Alasan Saham PANI Berbahaya, Baca Rekam Jejak Ini

Saham PANI menjadi salah satu yang sensasional dalam beberapa pekan ke belakang. Isu adanya Grup Salim dan Agung Sedayu yang sudah ada sejak lama di sana kembali diangkat. Ada misi apa nih?

Alasan Saham PANI Berbahaya, Baca Rekam Jejak Ini

Mikir Duit – Saham PANI atau PT Pratama Abadi Nusa Industri Tbk. menjadi perbincangan setelah dikabarkan Agung Sedayu Group dan Salim Group ada di dalamnya. Namun, menariknya hal ini sudah terjadi sejak dua tahun lalu dan menjadi cerita ulangan untuk bisa mengerek harga sahamnya. Lalu, seberapa bahaya investasi di saham PANI?

Awalnya, kami masih menerka-nerka apa hubungan Salim Group dengan Agung Sedayu  Group di saham PANI. Toh, di kepemilikan saham secara langsung tidak ada nama mereka. Padahal, harga sahamnya melejit karena dikaitkan dengan kedua grup besar tersebut.

Sampai akhirnya, PANI merilis laporan keuangan dan menjelaskan bagaimana susunan kepemilikan sahamnya. Dalam keterangannya, 88,07 persen saham PANI dimiliki oleh Multi Artha Pratama. Nah, entitas pemegang saham mayoritas PANI ini dimiliki oleh dua bos besar, yakni Agung Sedayu Group dan Salim Group.

Menariknya, cerita masuknya Agung Sedayu dan Salim Grup bukan baru-baru ini, melainkan sudah sekitar dua tahun lalu atau tepatnya Oktober 2021. Kala itu, Multi Artha Pratama mengakuisisi 80 persen saham PANI dengan harga Rp165 per saham. Total nilai akuisisinya tidak terlalu besar, hanya Rp54,2 miliar. Namun, nama yang tersebut kala itu hanya Agung Sedayu, tidak ada nama Grup Salim. Melainkan, ada PT Tunas Mekar Jaya yang menjadi pemilik sebagian saham Multi Artha Pratama.

Adapun, aksi akuisisi Agung Sedayu ke saham PANI ini disebut salah satu strategi backdoor listing, mengingat perusahaan properti besar itu belum melantai di bursa.

Nama Grup Salim di PANI baru mulai mencuat pada 2022 ketika perusahaan properti yang punya lahan di kawasan PIK 2, Jakarta Utara, itu melakukan rights issue besar senilai Rp6,56 triliun.

Hasilnya, dari aksi rights issue itu, Multi Artha Pratama sebagai pembeli siaga mengeluarkan modal sekitar Rp5,79 triliun. Dengan begitu, persentase kepemilikan Multi  Artha Pratama di PANI pun meningkat menjadi 88 persen. Di sini, kami berasumsi jika Tunas Mekar Jaya bukan dimiliki Salim, berarti Bos Indofood itu baru masuk ke PANI pada 2022 ketika rights issue.

Pertanyaannya, kenapa tiba-tiba isu Agung Sedayu dan Salim kembali dimunculkan pada 2023 padahal itu cerita lama? jawabannya ada kemungkinan untuk jadi reason menggerakkan harga saham menjadi signifikan. Dalam setahun terakhir, harga saham PANI sudah melejit 400-an persen. Bahkan, dalam tiga tahun terakhir sudah naik 344.000 persen. Luar biasa kan isunya?

BACA JUGA: Review 21 Portofolio Saham Grup Salim

Efek Kehadiran Agung Sedayu dan Salim di PANI ke Kinerja Keuangan

Kehadiran Agung Sedayu Group bersama Grup Salim ke PANI memang luar biasa. Kinerja keuangan PANI langsung melesat tinggi dari periode 2018 dan 2019 hanya punya pendapatan Rp7 miliaran dan rugi Rp1 miliaran serta arus kas operasional Rp800 jutaan, kinerja keuangan PANI langsung mencuat ke ratusan miliar rupiah di 2020.

Di sini, sebenarnya ada indikasi Agung Sedayu sudah perlahan mulai masuk ke PANI pada 2020. Soalnya, tiba-tiba kinerja keuangannya mulai melejit tinggi.

Bahkan, pencapaian kinerja keuangan PANI pada kuartal I/2023 sudah melampaui pencapaian sepanjang tahun 2022. Perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan kuartal pertama sebesar 694 persen menjadi Rp919 miliar. Lalu, laba bersihnya meroket 30.852 persen menjadi Rp179,59 miliar.

Namun, lonjakan itu tidak semata-mata bisnis PANI yang melejit. Melainkan dari hasil akuisisi terafiliasi atas aksi backdoor listing Agung Sedayu sejak masuk ke PANI pada 2021.

Sekitar beberapa bulan setelah memiliki pemegang saham baru, yakni entitas milik Agung Sedayu Group, perseroan mengakuisisi perusahaan PT Bangun Kosambi Sukses senilai Rp6,49 triliun. Transaksi ini terafiliasi karena strukturnya PANI dengan Bangun Kosambi Sukses adalah sister company.

Setelah diakuisisi PANI, posisi Bangun Kosambi Sukses itu pun jadi anak usaha perusahaan properti backdoor listingan Agung Sedayu tersebut.

Adapun, kinerja moncer PANI sampai kuartal pertama ini ada kontribusi konsolidasi kinerja keuangan dari entitas terafiliasi yang kini menjadi anak usahanya tersebut. Artinya, bukan semata-mata bisnis PANI tumbuh secara organik, melainkan dari aksi akuisisi merger.

Misteri Siapa Pendiri Saham PANI

Menariknya, pendiri saham PANI disebut adalah Hendra Hasan Kustardjo yang kalau dicek saat ini statusnya adalaha Presiden Direktur PT Panca Global Securities Tbk. Siapa dia? Hendra Hasan Kustardjo bisa dibilang sosok yang sering jual-beli saham dalam jumlah besar, seperti yang dilakukannya di PANI tersebut.

Sebelumnya, ada beberapa aksi jual-beli saham oleh Hendra, yakni di saham PT Panca Global Capital Tbk. (PEGE) dan PT Singaraja Putra Tbk. (SINI). Hendra menjual sahamnya di PEGE kepada bos Sicepat Hartono Francesco pada 2021.

Kala itu, aksi beli saham PEGE oleh bos Sicepat juga dikabarkan ada wacana backdoor listing Grup Kresna di sana. Namun, hal itu ditampik setelah Bos Sicepat justru menjual sebagian kepemilikannya kepada investor Singapura.

Kini, PEGE dikendalikan oleh Trisno Limanto dengan kepemilikan 18,94 persen, PT Anugerah inti Karisma sebesar 18 persen, PT Mandiri Terang Harapan 18 persen, Bank of Singapore Ltd 11,32 persen, Hartono Fransesco 6,68 persen, dan Rudy Darwin Swigo 5,15 persen. Namun, grup SiCepat masih memiliki saham PEGE ini sekitar 12 persen gabungan antara sisa saham Hartono Fransesco dengan Rudy Darwin Swigo.

Selain itu, Hendra juga menjual saham SINI kepada suami Puan Maharani Happy Hapsoro pada 2023. Dari hasil penjualan saham SINI itu, Hendra memborong saham PT Black Diamond Resources Tbk. (COAL), salah satu saham batu bara yang baru IPO pada 2022 kemarin. Hendra Hasan Kustardjo tercatat memiliki saham sebesar 5,6 persen di sana.

Setiap Transaksi Hendra Pasti Cuan?

Menariknya, setiap transaksi jual-beli yang dilakukan Hendra bisa dibilang hampir pasti menguntungkan pembelinya, termasuk Hendra sendiri yang melakukan penjualan saham tersebut.

Seperti, Bos SiCepat yang membeli saham PEGE pada 2021 senilai Rp81 miliar. Lalu, menjual sebagian pada 2022 dengan total transaksi senilai Rp171 miliar. Artinya, Bos SiCepat itu sudah untung hampir 111 persen.

Begitu juga dengan Happy Hapsoro, yang disebut untung hingga Rp87,44 miliar. Sebagai catatan, ketika Happy Hapsoro membeli saham SINI, harga sahamnya ditutup di level Rp340 per saham. Nah, per 16 Juni 2023 saja, harga saham SINI sudah berada di level Rp1.600-an per saham.

Menariknya lagi, Agung Sedayu yang membeli saham PANI di level Rp165 per saham. Kini, harga sahamnya sudah tembus Rp1.700-an per saham. Artinya, Grup properti besar itu sudah cuan 930 persen.

Jika awalnya modal beli PANI Rp54 miliar, kini aset Agung Sedayu di saham itu tembus Rp570 miliar. Meski, Agung Sedayu juga keluar uang triliunan rupiah ketika aksi rights issue pada 2022

Menariknya, Hendra Hasan Kutardjo ini pernah menjadi komisaris BEI pada periode sebelum 2020.

Kesimpulan

Melihat pergerakan harga saham PANI mungkin banyak dari kita yang menyesal kenapa nggak ikutan beli ya waktu itu? namun menurut kami, untuk saat ini harga saham PANI sudah terlalu tinggi. Apalagi, transaksi akuisisi sudah price in, artinya ada risiko di 2023 atau 2024 harga sahamnya berpotensi turun.

Isu Grup Agung Sedayu dan Grup Salim ada di PANI kembali dimunculkan pada 2023 menjadi pertanda ada beberapa pemain yang butuh keluar dari saham tersebut.

Jadi, ya tanpa perlu melihat valuasi dan prospek sahamnya, kami menilai hindari saham tersebut. Risikonya cukup besar. Ingat kejadian PT Bank Jago  Tbk. (ARTO) di harga Rp18.000 per saham dan setelah itu terjun bebas? ya itu yang berpotensi terjadi kepada saham-saham yang melejit tinggi karena sentimen yang sudah lewat jauh.

Kalau pun tidak turun dalam, harga sahamnya berpotensi tidak likuid. Bisa beli, nanti malah susah dijual. Jadi, hati-hati ya..