Rahasia Dari Anjloknya Laba Bersih UNTR Sebesar 88 persen Pada Semester I/2026

Emiten kontraktor dan pertambangan milik grup Astra, UNTR mencatat penurunan tajam pada kinerja sepanjang paruh pertama 2026. Laba susut drastis, bahkan nilainya tak sampai Rp1 triliun. Apa alasan dibaliknya? apakah itu hanya sementara atau masih berisiko? 

Share
saham UNTR

Mikirduit - PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat kinerja yang jauh lebih lemah pada Semester I/2026. Laba bersih perusahaan anjlok 88 persen YoY menjadi hanya Rp956 miliar, atau bahkan tak sampai Rp1 triliun. 

Penurunan ini dipicu kombinasi faktor operasional dan non-operasional. Pertanyaannya, apakah tekanan tersebut hanya bersifat sementara atau justru menjadi awal pelemahan yang lebih panjang? Mari kita bahas. 

Review Kinerja UNTR Semester I/2026 

Kami mulai dulu dengan bahas kinerja keuangan UNTR pada semester I/2026. Terlihat jelas bahkan dari top line memang sudah jatuh yang berdampak sampai bottom line. 

Pendapatan bersih tercatat sebesar Rp58,29 triliun, turun 15 persen secara tahunan (YoY) dari Rp68,53 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Jika dilihat per segmen, hampir seluruh lini bisnis mengalami penurunan pendapatan. Penurunan terdalam berasal dari segmen gold and other mineral mining yang anjlok 66 persen YoY menjadi Rp2,36 triliun akibat sempat terhentinya operasional Tambang Martabe. Segmen heavy equipment juga turun 28 persen YoY menjadi Rp14,97 triliun, sementara thermal and metallurgical coal mining terkoreksi 4 persen YoY menjadi Rp12,87 triliun.

Di tengah pelemahan tersebut, mining contracting menjadi satu-satunya segmen yang masih mencatat pertumbuhan. Pendapatan dari bisnis ini naik 4 persen YoY menjadi Rp27,16 triliun, sekaligus menjadi penopang utama kinerja UNTR pada Semester I/2026.

Sumber: Quarterly report UNTR, Juni 2026

Penurunan pendapatan tersebut berdampak sampai laba bersih perusahaan. UNTR membukukan laba bersih sebesar Rp956 miliar, anjlok 88 persen YoY dari Rp8,13 triliun pada Semester I/2025.

Namun, jika mengecualikan pos-pos non-recurring atau beban yang sifatnya satu kali, laba bersih operasional UNTR sebenarnya mencapai Rp4,26 triliun, turun 48 persen YoY dari Rp8,20 triliun pada Semester I/2025. 

Hal ini menunjukkan bahwa penurunan laba tidak sepenuhnya berasal dari pelemahan bisnis inti, tetapi juga dipengaruhi oleh pembukuan beban non-operasional dalam jumlah besar.

Sumber: Quarterly report UNTR, Juni 2026

Alasan Dibalik Laba UNTR Turun Drastis 

Penurunan laba bersih hingga 88 persen YoY dipengaruhi oleh kombinasi faktor operasional dan non-operasional. 

Dari sisi operasional, perusahaan menghadapi penurunan kontribusi dari bisnis emas serta perlambatan aktivitas di sektor batu bara. Sementara itu, dari sisi non-operasional, UNTR membukukan beban non-recurring bernilai triliunan rupiah yang semakin menekan laba bersih. Kami mencoba bahas lebih detail, berikut rinciannya: 

1. Beban Non-Recurring Mencapai Rp3,3 Triliun 

Penyebab terbesar anjloknya laba bersih berasal dari pembukuan beban non-recurring sebesar Rp3,31 triliun, yang digunakan untuk ekspansi bisnis panas bumi dan bayar denda ke satgar PKH. 

Semuanya bersifat one-off alias sekali, jadi ke depan tidak akan ada pembayaran sebesar ini lagi. 

Pertama, komponen terbesar berasal dari penurunan nilai (impairment) atas investasi di proyek panas bumi Supreme Energy Rantau Dedap. 

Sebagai informasi, Supreme Energy Rantau Dedap merupakan proyek panas bumi yang diakuisisi UNTR pada 2024 sebagai bagian dari strategi diversifikasi ke sektor energi baru terbarukan (EBT). Mau dapat stockpick dari AI untuk saham AS dan Indonesia, kamu bisa klaim diskon 60% + 15% untuk Investing Pro cuma sampai 31 Juli 2026, Langsung langganan di sini sekarang!

Namun karena performa sumur panas bumi di bawah ekspektasi, proyeksi arus kas proyek ikut turun sehingga perusahaan harus membukukan impairment atas investasi tersebut. 

Kedua, UNTR juga mencatat pembayaran kewajiban terkait Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate, Konawe Utara. Beban ini berasal dari kegiatan masa lalu, sebelum/saat proses konsolidasi aset, jadi manajemen memisahkan beban ini dari kinerja operasional murni (laba inti).

Poin pembayaran PPKH dan denda Satgas PKH pada dasarnya merupakan langkah pembersihan legalitas (cleanup) atas aset tambang nikel Stargate.

2. Operasional Tambang Martabe Sempat Terhenti 

Bisnis emas juga menjadi salah satu penyumbang utama penurunan kinerja UNTR. 

Sepanjang awal 2026 hingga pertengahan Mei, operasional Tambang Emas Martabe sempat terhenti akibat proses penyesuaian perizinan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan persetujuan RKAB.

Karena hanya bergantung pada tambang Sumbawa Jutaraya, volume penjualan emas turun signifikan sampai 80 persen lebih dari 125ribu oz menjadi 23ribu oz saja. 

Sumber: Monthly report UNTR, Juni 2026

Padahal pada saat yang sama harga emas global berada di level yang tinggi, alhasil UNTR tidak bisa mendapatkan momentum tersebut secara optimal. 

Martabe baru mulai beroperasi kembali secara bertahap sejak pertengahan Mei 2026 sehingga kontribusi produksinya diperkirakan baru akan lebih terasa pada Semester II/2026.

3. Kuota RKAB Batu Bara Menekan Seluruh Lini Bisnis

Selain bisnis emas, tekanan juga datang dari bisnis utama UNTR yang selama ini masih banyak berkaitan dengan batu bara. 

Kebijakan pemerintah terkait alokasi RKAB batu bara yang lebih ketat pada 2026 memberikan tekanan terhadap hampir seluruh lini bisnis UNTR.

Pada segmen alat berat Komatsu, perusahaan tambang menunda pembelian alat berat baru karena target produksi mereka dikurangi.

Di bisnis kontraktor tambang melalui PAMA, aktivitas overburden removal maupun produksi batu bara ikut menurun seiring penyesuaian kuota produksi para klien.

Sementara itu, bisnis tambang batu bara milik sendiri melalui Turangga Resources juga mengalami keterbatasan pertumbuhan karena kuota produksi yang disetujui pemerintah lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Laba Saham ESSA Naik 103 Persen, Tapi Harga Saham Loyo, Begini Penjelasannya
ESSA mencetak kinerja moncer sepanjang paruh pertama 2026, labanya meroket 103 persen setahun, tetapi masih ada tanda tanya soal nasib proyek blue ammonia dan SAF yang ditunda. Kira-kira gimana prospek ke depan? apakah masih menarik untuk dilirik sahamnya?

Lantas, Bagaimana Prospek Kebangkitan Laba UNTR Ke Depan? 

Memasuki semester II/2026, kami nilai prospek pemulihan laba masih terbuka. Kami melihat sebagian besar faktor yang menekan laba UNTR hanya bersifat sementara. 

Beban impairment merupakan beban satu kali (one-off), sementara Tambang Emas Martabe kini sudah kembali beroperasi dan diperkirakan akan meningkatkan produksi secara bertahap pada semester kedua. 

Kembalinya operasional Tambang Martabe menjadi katalis utama pemulihan kinerja UNTR. Dengan harga emas yang masih tinggi, normalisasi produksi berpotensi meningkatkan penjualan dan margin segmen emas pada Semester II/2026.

Di sisi lain, penyelesaian kewajiban PPKH di Tambang Nikel Stargate memberikan kepastian operasional yang lebih baik. Hal ini diharapkan memperlancar produksi maupun pengurusan RKAB sehingga kontribusi bisnis nikel dapat meningkat.

Di tengah kuota RKAB batu bara yang lebih ketat, PAMA mulai memperbesar porsi pekerjaan di tambang non-batu bara seperti nikel dan emas agar utilisasi alat berat tetap terjaga. 

Sementara itu, bisnis Komatsu juga masih ditopang permintaan dari sektor infrastruktur, kehutanan, dan perkebunan sehingga tekanan dari sektor batu bara dapat diredam. 

Di sisi lain, menurut kami neraca UNTR masih cukup sehat. Meski posisi keuangan berubah menjadi net debt Rp9,4 triliun, rasio net gearing masih rendah di 8,5 persen, sehingga kondisi keuangan UNTR tetap tergolong sehat. 

Menurut kami, dibalik kinerja Kuartal II/2026 yang sangat lemah justru menciptakan basis pembanding (low base effect) yang rendah. Artinya, jika produksi Martabe kembali normal dan tidak ada lagi beban one-off, peluang pertumbuhan laba pada Semester II/2026 menjadi lebih besar secara tahunan. 

Kalau prospek pemulihan tersebut benar-benar terjadi, bagaimana valuasi saham UNTR saat ini? Apakah penurunannya justru membuka peluang investasi? 

Valuasi dan Teknikal Saham UNTR 

Berdasarkan metrik PBV, saham UNTR diperdagangkan di 0,93 kali, relatif masih murah dibandingkan rata-rata lima tahun di 1,19 kali dan posisinya masih sedikit di bawah -1 standar deviasi. 

Kalau harga rata-rata dijadikan acuan harga wajar, dengan harga saham UNTR terkini di Rp24.025 per lembar, ada potensial upside sebesar 28 persen ke kisaran Rp30.740 per lembar. 

Sumber: Stockbit, 30 Juli 2026

Sementara itu, kalau melihat secara teknikal, saham UNTR masih berada dalam downtrend jangka pendek. Namun posisinya pas menguji level support MA50 daily. Jika terjadi rebound ada potensi menguat ke resistance terdekat di 27.000, tetapi jika support sekarang ditembus ke bawah perlu antisipasi level support selanjutnya di 22.800 dan 20.875. 

Sumber: Tradingview, 30 Juli 2026

Perlu dicatat juga, saham UNTR ini sifatnya cyclical, pergerakannya secara tidak langsung sensitif terhadap harga emas dan batu bara, meskipun bisnisnya lebih dominan sebagai kontraktor tambang. 

Kesimpulan

Pelemahan kinerja UNTR pada Semester I/2026 memang terlihat sangat tajam. Namun setelah ditelusuri lebih dalam, sebagian besar tekanan berasal dari faktor yang bersifat sementara, mulai dari beban impairment, penghentian operasional Tambang Martabe, hingga penyesuaian RKAB batu bara.

Dengan Martabe yang sudah kembali beroperasi, kontribusi Stargate yang mulai meningkat, serta tidak adanya lagi beban one-off sebesar Rp3,31 triliun, kami melihat peluang pemulihan laba pada Semester II/2026 masih terbuka.

Bahkan, lemahnya kinerja pada Kuartal II/2026 justru menciptakan efek low base yang berpotensi membuat pertumbuhan laba terlihat lebih kuat pada paruh kedua tahun ini.

Meski begitu, investor tetap perlu mencermati perkembangan harga emas, kebijakan RKAB, dan realisasi produksi Martabe karena ketiga faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah kinerja UNTR ke depan. Dengan valuasi PBV yang masih berada di bawah rata-rata historis, menurut kami saham UNTR tetap menarik untuk dipantau, terutama bagi investor yang memiliki horizon investasi menengah hingga panjang.

Mau Insight Saham yang Lengkap dan Spesial dari Mikirduit?

Kamu bisa ikutan event rutin bulanan Mikirduit dengan menjadi member Mikirsaham. Kami juga lagi ada promo akhir bulan nih, dapatkan DISKON spesial dengan kode promo: GAJIANJULI. Promo terbatas hanya untuk 20 pendaftar pertama hingga 31 Juli 2026. (Berlaku untuk semua paket)

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini 

Investasi Crypto di PINTU sekarang