UNTR Rugi Besar di Bisnis Panas Bumi, Begini Dampak ke Prospek Kinerja Keuangannya
Saham UNTR lagi apes, mereka harus hapus buku dan catatkan impairment untuk bisnis panas bumi dalam bentuk investasi dan utang. Lalu, bagaimana dampaknya terhadap bisnis UNTR?
Mikirduit – Saham UNTR mengalami kerugian investasi di panas bumi Rantau Dedap di Sumatra Selatan dengan akuisisi sebagian saham PT Supreme Energi Rantau Dedap. Lalu, bagaimana dampaknya terhadap kinerja dan prospek anak usaha ASII ini?
UNTR berinvestasi ke panas bumi PT Supreme Energi Rantau Dedap pada Maret 2024. Waktu itu, UNTR akuisisi 20,2 persen perusahaan panas bumi itu dengan harga Rp1,26 triliun. Lalu, UNTR juga akuisisi 80,2 persen PT Supreme Energi Sriwijaya yang menjadi pemegang saham di Supreme Energi Rantau Dedap. Secara akumulasi langsung dan tidak langsung, UNTR punya kepemilikan di perusahaan panas bumi itu sekitar 40,4 persen.
Masalah mulai muncul di akhir 2025, dalam laporan tahunan, manajemen mencatat ada beberapa masalah operasional di Supreme Energy Rantau Dedap. Salah satunya adalah produksi listrik belum mencapai tingkat optimal sehingga perseroan mencatatkan impairment investasi di perusahaan tersebut senilai Rp866,1 miliar.
Dari catatan UNTR di akhir 2025, aset panas bumi itu masih beroperasi, tapi output keekonomiannya belum sesuai dengan ekspektasi ketika investasi dilakukan.
Hingga akhirnya, sampai di laporan keuangan kuartal II/2026 dirilis. UNTR menyebutkan ada masalah operasional di perusahaan panas bumi yang diakuisisinya tersebut. Nilai investasi Supreme Energy Rantau Dedap yang tadinya Rp1,5 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp0 di Juni 2026.
UNTR melakukan impairment investasi di perusahaan panas bumi itu hingga Rp1,47 triliun.
Salah satu yang jadi tanda-tanda ada risiko bisnis yang terjadi di perusahaan panas bumi itu adalah, UNTR merupakan pemberi pinjaman subordinasi kepada Supreme Energy Rantau Dedap senilai Rp1,08 triliun dengan jatuh tempo pada 2038. Mau dapat stockpick dari AI untuk saham AS dan Indonesia, kamu bisa klaim diskon spesial untuk Investing Pro, Langsung langganan di sini sekarang!
Per Juni 2026, piutang bagi UNTR itu menjadi Rp0. UNTR mengakui impairment seluruh saldo piutang tersebut. Artinya, UNTR bukan hanya rugi dari segi investasi di Supreme Energy Rantau Dedap karena dianggap akan sulit pulih, tetapi juga tagihan mengalami kerugian dari segi shareholder loan. Total impairment dari akhir 2025 hingga Juni 2026 sudah mencapai Rp3 triliun.
Secara akuntansi, UNTR bisa dibilang gagal total dari investasi ke panas bumi Rantau Dedap karena dari angka impairment nilai investasi hingga Rp0.
Di sisi lain, untuk memastikan dampak secara keseluruhan, kita perlu juga diketahui penyebab dari aksi impairment hingga Rp0 tersebut. Kami menelusuri terkait perkembangan panas bumi Rantau Dedap. Salah satu yang disorot dalam 1-2 tahun terakhir adalah dampak keberadaannya terhadap kehidupan warga sekitar, terutama masalah sungai yang mengering.
Namun, kami tidak mendapatkan informasi kalau panas bumi rantau dedap ini berhenti beroperasi sehingga bisa dikatakan bangkrut. Meski, aksi impairment hingga Rp0 dari segi investasi dan juga piutang mengindikasikan ada masalah serius.
Dampak Terhadap Kinerja UNTR Jika Panas Bumi Rantau Dedap Bangkrut
Jika dari segi nilai investasi dengan akumulasi impairment dari investasi dan pinjaman pemegang saham, dampaknya memang cukup besar senilai Rp3 triliun. Namun, biaya pencatatan impairment ini sifatnya akuntansi dan tidak akan berlanjut karena semua nilainya sudah Rp0 akibat dihapus buku.
Di sisi lain, dampak berkelanjutan dari sisi kinerja keuangan adalah ada potensi penurunan pendapatan dari bagian laba bersih di ventura bersama, serta entitas asosiasi.
Jika dilihat per 2025, entitas ventura bersama UNTR antara lain, PT Supreme Energy Rantau Dedap, Cipta Commodity Trading Pte. Ltd., dan Aegis Energy Trading Pte.Ltd. Dari ketiga perusahaan itu, akumulasi bagian ke laba bersih UNTR per 2024 mencatatkan Rp637 miliar, sedangkan di 2025 kerugian Rp245 miliar.
Lalu, di 2026 kembali mencatatkan bagian atas laba entitas ventura bersama senilai Rp33 miliar. Artinya, dampak ke laba-rugi jika panas bumi itu tidak beroperasi cenderung kecil.
Hanya saja akan menjadi catatan jika UNTR pernah gagal berinvestasi di panas bumi yang nilainya mencapai triliunan rupiah.
Toh, faktanya UNTR masih punya cash Rp18,65 triliun dan bisnis utamanya dari jualan alat berat, kontraktor tambang, tambang batu bara, tambang emas, hingga nikel, serta bisnis pembangkit listrik minihidro masih berjalan.
Namun, UNTR memang dilanda kisah-kisah kurang mengenakkan sepanjang 2026. Dari Tambang Martabe mau diambil Danantara hingga kejadian investasi panas bumi yang justru mengalami kegagalan.

Fakta Bisnis Panas Bumi yang Memang Berisiko
Secara karakter bisnis, pengembangan panas bumi memang memiliki tingkat risiko yang tinggi dengan modal yang besar. Apalagi, risikonya cukup beragam, dari risiko eksplorasi hingga konflik sosial dengan masyarakat setempat.
Salah satu contohnya adalah pembangkit listrik panas bumi Gunung Slamet yang dikejarkan SAE Geothermal sejak 2017. (Catatannya SAE Geothermal terafiliasi dengan perusahaan terbuka FUTR)
SAE Geothermal telah melakukan eksplorasi sejak 2017. Namun, hingga kini, panas bumi itu tidak kunjung masuk ke fase eksploitasi atau operasinal secara komersial.
Dalam beberapa catatan, kami menemukan informasi jika ternyata panas bumi di Gunung Slamet mengandung tingkat keasaman yang cukup tinggi sehingga agak berisiko membuat pipa mengalami korosi.
Namun, dari keterbukaan informasi yang terakhir, Manajemen FUTR mengungkapkan Grup Ardantara yang memiliki aset panas bumi itu melalui PT Sejahtera Alam Energy (SAE Geothermal) masih akan melaksanakan program pengeboran tahap kedua serta memulai pembangunan pembangkit listrik di lokasi tersebut pada semester II/2026.
Manajemen meng-klaim telah berinvestasi senilai 80 juta dolar AS sejak pembangunan tahap awal.
Di sisi lain, FUTR sempat mendapatkan catatan terkait ketidakpastian terkait kelangsungan usaha. Lalu, manajemen mengungkapkan pihaknya masih optimistis dengan bisnisnya dengan merujuk ke salah satu aset, yakni panas bumi di Gunung Slamet yang konon punya kapasitas hingga 220 MW.
Terkait perkembangan FUTR, sampai saat ini belum ada kabar terbaru terkait rencana right issue untuk memindahkan aset panas bumi milik SAE Geothermal ke perseroan yang dirumorkan akan dilakukan. Kami menilai aksi pengalihan aset itu baru akan terjadi jika site panas bumi SAE Geothermal benar-benar sudah beroperasi komersial. Jika ditanya kapan waktunya? itu semua akan tergantung dengan hasil eksplorasi dan pengeboran panas bumi yang dilakukan.
Mau Dapat Insight Saham hingga Manfaatkan Tools Analisis dari Mikirduit?
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
