja?
Kami coba breakdown dari data-data bulanan yang sudah rilis, sebenarnya kondisi ekonomi Indonesia masih cukup baik, tapi bukan berarti tanpa ada tantangan:
- Secara inflasi memang ada kenaikan tapi masih terkendali. Inflasi tahunan sebesar 3,34 persen, secara bulanan 0,44 persen, sedangkan secara year to date 1,79 persen. Jika dilihat data tahunan, kenaikan 3,34 persen pada Juni 2026 ini lebih tinggi dari catatan tahunan per Mei 2026 yang sebesar 3,08 persen.
- Tingkat cadangan devisa Indonesia turun 6 persen secara year to date hingga Juni 2026 menjadi 145 miliar dolar AS. Posisi ini mendekati level terendah pada Juli 2024. Secara teknis, jumlah itu masih aman karena setara 5,5 bulan impor hingga 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi itu di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
- Tingkat cadangan devisa Indonesia turun 6 persen secara year to date hingga Juni 2026 menjadi 145 miliar dolar AS. Posisi ini mendekati level terendah pada Juli 2024. Secara teknis, jumlah itu masih aman karena setara 5,5 bulan impor hingga 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi itu di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Tantangan yang harus dihadapi ekonomi Indonesia antara lain:
- Risiko pelemahan rupiah yang kini berada di equilibrium baru sekitar Rp17.800 per dolar AS. Dalam jangka menengah kondisi ini bisa membuat kenaikan inflasi selaras dengan jumlah stok bahan baku yang impor dengan harga kurs baru
- Posisi harga minyak dunia yang masih cukup tinggi. Jika harga BBM industri dan non-subsidi tinggi juga bisa membatasi daya beli dan meningkatkan inflasi
- Risiko fiskal dari belanja negara untuk program MBG dan Kopdes Merah putih. Dengan kondisi daya beli melemah secara teknis penerimaan pajak bisa mengalami perlambatan selaras dengan kinerja bisnis yang melambat. Jika dari pemerintah malah terus mendorong penerimaan pajak secara paksa tanpa ada relaksasi yang setimpal bisa jadi risiko bagi ekonomi Indonesia.
Secara sederhana, mundurnya gubernur bank sentral ini bisa jadi titik krusial terkait kondisi ekonomi Indonesia.
Lalu, bagaimana dampaknya ke market?
- Tekanan dalam jangka pendek akan terasa sesuai dengan perkembangan terbaru
- Peluang rebound terbuka jika pilihan pengganti Gubernur BI bukan orang terdekat Prabowo serta kebijakan BI tetap independen tanpa ada intervensi dari pemerintah
- Peluang rebound secara teknis juga tetap terbuka meski dalam kondisi Gubernur BI dari orang dekat Prabowo. Hanya saja, perlu diperhatikan risiko terhadap ekonomi dan kinerja fundamental emiten jika kondisi ekonomi Indonesia mengalami tekanan.
Saran: porsi investing di saham Indonesia bisa dijaga jangan naik terlalu agresif dulu. Tunggu penurunan signifikan yang bisa terjadi di Agustus 2026 karena teknis rebalancing MSCI. Selain menunggu bisa diversifikasi ke aset-aset lainnya sebagai diversifikasi dari emas, pasar uang, obligasi, hingga saham AS dan ETF global.
Mau Insight Saham yang Lengkap dan Spesial dari Mikirduit?
Kamu bisa ikutan event rutin bulanan Mikirduit dengan menjadi member Mikirsaham. Kami juga lagi ada promo akhir bulan nih, dapatkan DISKON spesial dengan kode promo: GAJIANJULI. Promo terbatas hanya untuk 20 pendaftar pertama hingga 31 Juli 2026. (Berlaku untuk semua paket)
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
