Hubungan Manis Raffi Ahmad dengan Geng Pieter Tanuri hingga Boy Thohir di Saham VISI, Begini Prospeknya

Raffi Ahmad, Boy Thohir hingga lingkaran Pieter Tanuri bertemu dalam transformasi VISI menjadi perusahaan kesehatan. Simak prospek akuisisi Hasna Medika, kondisi keuangannya, serta katalis private placement VISI.

Share
saham VISI

Mikirduit – PT Satu Visi Putra Tbk. (VISI) mengalami perubahan pengendali setelah Raffi Ahmad dan Nagita Slavina masuk melalui PT Harmoni Semesta Investama. Namun, transaksi ini bukan hanya bicara VISI diakuisisi Raffi Ahmad dan berubah menjadi perusahaan rumah sakit spesialis, melainkan ada pergerakan beberapa konglomerat dari Boy Thohir hingga Pieter Tanuri. Jadi, bagaimana arah saham VISI ke depannya?

Key Takeaways

  • VISI resmi bertransformasi menuju bisnis kesehatan setelah Raffi Ahmad–Nagita Slavina masuk sebagai pengendali, dengan Boy Thohir ikut memegang 8% saham dan rencana akuisisi 72,91% Hasna Medika Bakti Cirebon.
  • Hasna Medika menawarkan prospek jaringan rumah sakit dan klinik spesialis jantung dengan margin kotor yang membaik, tetapi masih mencatat rugi dan memiliki struktur liabilitas yang besar sebelum suntikan modal dari VISI.
  • Katalis terdekat VISI berada pada private placement 307,5 juta saham yang akan mendanai ekspansi kesehatan, termasuk kemungkinan masuknya investor yang memiliki keterkaitan dengan Pieter Tanuri dan lingkaran bisnis Raffi Ahmad.
  • Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (kuota terbatas, amankan seat-mu sekarang juga) dengan klik link di sini

Awalnya, banyak yang mengira Raffi-Nagita membeli saham VISI untuk backdoor listing PT RANS Entertainment Indonesia Tbk. (RANS). Namun, ternyata perusahaan yang lekat dengan branding keluarga Raffi Ahmad itu malah IPO di jalur resmi.

Transaksi VISI juga sempat terlihat hanya akuisisi backdoor listing dari Raffi-Nagita yang membeli 61,85 persen saham tersebut di harga Rp94 per saham atau senilai Rp178 miliar. Namun, perubahan komposisi saham ternyata tidak hanya sampai di tangan Raffi Ahmad dan keluarga, melainkan juga melibatkan beberapa konglomerat lainnya.

Misalnya, yang paling terlihat adalah PT Trinugraha Thohir Harmoni juga masuk ke saham VISI sebanyak 246 juta lembar dengan porsi kepemilikan sebesar 8 persen. Perusahaan tersebut terafiliasi langsung dengan Boy Thohir.

Dari catatan kami, Trinugraha Thohir Harmoni juga pegang beberapa saham emiten secara langsung seperti, PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk. (CARS), yang memiliki dealer Toyotadi Jawa Tengah bernama Nasmoco. Sampai Agustus 2026, Trinugraha Thohir Harmoni masih pegang 750 juta lembar saham CARS atau setara 5,01 persen. 

Selain itu, Trinugraha Thohir Harmoni juga memegang sekitar 92,5 juta lembar atau setara 4,86 persen PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk. (MGLV).

Sementara itu, kami tidak menemukan detail pengendali dari PT Atlas Raya Abadi yang membeli 10,15 persen saham VISI di waktu yang bersamaan dengan transaksi Raffi-Nagita dan Boy Thohir di saham tersebut.

VISI Mau Jadi Perusahaan Holding Rumah Sakit Spesialis Jantung?

Setelah diakuisisi oleh Raffi-Nagita yang terlihat sebagai pihak pembeli mayoritas bersama Boy Thohir dan PT Atlas Raya Abadi, VISI mengumumkan rencana akuisisi PT Hasna Medika Bakti Cirebon pada 20 Agustus 2026.

Dalam transaksi itu, VISI menggunakan dua skema transaksi:

Pertama, VISI menandatangani pengalihan saham bersyarat dengan skema menyetor modal baru senilai Rp255 miliar kepada Hasna Medika Bakti untuk mengambil alih 65 persen modal HMBC setelah penerbitan saham baru.

Kedua, VISI melakukan kesepakatan jual-beli bersyarat untuk mengakuisisi 17.325 lembar saham lama Hasna Medika Bakti Cirebon dari pengendalinya saat ini PT Hasna Medika Utama Group senilai Rp31 miliar.

Dari total transaksi senilai Rp286 miliar itu, VISI akan menjadi pengendali Hasna Medika Bakti Cirebon dengan porsi kepemilikan 72,91 persen.

sebelum transaksi (termasuk transaksi konversi utang Pieter Tanuri dan kawan-kawan), komposisi pemegang saham Hasna Medika Bakti Cirebon antara lain, PT Hasna Medika Utama Group memegang 58,64 persen, Pieter Tanuri sebesar 20,39 persen, PT Arcata Medika Utama pegang 4,34 persen, Dr. Gugun Iskandar pegang 3,45 persen, Dr. Risthi Grantia pegang sebesar 3,45 persen, Muhammad Luthfi Fauzan pegang sekitar 2,07 persen, Roy Himawan pegang sebesar 2,01 persen, F. Bedjo Wiantono pegang sebesar 1,86 persen, dan lainnya  (skala porsi lebih kecil) memiliki sisa saham rumah sakit tersebut.

Adapun Hasna Medika Utama Group dimiliki oleh Dr. H Gugun Iskandar sebesar 70 persen, dr, Risthi Grantia sebesar 20 persen, dan Muhammad Luthfi Fauzan sebesar 10 persen.

Sebelum transaksi akuisisi VISI terjadi, Pieter Tanuri bersama Roy Himawan dan Darwin Cyril Noerhadi melakukan konversi utang senilai Rp33 miliar dengan harga rata-rata Rp1,79 juta per saham.

Lalu, simulasi komposisi pemegang saham Hasna Medika Bakti Cirebon setelah diakuisisi VISI antara lain:

  • VISI: 72,91 persen
  • Pieter Tanuri: 11,62 persen
  • PT Hasna Medika Utama Group: 7,61 persen
  • Darwin Cyril Noerhadi: 2,14 persen
  • PT Arcata medika utama: 1,15 persen
  • Dr. Gugun Iskandar: 0,91 persen
  • Dr. Risthi Grantia: 0,91 persen
  • Roy Himawan: 0,7 persen
  • sisanya lainnya dengan porsi masing-masing lebih kecil.

Lalu, apa bisnis Hasna Medika Bakti Cirebon?

Hasna Medika Bakti Cirebon memiliki jaringan rumah sakit dan klink spesialis jantung. Dari website resminya, Hasna Medika memiliki jaringan di 13 daerah mulai dari Cirebon, Indramayu, Kuningan, Kedawung, Majalengka, Malang, Subang, Cianjur, Bandung, Garut, Bali, Serang, dan Pakishaji.

Dari 13 daerah itu, status rumah sakit ada di Cirebon dan Kuningan, sedangkan sisanya adalah klinik. Dari data laporan keuangan per April 2026, Hasna Medika Bakti Cirebon memiliki total aset sekitar Rp365 miliar dengan ekuitas Rp30 miliar. Artinya mayoritas aset dalam bentuk liabilitas senilai Rp335 miliar. 

Dari segi laba-rugi hingga April 2026, pendapatan Hasna Medika mencatatkan kenaikan 5,6 persen menjadi Rp75,46 miliar dibandingkan dengan Rp71,85 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Menariknya, dari segi gross profit margin justru naik signifikan setelah laba kotor naik 76 persen menjadi Rp16,58 miliar. Sehingga gross profit marginnya naik menjadi 21 persen dibandingkan dengan 13 persen pada periode sama tahun sebelumnya.

Sayangnya, dari segi bottom line, Hasna Medika masih mencatatkan kerugian Rp12,34 miliar. 

Faktor penyebabnya, tingkat beban usaha Hasna Medika Bakti masih cukup tinggi mencapai Rp24,7 miliar dengan beban keuangan hingga Rp4,5 miliar. Hal itu yang menekan bottom line perseroan.

Sehingga, bisa dibilang, pendapatan Hasna Medika Bakti Cirebon belum cukup untuk membiaya seluruh biaya operasional perseroan. 

Adapun, tingkat kerugian yang lebih rendah menjadi Rp22 miliar disebabkan adanya konversi utang dari Pieter Tanuri dkk senilai Rp33 miliar. Dengan begitu kewajiban Hasna Medika kepada Pieter Tanuri dkk berubah menjadi ekuitas. 

Kondisi keuangan Hasna Medika juga berpotensi menjadi lebih baik setelah ada suntikan dana dari VISI senilai Rp255 miliar. Kondisi itu bisa memperbaiki struktur ekuitas Hasna Medika dari Rp30 miliar menjadi Rp288 miliar.

Dari proyeksi kinerja pendapatan, manajemen memasang proyeksi ambisius dengan bisa mencapai pendapatan hingga Rp712 miliar pada 2031, dengan laba kotor Rp264 miliar, serta laba bersih Rp116 miliar di periode yang sama.

Valuasi Saham BUMI Dengan Laba dari Tambang Australia di 2027
BUMI membangun cluster tambang di Australia melalui Wolfram, Jubilee Metals, dan Loyal Metals. Dua aset pertama berpotensi menambah laba hingga Rp300–600 miliar pada 2027, sementara Loyal Metals masih menyimpan risiko eksplorasi dan restart tambang lama.

Dua Aksi Korporasi VISI, Pieter Tanuri dkk serta Boy Thohir Bisa Tambah Kepemilikan?

Untuk melangsungkan aksi akuisisi itu, VISI berencana untuk melakukan private placement dengan target penerbitan saham baru sebanyak 307,5 juta lembar.

Dalam data keterbukaan informasi IDX pada 24 Agustus 2026, VISI belum mengungkapkan siapa calon pemodal dari aksi korporasi tersebut. Rencana penggunaan dana juga belum terlalu jelas, hanya untuk memperkuat permodalan VISI, mendukung pengembangan usaha dan anak perusahaan, serta memperbaiki posisi keuangan. Namun, ada sorotan paling penting, dana private placement akan digunakan untuk penyertaan saham pada perusahaan sektor kesehatan, yakni Hasna Medika Bakti Cirebon tersebut.

Dari total kebutuhan dana untuk akuisisi Hasna Medika Bakti Cirebon senilai Rp286 miliar, ada indikasi harga pelaksanaannya sekitar di atas Rp930 - Rp1.000-an per saham.

Hal paling menarik adalah, kami menilai ada indikasi Pieter Tanuri dkk yang akan masuk dalam aksi right issue VISI tersebut.

💡
Diskon Spesial Investing Pro untuk Pembaca Mikirduit, agar analisis saham langsung menggunakan tools paling lengkap, Langganan sekarang dengan klik di sini

Hubungan Manis Raffi dengan Pieter Tanuri dkk hingga Boy Thohir

Nama-nama yang ada dalam proses backdoor listing VISI memang memiliki keterkaitan. Dari Boy Thohir hingga Pieter Tanuri yang punya korelasi kuat dengan Raffi Ahmad-Nagita.

Pieter Tanuri terhubung dengan Raffi Ahmad lewat PT Ekonomi Baru Investasi Teknologi yang punya 0,76 persen saham RANS dalam komposisi sebelum IPO. PT Ekonomi Baru Investasi Teknologi itu dimiliki oleh PT Bali Bintang Sejahtera Tbk. (BOLA) yang dimiliki Pieter Tanuri. Roy Himawan juga termasuk dalam circle dari Pieter Tanuri terkait korelasi hubungan dengan Raffi Ahmad.

Sementara itu, Darwin Cyril Noerhadi sangat terhubung dengan Raffi Ahmad karena statusnya juga sebagai Komisaris Utama RANS sejak 2026.

Berbeda dengan Pieter Tanuri dkk, Boy Thohir tidak punya bukti jelas terkait hubungan bisnis dengan Raffi Ahmad secara langsung. Namun, hal menarik adalah kehadiran Boy Thohir saat selebrasi listing RANS pertama kali di IDX saat selesai IPO. 

Kesimpulan

Jadi, semenarik apa saham VISI? hal yang paling ditunggu dari saham VISI adalah terkait rencana private placement dengan kebutuhan dana hingga di atas Rp1.000 per saham. Semakin besar modal yang dibutuhkan, berarti harga pelaksanaan private placement juga semakin besar.

Dari segi prospek bisnis sifatnya defensif, bukan momentum booming. Sehingga, narasi cerita bisnis rumah sakit spesialis jantung ini tidak menggambarkan prospek yang luar biasa dalam jangka pendek. Bahkan, manajemen baru memproyeksikan rumah sakit spesialis jantung itu mendapatkan laba Rp116 miliar di 2027. 

Mau Diskusi Saham Langsung dengan Founder Mikirduit?

Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang