Saham EDGE Pasang Harga Tender Delisting Tinggi, Ini Deretan yang Berpotensi Menyusul
Setelah EDGE memutuskan delisting dan pasang harga tender di all time high-nya Rp11.500 persaham, lalu, apalagi saham delisting selanjutnya? simak ulasan lengkapnya di sini
Mikirduit – Saham EDGE memutuskan delisting sukarela dan menawarkan harga tender offer di Rp11.500 per saham. Jadi, apa lagi saham yang berpotensi delisting?
Selaras dengan EDGE, SUPR dan IBST juga memutuskan hengkang dari IDX. Hal ini dilakukan selaras dengan keputusan penambahan free float dari bursa menjadi minimal 15 persen. Meski, dalam kasus SUPR dan IBST bisa diwajarkan delisting setelah diakuisisi TOWR sehingga total saham publiknya di bawah 7,5 persen.
Namun, dari kasus delisting ini, banyak juga yang berharap mencari saham delisting dengan tujuan mendapatkan harga penawaran tender offer yang menarik.
Secara historis, ada beberapa kisah saham delisting yang indah, mulai dari AQUA, SCBD, hingga RMBA. Namun, ada juga yang tidak seindah itu seperti META.
Lalu, risiko lainnya dari saham delisting ini adalah proses delisting yang memakan waktu lama. Alih-alih bisa dapat cuan dari tender offer, malah nyangkut lama karena saham disuspensi.
Misalnya SCPI yang sudah lebih dari 1 dekade masih belum berhasil delisting. Untungnya, dividen SCPI tergolong jumbo sehingga meski nyangkut masih dapat dividen. Meski, dividen terakhir dibayarkan pada Desember 2023 senilai Rp42.000 per saham (sebelumnya di 2022 dan 2023 masing-maing di Rp45.000 dan Rp50.000 per saham). Harusnya, dengan dividen itu sudah mengembalikan bahkan untung dari total modal yang nyangkut.
Peluang Saham Delisting 2026-2027
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dari kententuan dan potensi delisting karena kebijakan free float ini.
Dari segi aturan, IDX mewajibkan minimal harga tender offer di delisting sukarela berada di rata-rata harga tertinggi 90 hari atau dari penilai independen.
Sementara itu, ada dua kategori keuangan untuk melihat seberapa wajar potensi pelaksanaan harga tender offer, yakni dari segi Book value per share dan net current asset value per share. Meski, dana-nya tetap diberikan dari pengendali. Namun, kita bisa menakar seberapa wajarnya harga tender offer dari dua metriks tersebut.
Nilai buku per saham menjadi gambaran dasar nilai perusahaan, terutama peruahaan keuangan, sedangkan net current aset value per share adalah metriks klasik yang digunakan Benjamin Graham dalam menilai saham diskon. Namun, metriks tersebut juga menggambarkan berapa sih nilai perusahaan dari total nilai aset lancar secara bersih. Untuk NCAV, kami menggunakan pendekatan NCAV per share dari total free float. Nantinya, bisa diukur, peluang keuntungan sekitar 10-30 persen dari total NCAV tersebut.
Selain itu, investor juga harus memperhatikan skema aturan penambangan free float hingga minimal 15 persen:
Pertama, jika market cap di atas Rp5 triliun dan free float di atas 12,5 persen harus dikejar minimal 15 persen pada 31 Maret 2027. (masih 1 tahun lagi)
Kedua, jika market cap di atas RP5 triliun dan free float di bawah 12,5 persen, berarti harus memenuhi minimal 12,5 persen pada 31 Maret 2027 dan 15 persen pada 31 Maret 2028. (1-2 tahun lagi)
ketiga, jika market cap di bawah Rp5 triliun punya waktu hampir 3 tahun hingga 31 Maret 2029 untuk memenuhi ketentuan tersebut.
Jika tidak delisting, dan emiten malah menambah free float ya tidak ada masalah. Risikonya hanya ada jika terjadi penurunan harga saham. Dengan skema spekulatif ini, bisa atur dari segi alokasi modal, jangan dijadikan modal mayoritas untuk spekulatif di saham delisting.

Dua Saham yang Berpotensi Pilih Keluar dari IDX
Kami mencatat ada dua saham konglomerat yang berpotensi keluar dari IDX ketimbang memaksakan diri untuk menambah free float.
Pertama, DUTI yang memiliki free float hanya 0,54 persen. Saat ini, mayoritas saham DUTI sudah dipegang oleh BSDE. Menariknya, secara BVPS DUTI masih di bawah harga pasar, yakni Rp5.856 per saham, sedangkan NCAV dari total lembar saham free floatnya sekitar Rp573.703 per saham.
Catatannya, saham ini sangat tidak likuid karena free float yang sangat rendah. Lembar saham free float hanya 9,87 juta lembar, sehingga untuk masuk dan keluar dengan skala modal menengah besar akan cukup sulit. Kami menilai probabilitas DUTI untuk delisting cukup besar.
Kedua, EPMT, yang merupakan anak usaha KLBF. EPMT punya free float sekitar 7,51 persen. Secara struktur kepemilikan saham, 94,25 persen saham perseroan dipegang oleh dua pihak, yakni KLBF dan Citibank New York Rainbow Fund LP.
Menariknya, nilai buku per saham EPMT juga masih di bawah harga saham sekitar Rp2.888 per saham, sedagkan NCAV free float-nya mencapai Rp29.027 per saham.
Sama seperti DUTI, catatannya saham EPMT ini kurang likuid. Total free floatnya sekitar 200 juta lembar. Namun, probabilitas delistingnya lebih rendah dibandingkan dengan DUTI.
Mau Dapat Report Analisis 42 Saham Potensi Delisting Lainnya?
Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US,
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini