Tawaran Beli Saham BYAN di Harga Rp2.538 oleh Haji Isam itu Harga Premium? Begini Penjelasan
Haji Isam dikabarkan menawar 62% saham BYAN senilai US$3 miliar atau setara sekitar Rp2.538 per saham. Seberapa realistis harga tersebut dibandingkan valuasi, fundamental, dan struktur kepemilikan Bayan Resources?
Mikirduit – Harga saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) Dibanting bertubi-tubi sejak 18 Agustus 2026 hingga mengalami penurunan 35,49 persen. Apakah ada potensi deal antara Haji Isam dengan Low Tuck Kwong untuk nilai jual-beli di harga Rp2.538 per saham?
Key Takeaways
- Tawaran Haji Isam sekitar US$3 miliar untuk 62% saham BYAN mengimplikasikan harga sekitar Rp2.538 per saham, tetapi harga transaksi akuisisi tidak otomatis menjadi harga pasar BYAN.
- Valuasi Rp2.538 per saham setara PBV sekitar 1,9 kali, masih sedikit premium dibandingkan rata-rata emiten batu bara pembanding sekitar 1,56 kali, ditopang biaya produksi rendah, stripping ratio efisien, dan kapasitas produksi BYAN yang besar.
- Risiko utama BYAN berasal dari konsentrasi kepemilikan saham yang sangat tinggi, kebutuhan peningkatan free float, potensi kenaikan cash cost, serta ketidakpastian apakah negosiasi antara Haji Isam dan Low Tuck Kwong benar-benar berujung transaksi.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (kuota terbatas, amankan seat-mu sekarang juga) dengan klik link di sini
Dalam laporan Bloomberg pada 9 September 2026, Haji Isam disebut mengajukan tawaran senilai 3 miliar dolar AS untuk akuisisi 62 persen saham BYAN dari Low Tuck Kwong dan putrinya Elaine.
Jika dihitung, harga penawaran akuisisi BYAN itu ada di angka Rp2.538 per saham. Angka tersebut memang jauh dari harga BYAN per 14 September 2026, yang bahkan sudah turun 35 persen dari 18 Agustus 2026. Lalu, apakah harga saham BYAN akan turun hingga Rp2.538 per saham?
Jawabannya ya belum tentu. Tapi, tawaran Haji Isam itu juga cukup logis. Toh, dengan harga Rp11.000-an per saham saat ini, price to book value (PBV) BYAN tembus 8,39 kali.
Jika menggunakan perbandingan saham batu bara yang setara dari skala produksi seperti, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), rata-rata tingkat PBV ketiganya per 14 September 2026 sekitar 1,56 kali.
PBV Rata-rata Saham Batu Bara Jumbo per 14 September 2026
| Saham | PBV |
|---|---|
| PTBA | 1,39x |
| AADI | 1,47x |
| ITMG | 0,87x |
| BUMI | 2,54x |
| Rata-rata | 1,57x |
Jika diukur dengan harga penawaran Haji Isam di Rp2.538 per saham, berarti per 14 September 2026, tingkat PBV-nya sekitar 1,9 kali. Artinya, angka yang ditawarkan Haji Isam itu cukup premium dibandingkan dengan harga pasar saham batu bara yang ada di sektornya.
Lalu, apa kelebihan BYAN dibandingkan dengan PTBA, AADI, dan ITMG?
Perbandingan Kelebihan dan Kekurangan BYAN Hingga Haji Isam Berani Tawar di Harga Premium di Atas Rata-rata Sektoral
Ada beberapa kelebihan BYAN dibandingkan dengan PTBA, AADI, hingga ITMG.
Pertama, jika mengacu ke data laporan tahunan 2025, BYAN memiliki tingkat striping rasio yang rendah. Tambang Tabang BYAN menghasilkan 62,5 juta ton dari total produksi perseroan sekitar 68 juta ton. Artinya, tambang Tabang ini menjadi material bagi BYAN karena berkontribusi terhadap 92 persen produksi perseroan.
Menariknya, striping rasio Tabang hanya 3,9 kali. Bahkan, realisasi di 2025 lebih rendah dari guidance sekitar 4,5 kali.
Striping Rasio adalah perbandingan antara volume tanah atau batuan penutup yang harus dikupas dengan berat batu bara yang diperoleh dalam suatu kegiatan penambangan terbuka.
Semakin rendah nilai rasionya, berarti lebih efisien dan biaya penambangan jauh lebih murah ketimbang yang terbesar. Hal itu terimplikasi dari cash cost BYAN yang hanya 32,5 dolar AS per ton. Dengan harga jual 48,4 dolar AS per ton, berarti biayanya hanya sekitar 67 persen dari total harga rata-rata.
Jika dikomparasi EBITDA margin sepanjang 2025 antara BYAN dan AADI, BYAN sekitar 33,9 persen, sedangkan AADI sekitar 24 persen.
Namun, manajemen BYAN mengingatkan tingkat cash cost dan striping rasio di 2025 menjadi sesuatu yang mengejutkan. Manajemen tetap pasang guidance cash cost sekitar 36-42 dolar AS per ton dan stripping rasio 4,8 - 5,2 kali di 2026.
Kedua, BYAN menargetkan bisa mendorong pertumbuhan produksi hingga lebih dari 80 juta ton. Sampai akhir 2025, BYAN sudah memiliki 106 hydraulic excavator kelas lebih dari 200 ton, 662 truk kapasitas 100-130 ton, 7 barge loaders di 3 lokasi dengan kapasitas 26.000 ton per jam, 66 km paved haul road menuju Senyiur, dan 96 km all-weather road menuju Muara Pahu, dan 60 juta ton kapasitas per tahun melalui Balikpapan Coal Terminal dan Kalimantan Floating Facility.
Jadi, jika PTBA masih mengembangkan terkait logistik, BYAN sudah mempersiapkan untuk kenaikan produksi.
ketiga, porsi ekspor BYAN cukup optimal. BYAN mengambil batas bawah domestic market obligation (DMO) sebesar 25,7 persen. Lalu, sebanyak 74 persen diekspor.
Selain itu, BYAN juga punya kontrak jangka panjang untuk Supply batu bara ke pembangkit listrik di Korea Selatan. Hal itu tercatat dalam kontrak dengan Korea Midland Power Co. Ltd atau KOMIPO. BYAN memiliki kontrak selama 9 tahun dari 2024-2032 untuk memasok batu bara 10,8 juta ton atau rata-rata 1,2 juta ton per tahun ke KOMIPO.
Jumlah ini sebenarnya tidak material bagi produksi BYAN yang tembus 70 juta per tahun. Tapi, menariknya, kerja sama ini cukup serius hingga beberapa anak usaha KEPCO, induk dari KOMIPO memiliki 20 persen saham BYAN.
Kepemilikan 20 persen saham BYAN oleh KEPCO melalui:
- Korea East-West Power memiliki 4 persen
- KOMIPO memiliki 4 persen
- Korea South-East Power (KOEN) memiliki sebesar 4 persen
- Korea Southern Power memiliki 4 persen
- Korea Western Power memiliki sekitar 4 persen
Sejauh ini, transaksi kontrak resmi yang detail baru muncul dari KOMIPO. Jika ke depannya ada kontrak dengan volume sama hingga periode jangka menengah panjang, berarti alokasi permintaan dari KEPCO bisa mencapai 6 juta ton (atau hampir 10 persen dari total produksi dan penjualan yang sekitar 70 juta ton).
Kekurangannya, BYAN termasuk emiten batu bara berkalori rendah. Sehingga korelasi tren kinerja BYAN lebih kepada harga ICI 4 atau ICI 5 ketimbang harga batu bara Newcastle yang menjadi acuan global.
Serta, faktor biaya yang rendah bisa menjadi biaya rata-rata jika guidance manajemen di 2026 menjadi kenyataan.
Kekurangannya, BYAN termasuk emiten batu bara berkalori rendah. Sehingga korelasi tren kinerja BYAN lebih kepada harga ICI 4 atau ICI 5 ketimbang harga batu bara Newcastle yang menjadi acuan global.
Harga batu bara ICI 4 per 4 September 2026 sekitar 73,15 dolar AS per ton, sedangkan ICI 5 sekitar 43,23 dolar AS per ton. Artinya, harga jual rata-rata BYAN berpotensi ada di kisaran dua harga acuan tersebut.
Ditambah, faktor biaya yang rendah bisa menjadi biaya rata-rata jika guidance manajemen di 2026 menjadi kenyataan.

Selanjutnya, Apakah Harga Saham BYAN Akan jadi Rp2.538 per Saham?
Sebenarnya, harga penawaran akuisisi akan berbeda dengan harga pasar. Faktornya, harga pasar dipengaruhi supply and demand di pasar secara real time, sedangkan harga akuisisi sesuai negosiasi antara penjual dan pembeli.
Jika ditanya, apakah harga BYAN bisa ke Rp2.538? jawabannya sangat mungkin. BYAN hanya butuh auto rejection bawah (ARB) sebanyak 9 kali untuk mencapai harga Rp2.460 per saham.
Namun, jangan lupa, BYAN termasuk saham high concentrate shareholding (HSC). Total pemegang saham di atas 1 persen BYAN mencapai 98,49 persen dari total saham keseluruhan.
Pemegang saham di atas 1 persen terdiri dari:
- Low Tuck Kwong sebagai pengendali pegan 40,25 persen
- Elaine Low sebagai relasi pengendali pegang 22 persen
- PT Sumber Suryadaya Prima, perusahaan milik Dewi Kam yang pegang 10 persen saham
- Grup KEPCO melalui 5 entitas pegang 20 persen
- Lim Chai Hock pegang 3,26 persen, adalah manajemen BYAN
- Jenny quantero pegang 2,98 persen adalah manajemen BYAN
Sehingga tekanan pergerakan harga bisa dihentikan kapanpun deretan pengendali dan afiliasinya ini menginginkannya.

Kesimpulan
Peluang BYAN dilepas di harga Rp2.538 per saham hingga ada negosiasi ke Rp4.000 per saham terbuka lebar.
Jika memang ada masalah serius yang membuat Low Tuck Kwong bersama anaknya Elaine Low lebih memilih lepas BYAN. Misalnya,
Pertama, skema ekspor satu pintu ternyata dianggap kurang menguntungkan bagi BYAN. Kebijakan ekspor satu pintu akan dijalankan secara penuh pada awal 2027.
Kedua, biaya peningkatan free float di IDX cukup besar. Apalagi, dengan status BYAN saat ini adalah saham HSC.
Dalam catatan IDX, BYAN menjadi saham HSC karena 98,5 persen sahamnya dimiliki oleh beberapa pihak seperti Low Tuck Kwong, Dewi Kam, dan Grup KEPCO.
Artinya, pengendali eksisting BYAN perlu melepas minimal 11 persen sahamnya ke publik, yakni Low Tuck Kwong dan Elaine.
Dengan karakter saham likuiditas terbatas, melepas saham ke publik juga jadi pekerjaan berat karena jika dilepas begitu saja bisa menekan harga saham hingga ARB.
Di sisi lain, pengendali BYAN juga cukup fleksibel untuk melepas saham hingga berganti kepemilikan tanpa khawatir ada risiko kontrak atau utang yang harus dibayar lebih cepat. Pasalnya, kami cek dari laporan keuangan semester I/2026 hingga tahunan 2025, tidak ada ketentuan terkait klausul jika terjadi perubahan pengendali.
Namun, kami juga tidak menemukan detail kontrak antara KEPCO dengan BYAN. Jika transaksi ini bisa membuat KEPCO melepas sebagian sahamnya juga jadi tekanan bagi saham BYAN dalam jangka menengah.
Dalam kondisi saham yang tidak terlalu likuid seperti BYAN, strategi terbaik menunggu tekanan mereda ketimbang nekat masuk dengan asumsi sudah turun dalam.
Toh, pengukuran saham sudah murah atau menarik tidak bisa sekadar menggunakan fundamental dan teknikal. Tapi, juga perlu keberuntungan tidak ada skenario terburuk yang terjadi.
Mau Diskusi Saham Langsung dengan Founder Mikirduit?
Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

