Tarif Naik 70 Persen, Berikut Investasi Agar Bisa Naik Haji

Tarif haji naik 70 persen menjadi hampir Rp70 juta per orang. Kira-kira, apa ya investasi yang cocok agar bisa naik haji lebih cepat? baca selengkapnya di sini

Tarif Naik 70 Persen, Berikut Investasi Agar Bisa Naik Haji

Mikir Duit – Tarif Haji disebut berpotensi naik sekitar 76 persen di 2023 dari Rp39 juta menjadi Rp69 juta. Kenaikan itu cukup aneh mengingat tarif haji di Arab Saudi lagi turun 30 persen dan rupiah malah lagi menguat terhadap mata uang utama, termasuk riyal Arab Saudi. Kalau begitu, bagaimana strategi mengumpulkan dana haji ya? kamu nggak usah pusing, biar kita  yang mikir duitnya ya.

Kementerian Agama menjelaskan penyebab kenaikan biaya haji di Indonesia menjadi Rp69,2 juta sebagai antisipasi perubahan harga transportasi dan akomodasi.

"Kita menjaga justru di tiket pesawat karena kurs dolar AS lagi tinggi. Jaga-jaga harga avtur naik turun," jelas Kemenag.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS justru lagi menguat kembali ke Rp14.900-an. Harga minyak dunia juga tidak setinggi di 2022 dengan posisi di harga 80-86 dolar AS per barel.

Di luar asumsi itu, ternyata kenaikan tarif haji yang harus dibayarkan masyarakat ini juga disebabkan perubahan skema pembayaran. Dari awalnya sekitar 41 persen dibayarkan masyarakat, sisanya dari manfaat investasi dana haji, sedangkan kini 70 persen dibayarkan masyarakat, sedangkan sisanya dari manfaat investasi dana haji.

Meski, harga keseluruhannya juga naik 21 persen menjadi Rp98 juta dari sebelumnya Rp81 juta.

Jadi, apakah alasan itu cukup kuat ya? daripada pusing menanti jawaban Kementerian Agama, lebih baik kita pikirkan, dimana tempat investasi terbaik untuk mengumpulkan dana haji?

Tabungan Haji

Program tabungan haji banyak ditawarkan perbankan syariah. Konsep tabungan haji ini benar-benar tidak ada bunga, potongan administrasi maupun komisi. Jadi, benar-benar menabung uang titip dana skema akad wa’diah.

Kelebihannya, tidak pusing mikirin tabungan kena biaya administrasi dan sebagainya. Lalu, bisa menabung secara auto debet per bulan. Lalu, jika tabungan sudah mencapai nilai tertentu bisa dikabari oleh bank untuk mendaftarkan haji ke Kemenag.

Kekurangannya, berhubung tidak ada tingkat bunga yang didapatkan, berarti untuk bisa naik haji harus benar-benar mengumpulkan uang dari pendapatan aktif.

Simulasinya, jika ingin pergi haji dengan biaya Rp70 juta [pembulatan dari Rp69 juta] dengan target pendaftaran 1,3,5,sampai 10 tahun. Segini, uang yang harus ditabung per bulan.

Untuk satu tahun, berarti harus menabung sekitar Rp5,8 juta per bulan. Lalu, untuk 3 tahun berarti harus menabung sekitar Rp1,94 juta per bulan. Untuk 5 tahun harus menabung sekitar Rp1,16 juta per bulan. Terakhir, jika menargetkan 10 tahun lagi, berarti harus menabung Rp583.000 per bulan.

SBN Ritel

Dengan SBN ritel, kamu bisa pergi haji gratis dengan uang dari pendapatan pasif kupon SBN ritel lho. Kira-kira berapa ya modalnya?

Jika kamu ingin investasi yang syariah banget, bisa juga ke SBN ritel syariah seperti sukuk ritel dan sukuk tabungan. Namun, berhubung saat ini yang tersedia SBR, kita akan simulasikan denngan SBR seri 012.

SBR seri 012 terdiri dari dua tenor, yakni tenor 2 tahun dengan kupon 6,15 persen dan tenor 4 tahun kupon 6,35 persen. Tingkat kupon ini pun berpotensi naik jika Bank Indonesia menaikkan suku bunga, dan juga turun hingga batas kupon saat diterbitkan jika Bank Indonesia menurunkan suku bunga.

Kalau dihitung, jika ambil tenor 2 tahun berarti membutuhkan modal sekitar Rp570 juta untuk bisa mendapatkan keuntungan senilai Rp70 juta. Lalu, jika ambil tenor 4 tahun membutuhkan modal sekitar Rp280 juta untuk mendapatkan keuntungan Rp70 juta.

Saham Syariah

Salah satu pilihan lainnya adalah investasi di saham syariah. Bursa Efek Indonesia memiliki sekitar ratusan saham syariah yang bisa dipilih untuk investasi tabungan haji. Kira-kira apa saham yang menarik untuk diinvestasikan tabungan haji?

Dengan menggunakan asumsi rata-rata kenaikan harga saham per tahun selama 10 tahun terakhir. Ada lima saham yang paling menarik untuk investasi tabungan haji. Di sini, kita mengesampingkan saham komoditas yang pergerakannya terlalu volatile untuk investasi jangka panjang.

ULTJ

PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Co. Tbk. (ULTJ) menjadi saham non-komoditas dengan tingkat rata-rata kenaikan harga saham per tahun selama 10 tahun terakhir paling besar, yakni 14,3 persen.

Artinya, jika kamu sudah punya modal Rp50 juta, berarti hanya butuh sekitar tiga tahun untuk bisa berangkat haji. Itu pun belum menghitung pendapatan dari dividen setiap tahunnya. ULTJ menjadi salah satu saham yang rutin bagi dividen, meski dividen yieldnya hanya 1,71 persen.

EKAD

PT Ekadharma International Tbk. (EKAD) menjadi saham non-komoditas dengan tingkat rata-rata kenaikan harga saham per tahun selama 10 tahun terakhir yang terbesar kedua, yakni 13 persen.

Artinya, jika kamu sudah punya modal  Rp50 juta, berarti hanya butuh sekitar tiga setengah sampai empat tahun untuk berangkat haji. Itu belum termasuk pendapatan dividen EKAD yang memiliki dividen yield lebih besar dari ULTJ, yakni 3,55 persen.

SMSM

PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM) menjadi saham non-komoditas dengan tingkat rata-rata kenaikan harga saham per tahun dalam 10 tahun terakhir terbesar ketiga, yakni 10,28 persen.

Artinya, jika kamu sudah punya modal  Rp50 juta, berarti hanya butuh sekitar empat tahun untuk berangkat haji. Itu belum termasuk pendapatan dividen SMSM yang memiliki dividen yield lebih besar dari ULTJ dan EKAD, yakni 5,38 persen.

ICBP

PT Indofood  Sukses Makmur CBP Tbk. (ICBP) menjadi saham non-komoditas dengan tingkat rata-rata kenaikan harga saham per tahun dalam 10 tahun terakhir terbesar keempat, yakni 9,92 persen.

Artinya, jika kamu sudah punya modal  Rp50 juta, berarti hanya butuh sekitar empat setengah tahun untuk berangkat haji. Itu belum termasuk pendapatan dividen ICBP yang memiliki dividen yield 2,06 persen.

TLKM

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) menjadi saham non-komoditas dengan tingkat rata-rata kenaikan harga saham per tahun dalam 10 tahun terakhir terbesar kelima, yakni 6,96 persen.

Artinya, jika kamu sudah punya modal  Rp50 juta, berarti hanya butuh sekitar enam tahun untuk berangkat haji. Itu belum termasuk pendapatan dividen ICBP yang memiliki dividen yield 3,91 persen.

Kesimpulan

Apapun instrumen investasinya, kamu harus memahami risikonya. Misalnya, jika tabungan haji risikonya ya tidak ada keuntungan yang bisa membantu percepat pengumpulan dana. Risiko SBR ritel, dana tidak bisa diambil secara tiba-tiba kecuali saat periode early redemption. Lalu, saham memiliki risiko floating loss alias rugi yang belum direalisasikan, tapi bikin kepikiran.

Kamu juga tidak harus memilih salah satu instrumen, tapi juga bisa dikolaborasikan antara SBR ritel dengan saham. Nanti, keuntungannya bisa digunakan untuk top up ke program tabungan haji.

Jadi, kamu pilih jalan yang mana nih?


Disclaimer: Artikel ini tidak mengajak kamu membeli atau menjual salah satu saham. Artikel ini hanya memberikan informasi yang bisa jadi pertimbanganmu untuk membeli atau menjual sebuah saham. Investasi saham memiliki risiko yang harus ditanggung oleh diri sendiri.