Prospek Saham HRTA yang Kembali Buka Jalur Ekspor ke Dubai per September 2026
HRTA mengincar pertumbuhan lewat pasokan emas ke Mandiri dan ekspor UEA. Simak peluang LBMA, rencana private placement, serta risiko bisnis dan dilusinya.
Mikirduit - Saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) tampaknya masih punya prospek menarik meskipun harga emas dunia lagi loyo. Lalu, apa saja peluang dan risiko saham HRTA?
Key Takeaways
- HRTA mendapat katalis bisnis baru lewat kerja sama dengan Bank Mandiri untuk memasok emas batangan merek emasku selama satu tahun mulai 2 Oktober 2026.
- Bullion bank masih menjadi tulang punggung penjualan HRTA, dengan kontribusi sekitar 90 persen pada semester I/2026. Total penjualan emas mencapai 13 ton.
- HRTA berencana melakukan private placement jumbo sebanyak 460,52 juta saham atau setara 9,09 persen dari modal disetor. Jika menggunakan harga saham Rp2.160, potensi dana yang dihimpun mencapai sekitar Rp994,72 miliar, tetapi rencana ini masih menunggu pembahasan dalam RUPS 16 Oktober 2026.
- Cek pilihan saham investasi dengan perhitungan yang jelas antara peluang dan risiko, join Mikirsaham dengan klik link di sini
Harga emas acuan global pada perdagangan Jumat (09/10/2026) berada di US$ 4.190 per troy ons, masih dekat area terendah dalam dua bulan.
Suku bunga global yang masih bertahan di level tinggi dalam waktu lama menghambat laju emas, karena memicu dolar tetap mahal sehingga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Selain itu, imbal hasil obligasi yang tinggi membuat investor cenderung melirik aset berbunga dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil. Alhasil, harga emas masih tertekan meski ketidakpastian ekonomi dan geopolitik tetap menjadi faktor pendukung permintaan aset safe haven.

Pergerakan harga emas acuan yang loyo, imbasnya juga terasa sampai saham HRTA yang cenderung tidak kemana-mana selama 1,5 bulan.
Secara teknikal, kami melihat ada gap up dari 2000 yang sempat terjadi pada 6 Agustus 2026. Level ini tampaknya potensial ditutup dulu, sehingga bisa kita jadikan support terdekat, sekaligus demand area lagi.
Menariknya, RSI sudah menunjukkan jenuh jual dan membentuk golden cross, seharusnya tekanan jual saat ini sudah berkurang.
Sementara untuk target resistance jangka pendek berada di 2410. Area ini jika ditembus bisa menjadi sinyal perubahan arah tren menuju naik dari sebelumnya terkonsolidasi.

Jadi, secara teknikal peluang buy area saham HRTA bisa dibilang sudah terbuka sampai support 2000. Namun, akan mantul lebih kencang kapan kita tidak pernah tahu pastinya kapan, market butuh katalis kenaikan harga emas lagi atau ada cerita baru dari bisnis HRTA sendiri.
Nah, menariknya baru-baru ini HRTA punya cerita baru, mereka habis teken kerjasama pasok emas batangan ke Bank Mandiri sampai ada agenda private placement jumbo. Kira-kira gimana prospeknya?
Prospek Bisnis HRTA
Perlu diketahui dulu, HRTA ini bukan pemain tambang emas. Fokus bisninsya lebih ke sektor hilir (downstream) dan tengah (midstream), yakni pemurnian, manufaktur perhiasan dan emas batangan, serta distribusi ritel.
Menariknya, HRTA ini punya client tetap karena posisinya sebagai pemasok emas untuk bullion bank (PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) dan Pegadaian).
Pada paruh pertama tahun ini saja, bullion bank sudah bisa berkontribusi sampai 90 persen ke penjualan. Selama enam bulan terakhir, HRTA berhasil menjual 13 ton emas dengan ASP naik 53,21 persen ke Rp2.591,673 per gram.

Selain ke BSI dan Pegadaian, yang menarik baru-baru ini HRTA mendapatkan kerjasama dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) untuk pasok emas batangan berkadar 99 persen dengan merk “emasku” selama setahun mulai 2 Oktober 2026 lalu.
Dengan begini, porsi penjualan wholesale akan tetap terjaga sampai akhir tahun.
Menurut kami, kinerja kuartal III/2026 HRTA kemungkinan besar masih akan melanjutkan momentum positif. Pasalnya, harga emas sempat reli hampir ke US$ 4.700/US$ sebelum terkoreksi 5 persenan sepanjang September 2026.
Tambahan Pendapatan dari Bisnis Ekspor Emas dan Perhiasan yang Kembali Aktif
Selain itu, HRTA juga sudah mulai melakukan ekspor lagi per September 2026. Kali ini, HRTA melakukan ekspor produk perhiasan ke Uni Emirat Arab (UEA).
Aksi ekspor ini kembali dilakukan setelah trennya mengalami penurunan drastis pada 2024-2025.
HRTA mencatatkan ekspor pertama kali pada 2023 dengan nilai transaksi tembus RP4,27 triliun yang setara 33,26 persen dari total pendapatan. Kala itu, tujuan ekspornya dari India melalui beberapa distributor seperti LP Commodities Private Ltd. dan Bright Metal Refiners.
Namun, tren penjualan ekspor HRTA mengalami penurunan drastis pada 2024 menjadi Rp2,05 triliun. Kontribusi pendapatan ekspor ke pendapatan HRTA susut menjadi 11,23 persen. Meski, HRTA mendapatkan beberapa distributor tambahan seperti dari UEA dan RKD Solution.
Hingga akhirnya, porsi ekspor di 2025 hanya tersisa Rp167 miliar atau setara 0,38 persen dari pendapatan.
Dalam laporan tahunan HRTA 2023-2025 disebutkan salah satu penyebab penurunan ekspor adalah adanya perubahankebijakan dari negara pengimpor hingga tingginya volatilitas harga komoditas.
Ditambah, dalam melakukan ekspor, HRTA sangat tergantung dengan beberapa distributor saja. Sehingga ketika LP Commodities Private Ltd India mengalami penurunan pembelian dari Rp1,32 triliun pada 2023 menjadi Rp45 miliar pada 2024, dampaknya menjadi sangat terasa.
Tren ekspor HRTA berpotensi kembali naik dengan upaya perseroan mendapatkan sertifikasi dari LBMA pada semester II/2026. Kalau lolos, produk emas mereka bisa lebih diakui di kancah global, peluang masuk pasar internasional juga terbuka yang potensi mengerek harga jual lebih premium.
Investor Relation HRTA Thendra Crisnanda seperti dikutip dari Kontan pada 21 September 2026 sempat mengungkapkan perseroan mempertahankan guidance kinerja di 2026 dengan pertumbuhan pendapatan 45-60 persen dan laba bersih 30-45 persen. Untuk mendukung kinerja itu HRTA juga meningkatkan kapasitas produksi dari 48 ton menjadi 60 ton.
Dari sisi permodalan, ada cerita baru juga di HRTA. Kabarnya mereka mau private placement placement sekitar 460,52 juta lembar saham baru yang setara 9,09 persen kepemilikan dari modal yang disetor perseroan.
Biasanya private placement itu dilakukan oleh pemegang saham mayoritas atau pengendali, atau bisa juga investor strategis lain yang mau masuk.
Sejauh ini belum ada kabar siapa yang mau masuk HRTA karena agenda ini masih akan dibahas dalam RUPS pada 16 Oktober 2026 mendatang.
Namun, jika kita menilik peluang terbesar private placement datang dari induknya yaitu PT Terang Anugrah Abadi. Secara historis, mereka pernah tambah kepemilikan lagi di HRTA lewat pembelian biasa di pasar sebanyak 2.050.000 lembar saham di harga kisaran Rp2.010 - Rp2.220.
Harga saham HRTA terkini masih di Rp2.160 per lembar, masih berada di area itu. Kalau misalkan pakai harga ini, private placement bisa menambah modal sampai Rp994,72 miliar.
Sementara kalau pakai rentang harga pembelian oleh pihak pengendali sebelumnya bisa dapat tambahan dana segar dari Rp925,65 miliar sampai Rp1,02 triliun.

Kesimpulan
HRTA masih punya sejumlah katalis yang menarik untuk dicermati, mulai dari kerja sama pasokan emas batangan dengan Bank Mandiri, basis pelanggan bullion bank yang sudah kuat, hingga peluang ekspansi pasar jika sertifikasi LBMA berhasil diperoleh. Rencana private placement juga berpotensi memperkuat permodalan perseroan, meskipun harga pelaksanaan dan calon investor yang masuk masih perlu ditunggu.
Namun, prospek bisnis yang menarik bukan berarti harga sahamnya akan langsung naik. Pergerakan harga emas global, realisasi kinerja keuangan kuartal III/2026, serta hasil RUPS pada 16 Oktober 2026 akan menjadi beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan.
Rencana perseroan untuk menggarap pasar ekspor, terutama jika mendapatkan sertifikat LBMA bisa menjadi penyokong pertumbuhan saham HRTA selanjutnya. Bisnis HRTA net profit margin di bawah 5 persen, sehingga untuk mengoptimalkan keuntungan HRTA harus meningkatkan volume penjualan. Akses penjualan ekspor dengan sertifikasi LBMA bisa menjadi faktor yang membuat HRTA kembali menggenjot penjualan ekspor.
Dari sisi teknikal, area Rp2.000 menjadi support yang layak dicermati, sedangkan Rp2.410 merupakan resistance jangka pendek yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi potensi penguatan lanjutan.
Jadi, HRTA punya kombinasi katalis bisnis dan peluang pemulihan teknikal. Meski begitu, kita tetap perlu memperhatikan risiko koreksi harga emas dan potensi dilusi dari penerbitan saham baru, serta menunggu kepastian realisasi rencana private placement.
Mau Dapat Insight Saham hingga Action-nya Sesuai dengan Kebutuhan?
Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Event Online Rutin bulanan
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
FAQ Prospek Saham HRTA
1. Apa bisnis utama PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA)?
HRTA bergerak dalam pemurnian emas, manufaktur perhiasan dan emas batangan, serta distribusi ritel dan wholesale. HRTA bukan perusahaan tambang emas. Pelanggannya antara lain BSI dan Pegadaian, dengan kontribusi bullion bank sekitar 90 persen terhadap penjualan pada semester I/2026.
2. Apa dampak kerja sama HRTA dengan Bank Mandiri?
HRTA mendapatkan kerja sama memasok emas batangan merek emasku kepada Bank Mandiri selama satu tahun mulai 2 Oktober 2026. Kerja sama ini berpotensi menopang volume penjualan dan memperluas pelanggan institusi. Besarnya kontribusi terhadap pendapatan dan laba masih perlu dilihat dari realisasi transaksi.
3. Apa peluang pertumbuhan HRTA dari ekspor?
HRTA kembali mengekspor perhiasan ke Uni Emirat Arab pada September 2026. Ekspor berpotensi menjadi sumber pertumbuhan tambahan setelah kontribusinya terhadap pendapatan turun dari 33,26 persen pada 2023 menjadi 0,38 persen pada 2025. Realisasinya bergantung pada permintaan, kebijakan negara tujuan, dan pembelian distributor.
4. Apa manfaat sertifikasi LBMA bagi HRTA?
Sertifikasi LBMA yang sedang diupayakan HRTA berpotensi meningkatkan penerimaan produk emasnya di pasar internasional dan membuka akses pelanggan baru. Namun, manfaat terhadap volume penjualan dan harga jual bergantung pada keberhasilan memperoleh sertifikasi serta realisasi kontrak ekspor.
5. Berapa target pertumbuhan kinerja HRTA pada 2026?
Manajemen mempertahankan target pertumbuhan pendapatan sebesar 45–60 persen dan laba bersih 30–45 persen pada 2026. Untuk mendukung target tersebut, HRTA meningkatkan kapasitas produksi dari 48 ton menjadi 60 ton. Target ini merupakan guidance manajemen, sehingga pencapaiannya masih perlu dipantau.
6. Berapa potensi dana dari private placement HRTA?
HRTA merencanakan penerbitan 460,52 juta saham baru. Jika menggunakan asumsi harga pelaksanaan Rp2.160 per saham, potensi dana yang dihimpun sekitar Rp994,72 miliar. Harga pelaksanaan dan calon investor belum dipastikan, sedangkan rencana tersebut dijadwalkan dibahas dalam RUPS pada 16 Oktober 2026.
7. Apa risiko utama investasi saham HRTA?
Risiko HRTA meliputi koreksi harga emas, margin laba bersih yang tipis, konsentrasi pelanggan bullion bank, serta ketergantungan ekspor pada distributor dan kebijakan negara tujuan. Private placement juga berpotensi mendilusi kepemilikan pemegang saham lama. Tambahan modal perlu menghasilkan pertumbuhan laba agar mendukung laba per saham.
8. Berapa area support dan resistance saham HRTA?
Berdasarkan analisis teknikal dalam artikel per 9 Oktober 2026, support terdekat HRTA berada di sekitar Rp2.000 dan resistance jangka pendek di Rp2.410. Penembusan resistance dapat menjadi sinyal penguatan lanjutan, tetapi kedua level tersebut bukan kepastian arah harga.
