Sejauh Mana Harga Logam Industri Bisa Mengerek Saham AMMN, MDKA, hingga TINS?
Harga logam industri terutama tembaga dan timah bergerak moncer tahun ini. Prospeknya karena terkatrol permintaan, terutama untuk perkembangan AI dan data center. Ada tiga saham Indonesia yang bisnsinya terkait ini, mereka adalah AMMN, MDKA, dan TINS. Kira-kira gimana prospeknya?
Mikirduit - Harga logam industri naik, terutama tembaga yang dalam setahun melejit lebih dari 44 persen dan timah terbang hampir 60 persen. Lalu, sejauh apa saham-saham terkait bisa melaju? masih layak dilirik?
Key Takeaways
- Harga tembaga dan timah melonjak karena permintaan dari AI, elektrifikasi, dan pembangunan data center meningkat di tengah pasokan global yang masih terbatas.
- AMMN menawarkan cerita turnaround dan pertumbuhan produksi tembaga, MDKA menyimpan potensi besar dari proyek Tujuh Bukit Underground, sementara TINS paling langsung menikmati lonjakan harga timah dan kenaikan volume produksi.
- Meski fundamental komoditas sedang kuat, AMMN, MDKA, dan TINS dinilai lebih menarik untuk momentum trading jangka pendek daripada dikejar sebagai investasi jangka panjang karena sifat bisnisnya yang cyclical dan harga saham yang sudah naik tinggi.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (kuota terbatas, amankan seat-mu sekarang juga) dengan klik link di sini
Harga futures tembaga kini berada di sekitar US$6,76 per pound, mendekati level tertingginya sepanjang masa, sementara harga futures timah di Inggris sudah berada di atas US$54.800 per ton.

Kenaikan ini sama-sama didorong oleh satu cerita besar, yaitu permintaan yang makin kuat di tengah pasokan yang terbatas.
Untuk tembaga, kebutuhan terus meningkat seiring pembangunan data center untuk menyokong perkembangan Artificial Intelligence (AI), proyek energi terbarukan, dan jaringan listrik.
Di saat yang sama, pasokan justru terganggu karena adanya masalah operasional di sejumlah negara produsen utama di Amerika Selatan.
Persediaan tembaga juga terus menurun. Salah satunya karena trader banyak mengalihkan pengiriman ke AS, memanfaatkan harga tembaga di bursa Comex yang lebih tinggi. Alhasil, stok tembaga di gudang yang dipantau LME dan Shanghai Futures Exchange ikut tertekan.
Cerita yang tidak jauh berbeda terjadi pada timah. Permintaannya ikut terdorong oleh elektrifikasi dan perkembangan infrastruktur AI. Timah sendiri banyak digunakan sebagai bahan solder untuk komponen elektronik, termasuk pada server AI. Bahkan, pelaku industri memperkirakan kebutuhan timah untuk server AI bisa tiga kali lipat pada 2030 seiring pesatnya pembangunan infrastruktur AI.
Masalahnya, pasokan timah dari Indonesia sebagai salah satu produsen utama dunia masih rendah. Pemerintah memperketat penerbitan izin ekspor dan perizinan pertambangan. Bahkan, sekitar 500 ton timah disita dari tambang yang beroperasi tanpa izin.
Jadi, kenaikan tembaga dan timah saat ini bukan cuma karena sentimen pasar. Ada cerita fundamental yang cukup kuat di belakangnya yaitu kebutuhan dari AI, elektrifikasi, dan pembangunan infrastruktur terus naik, sementara pasokan kedua logam tersebut justru menghadapi berbagai kendala.
Namun, perlu kita pahami juga, kenaikan masif dua logam industri ini harusnya juga tidak bertahan lama, karena industri manufaktur bisa tertekan jika harga bahan baku melambung tinggi, belum lagi dengan tekanan harga yang menjalar sampai ke konsumen justru bisa menurunkan daya beli.
Jadi, momentum kenaikan saat ini lebih menarik kita cermati sebagai katalis trading jangka pendek untuk saham yang berkaitan. Untuk investasi tentu juga bisa, tetapi perlu kita cermati lebih jauh dari sisi teknikal, sekaligus fundamentalnya.
Di bursa saham Indonesia, ada tiga emiten yang punya proxy besar di bisnis komoditas itu. PT Amman Mineral International Tbk. (AMMN) dan PT Merdeka Gold Copper Tbk. (MDKA) sebagai pemain terbesar di tembaga, sementara PT Timah Tbk. (TINS) pemain raksasa di timah. Lantas, seberapa menarik prospek tiga emiten itu? apakah sahamnya masih menarik dilirik saat ini?
Kinerja Saham AMMN Turnaround
Pertama, ada saham AMMN yang terpantau masih melanjutkan uptrend setelah breakout dari pattern ascending triangle setelah menembus neckline di 4490, yang kini menjadi support terdekatnya.
Harga saat ini semakin mendekati target resistance terdekat di 5400, bertepatan dengan MA200 daily.
Selama harga masih bertahan di atas breakout neckline, peluang menuju resistance masih terbuka, tetapi sudah bukan area yang best price untuk tambah masuk lagi. Demand area yang optimal lebih bijak menunggu di area dekat support.

Menurut kami, pergerakan harga saham AMMN yang sudah berada di fase uptrend saat ini mulai mencerminkan perubahan cerita.
Sebelumnya, saham ini sempat jatuh ke bawah 3000 pada akhir Mei 2026, mencetak penurunan hampir 70 persen dari titik tertinggi tahun ini. Alasannya karena transisi tambang Batu Hijau dari Fase 7 ke Fase 8, maintenance smelter, dan tekanan jual setelah keluar dari MSCI. Pada waktu itu, valuasi menarik dan menjadi saham yang diburu sebagai potensi rebound setelah jatuh dalam.
Namun, saat ini saham AMMN lebih menarik dipandang sebagai saham growth. Fundamentalnya mulai berbicara. Pada kuartal I/2026, produksi konsentrat naik 110 persen menjadi 167.792 dmt.
Bukan cuma volumenya yang naik, kadarnya juga makin bagus. Kadar tembaga meningkat dari 0,31 persen menjadi 0,53 persen, sedangkan kadar emas naik dari 0,17 gram/ton menjadi 0,54 gram/ton.
Alhasil, produksi tembaga dalam konsentrat melonjak 173 persen menjadi 101 juta pon, sementara produksi emas naik 321 persen menjadi 136.115 ons.
Nah, yang menarik, tahun ini tembaga masih menjadi mesin utama pendapatan. Dari total penjualan kuartal I/2026 sebesar US$808 juta, sekitar US$391 juta berasal dari katoda tembaga, atau hampir setengah dari total penjualan.
Kemudian sekitar US$334 juta berasal dari konsentrat yang juga mengandung tembaga dan emas, sementara emas murni menyumbang sekitar US$82 juta. Jadi, pergerakan harga copper sangat penting buat AMMN, di samping harga emas.

Pemulihan ini akhirnya terlihat di laporan keuangan. Pendapatan melonjak dari US$2 juta menjadi US$808 juta, EBITDA berbalik dari rugi US$42 juta menjadi US$508 juta, dan laba bersih berubah dari rugi US$138 juta menjadi laba US$163 juta. Kas dan setara kas juga naik menjadi US$815 juta, sementara capex turun 68 persen menjadi US$114 juta.
Cerita berikutnya adalah hilirisasi. AMMN sekarang tidak hanya mengandalkan penjualan konsentrat, tetapi juga mulai mengubah hasil tambangnya menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi melalui smelter dan Precious Metal Refinery atau PMR.
Smelter tersebut memiliki kapasitas untuk mengolah sekitar 900.000 dmt konsentrat per tahun menjadi hingga 220.000 ton katoda tembaga, sementara PMR memiliki kapasitas menghasilkan hingga 579.000 ons emas murni per tahun, ditambah perak dan produk lainnya.
Smelter juga menghasilkan produk sampingan berupa asam sulfat hingga 830.000 ton per tahun, yang nantinya bisa menjadi sumber pendapatan tambahan.
Jadi sederhananya, AMMN punya beberapa mesin pertumbuhan sekaligus, yaitu produksi naik, grade tembaga dan emas membaik, harga komoditas lagi tinggi, lalu hilirisasi mulai memberikan nilai tambah. Belum lagi ada proyek Elang dengan cadangan ore sekitar 2,5 miliar ton, yang bisa menjadi sumber pertumbuhan jangka panjang.
Berkat sederet hal itu, laba bersih tahun ini diproyeksikan melonjak 307 persen secara tahunan menjadi US$ 1 miliar.
Namun, perlu dicatat juga risikonya juga tidak kecil.
Pertama, AMMN tetap sangat bergantung pada harga tembaga dan emas. Kalau harga kedua komoditas ini terkoreksi, pendapatan dan margin bisa ikut tertekan.
Kedua, setelah masuk Fase 8, biaya penambangan justru naik 29 persen menjadi US$3,25 per ton, jadi kenaikan produksi belum otomatis berarti margin akan selalu naik.
Ketiga, ada risiko eksekusi dari smelter, PMR, dan proyek Elang. Kalau ramp-up atau proyek-proyek tersebut molor, ekspektasi pertumbuhan yang sudah dihargai pasar bisa ikut terganggu.

Saham MDKA Menanti Berkah Kenaikan Permintaan Tembaga
Kedua, ada MDKA yang terkenal sebagai perusahaan tambang tembaga.
Namun, posisinya saat ini lebih cocok dibilang sebagai holding company. MDKA membawahi PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) yang secara khusus bergerak di bisnis nikel dan pengembangan bateray EV, serta EMAS, yang mengelola bisnis logam mulia.
Kalau dilihat dari laporan keuangan sampai Maret 2026, pendapatan MDKA justru paling banyak datang dari bisnis nikel melalui MBMA.
Dari total pendapatan sekitar US$620,3 juta, proyek nikel menyumbang sekitar US$454,2 juta atau lebih dari 73 persen. Sementara Tujuh Bukit menyumbang sekitar US$133,2 juta, Wetar sekitar US$30,2 juta, dan Pani masih relatif kecil sekitar US$2,6 juta.
Jadi kalau melihat bisnis MDKA hari ini, nikel adalah mesin omzet terbesarnya, meski begitu emas dan tembaga menjadi bagian penting dari portofolio lainnya.

Kalau nikel adalah mesin bisnis MDKA saat ini, tembaga justru bisa menjadi kartu as untuk pertumbuhan jangka panjang.
MDKA punya Tambang Tembaga Tujuh Bukit di Banyuwangi yang berada di bawah tambang emas Tujuh Bukit. Depositnya sangat besar, dengan potensi sekitar 8,1 juta ton tembaga dan 27,4 juta ons emas.
Kalau proyek bawah tanah ini nantinya beroperasi sesuai rencana, MDKA bisa berubah menjadi salah satu pemain tembaga besar di Indonesia, dengan produksi rata-rata sekitar 110 ribu ton tembaga dan 350–450 ribu ons emas per tahun serta umur tambang lebih dari 30 tahun.
Jadi sebenarnya MDKA punya beberapa cerita yang berjalan bersamaan. Nikel dan baterai melalui MBMA menjadi mesin pertumbuhan pendapatan sekarang, emas dari Tujuh Bukit dan nantinya Pani menjadi sumber kas, sementara tembaga Tujuh Bukit Underground menjadi taruhan pertumbuhan jangka panjang.

Ditambah lagi ada proyek Pani di Gorontalo yang ditargetkan menjadi tambang emas besar, serta pengembangan HPAL dan kawasan industri IKIP yang bisa memperpanjang rantai bisnis nikel sampai ke bahan baku baterai.
Namun, perlu dicatat beban bunga dan depresiasi cukup besar karena perusahaan agresif mengeluarkan capex untuk membangun berbagai proyek tersebut. Bahkan pada data Maret 2026, beban keuangan mencapai sekitar US$38,1 juta, sementara beberapa segmen seperti Pani dan bisnis lainnya masih mencatat rugi sebelum pajak. Artinya, MDKA memang sedang membayar biaya ekspansi hari ini untuk mengejar kapasitas dan laba yang lebih besar ke depan.
Risikonya juga ada. Karena bisnis nikel melalui MBMA menyumbang lebih dari 70 persen pendapatan, MDKA cukup sensitif terhadap harga dan margin nikel. Kalau harga nikel melemah atau biaya produksi naik, kontribusi MBMA bisa ikut tertekan. Selain itu, proyek-proyek besar seperti HPAL, Pani, dan terutama Tujuh Bukit Underground membutuhkan modal besar dan punya risiko eksekusi.
Semakin besar proyeknya, semakin besar juga risiko kalau terjadi keterlambatan atau pembengkakan biaya. Jadi, investor juga harus melihat kondisi utang dan arus kas, bukan cuma melihat besarnya cadangan mineral.
Kalau menilik secara teknikal, posisi saham MDKA baru mengalami koreksi normal setelah menyentuh resistance 3130. Menurut kami, potensi menguji support terdekat di 2850 masih cukup terbuka.
Jika ada pantulan dari support menarik untuk dijadikan demand area dengan tujuan trading jangka pendek. Kecenderungan tren sudah mulai ke arah naik, selama support itu bisa dipertahankan, sebaliknya jika terjadi breakdown patut diantisipasi karena harga bisa berbalik sideways panjang atau bahkan turun lagi.

Saham TINS Menikmati Berkah Harga Timah di 50.000 dolar AS per Ton
Terakhir, ada saham TINS, emiten BUMN yang fokus bisnisnya menambang sampai mengolah logam timah. Perusahaan ini juga terbilang pemain terbesar di kancah global.
Menariknya, harga saham TINS baru-baru ini mencetak rekor All Time High secara intraday menembus 4900. Dengan begitu, resistance is sky is the limit. Atau, jika menggunakan level psikologis 5000 menjadi resistance terdekat yang bisa diuji.
Sayangnya, secara teknikal kami melihat candle hari ini sudah mulai mengekor cukup panjang ke bawah, yang artinya mulai banyak investor melakukan taking profit. Risiko koreksi jangka pendek terbuka, setidaknya ke support fibonacci dari ratio 38,2 persen di 4200.

Menurut kami, strategi buy on retracement selama tren naik terjaga masih cukup menark untuk trading jangka pendek. Untuk investasi, posisi saat ini sudah tidak best price untuk dapat return optimal.
Kenaikan harga saham TINS ini didorong oleh kinerja fundamental juga. Laba bersih pada semester I 2026 melonjak 805 persen menjadi Rp2,7 triliun, dari Rp300 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menariknya, kenaikan laba tersebut masih berpotensi berlanjut. Berdasarkan rata-rata estimasi 14 analis, laba bersih TINS pada 2026 diproyeksikan mencapai Rp4,3 triliun, naik sekitar 233 persen atau tiga kali lipat dibandingkan Rp1,31 triliun pada 2025.

Menurut kami, proyeksi tersebut masih cukup masuk akal. Salah satu kuncinya ada pada harga timah yang masih tinggi. Seperti yang sudah di ulas sebelumnya, kalau harga timah itu sudah terbang hampir 60 persen setahun. Prospek permintaannya juga masih akan tinggi untuk perkembangan AI, sementara pasokan masih ketat di Indonesia.
Namun, cerita pasokan ketat tidak berlaku untuk TINS. Mereka malah potensial memanfaatkan penutupan tambang ilegal untuk mengalihkan produksi ke jalur resmi. Alhasil, TINS akan dapat tambahan pasokan sambil menikmati harga timah yang lagi tinggi-tingginya.
Dengan begitu, ada peluang bagi TINS untuk mendapatkan kombinasi yang menarik, yaitu volume produksi meningkat, sementara harga jual tetap kuat.
Tak hanya itu, pemerintah juga menyerahkan aset sekitar Rp7 triliun, berupa blok tambang dan enam smelter. Tambahan aset ini berpotensi memperkuat kapasitas produksi dan pengolahan TINS, sekaligus membuat perusahaan bisa menangkap lebih banyak manfaat ekonomi dari cadangan timah nasional.
Kinerja semester I/2026 sebenarnya sudah memberikan gambaran tersebut.
Produksi bijih timah TINS mencapai 12.232 ton Sn, naik 75 persen secara tahunan (yoy). Produksi logam timah juga meningkat 58 persen yoy menjadi 10.865 ton, sementara penjualan melonjak 85 persen yoy menjadi 10.984 ton.
Di saat yang sama, ASP atau harga jual rata-rata timah TINS naik 52 persen yoy menjadi US$49.794 per ton. Sementara itu, cash cost hanya naik 7 persen yoy menjadi US$21.650 per ton pada semester I/2026.

Artinya, kenaikan harga jual masih jauh lebih besar dibandingkan kenaikan biaya. Ini menjadi salah satu alasan margin TINS bisa melebar signifikan.
Dengan kata lain, selama harga timah masih mampu bertahan di level tinggi dan volume produksi terus meningkat, ruang pertumbuhan laba TINS masih terbuka hingga akhir tahun.
Selain timah, TINS juga punya potensi pertumbuhan dari logam tanah jarang (LTJ). Lewat kerja sama dengan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), TINS bisa memanfaatkan sisa hasil produksi (SHP) sebagai bahan baku LTJ tanpa harus menanggung seluruh kebutuhan CapEx pengolahan.
Proyek ini berpotensi menjadi sumber pendapatan baru mulai 2028, terutama dari unsur seperti Neodymium dan Praseodymium yang banyak digunakan untuk magnet kendaraan listrik dan industri pertahanan.
Namun, proyek ini masih dalam tahap pengembangan. Proses ekstraksi monasit cukup kompleks karena harus memisahkan unsur radioaktif seperti torium. Karena itu, keberhasilan pilot plant setelah groundbreaking pada Mei 2026 akan menjadi penentu sebelum masuk tahap komersialisasi. Jika berhasil, bisnis LTJ bisa menjadi sumber pertumbuhan baru TINS di luar siklus harga timah.

Kesimpulan
Dalam kondisi saat ini, apakah ketiga saham logam industri ini layak untuk investasi jangka panjang? jawabannya tidak.
Alasannya, saham-saham ini memiliki bisnis yang cyclical. Saat ini memang ada kenaikan permintaan yang terlihat signifikan karena ekspansi terkait infrastruktur pendukung AI seperti data center. Namun, ada risiko besar di baliknya, ekspansi jumbo untuk pendukung AI itu dibiayai oleh utang.
Kenaikan harga logam industri yang terlalu tinggi juga bisa berdampak terhadap biaya ekspansi data center hyperscale. Dengan risiko tingkat sukubunga yang berpotensi meningkat, hal itu bisa memicu penundaan ekspansi data center yang berujung ke penurunan harga komoditas logam industri.
Sehingga, mengejar harga saat ini untuk investasi jangka menengah sangat kurang cocok. Strategi yang lebih pas untuk saat ini adalah trading cuan bungkus selama momentum demand logam industri untuk ekspansi data center masih terjaga.
Mau Diskusi Saham Langsung dengan Founder Mikirduit?
Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini


