Harga Baru Rp4.000-an, Saham RAJA Mau Stock Split 1:5, Begini Prospeknya
Saham RAJA mau stock split 1:5, ini merupakan aksi pecah saham yang kedua kalinnya dalam sejarah perusahaan. Menariknya, momentum ini dibarengin prospek ekspansi di sektor LNG terintegrasi. Kira-kira prospeknya gimana?
Mikirduit - Saham RAJA mau stock split untuk yang ke-dua kalinya dalam sejarah perseroan. Biasanya, aksi pecah saham akan memicu harga saham naik puluhan persen, apakah jadi menarik lirik sahamnya saat ini?
Track Record Stock Split Saham RAJA
Emiten milik konglomerat Happy Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) bakal melakukan stock split dengan rasio 1:5, dari nilai nominal Rp25 menjadi Rp5 per saham. Nantinya jumlah saham beredar akan naik dari 4,2 miliar menjadi 21,1 miliar saham.
Menurut keterangan manajemen, aksi ini masih akan dibahas pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 23 Juni 2026 untuk meminta restu dulu dari para investor.
Ini bukan pertama kalinya RAJA melakukan stock split. Pada 2016 lalu, RAJA juga sempat melakukan stock split 1:4 pada 2016.

Secara rinci, sebelum stock split 2016 harga saham RAJA masih berada di kisaran Rp992 per saham. Menjelang cum date, harga saham sempat melonjak sekitar 11 persen dalam sehari.
Bahkan secara keseluruhan, saham RAJA sudah naik lebih dari 60 persen dibanding posisi terendahnya pada Februari 2016. Likuiditas saham yang sebelumnya sepi pun ikut meningkat.
Namun saat memasuki ex-date, harga saham mulai terkoreksi sekitar 0,81 persen, sehingga setelah proses stock split selesai harga saham RAJA berada di kisaran Rp246 per lembar pada 7 Juni 2016.
Sayangnya, euforia tersebut tidak bertahan lama. Setelah stock split, harga saham RAJA justru turun lima hari beruntun dan akhirnya terkoreksi lebih dari 40 persen hingga akhir 2016. Volume transaksi juga kembali menipis.
Artinya, bagi investor yang sudah punya posisi sejak awal tahun dan tidak melakukan taking profit saat momentum stock split, potensi keuntungan yang sempat terbentuk bisa kembali tergerus ketika saham masuk fase koreksi.

Berkaca dari pengalaman tersebut, kami melihat stock split kedua ini berpotensi jadi katalis positif untuk jangka pendek. Pada perdagangan Rabu (13/5/2026), harga saham RAJA sudah sempat menguat sekitar 6 persen sejak pembukaan.
Meski begitu, investor tetap perlu hati-hati karena karakter saham RAJA cenderung volatil. Porsi investor ritel di saham ini juga cukup besar, mencapai sekitar 43 persen, sementara free float tercatat sekitar 22,5 persen. Kondisi seperti ini biasanya membuat pergerakan saham lebih agresif dan sensitif terhadap sentimen pasar.

Risiko Saham Stock Split Under Rp5.000
Hal lain yang juga perlu diperhatikan, RAJA melakukan stock split saat harga sahamnya masih berada di bawah Rp5.000. Dengan rasio pemecahan 1:5, harga teoritis saham nantinya sangat mungkin di bawah Rp1.000 per lembar.
Jika mengacu pada tren historis stock split RAJA pertama kali yang bisa memakan koreksi sampai 40 persen lebih, maka worst scenario harga saham bisa saja koreksi ke bawah level 500.
Di level harga seperti ini, fraksi pergerakan saham menjadi jauh lebih agresif. Kenaikan satu fraksi saja sudah bisa memberikan persentase kenaikan yang cukup besar, sehingga biasanya lebih menarik bagi trader jangka pendek dan investor ritel.
Efek psikologis “harga jadi murah” juga sering membuat minat beli meningkat, meskipun secara valuasi perusahaan sebenarnya tidak berubah.
Secara historis, saham-saham yang melakukan stock split hingga masuk ke area Rp500–Rp1.000 memang sering mengalami lonjakan likuiditas dan euforia jangka pendek. Namun risikonya, volatilitas juga ikut meningkat karena pergerakan saham menjadi lebih mudah dipengaruhi sentimen pasar dan aktivitas spekulatif.
Untuk melihat pola “nasib” saham setelah stock split, ada beberapa contoh menarik yang bisa dijadikan bahan pembelajaran.
Kami mengumpulkan empat saham berikut yang bisa menjadi contoh nyata bahwa harga saham yang menjadi lebih murah setelah split sebenarnya ibarat pedang bermata dua.

Dari tabel tersebut, terlihat bahwa tidak semua saham stock split akan bernasib buruk, tetapi juga tidak semuanya otomatis sukses hanya karena harga saham menjadi lebih murah.
SRTG menjadi contoh paling menarik karena berhasil mempertahankan momentum setelah stock split. Meskipun harga sahamnya “pecah” ke area Rp1.000-an, pasar tetap melihat kualitas aset dan fundamental grup Saratoga menarik, terutama karena eksposur ke sektor emas dan batubara yang sedang booming saat itu.
Sebaliknya, HOKI dan PPRO menunjukkan risiko terbesar dari stock split di harga rendah. Ketika harga saham makin murah tetapi tidak dibarengi pertumbuhan bisnis yang kuat, saham justru rentan masuk area penny stock dan akhirnya didominasi spekulasi jangka pendek.
ERAA berada di tengah-tengah. Sempat menikmati euforia setelah split, tetapi momentum tersebut tidak cukup kuat untuk menjaga tren kenaikan dalam jangka panjang.
Karena itu, stock split sebenarnya hanyalah alat untuk meningkatkan likuiditas dan memperluas basis investor. Yang menentukan arah saham setelahnya tetap kualitas fundamental, pertumbuhan bisnis, dan story yang dimiliki perusahaan.

Belajar Juga Dari PTRO dan Hubungannya Sama RAJA
Bicara soal story, kita juga bisa belajar dari behaviour pasar saat PTRO melakukan stock split.
Meskipun waktu itu harga saham PTRO sudah tergolong mahal, pasar tetap menyambut positif aksi stock split tersebut karena ada ekspektasi pertumbuhan bisnis yang besar di belakang perusahaan.
PTRO melakukan stock split 1:10 pada awal Januari 2025, sehingga harga sahamnya secara teoritis turun ke kisaran Rp2.800 per lembar setelah penyesuaian.
Menariknya, setelah stock split harga saham PTRO justru kembali melesat. Bahkan pada 26 Januari 2026, saham PTRO sempat mencetak rekor intraday di posisi Rp12.900 per lembar.
Pasar saat itu melihat PTRO bukan sekadar saham yang “jadi murah”, tetapi emiten yang memiliki story pertumbuhan kuat. Mulai dari masuknya grup Prajogo Pangestu melalui ekosistem CUAN, ekspansi agresif ke sektor mineral kritis dan emas, backlog proyek jumbo, sampai tema hilirisasi tambang yang sedang menjadi perhatian investor.
Nah, hal inilah yang mulai membuat RAJA menarik untuk diperhatikan. Pasar sekarang tidak lagi melihat RAJA sekadar sebagai distributor gas biasa, tetapi mulai melihat adanya story ekspansi energi yang lebih besar.
Menariknya lagi, hubungan RAJA dan PTRO saat ini juga sudah cukup dekat secara strategis.
Pada Agustus 2025, kedua emiten tercatat berkongsi mengakuisisi Grup Hafar, perusahaan konstruksi migas lepas pantai. Dalam transaksi tersebut, PTRO mengambil 51 persen saham sementara RAJA memegang 49 persen.
Kolaborasi ini dilakukan untuk memperkuat layanan offshore migas sekaligus memperbesar ekosistem bisnis energi kedua perusahaan.
Karena itu, pasar mulai melihat RAJA dan PTRO memiliki arah pengembangan bisnis yang mirip, yaitu sama-sama membangun bisnis energi yang lebih terintegrasi.
Apalagi, arah ekspansi RAJA sekarang memang terlihat cukup agresif. Perseroan mulai bergeser dari yang sebelumnya dikenal sebagai trader gas menjadi pemain energi terintegrasi dari hulu sampai hilir. Beberapa fokus ekspansi RAJA saat ini antara lain:
Ekspansi LNG Terintegrasi
RAJA mulai serius masuk ke bisnis LNG melalui akuisisi proyek Floating Liquefied Natural Gas (FLNG) di Blok Kasuri bersama Genting Group.
Perusahaan juga sedang menyiapkan pembangunan terminal LNG di Banten, mengembangkan fasilitas LNG di Kalimantan, serta memperluas rantai bisnis LNG dari hulu hingga distribusi.
Masuk ke Bisnis Logistik dan Kapal Energi
Untuk memperkuat distribusi LNG, RAJA juga mulai masuk ke bisnis logistik energi.
Langkah yang dilakukan antara lain mendirikan anak usaha PT Banawa Rezeki Optima (BRO), menjajaki akuisisi kapal LNG Carrier, serta memperbesar bisnis pelayaran energi domestik dan internasional.
Ekspansi Infrastruktur Migas dan Hulu
RAJA juga masih agresif memperbesar bisnis migasnya melalui pembangunan pipa BBM di Kalimantan Timur, proyek fasilitas kompresor gas, hingga rencana akuisisi minoritas di blok migas yang sudah berproduksi.
Langkah ini bertujuan memperkuat recurring income dan menjaga ketahanan pasokan energi perusahaan.
Mulai Masuk ke Energi Baru Terbarukan (EBT)
Dalam jangka panjang, RAJA juga mulai dikaitkan dengan beberapa proyek energi baru, seperti:
- blue ammonia dan petrokimia,
- pembangkit listrik tenaga air,
- biomassa,
- hingga sektor energi hijau lainnya.
Kalau diperhatikan, pola ekspansi RAJA ini cukup mirip dengan PTRO dalam beberapa tahun terakhir, yaitu membangun ekosistem energi yang lebih luas dan terintegrasi.
Karena itu, pasar nantinya kemungkinan tidak hanya melihat RAJA sebagai “saham stock split harga murah”, tetapi juga apakah perusahaan mampu menjaga pertumbuhan bisnis dan mengeksekusi proyek-proyek ekspansinya setelah aksi korporasi selesai.
Kalau ekspansi dan proyek energi tersebut berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin RAJA bisa mendapatkan rerating valuasi seperti yang pernah terjadi pada PTRO.
Kesimpulan
Stock split RAJA memang berpotensi menjadi katalis positif untuk jangka pendek karena bisa meningkatkan likuiditas dan menarik lebih banyak investor ritel.
Namun berkaca dari histori stock split sebelumnya maupun beberapa saham lain yang split di bawah Rp5.000, euforia seperti ini juga tetap punya risiko volatilitas yang tinggi.
Di sisi lain, RAJA punya story menarik karena saat ini pasar mulai melihat adanya story ekspansi energi yang lebih besar, mulai dari LNG, logistik energi, infrastruktur migas, hingga potensi masuk ke sektor energi baru terbarukan.
Ditambah lagi, hubungan strategis dengan PTRO membuat arah pengembangan bisnis RAJA semakin menarik untuk diperhatikan.
Karena itu, arah saham RAJA ke depan kemungkinan besar akan sangat ditentukan oleh keberhasilan perusahaan mengeksekusi ekspansi bisnisnya. Kalau proyek-proyek energi tersebut berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin RAJA bisa mendapatkan rerating valuasi seperti yang pernah terjadi pada PTRO.
Namun kalau hanya mengandalkan euforia stock split tanpa pertumbuhan bisnis yang kuat, risikonya saham bisa kembali bergerak sangat volatil setelah sentimen pasar mereda.
Jadi, menarik atau tidaknya saham RAJA ke depan kemungkinan bukan lagi soal stock split-nya, melainkan apakah pasar percaya perusahaan ini benar-benar sedang masuk fase transformasi bisnis energi seperti yang pernah terjadi pada PTRO.
Gimana menurut kalian menarik masuk saham RAJA saat ini atau tunggu nanti setelah stock split?
Kamu Butuh Insight dan Ide Saham Jangka Menengah-panjang hingga Swing Trading?
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
