AKRA Mau Garap Kapal FSRU LNG Senilai Rp5 triliun, Begini Prospeknya
Ekspansi bisnis ke sektor LNG semakin digencarkan AKRA, baru-baru ini kabarnya mau bangun kapal FSRU senilai Rp5,75 triliun. Kira-kira gimana prospeknya? dan seberapa besar nanti akan pengaruh ke profitabilitas?
Mikirduit - PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) kembali menunjukkan keseriusannya memperluas bisnis energi.
Baru-baru ini, melalui perusahaan patungan AKRA bersama BW Singapore, PT Andalanesa Energi Primer (AEP), AKRA menunjuk Hyundai Heavy Industries asal Korea Selatan untuk membangun Floating Storage Regasification Unit (FSRU) berkapasitas 170.000 meter kubik dengan nilai investasi US$319,69 juta atau sekitar Rp5,75 triliun (berdasarkan kurs Rp18.000/US$)
Adapun, pembayarannya akan dicicil sebanyak enam kali, kontrak sudah ditandatangani pada 30 Juni 2026 lalu dan targetnya akan beroperasi pada pertengahan 2029.
Sebagai informasi, AKRA memiliki 49 persen kepemilikan di AEP. Kehadiran FSRU ini menjadi langkah strategis yang membawa AKRA masuk lebih dalam ke rantai pasok LNG, setelah selama puluhan tahun dikenal sebagai pemain utama di bisnis distribusi BBM dan bahan kimia dasar.
Lantas, seberapa besar nanti dampaknya bagi profitabilitas AKRA? mari kita ulas satu per satu.
Ekspansi LNG Sudah Disiapkan Sejak Lima Tahun Lalu
Sebenaarnya, masuknya AKRA ke bisnis LNG bukanlah keputusan yang muncul secara tiba-tiba. AKRA telah membangun fondasinya secara bertahap dalam waktu lima tahun terakhir.
Mulai dari 2021 silam, AKRA mendirikan perusahaan patungan PT Berkah Buana Energi (BBE) bersama PT Bayu Buana Gemilang (BBG).
Fokus awalnya adalah membangun jaringan distribusi gas pipa untuk memenuhi kebutuhan tenant industri di kawasan JIIPE (Java Integrated Industrial and Ports Estate) Gresik.
Menurut catatan kami, usaha patungan tersebut telah mulai beroperasi di kawasan JIIPE. Pendapatan dari penjualan gas kepada tenant industri dicatat sebagai bagian dari pendapatan segmen kawasan industri.
Memasuki periode 2023–2024, AKRA kemudian menggandeng bp Gas & Power melalui Joint Development Agreement (JDA) untuk mengembangkan fasilitas impor LNG dan terminal regasifikasi di JIIPE.
Proyek ini dirancang tidak hanya memenuhi kebutuhan energi tenant kawasan industri, tetapi juga berpotensi menyalurkan surplus gas ke wilayah Jawa Timur.
Sejauh ini, proyek tersebut masih dalam tahap pembangunan (proses konstruksi/FEED study), target operasionalnya direncanakan pada 2027 mendatang.
Kini, pembangunan kapal FSRU menjadi kepingan penting yang melengkapi ekosistem LNG tersebut.
Sebagai informasi dulu, bentuk kapal FSRU itu adalah kapal tanker LNG (Gas Alam Cair) yang dimodifikasi atau dirancang khusus dengan fasilitas tambahan di geladaknya untuk mengubah gas cair kembali menjadi gas alam.
Kapal ini berfungsi sebagai terminal terapung untuk menerima, menyimpan, dan menyalurkan gas.

Sesuai namanya kapal, maka sifatnya mobile/floating. Nantinya, kapal ini bisa digunakan untuk menyuplai gas ke JIIPE, menyalurkan gas ke wilayah lain di Jawa Timur atau bahkan luar Jawa, sampai trading LNG/regasifikasi ke customer di luar kawasan.
Menurut kami, kapal FSRU bisa dijadikan sumber penghasilan yang secara akuntasi masuk ke pendapatan segmen Perdagangan dan Distribusi, bukan hanya utilitas di kawasan JIIPE.

Kapal FSRU, Penguat Daya Saing JIIPE
Membahas soal kapal FSRU dan JIIPE, ini bisa menjadi satu keunggulan kompetitif AKRA ke depan.
Sebagai pengelola kawasan industri yang juga berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) bersama Pelindo, JIIPE telah menarik sejumlah investor besar seperti Freeport Indonesia, Hailiang, Golden Elephant, dan berbagai perusahaan manufaktur lainnya.

Ketersediaan pasokan LNG yang stabil akan menjadi nilai tambah penting bagi kawasan tersebut. Selain meningkatkan daya tarik bagi tenant baru, AKRA juga berpotensi memperoleh pendapatan berulang (recurring income) dari layanan utilitas dan distribusi gas.
Hasilnya sudah mulai kelihatan sejak awal mula ekspansi pada 2021 silam, pada kuartal I/2026, kawasan industri memberikan pendapatan Rp591 miliar, melejit 220 persen secara tahunan (yoy).
Seiring dengan itu, pendapatan dari utilitas naik 18 persen yoy sejalan dengan makin banyaknya pabrik tenant yang mulai beroperasi di dalam kawasan KEK JIIPE Gresik.
Secara growth memang ciamik, tetapi perlu diakui kontribusinya masih relatif kecil, kurang dari 5 persen dari total pendapatan AKRA sebesar Rp12,94 triliun.
Meski begitu, menurut kami, kontribusinya akan terus meningkat, ketika sudah banyak pabrik beroperasi, ditambah fasilitas pendukungan, termasuk LNG ini jalan. Kemungkinan baru akan lebih terasa di laporan keuangan pada 2027 - 2029 mendatang.
Peluang Bisnis LNG Bagi AKRA
Masuknya AKRA ke bisnis LNG juga bukan tanpa alasan. Jika dilihat dari prospek industrinya, segmen ini menawarkan peluang pertumbuhan yang cukup menjanjikan.
LNG saat ini berperan sebagai bridge fuel yang sangat strategis dalam proses transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
Di tengah masih tingginya ketergantungan batu bara dan BBM, LNG menawarkan emisi karbon yang jauh lebih rendah (sekitar 50-60 persen lebih bersih dibanding batu bara) sekaligus pasokan yang lebih fleksibel.
Prospek LNG domestik masih sangat cerah hingga 2030. Penurunan produksi gas pipa dari lapangan mature membuat industri dan PLN semakin bergantung pada LNG.
Kebutuhan listrik yang terus tumbuh serta target pemerintah meningkatkan porsi gas dalam bauran energi menjadi pendorong utama. PLN EPI saja memproyeksikan kebutuhan LNG mencapai lebih dari 10 juta ton per tahun pada 2030.
Mengutip data terbaru dari Trading Economics per 2 Juli 2026, harga gas alam Amerika Serikat (US natural gas) saat ini bertahan di kisaran US$3,20 per MMBtu.

Dalam beberapa bulan terakhir, harganya mengalami kenaikan didorong oleh peningkatan aliran gas ke pabrik ekspor LNG dan proyeksi permintaan listrik yang mencetak rekor.
Gelombang panas ekstrem sedang melanda AS, dengan suhu di New York City diprediksi mencapai 100 derajat Fahrenheit. Akibatnya, pembangkit listrik berbahan gas, yang menyumbang sekitar 40 persen listrik AS, diperkirakan akan membakar bahan bakar jauh lebih banyak.
Rata-rata aliran gas ke fasilitas ekspor utama naik menjadi 17,4 miliar kaki kubik per hari pada Juni, sementara produksi di Lower 48 states meningkat menjadi 110,0 miliar kaki kubik per hari.
Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan LNG global tetap kuat, terutama dari pasar ekspor. Bagi Indonesia, hal ini membuka peluang baik sebagai produsen maupun importir strategis.
Melihat demand yang masih bertumbuh, AKRA melihat peluang itu. Jika dihubungkan ke JIIPE, pasokan energi yang lebih besar dari LNG juga dibutuhkan untuk tenant industri berskala besar.
Jika kapasitas gas berlebih, pasokannya juga masih potensial dijual ke jaringan gas Jawa Timur yang masih mengalami defisit struktural.
Prospek diversifikasi bisnis dari distribusi BBM menuju LNG juga membuka peluang pendapatan berulang dari sektor utilitas dan logistik energi.
Hal terebut sejalan dengan agenda pemerintah dalam meningkatkan ketahanan energi nasional dan mendorong dekarbonisasi industri.
Tantangan Juga Tetap Ada
Namun, di balik prospek yang menarik, proyek ini juga memiliki sejumlah tantangan.
Nilai investasi kapal FSRU tergolong besar sehingga membutuhkan pendanaan yang kuat, meski begitu, AKRA menggandeng mitra berpengalaman seperti bp, BW Singapore, dan Hyundai Heavy Industries, sehingga risiko eksekusi menjadi lebih terukur.
Selain itu, proyek ini memiliki waktu pembangunan yang cukup panjang dengan target operasi pada 2029. Perubahan regulasi, proses perizinan, kondisi permintaan industri, hingga fluktuasi harga LNG global juga menjadi faktor yang perlu terus dicermati.
AKRA juga akan bersaing dengan pemain besar di sektor LNG seperti Pertamina dan PLN Energi Primer Indonesia dalam mengembangkan bisnis gas nasional.
Kesimpulan
Untuk saat ini, mesin utama pendapatan AKRA masih berasal dari bisnis distribusi BBM, bahan kimia, serta penjualan lahan di JIIPE. Margin perusahaan juga masih relatif terjaga meski menghadapi tekanan biaya operasional.
Di sisi lain, LNG merupakan strategi diversifikasi jangka panjang yang dipersiapkan sejak beberapa tahun terakhir.
Dampaknya terhadap pendapatan memang belum akan terasa dalam waktu dekat, tetapi berpotensi meningkat signifikan setelah terminal LNG mulai beroperasi dan jumlah tenant industri di JIIPE terus bertambah.
Melalui pembangunan FSRU ini, AKRA perlahan bertransformasi dari sekadar distributor BBM menjadi pemain yang lebih terintegrasi di rantai pasok energi nasional.
Ke depan, kita patut mencermati perkembangan konstruksi proyek, pertumbuhan tenant JIIPE, serta bagaimana perusahaan mulai memonetisasi bisnis LNG sebagai salah satu mesin pertumbuhan baru.
Kamu Butuh Insight dan Ide Saham Jangka Menengah-panjang hingga Swing Trading?
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
