Rumor Saham BULL Mau Rights Issue Buat Backdoor 30 Kapal LNG Grup Sinarmas, Begini Faktanya

BULL dirumorkan mau rights issue buat backdoor armada kapal milik grup Sinarmas, sebulan ini sahamnya juga ramai sampai terbang 40 persenan. Gimana prospeknya? apakah masih menarik dilirik? 

Share
saham BULL

Mikirduit - Saham emiten perkapalan, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) sudah naik kisaran 40 persen hanya dalam sebulan di tengah isu rumor mau rights issue untuk mengakuisisi armada kapal LNG dari grup Sinarmas. 

Pertanyaannya, apakah rumor itu sudah ada tanda-tanda hilalnya atau hanya sekadar narasi saja? Sebagai investor tentu perlu crosscheck hal ini supaya tidak terjebak FOMO. 

Update Rumor Rights Issue Saham BULL 

Sekitar dua hari lalu, rumor soal rights issue saham BULL santer terdengar di pasar. Melansir Bloomberg Technoz, aksi penambahan modal tersebut dikaitkan dengan rencana memasukkan 30 armada kapal LNG milik Grup Sinar Mas ke dalam BULL melalui skema backdoor listing.

Jika skenario tersebut benar terjadi, rights issue bukan hanya menjadi sumber pendanaan bagi BULL, tetapi juga bisa menjadi jalan bagi Grup Sinar Mas untuk menjadi pemegang saham pengendali sekaligus membawa bisnis pelayaran LNG mereka masuk ke pasar modal tanpa harus mencatatkan perusahaan baru dari awal.

Spekulasi ini semakin menguat setelah Grup Sinar Mas dikabarkan hampir menyelesaikan akuisisi Hyundai LNG Shipping dari IMM Private Equity dan IMM Investment Corp. Nilai transaksinya diperkirakan mencapai sekitar Rp31 triliun. 

Perlu diketahui, kapasitas Hyundai LNG Shipping mencapai 1,43 juta deadweight ton (DWT) atau sekitar 2,4 kali kapasitas armada BULL saat ini.

Setelah akuisisi rampung, Grup Sinar Mas diperkirakan akan menguasai sekitar 30 kapal LNG, sehingga muncul dugaan bahwa armada tersebut nantinya dapat diinjeksi ke BULL.

Menurut pantauan kami, berita itu masih sekadar rumor di pasar, belum ada keterbukaan atau tanggapan resmi dari perusahaan. 

Ada beberapa cocoklogi yang membuat rumor rights issue BULL dinilai cukup masuk akal.

Pertama, BULL memang sedang menjalankan transformasi bisnis dengan fokus memperbesar segmen LNG. 

Dalam press release yang dirilis pada 15 Desember 2025, manajemen menyatakan bahwa strategi pertumbuhan perusahaan tidak hanya dilakukan secara organik melalui pembelian kapal satu per satu, tetapi juga melalui akuisisi aset yang memberikan nilai tambah (value accretive acquisitions). 

Selain itu, BULL juga mengungkapkan sedang mengkaji berbagai aksi korporasi dan investasi strategis untuk memperkuat neraca keuangan guna mendukung ekspansi tersebut.

Kedua, hubungan BULL dengan Grup Sinar Mas sebenarnya sudah terjalin cukup lama. Sejak 2018, Bank Sinarmas telah menjadi salah satu pendukung pembiayaan BULL. 

Kedekatan hubungan tersebut dinilai membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, termasuk apabila Grup Sinar Mas ingin mengembangkan bisnis pelayaran LNG melalui BULL.

Ketiga, kebutuhan pendanaan untuk ekspansi LNG memang sangat besar. Hingga kuartal I/2026, total ekuitas BULL tercatat sekitar Rp3,61 triliun. 

Sementara itu, harga satu kapal LNG modern dapat mencapai sekitar US$220-280 juta atau setara Rp4-5 triliun per unit dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS. Artinya, nilai satu kapal LNG saja bahkan dapat melampaui total ekuitas BULL.

Karena itu, apabila perusahaan ingin mempercepat ekspansi melalui akuisisi armada LNG dalam jumlah besar, dibutuhkan tambahan modal yang signifikan. 

Hal inilah yang membuat pasar berspekulasi bahwa rights issue menjadi salah satu skema pendanaan yang paling masuk akal, terlebih jika dikaitkan dengan rumor masuknya armada LNG milik Grup Sinar Mas ke dalam BULL.

Keempat, kalau kita melihat dalam struktur kepemilikan saham BULL ada yang menarik karena masyarakat justru jadi pemegang saham paling banyak, sementara pengendali PT Delta Royal Sejahteral hanya menggenggam 14,54 persen, disusul pemegang saham lainnya Fortune Street Limited sekitar 9,09 persen.  

Dengan struktur kepemilikan yang cukup tersebar, belum ada satu pihak yang memiliki kendali mayoritas atas perseroan. 

Akan cukup masuk akal, jika dalam rights issue, grup Sinarmas diposisikan sebagai standby buyer yang bisa menyerap mayoritas saham baru menjadi pengendali baru. Hal ini berkaitan dengan yang disebut di atas soal backdoor listing.

Kelima, sosok Fortune Street Limited dalam private placement BULL pada 2025 masih misterius. Dalam keterbukaan informasi, manajemen BULL tidak mengungkapkan detail siapa sosok di balik Fortune Street selain menyebutkan perusahaan asal Hong Kong.

Review Kinerja dan Prospek Bisnis 

Beralih soal kinerja, pada tiga bulan pertama tahun ini BULL berhasil mencetak laba ciamik sekitar US$ 14,2 juta atau setara Rp239,3 miliar, melejit 41 persen secara tahunan (yoy).

Menariknya, kinerja kuartal I/2026 itu saja sudah setara lebih dari 50 persen capaian laba bersih yang dihasilkan pada 2025 lalu sekitar Rp402 miliar. 

Kinerja laba yang solid utamanya didukung pendapatan tumbuh 11,76 persen yoy menjadi 43,9 juta dolar AS karena kenaikan tarif sewa kapal. 

Diketahui, Tarif kapal tanker Aframax naik 40,6 persen menjadi 56.314 dolar AS per hari, sedangkan tanker Medium Range (MR) meningkat 43,7 persen menjadi 30.466 dolar AS per hari. Kenaikan ini didorong tingginya permintaan global serta gangguan rute pelayaran akibat tensi geopolitik di Timur Tengah.

💡
Mau dapat stockpick dari AI untuk saham AS dan Indonesia, kamu bisa klaim diskon spesial untuk Investing Pro, Langsung langganan di sini sekarang!

Kondisi ini memberi ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk menjalankan strategi pertumbuhan, termasuk jika nantinya memerlukan tambahan pendanaan melalui aksi korporasi.

Bicara soal ekspansi, saat ini BULL menyasar perkembangan lebih banyak ke infrasturktur LNG, yang salah satunya berkaitan dengan rights issue dan skema backdoor armada kapal LNG milik grup Sinarmas. 

Kenapa BULL sangat optimis di sektor LNG? Dari akhir tahun lalu, manajemen BULL menyatakan tahun ini akan ada lonjakan kapasitas pabrik pencairan LNG global sekitar 58 juta ton per tahun. 

Kondisi ini diperkirakan mendorong kebutuhan sekitar 140-155 kapal LNG baru pada periode 2026-2027, sementara pasokan kapal baru relatif terbatas dan banyak armada lama yang akan dipensiunkan.

Sinyal Perlambatan Ekonomi Indonesia, Begini Prospek Saham Bank ke Depannya
Ekonomi Indonesia sudah mulai menunjukkan perlambatan. Biasanya, saham bank yang berkorelasi langsung dengan dampak kinerja ekonomi. Lalu, bagaimana nasib saham bank ke depannya?

Selain itu, BULL juga melihat peluang dari pengembangan infrastruktur LNG di Indonesia. Pemerintah berencana membangun sejumlah Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) dalam RUPTL 2025-2034, sehingga membuka pasar baru bagi perseroan di luar bisnis pengangkutan LNG.

Di sisi lain, prospek bisnis tanker minyak juga masih dinilai positif. Menurut manajemen permintaan pengangkutan minyak diperkirakan terus meningkat akibat perubahan jalur perdagangan global, sanksi, dan ketidakseimbangan antara lokasi produksi dan konsumsi minyak. 

Dengan pertumbuhan armada yang terbatas, kondisi tersebut berpotensi menjaga tarif sewa kapal tetap berada di level yang menarik. Dari sini, akhirnya BULL melihat potensi bisnis untuk masuk lebih banyak ke bisnis LNG. 

Prospek kapal LNG di tengah kenaikan harga tarif sewa membuat beberapa analis re-rating saham BULL dengan target kenaikan signifikan pada laba bersih ke depan. 

Berdasarkan data Stockbit yang mengumpulkan rata-rata dari tujuh analis juga menunjukkan prospek pertumbuhan signifikan di laba bersih BULL pada tahun ini, mencapai Rp1,52 triliun, potensi naik tiga kali lebih dibandingkan laba tahun sebelumnya. 

Valuasi dan Teknikal Saham BULL 

Dari sisi harga saham, rata-rata dari tujuh analis menargetkan kenaikan ke Rp742 per saham, termasuk cukup agresif karena potensi kenaikan bisa mencapai 61, 3 persen dari posisi saat ini di Rp460 per saham. 

Saat ini harga saham BULL dihargai setara PBV 1,95 kali, dibandingkan rata-rata dengan kompetitornya di 2,7 kali masih termasuk cukup murah. Mengacu PBV rata-rata itu sebagai harga wajar, harga saham BULL potensi bisa ke Rp640 per saham. 

Secara teknikal, kami melihat target itu lebih konservatif juga karena ada resistance di area 685, yang pernah disentuh pada 20 Januari 2026 lalu. 

Melihat tren jangka pendek saham BULL juga masih naik, tetapi yang perlu dicermati adalah selama sebulan ini harganya sudah terbang 40 persen. 

Pelaku pasar  yang sudah punya dari bawah tak menutup kemungkinan bisa melakukan taking profit dulu. Maka dari itu, perlu diantisipasi jika ada risiko koreksi wajar ke support terdekat di area sekitar MA100 dan MA20 di level 400. 

Kesimpulan

Rumor rights issue BULL memang masih sebatas spekulasi pasar dan belum ada konfirmasi resmi dari perseroan maupun Grup Sinar Mas. Karena itu, investor sebaiknya tidak membeli saham hanya karena berharap aksi korporasi tersebut pasti terjadi.

Namun di sisi lain, jika melihat berbagai petunjuk yang ada, rumor tersebut bukan tanpa dasar. BULL memang sedang menjalankan transformasi menuju bisnis LNG, membutuhkan pendanaan besar untuk ekspansi, memiliki hubungan yang sudah lama dengan Grup Sinar Mas, serta memiliki struktur kepemilikan yang memungkinkan masuknya investor strategis melalui rights issue.

Di luar isu rights issue, fundamental BULL juga sedang berada dalam tren yang positif. Kinerja laba tumbuh signifikan, tarif sewa kapal masih tinggi, sementara prospek bisnis LNG dan tanker minyak dinilai masih menjanjikan dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini membuat prospek jangka menengah perseroan tetap menarik meski tanpa mempertimbangkan rumor yang sedang beredar.

Dari sisi valuasi, saham BULL juga masih diperdagangkan di bawah rata-rata PBV kompetitornya. Bahkan konsensus tujuh analis masih memberikan target harga rata-rata Rp742 per saham, atau sekitar 61,3 persen di atas harga saat ini. Artinya, ruang kenaikan secara fundamental masih terbuka apabila perusahaan mampu merealisasikan rencana ekspansinya.

Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan faktor teknikal. Harga saham BULL sudah melonjak sekitar 40 persen dalam satu bulan, sehingga peluang terjadinya aksi taking profit dalam jangka pendek juga cukup besar. Apabila terjadi koreksi, area sekitar Rp400 dapat menjadi level support yang layak untuk dicermati.

Gimana, menurut kalian menarik lirik saham ini? atau tunggu dulu harganya ke bawah dulu?

Mau Dapat Insight Saham hingga Manfaatkan Tools Analisis dari Mikirduit?

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang