Aksi Korporasi Saham Grup Bakrie BUMI, BRMS, dan DEWA Saat Market Loyo
Aksi korporasi dari perusahaan di Grup Bakrie masih sangat ramai sepanjang 2026. Mulai dari DEWA yang akhirnya bagi dividen perdana setelah 19 tahun listing, hingga BUMI yang melepas sebagian bisnis emasnya ke BRMS. Lalu, bagaimana prospek ketiga saham ini ke depan? Masih menarik untuk dilirik?
Mikirduit - Narasi dan aksi korporasi yang dilakukan sederet perusahaan grup Bakrie masih ramai tahun ini. Terbaru, yang menarik perhatian ada DEWA, berhasil bagi dividen pertama kali sampai kabar BUMI melepas bisnis emasnya untuk dikelola BRMS, kira-kira gimana prospeknya? dan siapa yang paling menarik dilirik?
DEWA Bagi Dividen Perdana
Pertama, kami mulai bahas dulu soal DEWA yang baru saja memberi kejutan investor dengan membagikan dividen perdana setelah 19 tahun listing di bursa.
Perusahaan kontraktor tambang asal Grup Bakrie ini akhirnya membagikan dividen tunai perdana sebesar Rp58,6 miliar, setara dividen payout ratio (DPR) 11,4 persen dari laba inti 2025 atau Rp1,5 per saham, sementara yield berkisar 0,52 persen dari posisi harga saham di Rp286 per lembar.
Nilai dividen tersebut terbilang masih “mini”, tetapi ini cukup wajar karena baru pertama dibagikan dan perusahaan masih dalam fase growth yang butuh alokasi dana lebih banyak untuk ekspansi.
Namun, pembagian dividen perdana ini setidaknya menjadi menjadi sinyal penting bahwa DEWA mulai memasuki fase yang lebih matang dan shareholder-friendly.
Kami menilai ada dua alasan utama kenapa DEWA berhasil membagikan dividen pada tahun ini.
Pertama, kenaikan laba ciamik pada 2025
Sepanjang tahun lalu, DEWA berhasil meraih laba senilai Rp4,3 triliun, melejit 80 kali lipat dibandingkan perolehan 2024 sebesar Rp55 miliar.
Sebagian besar, memang dihasilkan dari negatif goodwill yang sifatnya one-off senilai Rp4,5 triliun yang didapatkan dari akuisisi Gayo Mineral Resources (GMR), perusahaan tambang emas dan tembaga di Aceh melalui anak usahanya, Mahadaya Imajinasi Nusantara (MIN).
Sebagai catatan, DEWA mengakuisisi 99,75% saham GMR dengan nilai transaksi sekitar Rp844 miliar, padahal nilai aset bersih GMR mencapai sekitar Rp6,7 triliun.
Selisih antara nilai aset yang diperoleh dan harga akuisisi inilah yang kemudian diakui sebagai negative goodwill, sehingga memberikan tambahan laba yang sangat besar pada tahun tersebut.

Menariknya, core bisnis DEWA pada 2025 juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Laba inti (underlying profit) diluar negatif goodwill tadi tercatat sebanyak Rp573 miliar di 2025, naik lebih dari 8 kali lipat dibandingkan Rp65 miliar pada 2024.
Pendapatan perusahaan juga naik 6 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp6,39 triliun.
Kedua, kesuksesan restrukturisasi
Keberanian DEWA membagikan dividen juga tidak lepas dari langkah restrukturisasi yang berhasil, antara lain konversi utang menjadi modal Rp1,4 triliun, perbaikan rasio utang tercermin dari Debt to Equity Ratio (DER) yang turun dari 1,69 kali pada 2024 menjadi 0,76 pada 2025, serta penambahan armada alat berat sendiri. Ditambah sinergi kuat dengan Grup Bakrie, termasuk perpanjangan kontrak besar dengan Arutmin senilai Rp10,5 triliun dalam jangka panjang sampai life of mine.
Jadi, meski dividen perdananya masih mini, ini adalah sinyal kuat bahwa DEWA sedang bertransformasi menjadi perusahaan yang lebih matang, profitable, dan mulai peduli dengan pemegang saham.
Adapun, aksi pembagian dividen ini sudah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 29 Juni 2026, dengan jadwal pembayaran pada 31 Juli 2026.
Setelah pembagian dividen ini, narasi soal DEWA tentu masih belum usai. Menurut rumor yang beredar, DEWA akan mengawal prospek IPO dari PT Gayo Mineral Resources (GMR) yang sudah diakuisisi tahun lalu.
BUMI Divestasi Bisnis Emas ke BRMS
Beralih ke emiten grup Bakrie lain, BUMI juga baru saja mengumumkan telah mendivestasikan sekitar 3,03 persen saham PT Citra Palu Minerals (CPM) kepada BRMS senilai US$9,2 juta.
Transaksi ini merupakan transaksi afiliasi karena BUMI memiliki 20,09 persen saham BRMS. Setelah divestasi ini, BRMS kini menguasai 99,99 persen saham Citra Palu Minerals (sisanya dimiliki PT Internasional Minerals Cakrabuana).
BUMI menjelaskan bahwa divestasi dilakukan agar fokus pada pengembangan aset-aset baru yang baru diakuisisi (seperti tambang emas dan tembaga di Australia), sementara CPM dapat dikelola dan dikembangkan secara lebih terfokus oleh BRMS sebagai perusahaan pure-play gold & mineral company.
Setelah transaksi, BRMS kini hampir sepenuhnya mengontrol CPM, salah satu tambang emas terbesar grup Bakrie yang beroperasi di area Poboya, Palu, Sulawesi Tengah.
CPM memiliki cadangan emas mencapai 34,1 juta ton setara dengan cadangan logam sekitar 3,5 juta troy ons emas dan sedang dalam fase produksi/ekspansi.
Tambang ini diproyeksikan beroperasi hingga 2050, dengan pengembangan tambang emas bawah tanah yang diharapkan memproduksi 2,8 juta ons emas selama umur tambangnya.
Didukung cadangan emas yang besar, tren positif pertumbuhan produksi emas BRMS diperkirakan masih akan terjaga. Manajemen menargetkan produksi mencapai 80.000 troy ons pada 2026, naik sekitar 11,3% dibanding realisasi produksi tahun 2025 yang sebesar 71.886 troy ons.
Sebelumnya, sepanjang 2025 BRMS telah memproduksi 71.886 troy ons emas, meningkat sekitar 10,6% dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 64.983 troy ons. Target tersebut menunjukkan perusahaan masih optimistis dapat menjaga tren pertumbuhan produksinya.
Selain itu, BRMS juga tengah merampungkan perluasan Pabrik 1 CIL (Carbon-in-Leach) dari kapasitas 500 ton bijih per hari menjadi 2.000 ton bijih per hari. Dampak penuh dari perluasan ini dijadwalkan menyokong pertumbuhan volume produksi pada semester kedua 2026
Konstruksi tambang bawah tanah di Blok 1 Poboya juga terus dikejar (pembangunan paste plant dan penggalian lateral). Fase penambangan bawah tanah ini ditargetkan mulai beroperasi penuh pada tahun 2027.
Keunggulannya adalah kadar emas jauh lebih tinggi (rata-rata 4,9 gram per ton) dibandingkan metode tambang terbuka (open pit) yang saat ini berkisar di 1,4 - 1,5 gram per ton.

Prospek BUMI Targetkan 50% Revenue dari Non Batu Bara
Kembali ke BUMI, aksi divestasi CPM ke BRMS pada dasarnya merupakan bagian dari strategi pengelolaan aset agar lebih efisien. Pasalnya, BRMS memang memiliki keahlian yang lebih kuat dalam mengelola bisnis tambang emas di Indonesia. D
Dengan langkah ini, BUMI dapat lebih fokus mengembangkan portofolio bisnis non-batu bara, khususnya aset-aset di luar negeri.
Strategi tersebut juga sejalan dengan komitmen manajemen untuk meningkatkan kontribusi pendapatan dari bisnis non-batu bara hingga mencapai 50 persen dari total pendapatan pada 2031.
Sebagai pengingat lagi, pada tahun lalu, BUMI agresif akuisisi aset emas dan tembaga di Australia :
- Akuisisi Wolfram Limited, perusahaan tembaga dan emas senilai Rp699 miliar dengan 100 persen kepemilikan. Transaksi selesai November 2025.
- Akuisisi Jubilee Metals Limited, perusahaan emas senilai Rp347 miliar dengan kepemilikan 64,98 persen. Transaksi sudah selesai Desember 2025.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi BUMI keluar dari batu bara menuju mineral lain (emas, tembaga, dll), dengan target EBITDA 50:50 antara batu bara dan non-batu bara pada 2031.

Kesimpulan
Grup Bakrie saat ini tengah aktif melakukan penataan portofolio bisnisnya. DEWA mulai membagikan dividen perdana sebagai sinyal perbaikan fundamental, sementara BUMI melakukan divestasi aset emas ke BRMS agar pengelolaan bisnis menjadi lebih fokus sesuai keahlian masing-masing.
Berbagai langkah ini mencerminkan strategi grup untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat pertumbuhan jangka panjang di sektor pertambangan.
Namun, muncul satu pertanyaan. Jika fundamental dan arah bisnisnya mulai membaik, mengapa harga saham emiten-emiten Grup Bakrie masih belum banyak bergerak dan cenderung tetap lesu?
Sebenarnya, tantangan paling utama yang menerpa saham DEWA, BUMI, dan BRMS lebih banyak karena risiko pasar.
Secara makro, belum bisa dikatakan ekonomi baik-baik saja, masih ada kekhawatiran soal fiskal dan moneter, terutama tren suku bunga yang naik lebih cepat dari perkiraan.
Secara teknikal, tren-nya relatif mirip, semuanya sedang turun dan belum kelihatan adanya akumulasi.

Seiring dengan tren turun, risiko outflow juga masih membayangi akibat review MSCI masih berlanjut sampai November 2026. BUMI dan BRMS masih masuk konstituen MSCI, sementara DEWA belum, tetapi efek satu grup ini saling berkaitan satu sama lain.
Namun, dibalik penurunan harga saham itu, sebenarnya peluang juga masih ada, karena narasi masih on track dengan sederet aksi korporasi yang dilakukan seperti pembagian dividen DEWA, akuisisi tambang emas, tembaga, dan lainnya.
Hanya saja, pelaku pasar masih belum banyak merespon itu karena risiko pasar dan teknis masih mendominasi, ketika nanti kondisi ekonomi membaik dan outflow sudah mereda, harusnya harga saham akan kembali pulih.
PR-nya kita belum bisa menentukan seberapa jauh bottom ini akan tersentuh, sehingga strategi cicil beli bertahap lebih bijak dilakukan, sambil tetap sedia cash buffer untuk jaga-jaga beli dengan porsi lebih banyak di posisi harga yang lebih bawah.
Jadi, gimana menurut kalian paling menarik lirik saham DEWA, BUMI, atau BRMS? atau malah ketiganya?
Kami Sudah Rilis Pilihan Saham Value, Growth, Dividend, Contrarian Investing Terbaru yang Bisa Dilirik Pada Juli 2026
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
