Jika The Fed Menaikkan Suku Bunga di 16 September 2026, ini yang bisa investor lakukan

Inflasi AS Agustus 2026 bertahan di 3,4%, tetapi peluang kenaikan suku bunga The Fed justru meningkat. Simak dampaknya terhadap saham AS, IHSG, sektor AI, komoditas, dan strategi investor.

Share
Jika The Fed Menaikkan Suku Bunga di 16 September 2026, ini yang bisa investor lakukan

Mikirduit – Data Consumer Price Index atau Inflasi Amerika Serikat secara tahunan per Agustus 2026 sesuai dengan forecast berada di 3,4 persen. Lalu, apa yang bisa dipahami dari data inflasi tersebut terhadap potensi pasar saham ke depannya?

Key Takeaways

  • Inflasi AS Agustus 2026 bertahan di 3,4%, sesuai ekspektasi pasar, tetapi belum cukup rendah untuk menghilangkan risiko kenaikan suku bunga The Fed.
  • Probabilitas kenaikan Fed Funds Rate 25 bps pada September melonjak menjadi 87,3%, sementara yield US Treasury 10 tahun mendekati 5%, sehingga risiko tekanan terhadap saham berbasis pertumbuhan dan ekspansi AI meningkat.
  • Investor bisa mulai lebih defensif menjelang keputusan The Fed, dengan mengambil profit pada posisi trading, mempertahankan saham investasi yang masih dalam fase akumulasi bertahap, serta menunda tambahan ETF global hingga arah suku bunga lebih jelas.
  • Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (kuota terbatas, amankan seat-mu sekarang juga) dengan klik link di sini

Kami memiliki dua sudut pandang dalam menafsirkan data inflasi AS sebesar 3,4 persen pada Agustus 2026.

Pertama, Federal Reserve (The Fed) masih mungkin untuk menahan suku bunga acuan Fed Fund Rate pada pertemuan 15-16 September 2026. Alasannya, tingkat inflasi AS sedikit mereda meski sifatnya stagnan di 3,4 persen. Angka itu sama persis dengan forecast dan realisasi di Juli 2026. 

Sebelumnya, The Fed memutuskan tetap pertahankan tingkat suku bunga pada pertemuan akhir Juli 2026 dengan acuan data inflasi per Juni 2026 sebesar 3,5 persen. Sehingga, tingkat inflasi yang cenderung tidak mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya bisa jadi alasan kuat untuk mempertahankan suku bunga.

Jika melihat penutupan pasar saham AS per 11 September 2026, Nasdaq-100 ditutup naik 0,91 persen, sedangkan indeks S&P 500 naik 0,86 persen. Kenaikan itu merespons data inflasi yang masih stagnan secara historis dan sesuai dengan forecast.

Kedua, meski begitu, peluang kenaikan suku bunga The Fed masih terbuka. Hal ini yang muncul ekspektasi pasar saat ini. 

Ekspektasi itu muncul setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan komitmen untuk menurunkan inflasi kembali ke target 2 persen. Dalam pertemuan di Jackson Hole pada akhir Agustus 2026, dia juga menekankan jika angka-angka tersebut tidak membaik, pihaknya memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. 

Komentar itu banyak ditafsirkan sebagai peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tidak kunjung mereda.

Ditambah, setelah data inflasi AS rilis, yield US Treasury Bond 10 tahun justru mengalami kenaikan 0,63 persen menjadi 4,97 persen dalam perdagangan 11 September 2026. 

Tingkat yield US Treasury bond 10 tahun itu siap melampaui level tertinggi pada Oktober 2023. Kala itu, tingkat bond yield US meningkat signifikan selaras dengan beberapa faktor seperti:

  • Pemerintah AS menghadapi pelebaran defisit anggaran yang membutuhkan tambahan obligasi baru yang membanjiri pasar
  • Kenaikan bond yield US pada Oktober 2023 itu juga hasil pengetatan moneter sejak 2022. Kala itu, suku bunga The Fed naik 425 bps hanya dalam 1 tahun. 

Di sisi lain, sepanjang tahun ini, tingkat yield obligasi AS dengan tenor 10 tahun sudah mencatatkan kenaikan signifikan dari awal tahun hanya 4,1 persen menjadi 4,9 persen. Bahkan, selama kenaikan itu tidak terjadi kenaikan suku bunga The Fed sama sekali.

Catatannya, secara historis, kenaikan yield obligasi AS yang signifikan bisa terjadi saat The Fed dalam mode pengetatan moneter, serta adanya risiko ekonomi seperti krisis Subprime Mortgage pada 2008. Sepanjang 2008, The Fed menurunkan suku bunga sebesar 325 bps. Tapi, tingkat yield obligasi AS malah naik drastis dari 2,2 persen menjadi 3,9 persen setelah krisis terjadi. 

Di luar itu, menurut data CME Fed Watch, tingkat probabilitas The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 bps naik menjadi 87,3 persen setelah data inflasi keluar. Padahal, sebelum data inflasi keluar sempat hanya 59,4 persen.

Menariknya, dari tingkat probabilitas berdasarkan periode setelah rilis data inflasi per Agustus 2026, potensi kenaikan suku bunga yang tertinggi terjadi di September 2026, sedangkan di periode selanjutnya cenderung hold. Artinya, saat ini probabilitas potensi kenaikan suku bunga di sisa 2026 hanya 1 kali, yakni di September.

```html

Probabilitas Kebijakan The Fed Sepanjang Sisa 2026

Rapat FOMC Target Rate Probabilitas Interpretasi
16 September 2026 3,50%–3,75% 14,5% Hold
3,75%–4,00% 85,5% Naik 25 bps
28 Oktober 2026 3,50%–3,75% 7,2% Tidak ada kenaikan sampai Oktober
3,75%–4,00% 49,6% Total kenaikan 25 bps
4,00%–4,25% 43,2% Total kenaikan 50 bps
9 Desember 2026 3,50%–3,75% 2,6% Tidak ada kenaikan sepanjang sisa 2026
3,75%–4,00% 22,7% Total kenaikan 25 bps
4,00%–4,25% 47,3% Skenario utama: total kenaikan 50 bps
4,25%–4,50% 27,4% Total kenaikan 75 bps

Catatan: probabilitas berdasarkan ekspektasi pasar Fed Funds Futures dan dapat berubah setiap hari. Snapshot data mengacu pada kondisi 11 September 2026.

Ekspektasi Posisi Suku Bunga The Fed di Akhir 2026

Target Rate Akhir 2026 Jumlah Kenaikan 25 bps Probabilitas
3,50%–3,75% 0 kali 2,6%
3,75%–4,00% 1 kali 22,7%
4,00%–4,25% 2 kali 47,3%
4,25%–4,50% 3 kali 27,4%

Dari probabilitas tersebut, pasar saat ini paling banyak memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali masing-masing 25 basis poin hingga akhir 2026. Skenario tersebut akan membawa target Fed Funds Rate ke 4,00%–4,25%.

```

Risiko Terbesar dari Potensi Kenaikan Suku Bunga pada September 2026

Apa yang dikhawatirkan dari kenaikan suku bunga The Fed terhadap pasar saham? 

Ada dua sisi, dari segi pasar saham AS, dikhawatirkan akan menekan sektor bisnis yang lagi mengembangkan infrastruktur AI dengan belanja modal jumbo. Apalagi, dari belanja modal itu, banyak juga yang menggunakan tingkat utang. Kenaikan suku bunga 25 bps bisa menjadi peringatan pertama terhadap risiko rencana ekspansi bisnisnya.

Jika ada penundaan proyek-proyek AI besar setelah suku bunga The Fed naik. Hal itu bisa memberikan dampak sistemik mulai dari produsen GPU seperti NVDA, supplier yang bantu memproduksi seperti TSMC, hingga ke saham-saham komoditas logam industri yang selama ini kenaikan harganya didorong oleh kenaikan permintaan yang cukup signifikan dari rencana ekspansi AI tersebut.

Dalam skala ukuran, kenaikan suku bunga The Fed tahap pertama yang hanya 25 bps ini mungkin tidak akan terlalu berdampak secara riil, tapi akan berdampak terhadap persepsi risiko ekonomi. Pasalnya, kenaikan suku bunga The Fed juga berpotensi menekan roda ekonomi. Sehingga ekspansi AI dengan modal jumbo plus ada kenaikan biaya leverage berpotensi menghadapi cuan dari monetisasi layanan AI yang tertunda karena ekonomi melambat.

Harga Tembaga & Timah Meroket, AMMN, MDKA atau TINS?
Harga logam industri terutama tembaga dan timah bergerak moncer tahun ini. Prospeknya karena terkatrol permintaan, terutama untuk perkembangan AI dan data center. Ada tiga saham Indonesia yang bisnsinya terkait ini, mereka adalah AMMN, MDKA, dan TINS. Kira-kira gimana prospeknya?

Apalagi, jika perang Iran-AS semakin panas yang menjaga harga minyak dunia terus bertahan di atas 90 dolar AS per barrel (sekarang sudah tembus di atas 100 dolar AS per barel). Hal itu akan menghasilkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan (bisa 2 kali di tahun dan berlanjut di tahun depan, sesuai perkembangannya).

Dari sisi kedua, bagi pasar saham Indonesia, kenaikan suku bunga The Fed membuka ruang Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga juga. Apalagi, dalam jadwal-nya kali ini, Bank Indonesia akan melakukan Rapat Dewan Gubernur pada 22-23 September 2026. Jika ada kenaikan suku bunga lagi untuk menjaga risiko outflow dana dan fluktuasi kurs rupiah, dampak ke sektor riil juga bisa semakin melambat. 

Ditambah, dengan efek dari jika ada penundaan ekspansi berbasis AI juga berdampak terhadap prospek permintaan komoditas tambang seperti tembaga, timah, dan lainnya.

Lalu, apa yang terjadi jika The Fed justru menahan tingkat suku bunga? apakah pasar langsung bullish. Jawabannya, kemungkinan ada teknikal rebound tapi dalam jangka pendek. Nantinya, kekhawatiran kenaikan suku bunga akan berlanjut di pertemuan Oktober hingga Desember 2026.

Jadi, selama tidak ada potensi perbaikan dari segi inflasi di AS, narasi potensi kenaikan suku bunga akan terus ada hingga kondisi inflasi mereda.

Apa yang Bisa Dilakukan oleh Investor?

Jawabannya, untuk saham-saham tradingan bisa di-take profit, sedangkan saham investasi yang masih program cicil bertahap bisa tetap hold, tapi jika sudah full alokasi dan untung bisa keluar secara bertahap.

Meski terlihat potensi kemungkinan kenaikan suku bunga sangat tinggi, tapi kalkulasi probabilitas-nya masih 50:50. Untuk itu, jika ada aset investasi saham yang masih program bertahap masih bisa hold. 

Di sisi lain, untuk yang punya program cicilan ETF global (bukan ETF Indonesia) bisa wait and see untuk menambah cicilan hingga ada detail kepastian terkait kenaikan suku bunga The Fed tersebut.

Mau Diskusi Saham Langsung dengan Founder Mikirduit?

Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang