Laba Saham ESSA Naik 103 Persen, Tapi Harga Saham Loyo, Begini Penjelasannya
ESSA mencetak kinerja moncer sepanjang paruh pertama 2026, labanya meroket 103 persen setahun, tetapi masih ada tanda tanya soal nasib proyek blue ammonia dan SAF yang ditunda. Kira-kira gimana prospek ke depan? apakah masih menarik untuk dilirik sahamnya?
Mikirduit - Saham ESSA mencatatkan pertumbuhan laba bersih naik 103 persen menjadi 30 juta dolar AS pada kuartal II/2026, tapi harga saham malah loyo. Apa yang menyebabkan itu terjadi?
Kami mulai dulu dari membahas kinerja keuangan ESSA sepanjang paruh pertama 2026 yang hasilnya cukup ciamik.
ESSA mencatatkan pendapatan sebesar 186 juta dolar AS atau sekitar Rp3,35 triliun (asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS) sepanjang semester I-2026, naik 36 persen secara tahunan (yoy).
Di saat yang sama, EBITDA meningkat 48 persen menjadi 73 juta dolar AS atau sekitar Rp1,31 triliun, sementara laba bersih melonjak 103 persen menjadi 30 juta dolar AS atau sekitar Rp540 miliar.
Pada kuartal II-2026 saja, ESSA membukukan laba bersih sebesar 11 juta dolar AS atau sekitar Rp198 miliar, naik 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meski lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya karena adanya penghentian operasi sementara untuk maintenance pabrik.
Menariknya, maintenance pabrik berhasil selesai lebih cepat dari perkiraan. Manajemen awalnya menargetkan selama lima minggu atau sekitar 35-38 hari, tetapi pengerjaan bisa rampung dalam 34 hari, selesai pada 8 Juni 2026.
Sebagai catatan, program maintenance itu merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk menjaga keandalan aset, meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus meminimalkan risiko penghentian operasi yang tidak terencana.

Adapun, motor pertumbuhan ESSA masih berasal dari bisnis amonia, hampir 90 persen dari total pendapatan disumbang oleh segmen ini, sisanya dari jualan LPG.
Sepanjang semester pertama, rata-rata harga jual (ASP) amonia yang terealisasi melonjak 70 persen menjadi US$531 per metrik ton. Kenaikan ini berhasil mengompensasi volume produksi yang turun akibat maintenance.
Pada kuartal II/2026 sendiri volume produksi turun sampai 31 persen setahun menjadi 126.000 ton. Kalau diakumulasi dalam enam bulan, volume produksi turun 8 persen setahun menjadi 321.000 ton.
Meski begitu, pendapatan berhasil ditopang kenaikan ASP, dari segmen amonia sendiri meningkat 43 persen yoy menjadi 166 juta dolar AS atau sekitar Rp2,99 triliun.
Di sisi lain, bisnis LPG juga tetap mencatatkan pertumbuhan. Didukung kenaikan harga jual LPG sebesar 5 persen menjadi 639 dolar AS per metrik ton, segmen ini menghasilkan pendapatan 20 juta dolar AS atau sekitar Rp360 miliar.
Proyek Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan Ditunda
Di tengah kinerja yang menguat, ESSA juga mengumumkan kabar yang cukup mengejutkan.
Melalui anak usahanya PT ESSA SAF Makmur (ESM), perusahaan memutuskan menangguhkan pengembangan proyek Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur, bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang berbahan baku minyak jelantah (used cooking oil/UCO).
Keputusan tersebut berlaku efektif sejak 27 Juli 2026 setelah perusahaan mengevaluasi berbagai faktor strategis dan kondisi pasar terkini.
Sebelumnya, proyek ini dirancang membangun fasilitas produksi di Jawa Tengah dengan kapasitas sekitar 200.000 metrik ton per tahun dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal I-2028.
Per Mei 2025, proyek tersebut juga sudah memasuki tahap final feasibility study, termasuk finalisasi teknologi, pemilihan kontraktor EPC, pengadaan bahan baku, hingga pengaturan offtake.
Adapun alasan kenapa proyek ditunda menurut kami ada beberapa hal:
Pertama, pasar SAF global dan domestik masih berada dalam tahap awal (early stage) dan belum cukup stabil untuk menopang investasi belanja modal (capex) yang sangat besar.
Kedua, pengumpulan minyak goreng bekas (Used Cooking Oil / UCO) sebagai bahan baku utama SAF sangat kompetitif di Indonesia, di mana pemain besar seperti Pertamina memiliki kekuatan jaringan pasokan (supply chain) yang lebih dominan.
Ketiga, alasan perusahaan menunda proyek ini bertujuan supaya manajemen dapat menahan pengeluaran modal besar (capital preservation) sembari memantau perkembangan teknologi dan regulasi.
Jadi, menurut kami alasan menunda proyek cukup masuk akal. Di sisi lain, manajemen juga memastikan bahwa penangguhan bukan berarti proyek dibatalkan, serta tidak akan memberikan dampak material terhadap operasional dan kondisi keuangan.

Perlu dipahami juga, proyek SAF ini lebih merupakan diversifikasi ke bisnis energi hijau yang diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru di masa depan.
Jadi ketika proyek SAF ditunda, dampak jangka pendek terhadap laba relatif kecil, karena laba ESSA saat ini memang masih didominasi bisnis amonia dan LPG.
Namun, dari sisi sentimen pasar, penundaan ini mengurangi salah satu katalis pertumbuhan jangka panjang. Namun, dalam jangka pendek harusnya belum jadi hal yang mengkhawatirkan.
Apa Kabar Proyek Blue Ammonia?
Beda dengan SAF yang sifatnya diversifikasi, ada proyek Blue Ammonia yang merupakan core competency ESSA, saat ini tengah dibagun oleh anak usahanya, PT Panca Amara Utama (PAU) di Banggai, Sulawesi Tengah.
Blue ammonia adalah amonia yang diproduksi dari gas alam seperti amonia konvensional, tetapi emisi CO₂ yang dihasilkan ditangkap menggunakan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sehingga jejak karbonnya jauh lebih rendah.
Saat ini, ESSA belum menjual blue ammonia sama sekali. Seluruh amonia yang diproduksi dan dijual saat ini, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor, masih berupa amonia biasa (grey ammonia).
Pada kuartal II/2026, sempat ada maintenance pabrik, selain sebagai perbaikan rutin, ini sekaligus persiapan teknis untuk memasang teknologi CCS di pabrik eksisting mereka (Banggai Ammonia Plant).
Alat penangkap karbon ini ditargetkan bisa menyerap hingga 70 persen emisi gas buang dan dijadwalkan mulai beroperasi komersial (Commercial Operation Date) pada akhir tahun 2027 atau paling lambat kuartal IV-2028.
Begitu alat ini aktif, amonia yang dihasilkan otomatis berubah status menjadi amonia rendah karbon (blue ammonia).
Bisnis amonia global mengandalkan sistem penjualan langsung (Direct Sales), di mana pabrik tidak akan memproduksi barang sebelum mendapatkan pembeli pasti.
Karena itu, jauh sebelum fasilitas penangkap karbon selesai dibangun, ESSA sudah mengikat kerja sama jangka panjang dengan perusahaan raksasa Jepang, Mitsubishi Corporation, yang bertindak sebagai pembeli siaga (offtaker) utama.
Setelah pabrik blue ammonia resmi beroperasi nanti, ESSA akan memakai strategi penjualan hibrida (campuran).
Amonia yang sudah terbukti ramah lingkungan dan tersertifikasi akan diprioritaskan untuk diekspor ke negara seperti Jepang dan Korea Selatan. Pembeli luar negeri ini bersedia membayar harga lebih mahal (harga premium) sekitar 11 persen hingga 14 perse (bahkan manajemen menargetkan hingga 20%) dibanding amonia biasa.
Sementara itu, jika ada sisa produksi atau ada pabrik dalam negeri (seperti pabrik pupuk lokal) yang belum diwajibkan memakai bahan ramah lingkungan, amonia tersebut tetap dijual sebagai amonia biasa (grey ammonia) dengan harga pasar normal.
Menurut kami, proyek ini akan memberikan dampak material ke laba bersih dalam dua sampai tiga tahun mendatang, jika kapasitas produksi sudah optimal.
Namun, di balik peluang besar tersebut, risiko utama yang kini menjadi perhatian pasar adalah kepastian perpanjangan pasokan gas bumi.
Mengawal Negosiasi Perpanjangan Kontrak dan Formula Harga Gas Baru
ESSA saat ini memperoleh pasokan gas bumi sebesar 55 MMSCFD dari konsorsium JOB Pertamina–Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB Senoro) di Blok Senoro-Toili.
Berdasarkan laporan keuangan hingga akhir Juni 2026, beban pembelian gas dari JOB Pertamina–Medco E&P Tomori Sulawesi itu mencapai US$65,09 juta atau setara 88,39 persen dari total beban bahan baku ESSA.

Hal ini menunjukkan tingginya ketergantungan ESSA terhadap pasokan gas dari konsorsium tersebut. Pasalnya, gas bumi bukan hanya digunakan sebagai sumber energi, tetapi juga merupakan bahan baku utama dalam proses produksi amonia, sehingga keberlanjutan pasokannya menjadi faktor yang sangat krusial bagi operasional perusahaan.
Adapun kontrak Gas Sales Agreement (GSA) tersebut dijadwalkan berakhir pada 2027, sehingga proses negosiasi perpanjangan kontrak menjadi salah satu faktor yang terus dicermati investor.
Hasil negosiasi ini akan menentukan kepastian pasokan gas sekaligus struktur biaya produksi ESSA dalam beberapa tahun ke depan.
Menariknya, ESSA menggunakan skema harga gas yang fleksibel, di mana harga pembelian gas mengikuti pergerakan harga amonia global. Dengan mekanisme ini, ketika harga amonia turun, harga gas yang dibayar ESSA juga ikut menyesuaikan sehingga tekanan terhadap margin keuntungan dapat diminimalkan (margin cushion).
Di sisi lain, proses negosiasi kontrak baru didukung oleh rencana pengembangan Lapangan Senoro Phase 2 (Senoro Selatan), yang bertujuan menambah ketersediaan cadangan gas untuk jangka panjang.
Apabila pengembangan lapangan berjalan sesuai rencana dan perpanjangan GSA berhasil disepakati, ESSA akan memiliki kepastian pasokan bahan baku untuk mendukung operasional, termasuk rencana pengembangan bisnis blue ammonia pada 2027–2028.
Sebaliknya, apabila negosiasi mengalami keterlambatan atau menghasilkan perubahan formula harga gas yang kurang menguntungkan, hal tersebut berpotensi memengaruhi biaya produksi dan profitabilitas perusahaan.
Valuasi ESSA Atraktif dan Masih di Fase Akumulasi
Beralih ke harga saham ESSA saat ini di Rp610 per lembar, menurut kami masih diperdagangkan pada valuasi yang menarik dibandingkan rata-rata historisnya.
Berdasarkan metrik PE, saat ini di valuasi 11,2 kali, posisinya masih di bawah -1 standar deviasi dalam lima tahun.
Jika menggunakan rata-rata valuasi historis sebagai acuan, harga wajar ESSA berdasarkan PE 16,56 kali berada di kisaran Rp902 per saham, sehingga harga saat ini masih mencerminkan diskon sekitar 32,4 persen.

Sementara, menggunakan metrik PBV juga masih menarik, posisinya ada di 1,38 kali, sedikit di bawah -1 standar deviasi selama lima tahun terakhir.
Kalau dihitung dari harga wajar di PBV rata-rata lima tahun di 1,80 kali, potensial upside bisa ke sekitar Rp796 per saham atau masih menawarkan diskon sekitar 23,4 persen dari harga pasar saat ini.

Secara teknikal, ESSA masih menunjukkan karakteristik fase akumulasi. Koreksi yang terjadi saat ini kami nilai masih wajar sebagai bagian dari proses konsolidasi setelah reli sebelumnya.
Area MA20 harian di kisaran Rp590 menjadi support penting yang perlu diperhatikan.
Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang terbentuknya pola inverse head and shoulders masih terbuka.
Apabila pola ini terkonfirmasi dengan penembusan neckline disertai volume yang meningkat, maka hal tersebut dapat menjadi sinyal awal dimulainya tren kenaikan baru.

Sementara, jika level 590 ditembus ke bawah, patut diantisipasi support selanjutnya bisa ke 515 terlebih dahulu. Oleh karena itu, untuk strategi beli diharapkan pakai metode cicil bukan langsung all in, untuk antisipasi jika harga masih berisiko turun.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, kami menilai ESSA masih memiliki prospek yang menarik, meski terdapat beberapa faktor yang perlu terus dicermati investor.
Dalam jangka pendek, kinerja perusahaan masih akan sangat bergantung pada pergerakan harga amonia global. Selama harga amonia bertahan di level yang tinggi, bisnis inti ESSA masih berpotensi menghasilkan arus kas dan profitabilitas yang solid.
Di sisi lain, perhatian pasar kini tertuju pada dua katalis utama.
Pertama, negosiasi perpanjangan kontrak pasokan gas beserta formula harga baru yang akan menentukan struktur biaya produksi perusahaan setelah 2027.
Kedua, proyek blue ammonia yang diperkirakan mulai beroperasi pada akhir 2027 hingga 2028 dan berpotensi meningkatkan nilai jual produk ESSA melalui premium harga dari pasar ekspor.
Sementara itu, penundaan proyek SAF menurut kami belum menjadi kekhawatiran utama karena kontribusinya terhadap kinerja saat ini masih minim.
Langkah tersebut justru dapat dipandang sebagai upaya manajemen menjaga disiplin alokasi modal hingga kondisi pasar dan keekonomian proyek menjadi lebih menarik.
Dari sisi valuasi, ESSA juga masih diperdagangkan di bawah rata-rata historisnya, baik berdasarkan PE maupun PBV. Dipadukan dengan kondisi teknikal yang masih berada dalam fase akumulasi, kami menilai saham ini masih menarik untuk dicicil secara bertahap, sembari terus memantau perkembangan harga amonia, negosiasi kontrak gas, serta progres proyek blue ammonia sebagai katalis utama dalam dua hingga tiga tahun mendatang.
Mau Insight Saham yang Lengkap dan Spesial dari Mikirduit?
Kamu bisa ikutan event rutin bulanan Mikirduit dengan menjadi member Mikirsaham. Kami juga lagi ada promo akhir bulan nih, dapatkan DISKON spesial dengan kode promo: GAJIANJULI. Promo terbatas hanya untuk 20 pendaftar pertama hingga 31 Juli 2026. (Berlaku untuk semua paket)
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
