Tiga Saham Grup Bakrie yang Lagi Memburu Dana via Right Issue, Begini Detailnya

Beberapa emiten dari grup Bakrie seperti ENRG, BNBR, dan VKTR terpantau kompak mencari tambahan modal dari rights issue. Kira-kira gimana prospek dan update-nya? apakah menarik untuk ditebus? 

Share
saham grup bakrie

Mikirduit - Aksi tambah modal melalui rights issue makin ramai pada tahun ini, ada 10 emiten yang masih antri, termasuk didalamnya ada sederet tiga emiten grup Bakrie, mereka adalah ENRG, BNBR, dan VKTR. 

Perlu dicatat, tujuh dari 10 emiten yang akan menggelar rights issue telah memasuki periode cum date pada Rabu (8/7/2026). Salah satunya adalah emiten Grup Bakrie, BNBR. Artinya, hari ini menjadi kesempatan terakhir bagi investor untuk membeli saham dengan hak memperoleh Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD)

Secara khusus kami akan membahas rights issue dari saham-saham emiten grup Bakrie. Mari kita cermati satu per satu. 

Saham BNBR 

Kita mulai dari BNBR yang hari ini memasuki periode cum date. Bagi investor yang membeli saham paling lambat hari ini, nantinya dapat menentukan apakah akan menebus HMETD yang diperoleh atau tidak.  

Namun, bijaknya kita pastikan dulu, yang beli hari ini apakah worth it atau tidak untuk nantinya menebus haknya. 

Berdasarkan prospektus, BNBR akan menerbitkan sekitar 89 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp53 per saham. Dana segar yang dibidik mencapai Rp4,36 triliun hingga Rp4,76 triliun.

Rasio yang ditetapkan adalah 27:14, di mana setiap 27 saham lama berhak mendapatkan 14 HMETD.  Dengan ini, akan meningkatkan total saham beredar dari sekitar 173,42 miliar lembar menjadi maksimal 263,33 miliar lembar saham dan memicu risiko dilusi kepemilikan saham sebesar 34,15 persen jika memilih tidak menebus. 

Adapun penggunaan dana hasil rights issue akan difokuskan untuk bayar utang, dengan rincian sebagai berikut:

  • Pelunasan utang anak usaha: sekitar Rp3,66 triliun untuk melunasi utang kepada Hardman International dan sekitar Rp700 miliar untuk pelunasan utang kepada Bank Nobu.
  • Penyertaan modal dan pengembangan proyek: sekitar Rp200 miliar akan disuntikkan ke PT Bakrie Construction untuk mendukung proyek Pertamina Hulu Rokan Regional 1 Zona Rokan Dumai, serta sekitar Rp40 miliar dialokasikan untuk pengembangan proyek Jalan Tol Cimanggis–Cibitung.
  • Modal kerja: sisa dana akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan operasional BNBR beserta entitas anak.

Kami juga menghitung harga teoritis pasca rights issue akan berada di Rp69 per saham, potensi mengalami koreksi kisaran 32,4 persen dari asumsi harga penutupan saham pada 7 Juli 2026 sebesar Rp102 per saham. 

Adapun, Bakrie Capital Indonesia akan bertindak sebagai pembeli siaga. Setelah rights issue selesai, kepemilikan Bakrie Capital diperkirakan berada di kisaran 15 persen–34 persen, bergantung pada tingkat partisipasi investor publik.

Nasib 6 Saham Backdoor Listing di 2024, Begini Perkembangan Terakhir dan Prospeknya
Kami mencatat ada 6 saham backdoor listing major yang jadi fokus pada 2024. Lalu, bagaimana nasib keenam saham backdoor listing itu saat ini?

Saham VKTR 

Berikutnya, ada VKTR yang selanjutnya akan menggelar rights issue, cum date paling dekat dijadwalkan pada 28 Juli 2026. 

Masih ada waktu lebih dari dua minggu untuk memutuskan mau beli saham atau tidak, sampai mau menebus haknya nanti atau tidak. 

Berdasarkan prospektus yang rilis 3 Juni lalu, VKTR rencananya mau menerbitkan saham baru 25 miliar lembar melalui rights issue. Jumlah itu setara kurang lebih 57 persen dari total lembar saham saat ini (43,75 miliar lembar).  

Rasionya setiap 7 lembar saham lama, akan mendapatkan 4 saham baru. Sayangnya, untuk harga pelaksanaan dan target dana belum dicantumkan dalam prospektus. Artinya, untuk kepastian berapa dana segar yang akan didapatkan belum pasti. 

Oleh karena itu, kami mencoba menggunakan pendekatan yang lebih konservatif. Dengan total ekuitas VKTR per akhir 2025 Rp1,24 triliun setara dengan BVPS Rp28,34. 

Maka harga rights issue realistis di kisaran Rp40–50 per saham. Dengan rentang tersebut, harga teoritis bisa berada di Rp335 per saham, risiko penurunan sampai 32 persen, sementara dana yang diperoleh sekitar Rp1 –1,25 triliun, atau sekitar 80–100 persen dari ekuitas perseroan, sudah tergolong aksi rights issue besar tetapi masih lebih proporsional terhadap ukuran perusahaan. 

Adapun, soal penggunaan dana, untuk VKTR ini tujuannya lebih banyak untuk mendukung ekspansi bisnis. Rinciannya: 

  • 80 persen dana akan disalurkan sebagai penyertaan modal kepada anak usaha, PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI). Dana tersebut akan digunakan untuk membeli armada bus dan truk listrik dari VKTR sepanjang 2026–2027 guna memperkuat bisnis penyewaan kendaraan listrik atau e-Mobility as a Service (e-MaaS)
  • 20 persen sisanya akan digunakan sebagai modal kerja perseroan. 

Catatan penting, VKTR memiliki free float 61,19 persen, tidak ada pembeli siaga, dan jika ada sisa saham yang tidak ditebus, maka saham tersebut tidak akan diterbitkan. Dari pertanyaan itu, kami menilai ada opsi yang sangat mungkin dilakukan oleh VKTR yaitu memangkas saham barunya. 

Pada intinya, rights issue VKTR memiliki tujuan bisnis yang menarik (ekspansi e-Mobility), tetapi risikonya cukup tinggi karena bergantung sepenuhnya pada partisipasi investor ritel tanpa adanya standby buyer.

Saham ENRG 

Terakhir, ada ENRG yang akan melaksanakan rights issue cukup jumo dengan jadwal cum date masih ada sebulan lebih, tepatnya 13 Agustus 2026.

Berdasarkan prospektus, ENRG berencana menerbitkan hingga 13,28 miliar saham baru Seri B dengan rasio 2:1 (setiap 2 saham lama berhak atas 1 HMETD). Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp310 per saham, potensi bisa menghimpun dana segar hingga Rp4,12 triliun.

Adapun untuk rincian penggunaan dana mayoritas untuk ekspansi bisnis: 

  • Sekitar 96,59 persen akan digunakan untuk penyertaan modal (langsung maupun tidak langsung) ke anak usaha, terutama untuk memperkuat kegiatan eksplorasi dan produksi migas.
  • Sisanya 3,41 persen untuk modal kerja dan biaya operasional perseroan.

Ada juga catatan penting mengenai pembeli siaga dan struktur kepemilikan.

Rights issue ENRG kali ini didukung oleh standby buyer yang kuat, namun, bukan datang dari pemegang saham pengendali, yakni PT Shima Global Kapital. Pengendali ENRG justru akan mengalihkan seluruh haknya (sekitar 2,33 miliar HMETD) kepada PT Bakrie Kalila Investment (BKI). 

Selain itu, BKI bersama afiliasinya siap bertindak sebagai pembeli siaga yang menyerap sisa saham hingga maksimal 10,48 miliar lembar.

Sebelum rights issue, BKI hanya memiliki sekitar 3,56 persen. Setelah rights issue (jika BKI menyerap semua hak yang dialihkan ditambah haknya sendiri), kepemilikan BKI diperkirakan naik menjadi sekitar 9,41persen. 

Sementara itu, porsi Shima akan turun dari sekitar 17,7 persen menjadi sekitar 11,7 persen. Meski begitu, Shima tetap menjadi pemegang saham terbesar, Grup Bakrie melalui BKI akan menjadi pemegang saham signifikan kedua dengan kepemilikan hampir 9,5 persen.

Beralih ke potensi harga teoritis, kami menggunakan asumsi harga sebelum cum date di Rp1000 per saham, akan mengimplikasi harga setelah rights issue ke kisaran Rp700 per saham, risiko penurunan bisa mencapai 33,33 persen. 

Risiko utama dari penurunan harga ini, meski ada pembeli siaga yang solid, aksi ini tetap menyebabkan dilusi yang material. Harga saham berpotensi mengalami penyesuaian (turun) setelah ex-rights karena penambahan suplai saham yang besar. 

Selain itu, sektor migas sangat sensitif terhadap harga minyak dunia dan regulasi.

Kesimpulan untuk rights issue ENRG memiliki tujuan yang cukup fundamental (penguatan aset migas), dan keberadaan pembeli siaga dari Grup Bakrie membuat risikonya lebih terkendali dibanding kasus tanpa standby buyer seperti VKTR. Namun, yang harus dipahami ada risiko penyesuaian harga teoritis yang signifikan karena harga pelaksanaan jauh di bawah harga pasar.

Kamu Butuh Insight dan Ide Saham Jangka Menengah-panjang hingga Swing Trading dengan Biaya Mulai dari Rp1.600 per hari?

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
PROMO SPESIAL dari Investing Pro, DISKON 60% + 15% untuk pembaca Mikirduit. Dapatkan tools analisis saham dan mencari Idea hingga tools AI yang berbasis data lengkap dari Investing dengan Klik di sini
join mikirsaham sekarang