Saham Bank Menengah BNGA vs BDMN, Mana yang Oke?

Saham BNGA lagi jadi sorotan setelah sepanjang 2024 ini naik 20-an persen. Namun, apakah saham BNGA masih menarik? Di sini, kami coba bandingkan BNGA dengan kompetitornya, yakni BDMN.

Saham Bank Menengah BNGA vs BDMN, Mana yang Oke?

Mikirduit Dua saham bank menengah ini lagi menarik perhatian. BNGA mencatatkan kenaikan harga saham hingga 22 persen sepanjang 2024, sedangkan BDMN mencatatkan kenaikan harga saham sebesar 5,4 persen sepanjang tahun ini. Dari kedua saham bank menengah ini, mana yang paling oke? kami akan coba bandingkan di sini.

Saham BNGA dan BDMN ini menjadi dua saham bank menengah yang punya fokus kuat di segmen korporasi dan kredit konsumer. Berbeda dengan NISP yang cenderung di segmen korporasi, komersial, dan UKM. Meski begitu, ada perbedaan besar juga antara BNGA dan BDMN, yakni porsi terbesar segmen konsumernya. BNGA lebih banyak porsi di KPR, sedangkan BDMN lebih banyak porsi di kredit kendaraan bermotor via ADMF.

Jika melihat secara price to book value-nya, saham BDMN posisinya memang lebih murah dengan PBV 0,58 kali, sedangkan PBV BNGA sebesar 1,07 kali. Secara historis 5 tahunannya pun PBV BNGA sudah lebih tinggi dari rata-rata 5 tahunnya, yakni 0,64 kali. Sementara, BDMN memiliki PBV yang lebih rendah dari rata-rata 5 tahunnya yang berada di 0,71 kali. 

Artinya, apakah saham BDMN lebih menarik atau justru harga saham BNGA yang cukup layak dihargai dengan PBV di atas rata-rata 5 tahun dan menjadi yang termahal dibandingkan dengan saham-saham bank menengah non-syariah lainnya?

Saham BNGA

Saham BNGA mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 8,52 persen menjadi Rp213 triliun pada 2023. Kenaikan kredit BNGA lebih didorong oleh unit usaha syariahnya yang mencatatkan kenaikan sebesar 17,05 persen, sedangkan kredit konvensionalnya hanya tumbuh tipis 5,83 persen. 

Dengan pertumbuhan kredit yang hanya 8 persen, BNGA mencatatkan pendapatan bunga naik 16,7 persen menjadi Rp22,3 triliun. 

Meski kreditnya tidak terlalu agresif, BNGA bisa menjaga rasio dana murah (giro dan tabungan terhadap total dana pihak ketiga) untuk tetap naik menjadi 63,86 persen dibandingkan dengan 63,57 persen. 

Sayangnya, kenaikan rasio dana murah tidak menghindarkan BNGA dari risiko kenaikan beban bunga. Sepanjang 2023, beban bunga BNGA naik 58,81 persen menjadi Rp8,95 triliun. 

Hasilnya, pendapatan bunga bersih BNGA turun 0,92 persen. Untungnya, BNGA masih punya ruang penurunan pencadangan sebesar 48 persen menjadi Rp1,85 triliun sehingga laba bersih bisa tetap naik 28,41 persen menjadi Rp6,47 triliun.

Lalu, apakah kinerja saham BNGA ini bagus atau buruk? 

Untuk itu, kita bisa melihat beberapa rasio keuangan perseroan di sini. 

Beberapa sisi positif saham BNGA terlihat dari penurunan rasio kredit bermasalah baik gross dan net. Hal itu yang membuat BNGA berani mengurangi alokasi pencadangan cukup signifikan di 2023. Total NPL gross BNGA turun menjadi 1,96 persen dibandingkan dengan 2,8 persen pada periode sama tahun sebelumnya. NPL net-nya juga turun menjadi 0,71 persen dibandingkan dengan 0,75 persen. 

Dengan posisi penurunan NPL serta NPL Coverage tembus 292,1 persen, BNGA berpotensi melajutkan penurunan  pencadangan di 2024. Sehingga ada peluang laba bersih terus bertumbuh positif di tahun ini. 

Lalu, dari segi cost to income ratio (CIR) BNGA juga bisa terus jaga cukup rendah di level 44,83 persen dibandingkan dengan 44,91 persen pada periode sebelumnya. 

Meski, ada beberapa catatan rasio yang kurang bagus akibat siklus suku bunga tinggi, yakni tingkat Net Interest Margin (NIM) turun menjadi 4,4 persen dibandingkan dengan 4,69 persen pada tahun sebelumnya, serta kenaikan loan to deposit ratio (LDR) yang tembus 89,3 persen dibandingkan dengan 85,63 persen. 

Jika posisi suku bunga masih tinggi di 2024, kondisi ini bisa membuat tren pendapatan bunga bersih BNGA terus tertekan. Meski, akan terselamatkan dari ruang penurunan pencadangan jika tidak ada tren kenaikan kredit bermasalah di tahun ini. 

Secara kredit segmen, di 2023 kemarin, BNGA mendapatkan dorongan utama dari pertumbuhan kredit korporasi yang naik 11,7 persen menjadi Rp83,43 triliun. Lalu, segmen konsumer yang tumbuh 6,9 persen menjadi Rp71,85 triliun. 

Sebenarnya, segmen kredit UKM BNGA juga naik kenceng sebesar 9,5 persen, tapi dari kontribusi ke total kredit masih cukup rendah sekitar 13 persen dari total kredit. 

Namun, jika melihat dari proyeksi konsensus analis terkait kinerja BNGA di 2024 dan 2025, tren laba bersihnya cenderung melambat. 

BNGA diperkirakan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 9,68 persen menjadi Rp7,1 triliun pada 2024. Lalu, laba bersihnya diperkirakan naik 4,22 persen menjadi Rp7,4 triliun pada 2025.

Sementara itu, untuk prospek dividen BNGA di 2024 nanti, jika tingkat dividend payout ratio-nya sekitar 60 persen. Berarti, tingkat dividen per saham BNGA sekitar Rp154,2 per saham. Dari situ, tingkat dividen yield menggunakan harga perdagangan 22 Februari 2024 sebesar 7,3 persen.

Rencana Akuisisi Muamalat, Game Changer untuk BBTN?
Ada kabar BBTN berencana akuisisi Bank Muamalat, kira-kira gimana prospeknya dan bisa bikin harga sahamnya bangkit dari sideways berkepanjangan nggak ya?

Saham BDMN

Jika dibandingkan dengan BNGA, secara bisnis BDMN lebih ekspansif. Pertumbuhan kredit BDMN tembus 18,47 persen menjadi Rp143,65 triliun. (akumulasi dengan unit usaha syariah yang tumbuh 21,47 persen menjadi Rp11,18 triliun)

Salah satu hal yang menarik dari BDMN adalah dari segi beban bunga. Jadi, BDMN mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 10,76 persen menjadi Rp138,41 triliun. Namun, masalahnya ada penurunan signifikan di produk tabungan sebesar 20,13 persen menjadi Rp38,16 triliun, sedangkan dari sisi deposito naik 45,72 persen menjadi Rp66,66 triliun. 

Menariknya, dari sisi kenaikan beban bunga hanya 56,56 persen menjadi Rp4,73 triliun. Kenaikan ini masih lebih rendah dibandingkan dengan BNGA yang naik 58,81 persen. Padahal, dari segi struktur dana pihak ketiga, rasio dana murah BNGA malah naik, sedangkan BDMN turun menjadi 51,83 persen dibandingkan dengan 63,39 persen.

Di sini, hasilnya pendapatan bunga bersih BDMN masih tumbuh positif sebesar 7,69 persen menjadi Rp15,47 triliun. 

Namun, dari segi laba bersih BDMN hanya tumbuh 6,1 persen menjadi Rp3,5 triliun. Hal itu disebabkan adanya kenaikan pencadangan sebesar 17,6 persen menjadi Rp3,7 triliun. 

Lalu, apakah kinerja BDMN lebih baik dibandingkan dengan BNGA? 

Ada dua sisi. Kelebihannya, BDMN masih mampu mencatatkan kenaikan net interest margin (NIM) sebesar 7,74 persen secara konsolidasi. Tingkat kredit bermasalah juga mampu ditekan secara konsolidasi. NPL gross turun menjadi 2,21 persen dibandingkan dengan 2,63 persen pada periode sama tahun sebelumnya. Meski, NPL net naik menjadi 0,33 persen dibandingkan dengan 0,23 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 

Dengan posisi NPL coverage di 266 persen, jika tidak ada kenaikan kredit bermasalah lagi, ada potensi BDMN kembali menurunkan pencadangan dan laba bersih bisa kembali naik. 

Meski begitu, BDMN ada sisi yang harus diperhatikan, yakni dari segi cost to income ratio (CIR), BDMN terus mencatatkan kenaikan dari 47 persen pada 2021 menjadi 51,6 persen pada 2023. Kenaikan ini menunjukkan biaya yang dikeluarkan BDMN untuk bisa mendapatkan pendapatan itu semakin besar. 

Ditambah, dari segi ruang pertumbuhan kredit, BDMN memiliki likuiditas yang sangat ketat ada di 96,52 persen. Hal ini bisa berimplikasi kepada kenaikan beban bunga karena BDMN akan menawarkan bunga tabungan atau deposito lebih besar demi bisa meningkatkan dana pihak ketiga untuk ekspansi kredit. 

Adapun, untuk prospek dividen BDMN di 2024 dengan asumsi dividend payout ratio sebesar 35 persen dari laba bersih per saham Rp358, berarti total dividen per saham senilai Rp125,47 per saham. Jika dihitung dengan harga saham BDMN di 22 Februari 2024, tingkat dividend yield-nya sekitar 4,26 persen.

Saham BDMN Agresif Ekspansi dan Murah, Begini Analisisnya
Edisi saham murah pertama, yakni BDMN. Kenapa? overall valuasi murah dengan prospek kinerja oke. Cari tahu gambaran analisisnya di sini ya.

Kesimpulan

Lalu, mana yang terbaik antara BNGA dan BDMN? kami memiliki beberapa pertimbangan yang bisa kamu jadikan acuan.

BNGA secara bisnis tingkat rasio kredit bermasalah jauh lebih baik dibandingkan dengan BDMN. Ruang ekspansi kredit juga lebih longgar dibandingkan dengan BDMN, sehingga ada potensi saat BDMN mencatatkan kenaikan beban bunga lebih tinggi, posisi beban bunga BNGA justru tumbuh lebih rendah. Apalagi, secara operasional bisnis, BNGA juga lebih efisien dalam mendapatkan pendapatan. 

Hanya saja, harga saham BNGA saat ini sudah terlalu tinggi. Bahkan, jika kami menggunakan asumsi rata-rata pertumbuhan book value BNGA dalam 10 tahun terakhir itu sebesar 5,6 persen per tahun. Berarti, book value per share BNGA di akhir 2024 sekitar Rp2.073 per saham. 

Misalnya, kita anggap rata-rata PBV BNGA 10 tahun terakhir di 0,69 kali itu adalah posisi wajar perseroan. Berarti dengan asumsi book value per share BNGA di Rp2.073 pada akhir tahun ini, maka harga wajar BNGA ada di Rp1.430 per saham. Artinya, harga saham BNGA yang saat ini (22 Februari 2024) ada di Rp2.100 per saham itu bisa dikatakan lebih mahal 46 persen dari harga wajarnya. 

Apalagi. kenaikan saham BNGA ada hubungannya dengan aksi Lo Kheng Hong menyerap private placement perseroan. Catatannya, Lo Kheng Hong sendiri menyerap private placement BNGA di harga Rp1.575 per saham. Artinya, posisi harga saham BNGA saat ini melonjak karena faktor non-fundamental. 

BDMN secara bisnis tidak lebih baik dibandingkan dengan BNGA, meski dari segi pertumbuhan kredit lebih agresif, serta pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang positif. Namun, BDMN harus mengelola rasio kredit bermasalahnya yang secara nominal lebih besar dibandingkan dengan BNGA. Hal itu pun memaksa BDMN untuk meningkatkan pencadangan sehingga laju laba bersihnya cenderung tipis. 

Namun, ada satu kelebihan BDMN dibandingkan dengan BNGA, secara grup, BDMN lebih ekspansif dalam pertumbuhan anorganik. Di sini, BDMN mengakuisisi bisnis konsumer Standard  Chartered, lalu anak usahanya bersama induk usaha ADMF dan MUFG mengakuisisi Home Credit dan MFMI untuk memperkuat segmen bisnis perusahaan pembiayaan. Serta, konektivitas ekosistem MUFG di Asean yang bisa mendorong pertumbuhan segmen kredit korporasi perseroan. 

TIga poin itu belum terepresentasikan ke dalam harga BDMN. Dengan rata-rata pertumbuhan book value BDMN dalam 10 tahun terakhir sebesar 4,23 persen. Nilai book value per share BDMN di akhir 2024 berpotensi sekitar Rp5.327 per saham. Dengan rata-rata PBV 5 tahun terakhir (tadinya mau masukkin yang 10 tahun terakhir, tapi ada anomali saat BDMN diakuisisi MUFG yang bikin harganya meroket) di 0,71 kali. Kami anggap harga wajar BDMN ada di Rp3.782 per saham. Sehingga harga saham BDMN saat ini bisa dibilang diskon sekitar 28 persen dari perkiraan harga wajar yang kami buat. 

Dengan pertimbangan kelebihan dan kekurangan dari dua saham bank menengah ini, mana yang menjadi pilihan menarik untukmu?

DISKON UNTUK PEMBURU SAHAM DIVIDEN DI BULAN PENUH CINTA

Kami berikan promo untuk member baru dengan potongan harga hingga Rp200.000 langsung hingga Akhir Februari 2024. (kuota promo terbatas siapa cepat dia dapat)

baru saja meluncurkan Zinebook #Mikirdividen yang berisi review 20 saham dividen yang cocok untuk investasi jangka panjang lama banget.

Kalau kamu beli #Mikirdividen edisi pertama ini, kamu bisa mendapatkan:

  • Update review laporan keuangan hingga full year 2023-2024 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Siap mendapatkan dividen sebelum diumumkan (kami sudah buatkan estimasinya)
  • Publikasi eksklusif bulanan untuk update saham mikirdividen dan kondisi market

Tertarik? langsung saja beli Zinebook #Mikirdividen dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini