Prospek Saham BIPI yang Gandeng Bakrie hingga Humpuss

BIPI nampaknya semakin jelas menjauhi bisnis batu bara dan mulai serius menggarap bisnis energi bersih sampai hilirisasi CPO. Kira-kira gimana prospeknya? 

Share
Prospek Saham BIPI yang Gandeng Bakrie hingga Humpuss

Mikirduit -  BIPI menjadi salah satu saham dengan story ekspansi paling agresif di tahun 2026 dan terlihat semakin serius meninggalkan ketergantungan pada bisnis batu bara. 

Masuknya Grup Bakrie hingga kolaborasi jumbo dengan Grup Humpuss menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan sedang membangun arah bisnis baru berbasis LNG, geothermal, Waste-to-Energy (WTE), hingga hilirisasi energi.

Menariknya, transformasi besar ini terjadi justru ketika BIPI baru saja melewati periode sulit pada 2025 akibat anjloknya bisnis batu bara dan tekanan utang yang tinggi. 

Namun alih-alih bertahan di bisnis lama, manajemen memilih melakukan pivot besar-besaran dengan menyiapkan divestasi aset batu bara untuk membiayai proyek energi masa depan bernilai puluhan triliun rupiah. Kira-kira gimana prospeknya? masih menarik-kah masuk saham BIPI saat ini? 

Berawal dari Rugi Bertahun-tahun

Sebelum cerita ekspansi jumbo dimulai, BIPI sebenarnya datang dari kondisi yang cukup rapuh. Bisnis inti mereka yang bergantung pada infrastruktur batu bara mulai terkena tekanan besar akibat normalisasi harga batu bara, penurunan volume, serta margin yang makin tergerus. Hingga kuartal III-2025, BIPI mencatat rugi bersih sekitar Rp90,4 miliar, berbanding terbalik dari periode sebelumnya yang masih membukukan laba Rp54,2 miliar. 

Karena kerugian itu, akumulasi kerugian terus membengkak dari tahun ke tahun, bahkan ini sudah diderita selama hampir 10 tahun. Bermula rugi Rp529 miliar pada 2015 kemudian menggelembung jadi Rp3,11 triliun per akhir September 2025 lalu. 

Masalah terbesar bukan hanya penurunan bottom line, tetapi juga tingginya beban bunga utang yang membuat profitabilitas perusahaan makin tertekan. 

Sampai September tahun lalu, utang BIPI mencapai Rp17,52 triliun, sementara modalnya hanya Rp9,81 triliun. Dan yang bikin semakin mencekik itu kas yang dimiliki sekitar Rp820 miliar harus rela disisihkan setengahnya untuk membayar utang jangka pendek yang mau jatuh tempo sekitar Rp419 miliar. 

perkembangan utang dan ekuitas BIPI
Sumber: Stockbit (September 2025)

Di titik inilah pasar mulai melihat bahwa model bisnis lama BIPI terlalu bergantung pada siklus batu bara dan mulai kehilangan daya tahan. 

Sebagai catatan, hingga saat ini BIPI juga belum merilis laporan keuangan penuh tahun buku 2025. Kami melihat keterlambatan pelaporan ini kemungkinan berkaitan dengan proses peninjauan dan penataan kembali aset tambang non-inti yang sedang dilakukan perseroan sebagai bagian dari persiapan divestasi.

Manajemen diketahui mulai melakukan evaluasi lebih ketat terhadap sejumlah properti pertambangan (mining properties), terutama setelah lesunya sektor batu bara konvensional sepanjang 2025 menekan kinerja perusahaan. 

Dalam proses tersebut, BIPI berpotensi melakukan penyesuaian nilai aset maupun restrukturisasi portofolio tambang non-inti untuk merampingkan struktur neraca sebelum proses divestasi dijalankan secara resmi.

Pasar pun mulai melihat langkah ini sebagai upaya perusahaan untuk mengurangi tekanan leverage, memperbaiki struktur keuangan, sekaligus membuka ruang pendanaan bagi ekspansi bisnis energi baru yang sedang mereka dorong

BIPI Diam-diam Bangun Pondasi Bisnis Baru 

Menariknya, di saat laporan keuangan terlihat babak belur, manajemen justru mulai menyiapkan transformasi besar di belakang layar. Kuartal IV-2025 menjadi fase penting karena BIPI mulai melakukan restrukturisasi besar-besaran untuk membangun fondasi bisnis energi baru.

Per Desember 2025, konstruksi LNG Processing Plant milik BIPI disebut sudah mencapai progres sekitar 90 persen . Proyek ini menjadi sangat penting karena nantinya akan menjadi fondasi kerja sama pasokan gas dengan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) serta proyek Mini LNG bersama Grup Humpuss di awal 2026. Artinya, langkah-langkah ekspansi besar yang muncul tahun ini sebenarnya sudah dipersiapkan sejak akhir tahun lalu.

Selain LNG, BIPI juga mulai mengembangkan proyek penyediaan mesin sewa pembangkit listrik berkapasitas 20MW. 

Hingga akhir 2025, progres pembangunan proyek tersebut telah mencapai sekitar 30 persen . Ini menunjukkan bahwa perusahaan mulai serius membangun recurring income dari sektor energi dan utilitas.

Cara Mencari Cuan di Saham Aksi Korporasi Ketika Market Lagi Demam
Saham-saham aksi korporasi tidak bergerak agresif seperti sebelumnya, termasuk NAYZ. Jadi, apa saja yang harus diperhatikan jika sebuah saham mau melakukan aksi korporasi?

Masuknya Grup Bakrie dan Kerjasama ENRG 

Dinamika menarik juga terjadi di struktur kepemilikan saham BIPI pada akhir 2025. Winsome Investment tercatat melepas lebih dari 3,3 miliar saham, sementara porsi kepemilikan publik meningkat drastis menjadi sekitar 58,78 persen. Pergerakan ini dianggap pasar sebagai fase pelonggaran struktur sebelum investor strategis baru masuk.

Dan benar saja, pada Februari 2026 Bakrie Capital Indonesia resmi masuk sebagai pemegang saham BIPI secara agresif dengan nilai investasi awal yang diperkirakan mendekati Rp1 triliun. 

Tidak berhenti di situ, Grup Bakrie kembali meningkatkan kepemilikannya pada April 2026. Masuknya Bakrie dianggap menjadi turning point penting karena membuka akses sinergi energi, pendanaan, hingga proyek-proyek baru yang langsung mengubah corporate story BIPI.

transaksi saham BIPI
Sumber: Stockbit

Sejak masuknya Grup Bakrie, arah bisnis BIPI mulai berubah drastis. Melalui koneksi grup tersebut, BIPI kemudian menggandeng ENRG pada Maret 2026 untuk mendukung pasokan gas bagi ekosistem LNG yang sedang mereka bangun.

Dalam skema ini, ENRG berperan sebagai pemasok energi di sisi hulu, sementara BIPI membangun infrastruktur distribusi dan hilirisasi LNG.

BIPI masuk sebagai offtaker, yakni pihak yang akan menyerap pasokan gas bumi dari sumur milik ENRG untuk kemudian diolah melalui fasilitas Mini LNG Plant yang tengah dikembangkan perseroan.

Salah satu proyek utama Mini LNG Plant tersebut berada di Wunut, Sidoarjo, Jawa Timur, dengan rencana pengembangan lanjutan di Batam dan Aceh. 

Nantinya, gas bumi dari ENRG akan diproses di fasilitas milik BIPI hingga berubah menjadi Liquefied Natural Gas (LNG) agar lebih mudah disimpan dan didistribusikan ke berbagai wilayah.

Setelah diolah, LNG tersebut akan dipasarkan ke sektor hilir seperti pembangkit listrik skala kecil, kawasan industri, hingga sektor manufaktur yang mulai beralih dari BBM maupun batu bara ke energi gas yang dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan.

Untuk tahap awal, BIPI menargetkan fasilitas Mini LNG Plant di Wunut mulai beroperasi secara komersial pada semester II-2026 dengan kapasitas awal sekitar 2,5 mmscfd. Selanjutnya, kapasitas produksi LNG ditargetkan meningkat signifikan hingga mencapai 20 mmscfd pada periode 2027–2028.

Tidak berhenti di situ, ekspansi wilayah juga mulai disiapkan. BIPI menargetkan pembangunan fasilitas LNG skala lebih besar di Batam dapat mulai beroperasi pada 2029, disusul pengembangan proyek LNG di Aceh pada periode 2030–2031.

Dengan roadmap tersebut, Mini LNG diperkirakan menjadi proyek energi baru pertama yang mulai menghasilkan recurring income bagi BIPI di luar bisnis batu bara konvensional. 

Masuk ke Bisnis Waste-to-Energy (WTE)

BIPI juga mulai masuk ke sektor pengolahan sampah menjadi energi atau Waste-to-Energy (WTE).

Perusahaan menggandeng PT Mahareksa Kapital Indonesia dan PT Indoplas Makmur Lestari untuk mengembangkan proyek WTE dengan estimasi nilai mencapai 300 juta dolar AS hingga 350 juta dolar AS.

Bersama sektor LNG, proyek WTE ini juga diperkirakan menjadi salah satu penopang diversifikasi pendapatan BIPI dalam beberapa tahun ke depan. 

Manajemen membidik kombinasi bisnis LNG, WTE, dan energi bersih lainnya sudah dapat menyumbang sekitar 50% total pendapatan perseroan pada 2028 sehingga ketergantungan terhadap batu bara mulai berkurang signifikan. 

Gandeng Grup Humpuss Garap Proyek Rp25 T

Tak berhenti di situ, BIPI juga menggandeng Grup Humpuss milik Tommy Soeharto untuk membentuk joint venture senilai 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp25,5 triliun. 

Kerja sama ini mencakup lima proyek yaitu pengembangan Mini LNG Plant, geothermal, data center berbasis energi hijau, hilirisasi CPO, hingga infrastruktur energi baru lainnya. 

BIPI akan berperang sebagai pengembang infrastruktur energi sekaligus operator proyek. Sementara, Grup Humpuss bertindak sebagai investor strategis pendamping (co-investor) sekaligus penyedia ekosistem hilir dan logistik penunjang. 

Namun proyek-proyek tersebut tentu tidak langsung menghasilkan dalam waktu singkat. Kalau diurutkan secara timeline komersialisasi proyek, ekspansi BIPI terbagi ke dalam beberapa fase berikut: 

Semester II-2026: Mini LNG Mulai Komersial

  • Mini LNG Plant diperkirakan menjadi proyek yang paling cepat menghasilkan.
  • Setelah pasokan gas dikunci dari ENRG dan progres konstruksi fasilitas LNG di Wunut, Sidoarjo hampir rampung, proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada semester II-2026.
  • Kapasitas awal yang ditargetkan mencapai sekitar 2,5 mmscfd.
  • Armada kapal tanker LNG milik Humpuss yang akan berperan mengangkut dan mendistribusikan gas cair tersebut ke konsumen akhir di pulau-pulau lain. 

2027–2028: Lonjakan Kapasitas LNG & Diversifikasi Pendapatan

  • Kapasitas LNG ditargetkan meningkat signifikan hingga mencapai 20 mmscfd.
  • Proyek refinery CPO bersama Humpuss diperkirakan mulai masuk fase komersial setelah pembangunan selama sekitar 1,5 hingga 2 tahun sejak kerja sama diteken pada Mei 2026.
  • Dalam periode yang sama, proyek Waste-to-Energy (WTE) hasil akuisisi anak usaha OASA juga ditargetkan mulai memberikan kontribusi lebih signifikan terhadap pendapatan perusahaan.
  • Manajemen membidik kombinasi bisnis LNG, WTE, dan energi bersih lainnya sudah dapat menyumbang sekitar 50% total pendapatan BIPI pada 2028 sehingga ketergantungan terhadap bisnis batu bara mulai berkurang.

2029–2031: Ekspansi LNG & Proyek Jangka Panjang

  • BIPI menargetkan fasilitas LNG skala lebih besar di Batam mulai beroperasi pada 2029.
  • Selanjutnya, proyek LNG di Aceh ditargetkan mulai dikembangkan pada periode 2030–2031.

2026–2031: Geothermal & Data Center

  • Pada periode 2026–2027, proyek geothermal dan data center masih berada di tahap pengeboran sumur dan studi kelayakan.
  • Selanjutnya pada 2028–2029 proyek mulai masuk tahap konstruksi fisik pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan data center terintegrasi.
  • Adapun proyek geothermal berkapasitas 150 MW beserta data center tersebut ditargetkan mulai beroperasi penuh secara komersial pada 2031.

Melalui roadmap ini, pasar mulai melihat bahwa transformasi BIPI memang dirancang bertahap. Mini LNG menjadi sumber pendapatan awal, lalu dilanjutkan sektor WTE dan hilirisasi CPO, sementara geothermal dan data center menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Divestasi Batu Bara Jadi Kunci Pendanaan

Di tengah ekspansi agresif tersebut, BIPI ternyata juga sedang menjalankan proses divestasi aset batu bara mereka.

Pada akhir April 2026, manajemen secara resmi mengonfirmasi bahwa proses divestasi aset komoditas fosil memang sedang berjalan dan sudah masuk tahap penjajakan lanjut.

Direktur Utama BIPI, Ray Anthony Gerungan, menyebut perseroan saat ini sedang aktif berdiskusi dengan beberapa calon pembeli potensial. Meski begitu, hingga pertengahan Mei 2026 belum ada kesepakatan mengikat seperti Letter of Intent (LoI) maupun Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) yang ditandatangani.

Namun satu hal mulai jelas: BIPI memang serius ingin mengurangi eksposur terhadap bisnis batu bara lama.

Secara strategis, divestasi ini dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi leverage, menekan beban bunga, memperbaiki arus kas, sekaligus menjadi sumber modal ekspansi energi baru.

Pasar pun mulai melihat bahwa hasil penjualan aset batu bara nantinya kemungkinan akan digunakan untuk membiayai proyek Mini LNG, geothermal, Waste-to-Energy, hingga hilirisasi CPO bersama Grup Bakrie dan Humpuss.

Dengan kata lain, BIPI sedang mencoba menjual bisnis masa lalu mereka untuk membiayai bisnis masa depan mereka.

Risiko Tetap Ada

Walaupun transformation story BIPI terlihat sangat menarik, investor tetap perlu memperhatikan risikonya.

Karena sampai sekarang utang perusahaan masih tinggi, profitabilitas belum stabil, dan sebagian besar proyek masih berada di tahap awal seperti MoU, penjajakan, atau konstruksi.

Artinya, pasar saat ini masih membeli ekspektasi dan cerita masa depan, bukan hasil final yang sudah terealisasi penuh.

Jika proyek berjalan lancar, BIPI berpotensi berubah menjadi salah satu transformation story terbesar di sektor energi Indonesia. 

Namun jika eksekusi meleset atau pendanaan tidak berjalan sesuai rencana, risiko tekanan utang dan volatilitas saham tetap menjadi ancaman utama.

Perlu dicatat juga, saham BIPI sejak awal tahun sudah naik lebih dari 150 persen, artinya volatilitas saham ini sangat tinggi. 

Kenaikan tersebut menunjukkan pasar mulai agresif pricing-in story transformasi energi yang sedang dibangun perseroan.

Namun di sisi lain, pergerakan saham yang terlalu cepat juga membuat risiko koreksi menjadi lebih besar, terutama jika ada keterlambatan proyek, realisasi pendanaan yang tidak sesuai ekspektasi, atau perkembangan fundamental yang belum mampu mengikuti kenaikan valuasi sahamnya.

Ditambah, porsi pemegang saham ritel masih cukup jumbo sekitar di atas 20 persen dari total lembar saham perseroan. Angka itu sudah menyisihkan pemegang saham di atas 1 persen perseroan per April 2026.

Karena itu, investor perlu memahami bahwa BIPI saat ini lebih banyak diperdagangkan berdasarkan growth story dan sentimen ekspansi jangka panjang, bukan semata-mata kinerja keuangan yang sudah matang.

Gimana, menurut kalian menarik tidak koleksi saham BIPI atau masih wait and see buat dapat best price? 

Kamu Butuh Insight dan Ide Saham Jangka Menengah-panjang hingga Swing Trading?

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini