Menghitung Probabilitas Kebangkitan IHSG dari Kondisi Awal Tahun Terburuk Sejak 1998

IHSG mencatatkan penurunan bulanan 5 bulan berturut-turut sepanjang Mei 2026. Jika dilihat secara historis sejak 1998, ini adalah kondisi pasar terburuk. Lalu, kapan pulihnya?

Share
prospek kebangkitan IHSG

Mikirduit – Banyak investor ingin mengetahui sampai kapan pasar saham mengalami penurunan. Kami menilai bottom IHSG terburuk harusnya ada di Juni 2026 jika hanya melihat faktor probabilitas. Namun, bagaimana dengan faktor sentimen dan prospek ekonomi Indonesia?

IHSG sudah turun sekitar 29% dari level tertinggi-nya di 9.150 pada 20 Januari 2026. Beberapa faktor penurunan IHSG antara lain:

  • Keputusan MSCI membekukan rebalancing pasar saham Indonesia sejak periode Februari - Mei 2026.
  • Perang US-Iran yang mendorong kenaikan harga minyak yang cukup tinggi sehingga menjadi faktor risiko inflasi dan pertumbuhan ekonomi secara global
  • Kondisi defisit APBN domestik yang membuat persepsi risiko ekonomi Indonesia menjadi lebih tinggi
  • Pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang cukup signifikan membuat ada risiko terhadap ekonomi Indonesia

Penurunan IHSG saat ini masih lebih rendah dibandingkan periode market crash ketika pandemi Covid-19. Kala itu, dari level tertinggi pada 14 Juni 2020 hingga 24 Maret 2020, IHSG turun 37 persen.

Jika mengacu ke data seasonality bulanan IHSG, sepanjang 2026 (Januari-Mei), IHSG selalu mencatatkan koreksi 5 bulan berturut-turut. Penurunan terbesar terjadi Maret 2026 yang turun hingga 14,42 persen. Sisanya rata-rata turun di bawah 5 persen. Hanya saja di Mei 2026 berpotensi turun lebih signifikan karena faktor rebalancing MSCI, yang mana ada sekitar 5 saham Indonesia yang keluar dari MSCI global standard. Belum lagi, nanti ada rebalancing dari FTSE, yang pasti akan mendepak BREN dan DSSA.

Nah, kondisi penurunan atau koreksi bulanan IHSG 5 bulan beruntun ini mendekati level terburuk. yakni 6 bulan beruntun. 

Jika mengacu ke catatan kinerja IHSG sejak 1998, ada dua periode IHSG mencatatkan penurunan bulanan hingga 6 bulan berturut-turut.

Kedua periode itu terjadi di:

  • 2008: IHSG turun dari Juni-November dengan penurunan terbesar 15 dan 31 persen, sedangkan lainnya di bawah 10 persen. Kala itu, IHSG dalam setahun turun 50 persen. Dalam periode 2008 itu, IHSG sempat konsolidasi pada Desember 2008 dan Januari-Februari 2009. Setelahnya, IHSG mencatatkan rebound. Penurunan IHSG pada 2008 disebabkan oleh krisis subprime mortgage yang berdampak terhadap pecahnya bubble di saham Grup Bakrie
  • 2002: IHSG mencatatkan koreksi pada Mei-Oktober 2002. Dalam periode itu, penurunannya tidak terlalu signifikan. Penurunan bulanan terdalam hanya 11,9 persen, sedangkan sisanya di bawah 10 persen. Penurunan IHSG di 2002 diwarnai berbagai faktor seperti dampak pasca dotcom bubble yang membuat bursa saham regional melemah. PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia dinyatakan pailit pada 2002, rencana divestasi ISAT oleh pemerintah Indonesia, hingga Tragedi Bom Bali di Oktober 2002. Setelah periode itu, IHSG kembali rebound cukup agresif.
Seasonality IHSG 1998–2026

Pola Musiman IHSG: Desember Paling Kuat, Agustus Paling Lemah

Berdasarkan data historis bulanan IHSG, pola rata-rata menunjukkan akhir tahun cenderung menjadi periode paling positif, sedangkan Agustus menjadi bulan dengan rata-rata return paling rendah.

Rata-rata return tahunan
+12,40%
Mengacu pada baris average dari data historis.
Tahun berjalan 2026
-24,70%
Data 2026 masih parsial sesuai bulan yang tersedia.
Bulan rata-rata terbaik
Des +3,73%
Win rate historis sekitar 89%.
Bulan rata-rata terlemah
Agu -3,30%
Secara rata-rata menjadi bulan paling berat.
Tahun terbaik
2009 +83,99%
Rebound besar setelah krisis 2008.
Tahun terburuk
2008 -50,53%
Tertekan krisis finansial global.

Rata-rata Return Bulanan IHSG

Semakin panjang bar hijau, semakin besar rata-rata return positif. Bar merah menunjukkan rata-rata return negatif.

Positif Negatif

Ranking Bulan Berdasarkan Average & Win Rate

Win rate dihitung dari persentase tahun ketika return bulanan IHSG positif.

Heatmap Historis Return Bulanan IHSG

Tabel ini memperlihatkan return bulanan per tahun. Baris 2002 diberi highlight karena terjadi tekanan 6 bulan beruntun dari Mei sampai Oktober.

Catatan: angka dalam persen. Sel kosong berarti data belum tersedia pada file. Baris 2026 bersifat parsial. Baris 2002 menunjukkan penurunan beruntun Mei–Oktober: -0,61%, -4,86%, -8,19%, -4,31%, -5,49%, dan -11,99%.
Infografis ini menggunakan data seasonality IHSG dari file yang diberikan. Pola historis bukan jaminan hasil di masa depan, tetapi bisa menjadi konteks tambahan untuk membaca risiko musiman pasar.

Skenario IHSG Bangkit di 2026-2027

Setiap investor saham merasa rasa-rasanya sentimen negatif terus berdatangan seolah tidak ada harapan untuk pemulihan kinerja pasar saham. Namun, berbagai berita negatif itu yang sudah terefleksikan ke penurunan pasar saham yang signifikan bisa menjadi tanda-tanda periode bearish siap masuk fase konsolidasi.

Jika melihat faktor teknis outflow pasar saham karena rebalancing MSCI, berarti Mei 2026 bisa menjadi tekanan terakhir. Sampai periode H-1 efektif di 29 Mei 2026, pasar saham Indonesia berpotensi masih menerima tekanan, tapi setelahnya berpotensi mulai rebound.

Penentuan lainnya adalah pernyataan dari MSCI terkait status pasar saham Indonesia apakah masih di emerging market atau pindah ke frontier market. Jika masih di emerging market, kami menilai setelah itu ada peluang rebound terlepas dari apapun kelakuan Presiden Indonesia.

Skenario terbaik dari pasar saham Indonesia bisa terjadi dengan skema: Periode Juni-Juli 2026 masih fase konsolidasi (naik-turun tidak signifikan). Lalu, mulai rebound di Agustus 2026.

Skenario moderat bisa terjadi dengan skema fase konsolidasi pada Juni-Oktober 2026, dan mulai rebound pada November 2026.

Skenario terburuk bisa terjadi dengan skema fase konsolidasi pada Juni 2026 - Januari 2027, dan mulai rebound pada Februari 2027.

Cara Mencari Cuan di Saham Aksi Korporasi Ketika Market Lagi Demam
Saham-saham aksi korporasi tidak bergerak agresif seperti sebelumnya, termasuk NAYZ. Jadi, apa saja yang harus diperhatikan jika sebuah saham mau melakukan aksi korporasi?

Skenario terburuk bisa terjadi jika ada faktor risiko ekonomi makro yang makin membesar, sedangkan pemerintah tidak kunjung memberikan solusi atas faktor risiko ekonomi terbesar, atau jika sudah diupayakan perbaikan tapi ternyata membutuhkan waktu lebih lama.

Dalam kondisi begini, apa yang bisa dilakukan investor saham?

  • Strategi value-growth-contrarian-dividend investing yang bisa dilakukan dengan cara lump sum bertahap. (Jadi, kita sudah punya modalnya tapi tetap masuknya bertahap dalam periode 3-8 kali). 
  • Strategi value-dividend investing yang bisa dilakukan dengan cara dollar cost averaging tiap bulan. 

Money management dilakukan secara bertahap dengan harapan bisa menyerap risiko penurunan harga yang masih berpotensi terjadi. 

Mau tanya langsung saham yang murah menurut founder Mikirduit saat ini, serta menunggu rilis resmi saham Dividen Mikirduit 2026?

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini