Saham Value Investing Andalan Lo Kheng Hong, Begini Prospek Saham GJTL
Saham GJTL hari ini naik kencang lebih dari 7 persen, investor kawakan Lo Kheng Hong juga terpantau akumulasi lagi. Apakah prospeknya menarik untuk kita ikuti?
Mikirduit - Lo Kheng Hong (LKH), investor kawakan yang sering dijuluki Warren Buffetnya Indonesia. Strategi investasinya lebih pada value investing, cari saham murah dengan fundamental yang solid. Salah satu saham koleksi utama yang mencerminkan strategi tersebut adalah PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL).
LKH secara konsisten menambah porsi kepemilikannya di emiten manufaktur ban terbesar di Asia Tenggara ini hingga tercatat memegang lebih dari 7% kepemilikan. Menariknya, saham GJTL berhasil terbang hampir 7 persen per Senin hari ini (3/8/2026).
Lantas, bagaimana kinerja terbaru dan prospek pertumbuhan GJTL ke depan? apakah menarik untuk ikut dilirik sekarang?
Jejak Lo Kheng Hong di Saham GJTL
Pertama, kita mulai dulu dari jejak Lo Kheng Hong di saham GJTL. Namanya pertama kali muncul di media pada 6 Januari 2021 dengan kepemilikan saham di atas 5 persen.
Sempat pada akhir 2021, dalam sehari melakukan beli dan jual cepat 4,30 persen saham. Namun, kembali aktif mengakumulasi hampir tiap bulan sampai saat ini.

Paling baru, dari tanggal 13-28 Juli 2026, beliau terus mengakumulasi saham GJTL sampai kepemilikannya mencapai 7,05 persen, mewakili 245,30 juta lembar saham.
Sebagai catatan, ada sekitar empat broker yang digunakan Lo Kheng Hong dalam membeli saham GJTL ini, diantaranya BCA Sekuritas (SQ), BRI Danareksa Sekuritas (OD), Mandiri Sekuritas (CC), dan ES (Ekokapital Sekuritas).

Aksi borong saham GJTL oleh LKH ini cukup menjadi sorotan pasar, terutama di tengah pergerakan harga sahamnya yang mulai menguat.
Langkah tersebut juga mencerminkan keyakinannya terhadap prospek fundamental perusahaan. Lantas, bagaimana kinerja dan prospek GJTL ke depan?
Review Kinerja Terbaru dan Prospeknya
Sepanjang semester pertama tahun ini, GJTL mencetak kinerja keuangan cukup ciamik.
Penjualan bersih naik 5,6 persen menjadi Rp9,0 triliun, dari Rp8,52 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Masih di bawah target perusahaan yang mematok pertumbuhan tahun ini bisa mencapai 7-10 persen yoy, hal ini disampaikan pada public expose 22 Mei 2026.
Meski begitu, margin laba kotor naik jadi 21,1 persen dari 18,7 persen, berkat efisiensi dari turun nya harga beberapa bahan baku utama. Beban keuangan juga ditekan hingga 20 persen karena pelunasan/restrukturisasi utang jangka panjang
EBITDA juga meningkat dari Rp1,13 triliun menjadi Rp1,46 triliun. Sementara itu, laba bersih melonjak sekitar 76 persen YoY menjadi Rp796 miliar, dari Rp451 miliar pada semester I-2025.
Kenaikan laba ini didorong oleh kinerja operasional yang lebih baik, beban keuangan yang lebih rendah, serta keuntungan selisih kurs dari aset yang mencapai Rp115,33 miliar.

Menariknya, GJTL mencatat arus kas operasional melesat hingga dua kali lipat menjadi Rp815,6 miliar, membuktikan bahwa lonjakan laba didukung oleh real cash flow.
Sebagai informasi, GJTL merupakan salah satu produsen ban terbesar di Asia Tenggara, mereka memproduksi berbagai jenis ban untuk mobil penumpang, sepeda motor, kendaraan niaga, SUV, truk, hingga alat berat dan kendaraan off-road.
Selain itu, GJTL juga memproduksi berbagai produk berbasis karet, seperti ban dalam, flap, benang ban (tire cord), dan karet sintetis. Segmen ban memang spesialisasi mereka yang berkontribusi lebih dari 90 persen terhadap penjualan.
Saat ini, GJTL sedang gencar melakukan ekspansi produksi ban TBR (Truck Bus Radial) yang memiliki marjin lebih tebal dibanding ban konvensional.
Ekspansi berjalan dua fase, di mana fase pertama telah rampung dan fase kedua ditargetkan selesai pada akhir tahun 2026. Beroperasinya penuh fasilitas TBR ini akan mendorong skala ekonomis (economies of scale) serta menyerap permintaan dari sektor logistik, transportasi, dan pertambangan.
Kebijakan anti-dumping Uni Eropa terhadap ban buatan China juga membuka celah besar bagi GJTL untuk mengisi kekosongan pasokan ke Eropa, sekaligus memperkuat pendapatan valuta asing yang berfungsi sebagai pelindung terhadap risiko beban valas.
Menilai dari dua hal itu, kami melihat prospek pertumbuhan GJTL masih akan positif di beberapa kuartal mendatang, dengan catatan perusahaan juga menyeimbangkan efisiensi dari normalisasi harga minyak, fluktuasi harga karet, dan nilai tukar rupiah ke depan.
Sejauh ini kami lihat harga minyak sudah cenderung melandai, dibandingkan kuartal dua lalu yang sempat nanjak hingga di atas US$ 100 per barel. Namun, fluktuasi dan kondisi geopolitik yang tidak pasti tetap menjadi hal yang patut diantisipasi.
Persaingan dengan produsen China juga bukan menjadi ancaman yang ketat bagi GJTL. Manajemen tetap optimis dengan pengalamannya sejak 1951, strateginya saat ini lebih difokuskan pada modernisasi mesin secara selektif, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta kekuatan tim pemasaran.

Pergerakan Harga Saham GJTL Vs Valuasinya
Akumulasi yang deras dari investor kawakan LKH ditambah hasil kinerja keuangan semester I/2026 yang ciamik, patut menjadi katalis yang membuat harga saham GJTL naik lagi.
Hari ini saja naiknya hampir 7 persen, mengakumulasi penguatan nyaris 20 persen hanya dalam sebulan terakhir. Kenaikan kencang itu membuat posisi harga saham GJTL sedang menguji resistance 1400, yang pernah disentuh pada Oktober 2024 lalu.
Dari sisi teknikal, posisi saat ini memang sudah tidak lagi bisa dikatakan sebagai best price untuk masuk.
Namun, derasnya tekanan beli dalam beberapa hari terakhir membuka peluang terjadinya breakout di atas level Rp1.400. Jika resistance tersebut berhasil ditembus dengan volume yang kuat, tren kenaikan berpotensi berlanjut.
Sebaliknya, apabila harga gagal menembus resistance, peluang koreksi jangka pendek tetap perlu diantisipasi dengan area support terdekat di kisaran Rp1.275.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah karakter pergerakan saham GJTL yang cenderung lambat ketika memasuki fase sideways. Secara teknikal, saham ini telah bergerak dalam fase konsolidasi selama lebih dari 1,5 tahun.
Di satu sisi, kondisi tersebut membuat investor harus bersabar karena pergerakannya tidak seagresif saham lain.
Namun di sisi lain, periode konsolidasi yang panjang juga dapat menjadi fondasi yang kuat apabila nantinya terjadi breakout, sehingga potensi kenaikan berikutnya bisa berlangsung lebih berkelanjutan.

Menariknya, valuasi GJTL itu masih di 0,41 kali PBV. Memang jika dibandingkan rata-rata lima tahun di 0,41 kali, valuasi sudah tidak terlalu murah.
Namun, dengan prospek kenaikan laba dari efisiensi dan ekspansi ban TBR, menangkap pasar ekspor di Eropa, sampai arus kas yang positif, kami menilai re-rating positif dengan target konservatif ke PBV 0,50 kali, potensial upside 22 persen ke ke level 1600-an.

Update Gerak Saham Lo Kheng Hong Lainnya..
Beralih dari GJTL, karakter saham yang dimiliki LKH lainnya itu sebenarnya hampir mirip semua. Valuasi pasti murah, fundamental solid, tetapi hampir semua di fase perusahaan yang matang.
Perusahaan yang mature artinya sudah tidak terlalu butuh capex besar, mereka sudah bisa menghasilkan arus kas operasional tebal untuk melunasi utang atau membagikan dividen.
Dalam pantauan kami, ada empat saham lain yang beliau punya dengan harga saham yang masih jauh tertinggal, yakni SIMP, ABMM, DILD, dan BMTR.
Sepanjang tahun ini, hanya GJTL saja yang berhasil naik double digit, yang positif lagi ada SIMP meskipun buncit hanya naik 4 persenan, yang lain justru terjerembab di zona merah.

Pada akhirnya, kembali ke filosofi investasi Lo Kheng Hong, harga saham yang berada di zona merah bukanlah ancaman selama fundamental perusahaan tetap kuat, terutama jika pertumbuhan laba dan arus kas operasional masih terjaga.
Hal itu terlihat jelas dari GJTL. Sepanjang 2021 hingga pertengahan 2026, ketika harga sahamnya lebih banyak bergerak di zona merah dan berkonsolidasi, LKH justru hampir setiap bulan terus menambah kepemilikannya.
Ia tidak berfokus pada fluktuasi harga jangka pendek, melainkan pada nilai intrinsik perusahaan yang menurutnya belum tercermin di harga saham.
Sebagai seorang value investor, LKH memang dikenal memiliki horizon investasi yang sangat panjang. Ia rela menahan saham selama bertahun-tahun sambil menunggu pasar menyadari nilai sebenarnya dari perusahaan tersebut.
Bagi investor seperti LKH, fase ketika perusahaan yang fundamentalnya masih sehat sedang dipandang sebelah mata oleh pasar justru menjadi kesempatan untuk mengakumulasi saham berkualitas dengan margin of safety yang lebar.
Namun, pertanyaan besarnya adalah, apakah kita juga mampu sesabar itu?
Bagi sebagian besar investor, tantangan terbesar bukanlah mencari saham bagus, melainkan mengendalikan psikologi.
Tidak sedikit yang kehilangan kesabaran ketika harga bergerak datar atau bahkan terus turun dalam waktu lama, padahal fundamental perusahaan belum berubah.
Karena itu, sebelum mengikuti jejak seorang value investor seperti LKH, penting untuk memastikan bahwa strategi investasi tersebut juga sesuai dengan karakter, tujuan, dan tingkat kesabaran kita sendiri.
Ada satu catatan juga, bukan berarti metode LKH ini satu holy grail yang pasti bisa cuan meskipun kita sudah ekstra sabar. Beliau pernah rugi juga di saham SRIL yang berakhir bangkrut.
Waktu mengakumulasi saham SRIL, valuasi memang sangat murah, statusnya juga sebagai raksasa tekstil Asia Tenggara. Namun, risiko beban utang membengkak ketika industri terguncang pandemi.
Jadi, diperlukan tambahan analisis industri menyesuaikan kondisi makro dan ketahanan neraca supaya kita tidak terjebak dalam value trap (jebakan harga murah).
Kesimpulan
Kenaikan saham GJTL belakangan ini memang bukan tanpa alasan. Mulai dari aksi borong Lo Kheng Hong, lonjakan laba di semester I/2026, arus kas yang makin kuat, sampai prospek ekspansi ban TBR dan peluang ekspor ke Eropa, semuanya menjadi katalis yang mendukung pertumbuhan perusahaan.
Meski begitu, kita tetap perlu objektif. Dari sisi teknikal, harga saham GJTL memang sudah tidak lagi berada di area best price. Kalau berhasil menembus resistance, peluang naiknya masih terbuka. Sebaliknya, kalau gagal breakout, bukan tidak mungkin harga akan kembali menguji area support terlebih dahulu.
Yang paling menarik sebenarnya bukan cuma soal saham GJTL, tapi cara berpikir Lo Kheng Hong sebagai seorang value investor.
Beliau tidak membeli karena harga sedang naik, melainkan karena melihat nilai perusahaan masih lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan pasar. Saat banyak investor bosan karena harga bergerak datar bertahun-tahun, justru di situlah beliau pelan-pelan menambah kepemilikan.
Jadi, kalau ingin belajar dari Lo Kheng Hong, jangan hanya ikut membeli saham yang sama. Yang lebih penting adalah meniru cara berpikirnya, fokus pada fundamental, mencari margin of safety, lalu punya kesabaran untuk menunggu pasar menyadari nilai sebenarnya dari perusahaan.
Karena pada akhirnya, dalam dunia value investing, keuntungan sering kali datang kepada mereka yang paling sabar, bukan yang paling cepat.
Stock Digest Edisi Juli 2026 Baru Dirilis, Beberapa Saham Value dan Contrarian Investing Pilihan Sudah Keluar Area BUY, Apa yang masih bisa dilirik?
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

