23 Digest: Berharap Saham Komoditas dan GOTO di Oktober?

23 digest september

Hai para Pemikir Duit, pasar saham di September 2023 ternyata mengikuti siklusnya, yakni ditutup merah. Meski, ditutupnya sangat tipis, yakni 0,19 persen. Menariknya, penurunan di bulan September 2023 ini mejadi yang terendah dalam 25 tahun terakhir. Lalu, apakah akan ada tanda bullish di Oktober 2023?

siklus IHSG 15 tahun terakhir
Seasonality IHSG 15 tahun terakhir, setiap September memang cenderung merah dan ada potensi menguat di Oktober. Penyebabnya, ada siklus laporan keuangan, di mana setiap ada laporan keuangan, tren IHSG cenderung naik.

Menariknya, mau Septembernya merah atau hijau, peluang pasar saham bullish di Oktober itu sebesar 67 persen, setidaknya dalam 25 tahun terakhir. Apakah menjadi pertanda bagus?

Kita bisa melihat pergerakan investor asing di pasar saham. Dalam sebulan terakhir, investor asing mulai ambil untung di saham big caps. Tercatat, saham yang paling banyak dibuang asing adalah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) senilai Rp2,2 triliun. Lalu, yang kedua adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) senilai Rp1,5 triliun. Selisih aksi jual asing kedua saham bank besar itu dibandingkan dengan saham yang paling sering dilepas asing yang ketiga cukup jauh.

Saham ketiga yang paling sering dilepas asing adalah PT GojekTokopedia Tbk. (GOTO) yang mencatatkan aksi jual bersih asing senilai Rp451 miliar.

Selain itu, di posisi keempat ada PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) yang mencatatkan net sell asing senilai Rp336 miliar, serta di posisi keenam ada PT Astra International Tbk. (ASII) senilai Rp205 miliar.

Aksi jual dan beli bersih investor asing di BEI sepanjang September 2023
Aksi beli dan jual bersih investor asing dalam sebulan terakhir. Beberapa saham big caps seperti BBCA, BBRI, ASII menjadi target jual asing, terutama dua bank besar yang disebut di awal. Akankah, keduanya bangkit di Oktober 2023?

Di sisi lain, pergerakan aksi beli investor asing beralih kepada dua bank besar lainnya, yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) senilai Rp1,2 triliun, serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang berada di posisi keempat senilai Rp243 miliar.

Lalu, di posisi kedua dan ketiga ada PT Amman Mineral International Tbk. (AMMN) senilai Rp722 miliar, serta PT Bumi Resources Mineral Tbk. (BRMS) senilai Rp369 miliar. Adapun, tingkat net buy asing saham BRMS ada kaitannya dengan perseroan yang masuk ke indeks global, yakni FTSE small caps indeks pada pertengahan September 2023. Hal itu ditenggarai yang mendorong daya beli asing menjadi cukup tinggi.

Hal itu juga yang mendorong aksi beli asing di saham PT Bumi  Resources Tbk. (BUMI)  senilai Rp140 miliar, serta PT Map Aktif Adiperkasa Tbk. (MAPA) senilai Rp65,2 miliar.

Adapun, saham yang dilego asing sepanjang September 2023 bisa jadi malah bangkit di Oktober 2023 karena beberapa faktor. Salah satunya, pembagian dividen interim yang dilakukan PT Astra International Tbk. (ASII) sekitar akhir Oktober 2023.

Meski, dividen interim ASII tidak akan terlalu besar, tapi bisa menjadi salah satu penyokong permintaan beli saham konglomerasi tersebut.

Kami ekspektasikan dividen interim ASII pada akhir Oktober 2023 nanti sekitar Rp96 per saham. Jika dihitung dengan harga saat ini, berarti tingkat dividen yieldnya sekitar 1,5 persen.

Selain ASII, BBCA juga menjadi salah satu saham yang paling rutin bagi dividen interim. Namun, BBCA biasanya baru bagi dividen interim di akhir November atau awal Desember. Meski begitu, ada sentimen yang bisa mendorong harga BBCA lebih tinggi lagi, yakni laporan kinerja keuangan yang kinclong.

Hal itu pula yang membuat beberapa siklus saat laporan keuangan IHSG cenderung hijau, seperti April (saat laporan kuartal pertama), Juli (saat laporan kuartal kedua), Oktober (saat laporan kuartal ketiga), dan Februari-Maret (saat laporan kuartal keempat).

Saham Komoditas Siap Bangkit, Pilih CPO atau Batu bara?

Sementara itu, dua saham komoditas yang lagi terpuruk, yakni batu bara dan perkebunan kelapa sawit berpotensi bangkit di kuartal ketiga.

Saham batu bara mendapatkan angin segar dari faktor cuaca, yakni Elnino. Kehadiran Elnino membuat kebutuhan listrik di China dan India meningkat drastis. Gara-gara Elnino, pembangkit listrik tenaga air di negara tersebut tidak berfungsi dengan baik karena intensitas air yang menyusut.

Sehingga China mulai mengaktifkan lagi pembangkit listrik tenaga batu bara agar kebutuhan daya listrik di negara tersebut bisa terpenuhi, serta mulai memasok batu bara lagi. Meski, salah satu tujuan besarnya kali ini impor dari Australia. Namun, ada peluang juga beberapa jumlah pasokan ambil dari Indonesia.

Begitu juga dengan India, Negeri Bollywood mencatatkan kenaikan kebutuhan listrik selama periode Elnino disebabkan kelompok petani mengaktifkan pompa irigasi untuk menjaga kebun dan lahan pertaniannya terhindar dari risiko gagal panen. Belum lagi, suhu yang panas membuat permintaan daya listrik untuk pendingin rumah juga meningkat.

India pun langsung meningkatkan kuota impornya juga untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kisah lengkap tentang kinerja saham batu bara ini sudah kami tulis beberapa pekan lalu di sini. BACA JUGA: Berkah Elnino untuk Saham Batu Bara, Bikin Bangkit atau Malah Tiarap?

Namun, kami ekspektasikan potensi permintaan daya beli dari India dan China tidak berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan saham batu bara. Pasalnya, mereka saat ini berada dalam fase normalisasi dari harga batu bara yang sangat tinggi menjadi harga normal. Sehingga, posisi terbaik kinerja keuangan batu bara di 2023 adalah tidak turun sedalam ekspektasi sebelumnya.

Sementara itu, saham CPO juga terlihat mulai mendapatkan secercah harapan. Setelah pada periode pasca pandemi dihadapkan oleh harga pupuk yang tinggi, terutama 2022, kini saham CPO mulai bisa bernapas lega. Harga pupuk kembali normal, di mana pupuk menjadi salah satu biaya operasional terbesar bagi emiten perkebunan tersebut.

Ditambah, harga CPO juga mulai menanjak dari harga terendahnya pada Juni 2023 sebesar 9,53 persen pada akhir September 2023. Hal itu didorong dari efek Elnino, di mana ternyata di beberapa perkebunan sawit milik emiten tetap mendapatkan curah hujan yang normal. Artinya, ada kenaikan harga dan produksi bisa berjalan lancar membuat ada peluang pertumbuhan kinerja bisa lebih positif.

Kisah tentang CPO juga kami ulas bersamaan dengan meluruskan sentimen bursa CPO yang dihubungkan dengan potensi saham CPO yang kami nilai tidak punya korelasi kuat di sini. BACA JUGA: Bukan Bursa CPO, Ini yang Bisa Jadi Pemantik Harga Saham CPO

Namun, ada juga risiko beberapa saham CPO yang punya tanaman berumur tua akan sulit mencatatkan kenaikan produksi cukup tinggi pada tahun ini. Salah satu saham CPO yang memiliki usia pohon yang sudah tua adalah PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) yang kini lagi mulai replanting sepertiga dari tanamannya yang sudah berusia di atas 20 tahun.

Untuk melakukan itu, AALI sudah menyiapkan belanja modal Rp1,4 triliun pada 2023 di mana sekitar Rp600 miliar untuk replanting sekitar 5.000 hektar lahan perkebunannya.

Bursa Karbon yang Masih Sunyi Senyap

Euforia sejak 5 bulan lalu, setelah rilis langsung dicuekin?

Bursa karbon yang dinantikan resmi dirilis pada 26 September 2023. Sayangnya, bursa karbon masih sunyi senyap. Selama tiga hari pertama setelah dirilis, bursa karbon tanpa transaksi dan harganya tetap di Rp77.000 per unit karbon dengan total pengguna jasa sekitar 17.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menjelaskan bursa karbon masih tahap awal, jumlah pengguna jasa juga belum banyak. Sehingga masih perlu sosialisasi dan pertemuan untuk mengajak perusahaan potensial bertransaksi.

BEI mengklaim lagi memproses beberapa calon pengguna jasa baru bursa karbon, dari sisi penjual maupun pembeli.

Sementara itu, saham-saham terkait energi baru terbarukan dan diperkirakan mendapatkan keuntungan dari bursa karbon langsung melmepem setelah perilisan bursa tersebut pada 26 September 2023.

Dalam sepekan terakhir, harga saham PT Kencana Energi Lestari Tbk. (KEEN) turun paling parah sebesar 17,79 persen. Disusul, PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO) turun 14 persen, serta PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) turun 12,46 persen. Disusul, PT Mutuagung Lestari Tbk. (MUTU) turun 12,04 persen, serta PT Pertamina Geothermal Tbk. (PGEO) turun 8,25 persen.

BACA JUGA: Review 5 Saham yang Bisa Diuntungkan dari Bursa Karbon

Penurunan itu terjadi bisa disebabkan oleh rilisnya bursa karbon atau aksi sell on news. Alasannya, kenaikan harga saham energi baru terbarukan dan yang terkait bursa karbon itu terlalu tinggi. Sehingga, ketika perilisan resminya malah jadi koreksi. Soalnya, rata-rata mengambil untung terlebih dulu. Apalagi, efek bursa karbon belum langsung terasa terhadap kinerja keuangan emiten.

BACA JUGA: Review 6 Saham Panas Bumi yang Diuntungkan dari Bursa Karbon

Kapan Bursa Karbon Bisa Berefek ke Kinerja Emiten yang Zero Carbon?

Sepinya transaksi bursa karbon wajar karena bursa itu dirilis tanpa kebijakan pendukungnya, yakni pajak karbon. Sehingga, saat ini status transaksi beli karbon bagi perusahaan yang memiliki emisi tinggi sifatnya sukarela.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, pemerintah Indonesia masih terus mematangkan implementasi pajak karbon. Nantinya, pajak karbon yang diterapkan untuk antisipasi mekanisme penyesuaian karbon perbatasan atau Carbon Border Adjustment Mechanisme (CBAM) yang akan diterapkan Uni Eropa (EU) mulai 2026.

"Eropa akan terapkan CBAM pada 2026. Lalu, mereka akan sosialisasi di 2024. Untuk itu, industri di Indonesia harus siap menjadi basis energi hijau dan menjadi industri bersih, di sana perlu ada investasi," ujar Airlangga di Istana negara pada 26 September 2023.

Lalu, penerapan pajak karbon di Indonesia dilakukan sebagai alternatif kepada dunia usaha untuk mengurangi emisi karbon. Target pengurangan emisi gas rumah kaca Nationally Determined Contribution (NDC) sekitar 31,89 persen untuk kemampuan sendiri, dan 43,2 persen dengan bantuan internasional.

Airlangga pun menjelaskan, pajak karbon itu ada dua. Pertama, sifatnya sukarela dan satu lagi kewajiban. Nah, yang sukarela itu melalui bursa karbon Indonesia, sedangkan pajak karbon hanya melengkapi. Jadi, kalau tidak diperdagangkan di dalam bursa, baru akan dicari melalui pajak karbon," ujarnya.

Adapun, jika melihat dari kebijakan CBAM Eropa, harusnya transaksi di bursa karbon di Indonesia mulai muncul sedikit demi sedikit sejak 1 Oktober 2023. Pasalnya, Eropa akan mulai melakukan tahapan transaksi kebijakan CBAM, sebuah sistem mekanisme untuk pembatasan emisi karbon dari Eropa, itu pada 1 Oktober 2023.

Dalam tahap awal itu, CBAM akan berlaku untuk produk dengan risiko karbon paling besar, yakni sektor semen, besi dan baja, aluminium, pupuk, listrik, dan hidrogen. Namun, dalam tahap ini, para importir ke Eropa tidak perlu melakukan pembayaran atau penyesuaian finansial apapun. Jadi, para importir di sektor tersebut cukup melaporkan emisi gas rumah kaca dari produknya secara langsung maupun tidak langsung.

Jadi, 1 Oktober 2023 baru mulai melakukan pengumpulan data yang maksimal diserahkan pada akhir Januari 2024. Nantinya, sistem CBAM di Eropa ini akan mulai berlaku pada 1 Januari 2026 di mana barang yang akan diimpor ke Eropa harus dilengkapi dengan sertifikasi CBAM yang sesuai.

Nantinya, harga sertifikat akan dihitung berdasarkan harga lelang rata-rata mingguan dari sisten perdagangan emisi Eropa (ETS) yang dinyatakan dalam euro per ton emisi CO2.

Lalu, secara pararel penerapan CBAM dilakukan setelah alokasi gratis selama proses pengumumpulan data kandungan emisi karbon produk sejak 2026 hingga 2034.

Untuk itu, perusahaan-perusahaan di Indonesia yang punya ekspor ke  Eropa mau tidak mau harus mempersiapkan diri agar bisa mencatatkan zero carbon. Di mana, Zero carbon ini bukan berarti tidak menghasilkan emisi karbon lagi, melainkan bertanggung jawab atas karbon yang telah dikeluarkan dengan membeli kredit karbon dari para usaha yang menyerap karbon seperti, panas bumi, pemilik lahan hutan konsesi, dan sebagainya.

Di sinilah fungsi bursa karbon di Indonesia sebagai persiapan netralisir karbon dari para industri yang menghasilkan karbon dalam jumlah besar sejak dini, sebelum CBAM diterapkan.

Dari sini, perusahaan yang memiliki bisnis zero carbon bisa mendapatkan omzet tambahan dari penjualan credit carbon tersebut. Namun, efeknya baru akan mulai terlihat di 2024. Meski, beberapa emiten seperti PGEO dan BRPT sudah mendapatkan pendapatan dari credit carbon. Namun, keberadaan bursa karbon diharapkan bisa meningkatkan harga credit carbon yang dijajakan para emiten energi baru terbarukan.

Jelang Akhir 2023, Banyak yang Menanti Kejutan GOTO?

Akankah GOTO bisa bangkit lagi dan tidak akan terjatuh lagi?

Masih ingat janji manis GOTO? target mereka bisa mencatatkan Ebitda adjusted yang disesuaikan pada akhir 2023. Di sisi lain, harga saham GOTO sudah turun sebesar 66 persen dalam setahun terakhir. Lalu, bagaimana perkiraan beberapa riset sekuritas global dan lokal terkait saham tersebut.

Kami menemukan sekitar empat riset terkait saham GOTO di September 2023. Keempat riset itu berasal dari UBS Securities Asia, CGS-CIMB, BRI Danareksa, dan Indopremier Sekuritas. Keempatnya pasang rekomendasi BUY untuk saham teknologi tersebut.

Pertama, UBS Securities Asia mengubah rekomendasinya dari netral menjadi beli untuk GOTO. Alasannya, mereka menilai risk-reward raksasa teknologi Indonesia itu menarik karena operasional bisnis yang lebih baik, dan harga saham turun ke level terendah dalam sejarah sejak IPO.

UBS menilai valuasi GOTO berdasarkan Enterprise Value (EV) per sales ratio sekitar 1,9 kali. Analis UBS menilai, valuasi GOTO berada di posisi menarik dibandingkan dengan Grab , yang merupakan pesaingnya. Grab memiliki EV to sales ratio 2,3 kali. Walaupun, dari sisi valuasi, SEA tetap paling murah, yakni 1,2 kali.

Dengan rekomendasi beli itu, UBS memasang target price untuk GOTO di level Rp130 per saham. Artinya, ada potensi kenaikan sekitar 52 persen dari harga penutupan 29 September 2023.

Di sisi lain, analis UBS sempat menilai ada potensi gross transaction value terkoreksi jangka pendek akibat omzet dari Tokopedia yang melambat. Hal itu disebabkan persaingan yang ketat.

BACA JUGA: Tiktokshop DIlarang, GOTO, BUKA, BELI Nyengir?

Namun, setelah ada perseteruan pelarangan kebaradaan Tiktokshop, analis UBS memperkirakan gross transaction value GOTO lebih stabil di kuartal III/2023, hingga akhirnya pulih dalam periode selanjutnya.

UBS juga yakin GOTO bisa mencapai targetnya untuk mencatatkan Ebitda adjusted positif pada akhir 2023.

Kedua,  CGS CIMB juga mematok rekomendasi buy dengan target price Rp130 per saham seperti UBS. Riset CGS CIMB pada 7 September 2023 optimistis dengan GOTO karena ekspektasi perseroan mampu mencapai target bisa mencapai EBITDA disesuaikan yang positif di akhir 2023.

Di bawah Patrick Walujo sebagai CEO yang baru, GOTO pun mulai mengeksplorasi produk buy now pay later dan penawaran pinjaman tunai di seluruh aplikasinya. Hal itu disebut menjadi reinvestasi taktis yang bisa mendorong pertumbuhan gross transaction value GOTO.

Belum lagi, dengan dilarangnya Tiktokshop disebut bisa membuat persaingan di segmen e-commerce lebih mereda. Dengan perhitungan sum of the parts (SOP) itu, CGS CIMB pasang target price Rp130 per saham. Meski, ada risiko jika realitanya gross transaction value lebih lambar dari ekspektasi dan persaingan makin panas bisa mempengaruhi target EBITDA disesuaikan bisa positif di akhir tahun.

Ketiga, BRI Danareksa lebih agresif mematok rekomendasi beli dan target price untuk GOTO. Sekuritas milik BUMN itu mamatok target price GOTO di Rp150 per saham. Jika dihitung dari harga penutupan 29 September 2023 berarti ada peluang kenaikan hingga 76 persen.

Narasi BRI Danareksa pasang target agresif di GOTO senada dengan riset lainnya, yakni keyakinan GOTO bisa mencapai target EBITDA adjusted positif di akhir 2023. BRI Danareksa mengungkapkan gross transacation value GOTO bisa mencapai Rp50 triliun per bulan pada kuartal III/2023 dan momenutm di kuartal IV/2023.

Untuk itu ada beberapa hal positif dari GOTO menurut BRI Danareksa seperti, GOTO bisa melakukan tracking untuk mendapatkan pengguna yang memberikan keuntungan, yakni yang berkontribusi kepada 75 persen gross transaction value-nya. Lalu, bisa memperluas pasar untuk layanan baru seperti aplikasi Gopay terbaru.

Gross transaction value juga bertumbuh karena Tokopedia kembali melakukan promo cashback dan gratis ongkir lewat kerja sama dengan merchant. Lalu, ekspansi Gojek ke kota tier-2 bisa mendorong penetrasi Gofood yang masih rendah.

Di sisi lain, BRI Danareksa melihat harga saham GOTO turun ke bawah Rp90 per saham karena indikasi kekhawatiran persaingan panas dengan Shopee dan Lazada. Namun, gross transaction value mulai mencatatkan pertumbuhan positif di kuartal III/2023. Dengan sum of the part (SOTP) dari 3 platform, BRI Danareksa pasang target price di Rp150 per saham.

Keempat, berbeda dengan tiga sekuritas lainnya, Indopremier menjadi yang paling pesimistis terhadap GOTO, meski masih memasang target price tinggi. Indopremier rekomendasi BUY untuk GOTO dengan target beli Rp125 per saham. Target price baru ini lebih rendah 9,4 persen dari target price sebelumnya. Artinya, ruang kenaikannya hanya sekitar 47 persen dari harga penutupan 29 September 2023.

Indopremier pasang narasi paling pesimstis dengan asumsi gross transaction value GOTO memang mulai tumbuh di kuartal III/2023, tapi secara tahunan diperkirakan masih datar atau sedikit koreksi di akhir tahun.

Selain itu, Indopremier juga memangkas target price GOTO dengan alasan agar sejalan dengan valuasi GRAB yang memiliki Enterprise Value per sales 4,3 kali.

Beberapa risiko saham GOTO antara lain, pertumbuhan gross transaction value akumulasi setahun masih lemah. Meski, GOTO telah berupaya untuk meningkatkan gross transaction value dengan cara mengambil segmen menengah ke bawah untuk e-Commercenya. Strategi itu dilakukan untuk meningkatkan tingkat pembiayaan dari segmen Goto Financial.

Bisnis GOTO Financial memang menjadi kunci pertumbuhan bisnis GOTO. Bisnis pembiayaan GOTO diperkirakan bisa menyalurkan pembiayaan hingga Rp2 triliun pada kuartal IV/2023 dibandingkan dengan Rp1 triliun pada kuartal II/2023. Bisnis GOTO Financial didorong oleh produk pinjaman tunai dan paylater.

Apalagi, dari sisi kredit bermasalahnya masih satu digit, dengan pay later memiliki kualitas kredit yang lebih baik.

Dari empat riset ini, keempatnya menyakini pertumbuhan gross transaction value GOTO bisa naik di kuartal III/2023, tapi secara keseluruhan masih cenderung stagnan hingga koreksi tipis.

Adapun, konsep dari EBITDA adjusted positif GOTO di akhir 2023 ini mengacu ke angka tiga bulan di kuartal terakhir, bukan full year. Jadi, jangan kaget ketiga tiga sekuritas yakin EBITDA adjusted GOTO positif, tapi di full year 2023 masih negatif. Dari guideline GOTO pada kuartal II/2023, mereka ekspektasikan sepanjang 2023, EBITDA Adjustednya masih negatif sekitar Rp3,8 triliun sampai Rp4,5 triliun.

Namun, apakah dengan positifnya EBITDA adjusted positif GOTO sepanjang tiga bulan di kuartal keempat bisa membawa harga sahamnya terbang bangkit ke atas Rp100 per saham? hal itu bisa saja terjadi mengingat saat ini harganya sudah sangat rendah, tapi dalam timeframe yang lebih dari sebulan. Meski, utnuk terbang tinggi sampai Rp130 sampai Rp150 per saham, kami sendiri masih cukup meragukan hal tersebut.

Apakah Oktober 2023 menjadi bulannya saham komoditas batu bara, CPO, hingga GOTO? semoga Oktober kali ini menjadi Hallowen yang have fun ya.

Mau dapat guideline saham dividen 2024?

Pas banget, Mikirduit baru saja meluncurkan Zinebook #Mikirdividen yang berisi review 20 saham dividen yang cocok untuk investasi jangka panjang lama banget.

Kalau kamu beli #Mikirdividen edisi pertama ini, kamu bisa mendapatkan:

  • Update review laporan keuangan hingga full year 2023 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Siap mendapatkan dividen sebelum diumumkan (kami sudah buatkan estimasinya)

Tertarik? langsung saja beli Zinebook #Mikirdividen dengan klik di sini

Referensi

Surya Rianto

Surya Rianto

Ex-Journalist Stock Market Enthusiast
Indonesia