Belajar dari Kesalahan Taspen, Begini Investasi Saham untuk Pensiun

Taspen bikin geger setelah mencatatkan kerugian yang belum direalisasikan hingga 64 persen di 13 saham ini. Kira-kira gimana cara investasi saham untuk dana pensiun yang benar ya?

Belajar dari Kesalahan Taspen, Begini Investasi Saham untuk Pensiun

Mikirduit – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah menyoroti kinerja investasi PT Taspen (Persero) sejak akhir Juni 2023. Memang, 10 saham investasi lembaga dana pensiunnya pegawai negeri sipil ini agak berisiko tinggi. Jadi, apa saja saham yang bagus untuk dana pensiun?

Jadi, BPK menemukan fakta kalau Taspen mencatatkan kerugian yang belum direalisasikan mencapai 64 persen atau sekitar Rp762,82 miliar.

Berikut ini list 10 saham investasi untuk alokasi program tabungan hari tua:

  • PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON)
  • PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP)
  • PT GMF Aero Asia Tbk. (GMFI)
  • PT Jasa Armada Indonesia Tbk. (IPCM)
  • PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO)
  • PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT)
  • PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST)
  • PT Buana Listya Tama Tbk. (BULL)
  • PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI)
  • PT Elnusa Tbk. (ELSA)

Nah, di sini, kami agak kaget ada nama saham-saham yang tidak terlalu buruk seperti, ELSA, BEST, dan IPCM yang sepanjang 2023 masih positif. Namun, Taspen malah mencatatkan posisi rugi belum terealisasi. Apakah artinya mereka melakukan transaksi saat di level harga tinggi?

Pertanyaan selanjutnya, jadi apa saja sih indikator yang cocok untuk saham-saham dana pensiun ini?

Indikator Saham untuk Dana Pensiun

Jika bicara dana pensiun, artinya penempatan investasi cenderung jangka panjang sekitar 20 sampai 30 tahun. Misalnya, kamu baru bekerja dan pendapatan mulai matang di usia 28 tahun. Berarti persiapan dana pensiun masih punya waktu sekitar 25 tahun. Waktu yang panjang kan?

Untuk itu, kami menilai perlu dibuat pembagian kelompok saham dari jangka menengah hingga panjang. Seperti ini:

  • Saham jangka menengah (minimal hold 3-5 tahun): saham cyclical yang lagi punya potensi growth bagus. Namun, jika sudah mencapai puncak dari siklusnya siap untuk di take profit.
  • Saham jangka panjang (minimal hold 10 tahun): saham yang kinerja keuangannya stabil dan sehat serta rutin membagikan dividen.
  • Saham super jangka panjang (hold sampai pencairan dana pensiun): saham defensif yang kinerjanya konsisten meski pergerakan harganya lambat, tapi dividennya cukup konsisten.

Lalu, apa saja indikator untuk memilih saham-saham tersebut?

  • Setiap saham untuk dana pensiun harus rutin bagikan dividen (kecuali dalam kasus khusus harus absen karena kejadian besar seperti pandemi Covid-19). Tujuannya, agar dana yang diinvestasikan bisa menghasilkan pendapatan pasif yang bisa diputar lagi untuk investasi.
  • Pilih saham yang secara kinerja keuangan memiliki margin keuntungan besar. Dengan margin keuntungan besar, perusahaan bisa lebih fleksibel mengembangkan bisnisnya untuk jangka panjang. Misalnya, net profit margin di kisaran 10-20 persen, serta gross profit margin di kisaran 30 persen ke atas.
  • Pilih saham yang sehat alias tidak pusing mengurusi utang. Sehingga, dalam jangka panjang kita tidak perlu khawatir kalau tiba-tiba perusahaan tersebut PKPU
  • Pilih saham yang punya model bisnis yang kokoh untuk jangka panjang dan sulit terdisrupsi oleh pemain baru.
  • Untuk saham jangka menengah, pilih saham yang memang punya katalis positif untuk 3-5 tahun ke depan sehingga bisa mendapatkan pertumbuhan yang lebih agresif dari kenaikan harga maupun dividen.
  • Beli ketika harga saham murah, jika sulit menanti murah, berarti lakukan dengan cicil beli. Jadi ketika turun, bisa serok secara perlahan.

Deretan Saham Potensial untuk Dana Pensiun

Dengan spesifikasi saham tersebut, kami menemukan ada sekitar 12 pilihan saham yang cocok untuk dana pensiun. Di sini, kami langsung membagi ke dalam dua kelompok, yakni untuk jangka menengah dan panjang termasuk super panjang. Ke-12 saham itu antara lain:

PT Surya Esa Perkasa Tbk. (ESSA)

ESSA menjadi salah satu pilihan menarik untuk jangka menengah. Dari screening menggunakan tools di Stockbit, kami mendapatkan data gross profit margin ESSA untuk 12 bulan terakhir (artinya misalnya kuartal II/2023 dihitung dari kuartal II/2022) itu berada di sekitar 39 persen, sedangkan net profit marginnya 14 persen. Posisi gross profit maupun net profit margin dalam 12 bulan terakhir sudah masuk ke dalam kriteria saham dana pensiun.

Meski, jika melihat gross profit dan net profit margin secara kuartalan, hasilnya kurang bagus. Hal itu disebabkan adanya penurunan harga amonia yang membuat margin keuntungan ESSA turun.

Untuk itu, dengan karakter ESSA yang yang sangat cyclical ini, kami menempatkannya sebagai investasi jangka menengah, Mengingat posisi saat ini cukup murah.

Ditambah, untuk prospek bisnis ke depannya cukup potensial. ESSA menargetkan bisa produksi Blue Ammonia pada 2025. Nantinya, Blue Ammonia itu sudah rampung akan diekspor ke Timur seperti Jepang dan Eropa.

Jepang sendiri telah berkomitmen akan menggunakan 2 juta ton blue ammonia per tahun dari ESSA mulai 2027. Artinya, ada prospek katalis bagus untuk ESSA dalam 3 - 5 tahun ke depan.

Satu-satunya kekurangan ESSA adalah dia belum terlalu rutin bagi dividen sejak IPO pada 2012. ESSA baru rutin bagi dividen dalam dua tahun terakhir.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN)

BBTN menjadi salah satu bank menengah yang cukup potensial karena memiliki  bisnis dengan niche spesifik, yakni kredit pemilikan rumah. Namun, kami menempatkannya di segmen investasi jangka menengah karena pergerakan bisnisnya juga tergantung siklus permintaan properti.

Jika permintaan properti lagi lesu akibat suku bunga tinggi dan daya beli masyarakat lemah, kinerjanya juga melemah. Untuk itu, dengan kondisi saat ini di suku bunga tertinggi Bank Indonesia, serta posisi BBTN yang cukup murah, saham tersebut bisa menjadi opsi untuk mencatatkan pertumbuhan aset signifikan dalam 3-5 tahun ke depan.

Belum lagi, berhubung BBTN adalah BUMN, perseroan akan rutin bagi dividen jika tidak ada kendala soal laba bersihnya. Meski, tingkat dividen yield-nya hanya sekitar 1-3 persen per tahun.

BACA JUGA: BBTN Sudah Murah, Bisa Jadi Multibagger Nggak Nih?

PT Saratoga Investama Tbk. (SRTG)

SRTG juga menjadi salah satu opsi saham dana pensiun untuk jangka menengah. Salah satu alasannya, posisi SRTG saat ini sedang di bawah sehingga cukup menarik untuk dikoleksi dalam 3-5 tahun ke depan. Namun, SRTG memang kami tempatkan di saham jangka menengah karena portofolio saham jumbo yang dimilikinya rata-rata cyclical seperti, PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) hingga PT Merdeka Gold  Copper Tbk. (MDKA).

Selain itu, SRTG juga rutin bagi dividen, meski rata-rata dividen yieldnya sekitar 1-3 persen. Pernah sempat 5 persen, tapi dengan catatan itu terjadi pada saat booming komoditas batu bara di 2022.

BACA JUGA: SRTG Panen Dividen, Harga Murah, Layak Serok?

PT Harum Energy Tbk.(HRUM)

HRUM menjadi pilihan menarik dengan memenuhi kriteria memiliki margin keuntungan yang menarik seperti, gross profit margin kuartalan  55 persen dan net profit margin kuartalan 34 persen. Bahkan, margin HRUM lebih tinggi daripada ITMG hingga ADRO.

Selain itu, HRUM juga menjadi salah satu perusahaan tambang batu bara yang paling awal melakukan diversifikasi bisnis ke nikel. Sehingga, saat ini mereka sudah mendapatkan kontribusi pendapatan dari lini bisnisnya yang baru tersebut.

Jika nantinya ekosistem industri baterai listrik berkembang, bukan tidak mungkin jadi peluang bagus untuk HRUM ke depannya.

Apalagi, jika lihat rata-rata dividen yield HRUM bisa mendapatkan sekitar 2-4 persen per tahun.

Namun mengingat HRUM ini adalah saham cyclical, kami menempatkannya di kelompok jangka menengah 3-5 tahun ke depan.

PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM)

SMSM menjadi salah satu saham sektor komponen otomotif yang pertumbuhan bisnisnya cukup konsisten. Memang seperti tahun ini, kinerjanya tidak segaresif PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) atau PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO), tapi bisnisnya terus berkembang positif. Apalagi, SMSM memiliki pasar berbeda dari DRMA dan AUTO. Mayoritas penjualan SMSM lebih ke pasar ekspor, meski porsi ke domestik juga cukup banyak sekitar 45 persen dari total penjualan.

Margin SMSM juga cukup bagus dan konsisten. Gross profit SMSM yang 12 bulan terakhir maupun per kuartal konsisten di angka 34 persen, net profit marginnya juga konsisten di 17 persen.

Selain itu, daya tarik lainnya dari SMSM adalah rutin membagikan dividen 4 kali dalam setahun. Jika ditotal, rata-rata dividen yieldnya bisa tembus 5 persen per tahun. Namun, saat ini posisi SMSM memang cukup tinggi, jika mau masuk silahkan cicil beli dengan modal kecil dulu. Takut ada risiko penurunan harga lebih lanjut.

Lalu, SMSM kami rekomendasikan untuk jangka panjang hingga 10 tahun dengan catatan, kita perlu rutin update kinerja keuangannya juga. Soalnya, sampai saat ini pihak SMSM belum mengumumkan rencana mereka terkait pegembangan bisnis untuk kendaraan listrik yang lebih komprehensif.

BACA JUGA: Sektor Otomotif Sudah Terbang Tinggi, Hold Keras atau Take Profit?

PT Sido Muncul Tbk. (SIDO)

SIDO menjadi salah satu emiten consumer goods bidang kesehatan yang kinerjanya juga cukup konsisten. Meski, pergerakan harga sahamnya cenderung lambat, tapi bisnisnya cukup oke.

Seperti, gross profit margin SIDO yang berada di sekitar 50 persen, sedangkan net profit marginnya sekitar 20 persen.

Lalu SIDO juga menjadi emiten yang rutin bagi dividen 2 kali dalam setahun. Kalau ditotal, potensi penerimaan dividen yield dalam setahun bisa sekitar 5-6 persen. Untuk itu, kami juga pasang SIDO untuk investasi jangka panjang 10-20 tahun.

PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR)

TOWR menjadi perusahaan menara telekomunikasi yang menjadi pesaing utama PT Mitratel Tbk. (MTEL). Sebenarnya, kalau dilihat dari skala bisnisnya, TOWR justru sedikit lebih besar dibandingkan dengan MTEL, apalagi setelah akuisisi PT Solusi Tunas Pratama Tbk. (SUPR), serta portofolio konsumennya yang tidak ada afiliasi seperti MTEL.

Dari segi margin bisnis, TOWR juga jauh lebih oke dibandingkan dengan MTEL. Gross profit marginnya tembus 73 persen, sedangkan net profit marginnya sekitar 27 persen. Dari segi kinerja margin keuntungan, TOWR bersaing ketat dengan PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk. (TBIG). Meski, dari skala bisnsi TOWR jauh lebih besar daripada TBIG.

TOWR juga rutin bagi dividen dua kali setahun dengan rata-rata tingkat dividen yield akumulasi dalam setahun sekitar 4 persen. Untuk itu, kami pasang TOWR untuk kelompok investasi dana pensiun jangka panjang.

PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF)

KLBF juga menjadi salah satu emiten consumer goods di bidang kesehatan dan menjadi anti tesis dari SIDO. Jika SIDO menjual produk obat alternatif, KLBF menjual obat resmi yang diresepkan dokter maupun obat medis yang dijual umum. Serta, menjual suplemen tambahan.

KLBF memiliki tingkat gross profit margin sekitar 40 persen dengan net profit margin sekitar 10 persen. Meski begitu, rata-rata tingkat dividen yieldnya cenderung cukup kecil sekitar 1,5 persen per tahun.

Dengan karakter bisnis yang defensif, kami memasang KLBF untuk investasi jangka panjang.

PT Bank Jabar dan Banten Tbk. (BJBR)

BJBR menjadi salah satu opsi untuk investasi jangka panjang dengan alasan bisnisnya pasti sangat stabil karena mengelola anggaran APBD Jawa Barat serta gaji PNS tersebut. Dengan wilayah yang besar, BJBR punya skala nasabah yang cukup kuat. Apalagi, BJBR adalah bank daerah terbesar di Indonesia.

Belum lagi, karakter dari BPD adalah porsi dividen pasti akan cukup besar. Alasannya, dividen dari Bank Daerah ini termasuk pendapatan untuk daerah. Rata-rata dividen yield untuk BJBR juga cukup tinggi, yakni sekitar 6-7 persen per tahun.

BACA JUGA: Deretan Saham yang Punya Dividen Yield di Atas Bunga Deposito

Geng Bank Besar (BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI)

Jika kamu ingin investasi sangat panjang, berarti kamu wajib punya minimal satu dari saham bank besar ini. Alasannya, keempat bank besar ini menguasai lebih dari setengah pangsa pasar perbankan di Indonesia. Bahkan,kehadiran bank digital pun akan sulit untuk menyaingi para bank besar ini.

Kami menyakini bisnis bank besar masih akan kokoh hingga lebih dari 10 tahun lagi. Meski, dari dividen, tingkat dividen yield bank besar tidak begitu tinggi paling berkisar 2-4 persen per tahun. Namun, konsistensi kinerja keuangannya membuat potensi kenaikan harga secara konsisten akan cukup tinggi.

Untuk bank besar, kami lebih merekomendasikan BBCA, BBRI, atau BMRI, sedangkan BBNI sebenarnya termasuk bank besar, tapi skalanya agak sedikit jauh dibandingkan dengan tiga bank besar lainnya.

Kesimpulan

Salah satu tips investasi jangka panjang adalah kita wajib terus memantau laporan keuangannya minimal setahun sekali. Jika rajin setiap kuartal pun bagus jadi ketika ada potensi masalah kita bisa melakukan rebalancing portofolio sebelum risiko itu datang.

Untuk pilihan saham ini, bisa kamu mulai dengan cara cicil beli untuk yang tujuan jangka panjang. Namun, untuk yang jangka menengah harus memastikan masuk saat lagi murah seperti posisi ESSA dan SRTG saat ini. Jika masuk saat lagi mahal ada risiko kena floating loss jangka panjang.

Setelah pensiun, mungkin kamu bisa pindahkan uangnya ke surat berharga negara seperti SBN ritel atau SBN non ritel.

Siap mulai simpan dana pensiun sekarang?

Referensi

  • Kontan.co.id, 8 Januari 2023, Surya Esa Perkasa Ingin Produksi Blue Ammonia Pada 2025
  • Data Screening Stockbit dengan indikator market cap di atas Rp10 triliun, gross profit margin di atas 30 persen, dan net profit margin di atas 10 persen
  • Laporan keuangan masing-masing emiten
  • Data Investing.com terkait riwayat dividen yield masing-masing emiten